Emmanuel Levinas Portrait Session (Sumber: www.the-tls.co.uk).

Suatu pagi Margono sedang berjalan kaki dengan terburu-buru menuju kampusnya. Tiba-tiba ia mendapati seorang gadis kecil mengerang kesakitan tepat di hadapannya. Gadis kecil itu terlihat begitu kumal, rambutnya acak-acakan, menyedihkan, dan  kakinya berlumuran darah. Sementara itu, Margono tidak melihat seorang pun mau menolong gadis kecil tersebut. Semua orang terlihat terburu-buru menuju kampus. Melihat fenomena itu Margono diliputi dilema: segera menuju ke kampus karena ia wajib hadir dalam praktikum di laboratorium atau menolong gadis kecil itu. Pada mulanya, Margono ingin mencoba tidak peduli dengan gadis tersebut.  Namun, wajah gadis itu merasuki pikiran Margono. Ia seperti dihujam oleh puluhan batu dari atas kepalanya. Hati Margono berkecamuk. Akhirnya, Margono memutuskan bahwa ia harus menolong gadis kecil itu dengan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Sepenggal kisah di atas menunjukkan dilema aku mendapati orang lain hadir secara tiba-tiba dengan segala keberlainannya dan menggungah kesadaranku. Melalui kisah tersebut, kita akan membahas etika menurut Emmanuel Levinas (1906-1995), filsuf kelahiran Lithuania yang berpengaruh di abad ke-20.

Sekilast tentang Levinas

Levinas lahir dari keluarga Yahudi di Lithuania, pada 30 Desember 1905 (menurut penanggalan Julian yang masih digunakan pada waktu itu), atau pada 12 Januari 1906 menurut penanggalan Gregorian seperti saat ini. Pada saat itu Kaunas (Kovno), tempat tinggal Levinas di Lithuania, masih merupakan bagian dari pemerintahan Tsar. Bahasa ibunya adalah bahasa Rusia dan Hibrani. Ia mengaku dibesarkan dalam suasana religius a la Yahudi yang kuat. Dengan kedua bahasa tersebut membuat Levinas dikenalkan dengan Alkitab Ibrani, serta pengarang-pengarang klasik Rusia, seperti Pushkin, Tolstoy, Gogol, Turgenev, Dostoevsky, dan Lermotov. Pada 1923 Levinas mengenyam studi filsafat di Strasbourg dan Paris (Prancis). Di Prancis Levinas berteman dengan Maurice Blanchot, seorang penulis dan filsuf Prancis, serta filsuf Gabriel Marcel dan Jean-Paul Sartre (Bertens, 2006: 309; Tjaya, 2012: 17).

Ketertarikan Levinas pada fenomenologi Husserl membawanya pergi ke Jerman untuk mendaftarkan diri di Freiburg-im Breisgau pada 1928-1929. Di tempat itu ia belajar langsung di bawah bimbingan Husserl selama dua semester.  Pada 1930 ia mempertahankan tesisnya mengenai teori intuisi Husserl, La théorie de l‘intuition dans la phenoménologie de Husserl, yang kemudian diterbitkan oleh penerbit Vrin di Paris pada tahun yang sama. Bersamaan dengan itu, Levinas, yang pada waktu itu berumur 26 tahun, membantu menerjemahkan Cartesianische Meditationen karya Husserl ke dalam bahasa Prancis yang kemudian diterbitkan pada 1931. Sewaktu Levinas di Freiburg, ia menyaksikan keberhasilan Heidegger menjadi profesor muda menggantikan Husserl pada akhir semester musim dingin 1928/29. “Saya pergi [ke Freiburg] untuk bertemu Husserl tetapi saya malah bertemu Heidegger,” demikian tulis Levinas dalam Is it Righteous to Be?. Selain Husserl, Heidegger menjadi pemikir yang mempengaruhi arah filsafat Levinas di kemudian hari (Bertens, 2006: 309-310; Tjaya, 2012: 18-19; Hand, 2009: 12).

