Rocky Gerung (sumber: https://celebesmedia.id/humaniora/artikel/1013191218/acungkan-dua-jari-rocky-gerung-ini-tanda-contreng)

Cukup cinta yang platonis, jangan isi kepala!

-St. I Nyoman A. W

Sejak Platon, filsafat menampakan diri sebagai wajah politis. Metode Sokratik yang diciptakan tidak lebih dari wajah ideologis untuk membunuh lawan politik Platon, yakni Kaum Sofis. Dalam beberapa kesempatan, Kaum Sofis berhasil mengambil atensi publik, di satu sisi Platon adalah pihak yang paling dirugikan. Tetapi sejarah selalu dimenangkan oleh orang-orang gila. Dan untuk sejarah filsafat Yunani klasik, Platon adalah pemenang!

Dari Yunani dua puluh satu (21) abad yang lalu, kita dapat membaca tensi politis di antara Platon dan Kaum Sofis sedang bergairah di antara Pegiat Filsafat Indonesia. Momentum tersebut tercipta ketika Rocky Gerung mulai memperoleh panggung yang luas di antara publik Indonesia. Sebagaimana tensi di antara Platon dan Kaum Sofis di Yunani, pre-teks yang dapat dibaca adalah politis dan minus esensi filosofis.

Setelah Kant, Filsuf Tidak (lagi) “Memandang Langit”

Setelah Kant menulis “Kritik atas Rasio Murni” (The Critique Of Pure Reason) pada tahun 1781, imajinasi Alam Luar Raya manusia beralih pada suatu kondisi yang kemudian diidentifikasi sebagai kondisi keterhinggaan manusia. Setelah Kant, pikiran manusia tidak lagi menjelajah pada nalar abstrak astronomis Alam Luar Raya yang absolut, namun membatasi penjelajahan pada kondisi keterhinggaan manusia dalam skema Filsafat Trasendental. Heidegger memberi istilah keterhinggan manusia sebagai faktisitas. Di dalam Being and Time, Heidegger menjelaskan konsep “faktisitas” mengimplikasikan entitas “di-dalam-dunia”  sebagai “Ada-di-dalam-dunia”, yang dapat dimengerti sebagai keterikatan entitas tersebut dalam tujuannya dengan “Ada” yang dialami di dalam dunianya.[1]

Dalam paradigma Kantian, imajinasi manusia terbatas pada faktisitas ke-manusia-an yang termanifestasi lewat fenomena kemasyarakatan, kejiwaan, politik, bahasa, sastra atau pun fisis. Dalam aras pemikiran tersebut, kita tidak akan menemukan pemikir ke-manusia-an yang mengambil postulat dari hukum Alam Luar Raya, seperti Adam Smith. Di dalam The Wealth of Nations – karya klasik dalam bidang teori ekonomi politik, Adam Smith digelisahkan oleh satu pertanyaan astronomis a la Newton: bagaimana fenomena yang berkelindan tidak berakhir pada suatu kekecauan tetapi justru pada sebuah keteraturan? Pertanyaan tersebut menggiring Adam Smith untuk merumuskan sebuah dalil gravitasi moral yang menjadi basis teori ekonomi politiknya.[2]

Dalam lanskap episteme korelasionisme kuat, kebijaksanaan Derrida perlu digemakan kembali : tidak ada sesuatu di luar teks”. Teks diartikan – dalam pemikiran Derrida,  sebagai fenomena yang terberi. Oleh karena itu dibalik yang terberi adalah nihil.

Praktis setelah Kant, kita menemukan figur filsuf seperti Freud, Nietzsche, Wittgenstein, Foucault, dan Derrida–untuk menyebut beberapa–yang membatasi diskursus filosofis pada kondisi faktisitas manusia. Meillassoux memberi sinopsis sederhana pada diskursus filsafat setelah Kant ke dalam terminologi: korelasionisme kuat.[3] Di dalam After Finitude, Meillassoux menjelaskan korelasionisme kuat sebagai keterpikiran fenomena yang terberi dalam kondisi faktisitas manusia. Dengan kata lain, pikiran tidak dapat melampui korelasi faktisitas yang menandai keterhinggan manusia. Ludwig Wittgenstein di dalam Tractatus Logico-Philosophicus, membantu memberi pemahaman tentang korelasi kuat; ada beberapa hal yang tidak dapat diucapkan ke dalam kata-kata. Ia membuat dirinya sendiri termanifestasi.  Sesuatu hal yang mistik (mystical).[4]

