Memori tidak gampang mati. Ia maujud dari peristiwa di waktu lampau yang telah hilang. Tapi ia hidup dan ada sepanjang usia manusia. Maujudnya bisa terorkestrasi dalam macam-macam  “suara” pengalaman maknawi manusia. Bisa berupa perasaan nyaman (enjoyment) yang menggembirakan, tak jarang ia juga berwujud teror, rasa traumatik yang sulit dihilangkan.

Soal mengenang kebahagiaan, orang dengan gampang bisa memilih caranya sendiri. Memanggil masa lampau yang indah untuk menciptakan kembali perasaan tenang dan nyaman, di tengah kebisingan kehidupan kekiniaan. Soal bahagia, orang memang kadang tak perlu berkompromi dengan siapapun.

Pengalaman bahagia, rasa bahagia seperti kaos partai saat pemilu, yang bisa dibagi tanpa basa-basi. Tak heran, orang yang bahagia bisa tak peduli pada apapun. Wong yen lagi gandrung ra peduli bledose gunung (Orang yang sedang jatuh cinta tak peduli (di sampingnya) ada gunung meletus), begitu kata lagu Campursari yang sering diputar sopir bus di terminal-terminal. Kucing di kos saya adalah makhluk paling tidak percaya kepada anak muda kos yang sedang jatuh cinta, tapi berkoar slogan-slogan besar mbelgedes soal kepedulian. Kata kucing itu hanya: Meong!!

Masa lalu yang indah dan menenangkan: keceriaan masa kanak-kanak atau waktu-waktu kebersamaan hangat bersama keluarga. Orang sering merindukan momen-momen bahagia itu. Tapi sayang, masa lalu dan dunia bukan hanya sarang kebahagiaan, di antara senyuman dan gelak tawa bahagia, selalu ada yang diam-diam berduka. Walaupun orang bisa bersepakat menyembunyikan kesedihan, dunia tetap saja tidak pisa dipesan hanya dalam satu menu: kebahagiaan. “Hati-hati, kau tak berada di Wonderland,” kata penyair Amerika Allen Ginsberg.

Dengan kalimat mengetarkan, Allen melanjutkan sajaknya, yang seolah hendak mengambarkan palung suka-duka manusia. Sajak yang ditulis ketika masa-masa krisis jati diri dan pencarian visi baru yang menyakitkan:

“Aku telah mendengar kegilaan yang aneh tumbuh dalam jiwamu, dalam isolasimu, tapi kau diuntungkan ketidakpedulianmu. Kau yang menderita dalam upaya menemukan tempat cinta bersembunyi, memberi, berbagi, kehilangan, hingga kita mati tanpa sempat berkembang,” 

***

“Seorang pria, bukanlah pria, di dalam tubuhnya ada seekor serigala buas.” Tutur David Boyle (Tim Robbins) saat mengisahkan cerita pengantar tidur untuk anak laki-lakinya, dalam satu adegan di  film Mystic River.  Sebuah film yang menegangkan, dengan penguasaan seni peran yang menggigit –setidaknya bagi saya.

Pada tahun 1975 tiga bocah teman sepermainan: Jimmy Markum (Sean Penn), Dave Boyle (Tim Robbins) dan Sean Devine (Kevin Bacon) sedang bermain hoki di jalanan kota Boston, US.  Di tengah asiknya permainan, mereka bertiga iseng menuliskan namanya di trotoar jalanan yang baru saja di cor semen dan masih basah. Satu persatu dari mereka bertiga mengoreskan namanya.

Saat asyik menuliskan nama, dari jauh dua orang lelaki dewasa memandangi mereka. Dua laki-laki itu mendekat dan membentak ketiga bocah itu. Mereka kena marah. Dua laki-laki itu mengaku sebagai seorang polisi. Mereka bertiga diinterogasi. Di mana rumahmu? Pertanyaan itu diajukan pada Jimmy, Sean, dan Dave. Jimmy dan Sean langsung menunjuk rumah mereka yang memang tidak jauh dari jalanan tempat mereka bermain. Hanya Dave yang rumahnya jauh.

Seperti kosmolog Carl Sagan ketika melukiskan bumi tidak dengan logika saintifik atau rumus yang presisi:  Bumi kita hanya titik lebam biru pucat [luka] di tengah alam semesta, tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.

Dua laki-laki itu akhirnya memaksa Dave masuk dalam mobil mereka. Dave akan dibawa ke rumah orang tuanya, kata seorang laki-laki berbadan besar. Dave pun masuk mobil dengan wajah pucat. Mobil berjalan dan Dave hanya bisa melihat dari kaca belakang mobil, ketika dua teman sepermainannya memandang ke arahnya. Mobil tetap berjalan,  dua teman  dave pun menghilang dari jangkauan pandangannya.