Pada 1939, Levinas dipanggil untuk menjalani dinas militer Prancis dan pada 1940 sampai akhir perang ia menjadi tahanan perang di Jerman. Ia tidak dibunuh karena keyahudiannya tidak diketahui tentara Jerman. Sementara itu, seluruh keluarganya di Lithuania dibunuh oleh Nazi. Peristiwa yang ia alami selama menjadi tahanan perang dan pembantaian kaum Yahudi meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi Levinas. “Biografi saya didominasi oleh perasaan buruk dan ingatan akan kekejaman Nazi,” demikian tulis levinas dalam esai “Signature” (Tjaya, 2012: 15). Pada 1947,  Levinas menjadi direktur Ecole normale Israélite orientale (di Paris) yang mendidik guru-guru bahasa Prancis bagi sekolah-sekolah Yahudi di kawasan Laut Tengah (Bertens, 2006: 312).

Pemikiran Levinas bersumber dari  dan dipengaruhi oleh budaya dan pemikiran Yahudi, termasuk dua filsuf Yahudi seperti Martin Buber dan Franz Rosenzweig, sejarah filsafat Barat dan fenomenologi, yang di dalamnya Husserl dan Heidegger termasuk (walaupun, di kemudian hari Levinas mengkritik habis heidegger karena keterlibatannya dalam mendukung Nazi). Karya-karya Levinas di antaranya: De l’existence à l’existant (1947), En découvrant l’existence avec Husserl et Heidegger (1949), Totalité et infiniti (1961), Humanisme de l’autre homme (1972), Autrement qu’être ou au-delà de l’essence (1974), Sur Maurice Blanchot (1975), Noms propes (1976), De Dieu qui vient à l’idée (1982) dan Ethique et infini (1982) (Bertens, 2006: 312-313).

Levinas meninggal pada  tanggal 25 Desember 1995. Dalam pidatonya di pemakaman Levinas, filsuf Jacques Derrida berkata, bahwa karya-karya Levinas “begitu luas sehingga kita tidak bisa lagi memandang tepiannya”. Setelah kematiannya, pengaruh Levinas semakin berkembang dan kemudian ia dianggap sebagai salah seorang pemikir yang memiliki pengaruh radikal dalam alam pemikiran Barat, yang merentang melampaui filsafat dan kritik teks hingga merengkuh disiplin ilmu hubungan geopolitik, psikiatri, etika kreativitas dan sebagainya (Hand, 2009: 2).

Fenomenologi Husserl dan Konsep Intensionalitas: Titik Berangkat Utama dalam Filsafat Levinas

Fenomenologi yang dimaksud di sini adalah fenomenologi yang didirikan oleh Husserl. Istilah fenomenologi sendiri sebenarnya sudah diperkenalkan oleh J.H. Lambert pada 1764, yang dimaksudkan sebagai Teori Penampakan. Namun, baru di tangan Husserl-lah fenomenologi menjadi arah baru dalam filsafat (Bagus, 2005: 234-235). Menurut Husserl, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) mengenai apa yang tampak (phainomenon). Dalam hal ini, fenomenologi mempelajari apa yang menampakkan diri dalam kesadaran (fenomen). Fenomena yang dimaksud Husserl bukanlah fenomena khas Kantian. Menurut Kant, pengetahuan kita akan realitas terbatas pada fenomena-fenomena (Erscheinungen) dan bukan realitas itu sendiri (das Ding an sich). Kita tidak bisa melihat sesuatu pada dirinya sendiri (in se). Ketika kita melihat sebuah buku berwarna kuning, itulah fenomena hasil pencerapan kita. Kita tidak bisa mengakses buku berwarna kuning pada dirinya sendiri. Sedangkan, apa yang dimaksud Husserl dengan “fenomena” sama sekali berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Kant. Fenomena, menurut Husserl, adalah realitas itu sendiri sebagai yang tampak. Dalam hal ini, tidak ada semacam tembok pemisah antara kita dan realitas (yang sejati). Nah, dalam terang pemahaman inilah, kita perlu memahami semboyan filsafat Husserl yang terkenal, yakni Zurück zu den Sachen selbst (Kembalilah pada benda-benda sendiri) (Bertens, 2002: 110-111).