Lintasan sejarah filsafat kontemporer dapat dipahami sebagai resonansi teoritis dan etis dari filsafat kritis Kant. Adapun lintasan tersebut dapat digambarkan sebagai “peralihan” dari ambisi filsafat untuk menggapai yang absolut (causa sui) kepada fenomena keterhinggaan manusia. Dalam lanskap episteme korelasionisme kuat, kebijaksanaan Derrida perlu digemakan kembali: “tidak ada sesuatu di luar teks”. Teks diartikan, dalam pemikiran Derrida,  sebagai fenomena yang terberi. Oleh karena itu dibalik yang terberi adalah nihil. Lanskap pemikiran tersebut menunjukkan fenomena yang terberi sebagai ada (there is) bahasa, kesadaran, kuasa, saling berkelindan dalam aras korelat keterhinggan manusia. Derrida, di dalam The Margin Of Philosophy menjelaskan aksentuasi teoritis dari fenomena inter-tekstual tersebut, sebagai berikut:

     “Dalam usaha menjelaskan ‘différance’, segala hal adalah strategis dan penuh petualangan. Strategis karena tidak ada kebenaran trasenden yang hadir di luar gugus tulisan untuk menjamin kelangsungannya. Penuh petualangan karena strategi tersebut bukanlah sebuah strategi sederhana yang mengarah pada taktik tertentu untuk mencapai sebuah tujuan (telos) atau sebuaah tema dominasi, sebuah penguasaan dan re-aproriasi ultimat dari pengembangan gugus tersebut.”[5]

Lanskap pemikiran tersebut menunjukkan tujuan diskursus filsafat kontemporer pada sesuatu yang terberi, dengan menafikkan segenap bentuk pretensi pada yang absolut. Faktisitas menjadi momen reflektif bagi aras filsafat kontemporer untuk membatasi komitmen filosofis pada sesuatu yang terberi. Limitasi diskursus pada korelat keterhinggaan manusia menunjukkan ketiadaan fondasi esensial bagi keajegan dunia fenomena.

Kematian Tuhan – yang memeroleh momentumnya pada filsafat Nietzsche – membebaskan filsafat dari belenggu fondasionalisme onto-theo-logi, namun ironis, menutup setiap kemungkinan epistemis mengenai yang absolut. Konsekuensi logisnya, diskursus mengenai yang absolut dilegitimasi secara rasional  pada ranah yang irasional : fideisme, ir(religius), dan fundamentalisme.

Pembacaan Deleuze atas filsafat Nietzsche memberi pemahaman bahwa esensi hanyalah peresapan dan nilai dari sesuatu hal; esensi ditentukan oleh kekuatan-kekuatan relasional di antara suatu hal dan kehendak yang memberdayakan kekuatan latar tersebut.[6] Oleh karena itu, keterhinggaan menjadi korelat mendasar dari nosi kebijaksanaan filsafat kontemporer. Filsafat kontemporer tidak lagi “memandang langit” untuk mengidentifikasi formula ilahi dalam mengabsolutisasi esensi ultimat fenomena. Di lain pihak, filsafat kontemporer berangkat dari asumsi faktisitas korelasi untuk mengidentifikasi watak di balik fenomena.

Filsafat Kontemporer: Wajah Cantik Sofisme Klasik?   

Faktisitas korelasi memberi akses untuk menafikan modus berpikir absolut, dogmatis, dan esensialis yang identik dengan sistem metafisika barat. Kematian Tuhan–yang memperoleh momentumnya pada filsafat Nietzsche–membebaskan filsafat dari belenggu fondasionalisme onto-theo-logi, namun ironis, menutup setiap kemungkinan epistemis mengenai yang absolut. Konsekuensi logisnya, diskursus mengenai yang absolut dilegitimasi secara rasional pada ranah yang irasional: fideisme, ir(religius), dan fundamentalisme. Oleh karena itu, dalam lanskap pemikiran filsafat kontemporer, klaim mengenai kebenaran fondasional adalah dogmatis oleh karena itu tidak sahih secara ontologis. Di satu sisi, filsafat kontemporer dengan model korelasionisme kuat adalah penjamin kesahihan diskursus irasional mengenai yang absolut.

Pada lanskap paradoksal tersebut, filsafat kontemporer yang berbasis pada faktisitas korelasi membentuk wajah kebudayaan yang anti-esensialis. Faktisitas korelasi berangkat dari keterhinggan pikiran manusia dalam memikirkan yang absolut. Oleh karena itu, faktisitas korelasi bertumpu pada diskursus fenomena yang terberi pada korelat manusia. Adapun kebudayaan anti-esensialis tersebut termanifestasi ke dalam gestur parodi, retorika, metafora, meme, satire, dan bahkan hoax–dalam arti pengujian fakta. Dalam aras pemikiran Deleuzian, gestur diskursus anti-esensialis tersebut tidak dapat dipahami sebagai modus filsafat representasi. Sebaliknya, keutamaan gestur tersebut terletak pada apa yang dikerjakan, yakni dengan bagaimana hal tersebut menciptakan sebuah realitas baru, memengaruhi gerak sejarah, sosial, dan kekuatan ekonomi.[7]

Sofisme Klasik adalah konsekuensi etis dan teoritis bagi daya kreatif dan imajinatif faktisitas ke-manusia-an. Tedensi tersebut berbasis pada faktisitas korelasi ke-manusia-an ;  ada (there is) bahasa, kesadaran, kehendak, teks, tidak dapat diabsolutkan pada entitas tunggal ideal a la Platon.