Waktu bergerak, dan dunia tidak pernah sama.

Dua laki-laki yang membawa Dave ternyata bukan polisi. Dave menghilang selama empat hari. Dia disekap dalam sebuah ruang gelap dan setiap hari harus mengalami pelecehan seksual oleh dua laki-laki itu. Bocah kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah dilakukan pencarian, Dave pun ditemukan. Bocah itu sedang meringkuk dalam sebuah gudang gelap dengan kondisi psikis yang mengkhawatirkan.  Sejak itu tiga teman sepermainan itu tidak pernah lagi bermain bersama. Hubungan mereka melonggar. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Dan bagi Dave:

Setelah itu, dunia tidak pernah sama lagi.

Anak kecil memang lebih gampang mengingat peristiwa, apalagi peristiwa itu sampai mengguncang psikisnya. Dave hidup dalam dunia dengan trauma psikis di masa kecilnya. Walaupun dia akhirnya menikah dan mempunyai satu anak, tapi trauma itu tetap tinggal dan tak pernah mati. Hanya timbul-tenggelam.

Hidup selalu menyediakan jeda pada setiap orang untuk lupa, begitu juga untuk Dave. Dia bisa bertahan cukup lama dengan pengalaman traumatik itu. Melatih anaknya bermain hoki, mengantarnya   ke sekolah, menceritakan dongeng menjelang tidur adalah aktivitas jeda Dave untuk lupa. Tapi, jeda dalam hidup yang traumatik adalah “hanya” sementara, sedangkan trauma psikis adalah……………….

***

Di masa kini, bagaimana nasib dua teman sepermainan Dave?

Jimmy ketika dewasa adalah seorang kriminal. Kini dia sudah memiliki anak perempuan cantik berumur 19 tahun bernama Katie ( Emmy Rossum). Jimmy memiliki keluarga kecil yang bahagia. Keluarganya memiliki bisnis minimarket yang diurus Jimmy bersama Katie, anaknya.

Sean, sekarang menjadi seorang polisi investigator di Massachusetts State Police yang bertugas di bagian penelusuran kejahatan dan pembunuhan.  Mereka bertiga hidup dalam dunia yang berbeda, tapi satu waktu ada kejadian pembunuhan Katie, anak Jimmy. Kejadian itu kemudian membawa tiga teman lama itu dalam satu garis cerita. Sean yang bertugas di dinas kepolisian kota, bekerja keras mengungkap pelaku di balik pembunuhan Katie. Sementara Jimmy, ayah Katie, sangat terpukul dengan kematian anaknya.

Saat malam kematian Katie, Dave pulang ke rumah, setelah minum bir di sebuah bar yang dikunjungi juga oleh Ketie sebelum kematiannya. Dave masuk rumah dengan langkah sempoyongan. Dave mengatakan bahwa dia baru saja berkelahi dengan seorang perampok di jalanan. Dave menang setelah memukul habis-habisan kepala perampok itu, tapi perampok itu berhasil melukai tubuh Dave. Dave mengatakan pada Caleste, istrinya: “perampok itu mati di tanganku”; sementara Caleste mengobati luka sayatan pisau di tubuh Dave.

Sean terus melanjutkan penyelidikan untuk menemukan pelaku pembunuhan Katie. Berdasar runtutan waktu kejadian, penyelidikan Sean mengarah pada Dave. Terlebih ketika Dave berusaha berbohong atas luka di tangannya, serta tingkah aneh dan kacaunya ketika dihadapkan pada kasus pembunuhan Katie.

***

Suatu malam Jimmy mengatur rencana agar anak buahnya mengajak Dave untuk sedikit bersenang-senang di bar. Di sana Dave dibuat mabuk oleh teman-teman  Jimmy. Jimmy akhirnya muncul. Jimmy  mengatakan bahwa di tempat yang sama dia telah menghabisi nyawa dari “Just Ray” Harris, temannya sewaktu muda. Jimmy membunuh “Just Ray” Harris karena dia telah berkhianat kepada dirinya dengan menjebloskan Jimmy  ke penjara.

Di sana, Jimmy juga mengatakan bahwa istri Dave sudah mengatakan kepada Jimmy, bahwa pada malam Katie terbunuh, Dave pulang dalam keadaan berdarah. Dan esoknya tidak ada berita kematian perampok, melainkan kematian Katie.  Jimmy menyimpulkan bahwa Dave tidak lain adalah pembunuh dari Katie.

Dave menolak untuk dipersalahkan. Dave mengatakan bahwa di malam itu, dia memang bertemu dengan Katie di bar. Kemudian dia pulang, namun di tengah perjalanan, dia memergoki seorang pria sedang melakukan pelecehan seksual kepada seorang anak. Dave segera menghajar pria tersebut hingga mati. Lalu Dave pulang. Tepat saat itu, trauma masa kecilnya datang, dan hidup kembali menjadi teror yang tak putus-putus mengacaukan masa kininya.