Menurut Levinas, Husserl memahami intuisi filosofis sebagai refleksi atas kehidupan yang ditelaah dengan segala kepenuhannya, namun tidak lagi dihidupi. Husserl mengabaikan kehidupan yang sungguh-sungguh dihidupi dalam analisis fenomenologinya. “Refleksi atas kehidupan dipisahkan dari kehidupan itu sendiri,” demikian kritik  Levinas terhadap Husserl.

Fenomenologi sendiri bukanlah sebuah sistem filsafat tertentu, melainkan sebuah praktik berfilsafat secara radikal. Sesuatu yang menjadi objek penyelidikan fenomenologi adalah kesadaran manusia dengan segala objek yang ada di dalamnya (Tjaya, 2012: 24). Dalam fenomenologi, kesadaran (consciousness) bersifat fundamental bagi eksistensi manusia (Baggini and Fosl, 2010). Fenomenologi ingin membuang pengandaian dan syak wasangka yang berakar dalam ilmu pengetahuan, agama, tradisi, budaya tertentu yang melingkupi fenomena yang ingin diselidiki demi objek kesadaran itu menampakkan diri sebagaimana adanya. Nah, usaha untuk  kembali kepada objek-objek pengetahuan secara utuh merupakan pembaruan dalam filsafat yang dimunculkan oleh fenomenologi. Menariknya, fenomenologi menyelidiki mulai dari objek-objek keseharian seperti, meja, kursi, sepeda, sampai pada fenomen mental seperti imaji, tempat, waktu, atau kenangan akan sesuatu tertentu. Metode fenomenologi tidak bersifat objektif, dalam arti bahwa objek-objek yang diselidiki selalu akan memberikan makna yang sama bagi siapa pun, melainkan bersifat subjektif, dalam arti maknanya selalu terkait dengan subjek yang menelitinya (Tjaya, 2012: 24-25).

Selain konsep kesadaran yang menjadi titik tolak fenomenologi sebagaimana disebutkan di atas, terdapat konsep dasar yang disebut intensionalitas. Intensionalitas adalah konsep mengenai dimensi internal kehendak/kebebasan manusia yang berakar dari abad pertengahan, yang digunakan oleh filsuf Thomas Aquinas, Dunc Scotus dan Albertus Magnus. Namun, setelah berada di tangan Franz Brentano, guru Husserl, konsep intensionalitas menjadi lebih bernuansa saintifik, yaitu untuk menunjukkan keterarahan gerak manusia pada dunia di luarnya. Intensionalitas, bagi Brentano, adalah bentuk paling primordial dari persentuhan manusia akan dunia di luarnya. Brentano kemudian berambisi ingin menjelaskan aktivitas mental-psikis manusia tersebut (intensionalitas) melalui metode ilmu-ilmu alam dan membuat gejala mental-psikis dapat dijelaskan secara rasional, objektif, dan ilmiah. Dalam hal ini, bagi Brentano, intensionalitas selalu dipahami dalam pengertian yang mental-psikis. Menurut Husserl, pandangan Brentano tersebut terjerumus ke dalam sesat berpikir psikologisme, yang menganggap kesadaran manusia semata-mata sebagai aktivitas mental psikis dan ingin menjelaskan aktivitas mental-psikis tersebut lewat metode ilmu-ilmu alam. Berbeda dengan gurunya, Husserl menulis bahwa kesadaran bersifat lebih luas ketimbang aktivitas mental-psikis seperti yang diajukan oleh Brentano. Intensionalitas, bagi Husserl, memuat kesadaran manusia yang lebih luas daripada dimensi psikis itu sendiri. Dalam kerangka fenomenologi Husserlian, intensionalitas merupakan cara-berada kesadaran manusia yang paling mendasar yang melaluinya manusia memahami baik dirinya maupun dunia yang ada di luar dirinya (Prajna-Nugroho, 2012: 8-9).

