Bapak saya gusar, beliau bertutur mengenai munculnya pabrik asing yang berusaha merenggut tanah persawahan keluarga. Lahan tersebut sebenarnya sudah tak lagi berfungsi, mengingat Bapak lebih memilih menjadi pengusaha—yang sementara masih ramah lingkungan. Besar dalam rahim kosmologi hiper-realitas kultur Barat, menjadikan saya terbata-bata memahami “logika ketimuran” yang dipakai Bapak, karena jika bahkan sawah tersebut sudah tak lagi produktif mengapa kemudian harus tetap dipertahankan.

Saya turut berkecamuk melihat kengototan Bapak. Tampaknya ini bukan hanya persoalan kalkulasi keuntungan jangka pendek—dengan tetap bertahan sementara agar lahan sawah Bapak dibeli dengan harga sedikit lebih mahal dari tetangga, ataupun jangka panjang. Tidak, Bapak terlalu bodoh jika hanya agar saya yang menjual tanah tersebut di masa mereka tua, karena bahkan jika alam semesta berkonspirasi menaikkan harga lahan sawah tersebut adalah sebuah kemustahilan.

Lalu apa yang menjadikan Bapak tetap ngotot mempertahankan tanah sawahnya? Apa yang menjadikan ibu-ibu rela terbirit-birit berkejaran dengan preman bayaran agar Gunung Kendeng tak dikeruk oleh Pabrik Semen? Apa gerangan yang menjadikan mbak Sarasdewi geram melihat Teluk Benoa direklamasi?

Konflik agraria mampu dibaca dengan melihatnya sebagai pertarungan antara kubu pabrik— yang dalam hal ini pabrik selalu berkonotasi dengan penggunaan teknologi mutakhir—dengan para petani yang dianggap sebagai residu peradaban megah kekinian yang masih mengolah sumber daya alam secara manual, artinya teknologi yang mereka pergunakan belum bersifat destruktif. Varian penggunaan asumsi ini adalah bahwa konflik agraria juga mampu dianalisis sebagai pertarungan teknologi termutkahir dengan teknologi lama, dan menjadi pijakan mengapa diskursus mengenai etika robot menjadi semakin marak di sudut-sudut kampus. Tentu ini merupakan upaya simplifikasi yang terlampau vulgar, pertarungan ini sejatinya tidak murni milik pabrik dan petani semata. Silang sengkarut kuasa asing untuk menanamkan investasi, demi memuluskan suntikan pinjaman dana luar negeri ke Pemerintah Indonesia tak bisa dianggap hanya sebagai mitos para aktivis lingkungan.

Konflik antara manusia dengan teknologi (baca: pabrik) sebenarnya bukan hal baru, tuduhan “primitif” bahkan dibenarkan oleh para antropolog guna menyukseskan kolonialisasi pada kelompok masyarakat tertentu. Teknologi yang kental dengan kemajuan Barat kemudian diterjemahkan sebagai sebuah tahap purna peradaban. Dan cara berpikir ini pula yang mengilhami seluruh lekuk perilaku manusia yang dipaksakan menggunakan standar ala “Barat”. Membenarkan pabrik karena dianggap lebih maju. Cih, apa yang kau sebut investasi, penyedotan oksigen bumi?

Sedari awal teknologi diciptakan dengan modus operandi yang berbasis maskulinitas, alam selalu dicacah oleh teknologi. Sebutkan berapa teknologi terbarukan ramah lingkungan dewasa ini dan satu pun di antaranya tak akan Anda dapati diimplementasikan di korporasi raksasa, hanya sekadar bentuk masturbasi saintis kampus yang semua dana perakitan teknologi hijau tersebut dibiayai oleh perusahaan terkait agar saintis tidak kritis di media(?). Bandingkan dengan para petani yang masih mempertahankan etos dialog dengan berasas feminitas pada alam. Onggokan uranium di bawah tanah sawah petani akan tetap awet sampai akhir zaman.