Setelah itu, masa kini, masa lalu juga waktu tak pernah kaku seperti angka dalam kalender.

Davetidak bisa tenang. Malam-malamnya penuh kegelisahan. Hanya saja keanehan Dave bertepatan dengan kematian Katie. Semua orang berusaha menuduhnya, termasuk istrinya.  Tidak ada yang berusaha memahami beban traumatik yang harus ditanggungnya. Barangkali otak dan psikis manusia memang lebih nyaman diajak menuduh daripada memahami.

Jimmy kalut, sepertinya kematian Katie dan kenangan pertemanan masa kecil dengan Dave saling beradu. Dia tidak percaya dengan sangkalan dari Dave. Di pinggir Mystic River yang tenang, Jimmy menghujamkan pisau ke arah ulu hati Dave. Darah bercucuran. Dave menahan rasa sakit. Sekuat tenaga Dave masih berusaha mengelak. Jimmy menodongkan sepucuk senapan tepat ke muka Dave. Peluru senapan itu akhirnya mengakhiri jerih-payah Dave berdamai dengan masa lalunya.

Arus Mystic River yang tenang menelan jasad Dave. Jimmy melihat pelan-pelan jasad Dave menjauh. “Nyawa Katie sudah terbayarkan,” pikirnya.  Memori memilih caranya sendiri untuk mati.

Dave dengan trauma dari masa kecilnya, Jimmy dengan kekalutan menghadapi kematian anaknya—orang yang kacau memahami waktu, sebab masa lalu dan kini saling silang. Merumuskan tindakan tidak lagi mudah, memori tidak lenyap dalam gulungan materialitas gejala, beserta kehebohan tingkah manusia di masa kini.  Walaupun orang kadang lebih asyik dengan penampakan gejala dan kehebohan.

Masa lalu, kini, juga waktu dan pencerapan atas ruang –orientasi tindakan- adalah garis lurus,  kata Newton. Waktu dan ruang sebagai maujud objektif mutlak di luar benak manusia.  Gumam Newton: “Ketika jam di sakuku berdetak satu kali, seluruh alam semesta bertambah tua sedetik.”

Newton jelas seorang mekanistis yang tak peduli pengalaman maknawi manusia. Mekanisme memang bisa menjelaskan beberapa bagian gejala dunia dan manusia, tapi pengalaman maknawi sering kali memerlukan penghampiran lain. Manusia, bahkan ilmuwan, juga bisa tergetar dan gentar. Seperti kosmolog Carl Sagan ketika melukiskan bumi tidak dengan logika saintifik atau rumus yang presisi:  Bumi kita hanya titik lebam biru pucat [luka] di tengah alam semesta, tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.

***

Dave sepertinya gambar manusia yang tegar, seorang yang diam-diam menyembunyikan arus besar nan bergejolak di balik ketenangan hidupnya. Orang hanya melihat bibir pantai yang tenang. Diam-diam di bawah ketenangan permukaan pantai ada gejolak arus deras, arus itu siap menenggelamkan siapa saja yang mendekat pada Dave, arus itu juga bisa membunuh Dave sendiri.

Arus dan gejolak pengalaman traumatik itu memang tak membunuh Dave. Tapi ia mengarahkan Dave pada kematiannyal—ewat tangan temannya sendiri yang gagal memahami masa lalu Dave yang kelam. Siapa yang rela memahami masa lalu traumatik seorang Dave? Atau jangan-jangan masa lalu: kekacauan, teror, trauma bukan angka yang bisa dibagi?

Bagi Dave, masa kini bukan sesuatu yang mudah. Trauma masa lalunya bisa datang kapan saja, menjadi teror yang harus dia tanggung sendiri. Di dalam  trauma, waktu, lalu dan kini bisa tak tertapis dengan jelas. Sejarah bisa seperti luka gores, lalu hidup adalah tenung. Hanya untung masih ada lupa, jadi manusia bisa bahagia.

* Frasa pada judul “Lalu waktu” diambil dari potongan frasa dalam puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah: Lalu waktu—bukan giliranku

1 COMMENT

  1. Ironisnya baik masyarakat maupun pihak terkait terkesan tidak peduli dengan keberadaan situs tersebut. Memang benar bahwa peninggalan peninggalan seperti waruga dan batu bertulis seperti itu kini hanyalah sebuah simbol untuk di kenang oleh masyarakat pada jaman ini namun yang perlu kita renungkan bersama bahwa pada masa lalu, para leluhur tanah MINAHASA telah menciptakan sebuah benda ataupun meninggalkan tanda tanda yang dapat melintasi zaman untuk di kenang di masa sekarang ini.

LEAVE A REPLY