Jika kita kembali ke cerita di paragraf awal di atas, si gadis cilik adalah fenomen bagi Margono, karena si gadis cilik itu menampakkan dirinya pada kesadaran Margono. Gerak kesadaran Margono yang sedang berjalan kaki menuju kampus tersebut menuju fenomen si gadis cilik itulah yang disebut intensionalitas.  Jadi, intensionalitas kesadaran adalah bahwa kesadaran manusia selalu mengarah ke objek tertentu (intensional). Kesadaran manusia tidaklah bersifat kosong. Dalam bentuk kesadaran apa pun, seperti persepsi, imajinasi, pemikiran, harapan selalu ada sesuatu yang menjadi objek kesadaran tersebut—misalnya, kenangan tertentu akan mantan, mencintai kekasih teman, melihat bus “om telolet om” di depan gerlam Unpad, dlsb. Singkat kata, kesadaran itu selalu berarti kesadaran akan sesuatu (Tjaya, 2012: 26-27).

Selain konsep intensionalitas, di dalam fenomenologi Husserl terdapat konsep konstitusi (proses menampaknya fenomena-fenomena kepada kesadaran), intuisi (pengalaman langsung terhadap objek yang jelas pada dirinya), reduksi dan pengurungan (epoché)—yang berarti, usaha untuk melepaskan diri kita dari sikap alamiah (natural attitude)—, ego empiris, ego transendental, dan sebagainya. Namun, dalam tulisan ini penulis membatasi—selain karena keterbatasan ruang dan waktu—hanya pada konsep intensionalitas yang bagi Levinas merupakan inti ajaran fenomenologi.

Levinas juga mengkritik fenomenologi Husserl yang hanya berhenti pada struktur kesadaran. Hal ini membuat Husserl, menurut Levinas, terjebak dalam dikotomi subjek-objek, sehingga berimplikasi pada hilangnya keberlainan (alterity) dari orang lain, kecuali orang lain semata-semata sebagai objek.

Mengenai konsep intensionalitas Husserl, Levinas tidak menerima begitu saja—melainkan dengan melakukan penolakan secara dialektis, maksudnya Levinas mengembangkan dan meradikalkan metode fenomenologi dengan melakukan kritik terhadapnya. Dalam disertasinya, Levinas mengkritik bahwa dalam ajaran intensionalitas Husserl terdapat konsepsi yang terlalu intelektualistis tentang intuisi. Maksudnya, bagi Husserl intensionalitas sama dengan sikap teoretis. Menurut Levinas, Husserl memahami intuisi filosofis sebagai refleksi atas kehidupan yang ditelaah dengan segala kepenuhannya, namun tidak lagi dihidupi. Husserl mengabaikan kehidupan yang sungguh-sungguh dihidupi dalam analisis fenomenologinya. “Refleksi atas kehidupan dipisahkan dari kehidupan itu sendiri,” demikian kritik  Levinas terhadap Husserl. Kritik Levinas terhadap Husserl tersebut tentu saja dipengaruhi oleh pemikiran Heidegger yang juga dipelajarinya selama studi filsafat, terutama lewat karya Heidegger Sein und Zeit. Karya tersebut, bagi levinas, merupakan bentuk konkret dalam analisa fenomenologi, yang di dalamnya membahas perihal keterlibatan intensional manusia di dunia, kecemasan tak berobjek (angst), yang sangat menarik bagi Levinas (Tjaya, 2011: 94-95).