Ingatlah, masyarakat Indonesia masih melihat alam sebagai sesuatu yang agung—jumlah kaum penyeru khilafah Islam masih jauh dibanding umat muslim tradisional di akar rumput, agama mayoritas di Indonesia, Islam, direinterpretasi guna tidak arogan memandang kultur glorifikasi alam ala masyarakat Indonesia. Animisme dan dinamisme masih terpintal kuat dalam DNA kita. Namun teknologi hadir untuk menginterupsi subconciousness manusia Indonesia yang masih terus menjaga keeratan dengan alam. Salat dan larung laut bisa dilakukan beriringan. Inilah yang sebenarnya diharapkan petani: sebuah harmoni.

Kedekatan petani dengan alam bisa ditelisik dengan melihat salah satu tanaman yang mereka kembangkan. Ambillah contoh padi—saya memang asli Jawa, namun tidak bermaksud memprovokasi Papua dengan sagu khas mereka sebagai bukan Indonesia, dan lagipula Pound Sterling masih terlalu asing bagi saya. Padi merupakan alat perantara petani berkomunikasi dengan alam, gambaran betapa dekatnya petani dengan alam bisa disaksikan dari bahasa yang tumbuh dan berkembang pada kalangan petani. Ketika tanaman tersebut masih berada di sawah, petani akan menyebutnya sebagai “padi”; ketika sudah dipanen dan berbentuk butiran kasar mereka menyebutnya “gabah”; ketika menjadi butiran berbentuk putih halus mereka menamainya sebagai “beras”; dan ketika dimasak akan berganti menjadi “nasi”; ketika dikeringkan akan menjadi “karak”; karak kembali ke alam sebagai pakan unggas; dan bukankah limbah yang hanya Anda dapati dari Freeport? Kategorisasi ini menunjukkan bahwa di setiap tahap tersebut ada perlakuan spesial sehingga tak mungkin menggeneralisasinya. Tentunya Anda akan tersadar bahwa hanya ada kata “rice” di benua seberang, pantas saja mereka menjajah.

Sebagai gambaran salah satu tahapannya yaitu ketika para ibu petani berbalut kain jarik menanam dengan memilah satu persatu tanaman padi muda sambil berjalan jongkok mundur dalam hamparan tanah bercampur lumpur yang tentu bukan perkara mudah. Mereka tahu pekerjaannya lebih sering merugi. Mereka bertahan karena mendapatkan kepuasan mampu terus menerus memperbaharui rajutan relasi dengan alam yang telah selama ratusan tahun diturun-temurunkan mulai dari nenek moyang bangsa Indonesia, petani tak hanya menanam padi tapi juga menggali memori. Bingung dengan logika petani? Buang saja semua ritus akademikmu jika masih gagu melihat jalinan unyu petani dan alam ini.

Petani bergumul dengan setiap jengkal tahap tumbuh kembang padi (baca: alam). Petani mengayomi sekaligus diemong oleh alam pada saat yang bersamaan. Pengkristalan memori ini kemudian terbawa jauh menembus jaringan realitas sosial dan menyatu dengan berbagai varian produk kebudayaan. Perpindahan antar waktu di desa dilabeli dengan keadaan musim yang sedang berlangsung—musim begitu penting sebagai penentu bercocok tanam, atau tanaman tertentu yang sedang siap panen. Bapak saya gagal membaca realitas manakala secara tiba-tiba musim bergulir tidak seperti dulu lagi, inilah saat ketika global warming — lagi-lagi imbas industrimulai menampakkan dampaknya di Indonesia.

Dalam hal musik, Anda akan mendengar genre musik yang berkembang di kalangan petani cenderung lemah lembut (baca: humanis), komposisi musik petani berasal dari suara kicauan burung, tiupan angin pada dahan-dahan pisang, dan cuitan musang, sehingga tidak berdentum-dentum keras seperti produk musik generasi Z yang terinspirasi dari hingar-bingar industri, beberapa kalangan penikmat musik secara brutal mengkategorikannya sebagai polusi suara.

Relasi antara petani dengan alam yang tak akan tergantikan, memori yang melekat pada setiap jengkal tanah, pada semerbak jagung muda, pada sakit sengatan lebah. Mereka menolak karena memori, mereka tak ingin kehilangan masa lalu. Menjadi apa manusia tanpa memori? Para petani kehilangan identitasnya ketika tanahnya direnggut, mereka terputus dari historisitasnya, mereka memberontak karena dipisahkan dengan induk yang membesarkan mereka, petani direnggut hidupnya jika pabrik menggagahi sawah mereka.

LEAVE A REPLY