Di samping problem intensionalitas, Levinas juga mengkritik fenomenologi Husserl yang hanya berhenti pada struktur kesadaran. Hal ini membuat Husserl, menurut Levinas, terjebak dalam dikotomi subjek-objek, sehingga berimplikasi pada hilangnya keberlainan (alterity) dari orang lain, kecuali orang lain semata-semata sebagai objek. Dengan demikian, Husserl dianggap kembali membawa pemikiran yang meleburkan keberlainan orang lain ke dalam suatu kesatuan. Hal itulah yang ditentang oleh Levinas dalam filsafatnya (Magnis-Suseno, 2000: 90).

Singkat kata, Levinas mengambil saripati pemikiran—sekaligus mengkritik konsep dasar—fenomenologi Husserl dan juga Heidegger untuk digunakan sebagai metode filsafatnya. Melalui metode fenomenologi, Levinas memahami aktivitas berfilsafat sebagai tindak mengamati apa yang menunjukkan diri, melihat apa yang sebenarnya ada—terutama mengenai apa yang terjadi apabila aku bertemu orang lain (Magnis Suseno, 2000: 91).

Kritik atas Ontologi

Jean Grondin mencatat dalam Introduction to Metaphysics (2012: 243), kebanyakan para filsuf pasca-Heideggerian lebih suka menggunakan terma ontologi ketimbang metafisika, sebuah term yang dicurigai sejak Kant. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Levinas. Sebaliknya, Levinas menggunakan term metafisika[1] dan lalu mempertanyakan keistimewaan pertanyaan akan Ada (being) dalam ontologi—sebagai inti dari pohon metafisika yang, dalam derajat bervariasi, mempertanyakan Ada (being).  Perdebatan mengenai ontologi, setidaknya menurut Levinas, dimulai sejak Parmenides yang  menegaskan kebenaran absolut mengenai yang ada sebagai yang ada dan yang tidak ada sebagai yang tidak ada sampai Heidegger dengan proyek mendalami problem Ada dan Dasein-nya (Baghi, 2012: 52-54).

Filsafat pertama adalah etika, kata Levinas. Dan etika dapat diterjemahkan menjadi metafisika. Sebagai filsafat pertama, metafisika harus bertolak dari kenyataan orang lain dengan segala keberlainannya yang tidak dapat direduksi oleh filsafat identitas (filsafat penyamaan, filsafat totalitas) (Magnis-Suseno, 2000: 93).

Levinas menuliskan kritik atas ontologi dalam esainya yang diterbitkan pada tahun 1951 yang  berjudul ‘Is Ontology Fundamental?’. Esai tersebut sesungguhnya dimaksudkan Levinas untuk menyerang proyek ontologi fundamental Heidegger tetapi juga sekaligus mengkritik bangunan filsafat Barat yang mendasarkan diri pada ontologi. Pada poin-poin tertentu, Levinas setuju dengan Heidegger bahwa sejarah filsafat Barat ditopang oleh ontologi yang ingin mendominasi dan memperoleh kejelasan, yang didasarkan pada pelupaan dan penindasan. Meskipun demikian, bagi Levinas, Heidegger tetap termasuk ke dalam golongan filsuf yang menghidupi tradisi ontologi yang ia kritik sendiri (Grondin, 2012, loc cit.). Levinas mengkritik Heidegger yang membuat Ada (Being) terlalu anonim (Tjaya, 2012: 42), yakni tiadanya dimensi etis yang pokok dalam filsafat Heidegger. Heidegger dituduh Levinas telah mereduksi eksistensi manusia, dalam cara pandang maupun cara-berada, ke dalam ranah ontologi yang meringkus Yang-Lain ke dalam Yang-Sama yang membuat Levinas memasukkan Heidegger[2] ke dalam rumpun filsafat totalitas (Baghi, 2012 :57).

Menurut Levinas, mengatakan bahwa mayoritas filsafat Barat sering kali mendasarkan diri pada ontologi sama dengan berkata bahwa filsafat barat telah mereduksi Yang-Lain ke dalam Yang-Sama. Maksudnya, di balik semua kejamakan dan perbedaan yang ada, filsafat mencari orientasi ontologisnya dalam figur yang-sama, yakni Ada yang identik (an identical Being), suatu eidos yang dapat meringkus dan mendominasi objek di bawahnya. Kritik Levinas, berbeda dengan kritik Heidegger atas reduksi Being ke dalam eidos serta menuduh sejarah filsafat Barat mengalami pelupaan terhadap Ada (Being), menekankan pada pelupaan filsafat pada Yang-Lain (The-Other). “Netralisasi Yang-Lain yang menjadi sebuah tema atau objek /…/ merupakan reduksi ke dalam Yang Sama,” demikian tulis Levinas. Bagi Levinas, ontologi menjadi tirani dan menampak sebagai ‘dominasi imperialis’ yang didorong oleh sejenis egoisme untuk meninggikan Yang-Sama. Melawan itu, Levinas menggunakan strategi pembalikan terminologi. Pengutamaan Yang-Sama dalam ontologi digantikan dengan pengutamaan Yang-Lain, sementara itu ontologi digantikan dengan etika, atau Levinas menyebutnya metafisika. Bagi Levinas, pemikiran ontologis bersifat imanen dan di dalamnya mengeram ego Yang-Sama yang menendang keberlainan setiap individu, sedangkan pemikiran metafisis menemukan transendensi Yang-Lain, yang melampaui segala usahaku untuk menundukkan keberlainannya (Grondin, 2012: 244). Filsafat pertama adalah etika, kata Levinas. Dan etika dapat diterjemahkan menjadi metafisika. Sebagai filsafat pertama, metafisika harus bertolak dari kenyataan orang lain dengan segala keberlainannya yang tidak dapat direduksi oleh filsafat identitas (filsafat penyamaan, filsafat totalitas) (Magnis-Suseno, 2000: 93). Bagi Levinas, etika selalu terkait dengan pertemuan konkret dengan orang lain (Tjaya, 2012: 46). Etika sebagai filsafat pertama berarti bahwa etika berkaitan dengan pertemuan antara Yang-Sama (I, sang Aku, sang Diri) dan Yang-Lain (orang lain) yang berakar pada dimensi paling primordial eksistensi manusia (Tjaya, 2012: 51-52). Dalam pemahaman inilah klaim “metafisika mendahului ontologi” milik Levinas perlu dipahami.

Wajah Orang Lain?

Berkaitan dengan kritiknya atas filsafat totalitas yang mengakar pada problem ontologi di atas, Levinas melawan kecenderungan ontologi yang mereduksi Yang-Lain ke dalam Yang-Sama tersebut dengan mendasarkan etika atau metafisikanya pada sifat irreducibility of the other (ketaktereduksian Yang lain; Yang Lain yang tidak dapat dijabar/direduksi). Yang Lain itu adalah wajah yang tidak dapat direduksi ke dalam ide yang aku miliki tentangnya, demikian kata Levinas (Grondin, 2012: 244-245). Apa itu wajah yang dimaksud dalam etika Levinasian?

Pada umumnya, kita memahami wajah sebagai bagian depan kepala kita di mana mata, hidung, alis, mulut berada. Memang wajah seringkali menjadi representasi identitas seorang manusia, namun wajah yang dipahami dalam pemikiran Levinas sesungguhnya melampaui tubuh fisik manusia (Tjaya, 2012: 78). Menurut Levinas, wajah adalah pengadar eksterior yang berada di luar aku. Wajah adalah “cara Yang-Lain (l’Autre) memperlihatkan dirinya, melampaui gagasan mengenai Yang-Lain dalam diriku” (Tjaya, hlm. 77). Dalam hal ini, wajah berkaitan dengan cara orang lain menampakkan dirinya kepada kita (Tjaya, hlm. 79). Wajah orang lain selalu menolak usaha aku untuk menyerapnya ke dalam pemikiranku untuk kemudian aku jadikan isi pemikiran. Itu karena wajah merupakan yang Tak Berhingga yang penampakannya menghantam totalitas dan upaya aku untuk meringkusnya ke dalam pemikiranku. Inilah mengapa Levinas menyebut penampakan wajah sebagai epifani, yakni sebuah pengejawantahan tiba-tiba atas makna realitas tertentu (Tjaya , hlm.82). Wajah tidak dapat dibunuh, demikian seru Levinas. Pada saat orang lain menampak sebagai wajah (yang telanjang), kita tidak memiliki kuasa apapun terhadapnya, kita tidak bisa memenjarakannya ke dalam pola pikir kita (Magnis-Suseno, 2000: 97). Wajah orang lain membuat kita cemas dan menuntut kita untuk  bertanggung jawab. Hal ini seperti yang dialami oleh Margono dalam cerita di atas, ketika ia bertemu dengan si gadis cilik yang berseru, meminjam Levinas, “Jangan bunuh aku!” yang mengusik diri Margono yang menuntutnya untuk bertanggung jawab terhadap si gadis kecil itu (Tjaya, hlm. 84). “Wajah menatapku dan memanggilku. Ia menuntut aku. Apa yang ia minta? Jangan tinggalkan ia sendirian,” kutipan milik Levinas ini penulis kira tepat untuk menggambarkan situasi si gadis cilik dengan Margono. Menurut Levinas, jawaban yang layak atas permintaan tersebut adalah me voici (Inilah aku). Itulah yang dilakukan oleh Margono, yang bersedia bertanggung jawab di hadapan wajah orang lain di tengah dilema yang mengganggunya. Pertemuan antarwajah tersebut merupakan asal-mula etika atau ‘yang-etis’, yang melampaui segala upaya untuk merumuskan kaidah-kaidah moral secara universal (Tjaya, hlm. 85-86).

Dalam pertemuan antara aku dan orang lain, sebagaimana antara Margono dan si gadis kecil di atas, terjadi gerak metafisis sang Aku untuk keluar dari dirinya yang tidak hanya untuk menyeberangi (trans) melainkan juga menaiki (scando). Jadi, gerakan transenden (atau juga mencakup gerak transasendensi) sang Aku menuju Yang-Lain selalu bersifat menaik, dalam arti tidak berada pada tataran yang sama. Yang-Lain lebih tinggi daripada aku karena terdapat ketidakberhinggaan (infini, infinity) dalam wajah orang lain. Yang-Lain menantang aku, dari ketinggiannya, untuk menanggapinya dalam pertemuan konkret. Inilah yang disebut dengan relasi asimetris[3] dalam pemikiran Levinas. Hak-hak orang lain harus didahulukan ketimbang hak aku. Aku adalah tawanan (hostage) bagi orang lain. Nah, dalam artian inilah humanisme ala Levinas sering disebut sebagai “humanisme bagi Yang-Lain” (Tjaya, hlm. 89-91).

Menarik untuk dicatat, bahwa menurut Levinas wajah orang lain merupakan jejak Yang-Tak-Terbatas. Konsep jejak Yang-Tak-Terbatas milik Levinas ini rumit dan tricky. Kita tidak bisa menganggap Yang-Tak-terbatas itu sebagai inkarnasi dari Yang Ilahi, kecuali jika kita menganggap Levinas sedang berteologi. Dalam filsafat Barat, seperti dicatat oleh Tjaya (2012), konsep Yang-Tak-Terbatas ini seringkali digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang disebut Tuhan. Yang-Tak-terbatas, yang meninggalkan jejak sebagai wajah orang lain, bersifat melampaui Ada. Yang-Tak-Terbatas meninggalkan jejak karena Yang-Tak-Terbatas tidak bisa dibuat imanen atau bagian dari Ada itu sendiri. Yang-Tak-Terbatas tidak pernah menjadi representasi pemikiran manusia. Itulah keberlimpahan Yang-Tak-Terbatas yang tidak mampu ditampung oleh cawan mungil pengada (beings) yang terbatas (Tjaya, hlm. 137-156). Jejak Yang-Tak-Terbatas yang manifes pada wajah si gadis kecil itulah yang membuat Margono memutuskan untuk membawa si gadis kecil itu ke rumah sakit terdekat.


Catatan Akhir:

[1] Metafisika berasal dari bahasa Yunani meta ta physica (sesudah fisika). Istilah “sesudah metafisika” tersebut muncul dari salah satu kumpulan karya Aristoteles yang diklasifikasikan oleh Andronikos dari Rhodi. Andronikos mengklasifikasikan karya-karya dengan judul Metafisika setelah buku Fisika milik Aristoteles. Metafisika memiliki sejumlah definisi. Dua di antara beberapa definisi metafika adalah (1) kajian menyeluruh, koheren dan konsisten tentang realitas (keberadaan, alam semesta) sebagai suatu keseluruhan; (2) studi mengenai yang-ada sebagai yang-ada (being qua being). Dalam arti pertama, metafisika dapat dipahami sebagai filsafat sinoptik dan kosmologi. Dalam arti terakhir, metafisika sinonim dengan ontologi (Bagus, 2005: 624).

[2] Selain perkara pertempuran filosofis tersebut, dapat dipahami bahwa Levinas juga sangat kecewa terhadap sikap Heidegger yang mendukung Nazi (Bertens, 2006: 317-318).

[3] Sebenarnya, terdapat konsep ‘pihak ketiga’ (le tiers) dalam etika Levinas yang memungkinkan relasi di luar relasi antar dua wajah, yakni ketika terdapat kehadiran orang lain dalam pertemuan konkret antara dua individu. Konsep ini dikembangkan oleh Levinas dalam diskusi mengenai keadilan sosial. Relasi antara sang aku dengan pihak ketiga ini bersifat langsung. “Orang-orang lain langsung (immediately) menjadi perhatianku… Relasiku dengan orang lain sebagai sesama memberikan makna kepada relasiku dengan semua orang lain,” demikian tulis Levinas dalam Otherwise than Being. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa tanggung jawab yang muncul dari rasa keadilan terhadap orang lain tidak didasarkan pada dasar belas kasihan melainkan atas dasar tanggung jawab tanpa syarat terhadap orang lain (Tjaya, 2012: 96-101). Pembahasan lebih lanjut mengenai pihak ketiga ini tidak dilakukan karena keterbatasan ruang. Mungkin nanti bisa disambung di tulisan lainnya.

Daftar Pustaka:

Baghi, Felix. 2012. Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan. Maumere: Penerbit Ledalero

Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta:  Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 234-239

Bertens, Kees. 2002. Filsafat Barat Kontemporer Jilid I: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 104-115

Bertens, Kees. 2006. Filsafat Barat Kontemporer Jilid II: Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 309-328.

Grondin, Jean. Introduction to Metaphysics: From Parmenides to Levinas (translated by Lukas Soderstrom). New York: Columbia University Press. p. 243-246

Hand, Séan. 2009. Emmanuel Levinas. Abingdon: Routledge

Magnis-Suseno, Franz. 2000. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Prajna-Nugroho, Ito. “Intensionalitas dan Intersubyektivitas dalam Fenomenologi Husserl”, Jurnal Filsafat Driyarkara, Th XXXIII No. 2/2012:  3-23

Tjaya, Thomas Hidya. 2012. Enigma Wajah Orang Lain. Jakarta: KPG

Aldo Fernando
Penulis adalah mahasiswa Peminatan Perkebunan di Fakultas Pertanian Unpad angkatan 2013. Aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian & Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD Unpad). Bisa dihubungi di twitterland @aldofernandons

LEAVE A REPLY