Wajah cantik sofisme klasik dapat diidentifikasi pada ontologi filsafat kontemporer yang terkonfigurasi dalam gestur anti-esensialis. Secara logis, ontologi tersebut memberi akses pada modus pemikiran kreatif dalam mengeliminasi pre-teks kebudayaan ideologis untuk menghasilkan momen peristiwa rhizomatik. Adapun nosi rhizome tersebut mengacu pada daya kreatif peristiwa dalam mengkreasi kebaharuan realitas. Di dalam A Thousand Plateaus, Deleuze dan Guattari menulis; “Singularitas (haecceity) tidak memiliki awal dan akhir, asal atau tujuan; ia selalu berada di antara. Ia tidak terbuat dari titik-titik, hanya garis. Singularitas adalah Rhizome.”[8] Lanskap pemikiran tersebut memberi askes untuk mengidentifikasi gestur anti-esensialis sebagai rhizome yang memiliki daya kreatif untuk mengkreasi realitas.

Ontologi filsafat kontemporer yang termanifestasi ke dalam gestur anti-esensialis adalah komitmen teoritis untuk menafikan filsafat esensialisme Platon. Dalam aras tersebut, filsafat kontemporer memiliki simpati intelektual pada pemikiran sofisme klasik ketimbang pada arogansi esensialisme Platon. Adapun arogansi tersebut dapat diidentifikasi pada modus operandi pemikiran dialektika sokratik dalam menggiring opini (doxa)–lawan bicara–pada nalar esensialis penanya. Pertanyaan mengenai, “Apa itu Cantik?” (What is Beauty?) adalah modus  nalar esensialias. Penalaran tersebut mengarahkan  jawaban pada entitas ajeg mengenai konsep ideal cantik, pada figur seorang perempuan yang cerdas–misalnya. Di satu sisi, pertanyaan retoris Hippias–seorang sofis dalam dialog Platon–membuka jawaban pada beragam interpretasi mengenai esensi kemenjadian. Pertanyaan “yang mana?” (which one?), membuka penalaran pada beragam kemungkinan momen peristiwa. Menurut Nietzche, pertanyaan “yang mana?” (which one?)–qui–memiliki arti: kekuatan apa yang memberdayakan hal yang terberi, kehendak apa yang menyertainya?[9]

Dalam lanskap peradaban kontemporer, Sofisme Klasik adalah konsekuensi etis dan teoritis bagi daya kreatif dan imajinatif faktisitas ke-manusia-an. Tendensi tersebut berbasis pada faktisitas korelasi ke-manusia-an; ada (there is) bahasa, kesadaran, kehendak, teks, tidak dapat diabsolutkan pada entitas tunggal ideal a la Platon. Filsafat kontemporer adalah filsafat yang bermain untuk merayakan faktisitas ke-manusia-an. Aras pemikiran filsafat kontemporer menolak setiap tedensi absolut pada fenomena yang terberi. Oleh karena itu, tedensi filsafat esensialisme dan fondasionalisme Platon adalah tidak sahih secara ontologis pada lanskap pemikiran kebudayaan kontemporer.

Dalam bentang sejarah filsafat selama 21 abad, Platon dapat diidentifikasi sebagai figur representatif dari arogansi sistem berpikir esensialisme, fondasionalisme, narasi mayor, sistematis, dan logis. Di lain pihak, Kaum Sofis diidentifikasi sebagai figur satire dari arogansi pemikiran Platon. Kaum Sofis berangkat dari gestur pemikiran yang retoris, anti-esensialisme, anti-fondasionalisme, narasi minor, metaforis. Dalam dialog Platon, Kaum Sofis dimarjinalkan sebagai intelektual palsu yang menurunkan marwah filsafat sebagai permainan kata-kata dan keuntungan diri. Oleh karena itu, tugas Sokrates dalam “Dialog Platon” adalah untuk mengembalikan marwah filsafat kepada keagungan dialektika yang berbasis pada disiplin logika dan rigoritas argumentasi. Pada titik itulah fatalitas idelogis filsafat Platon memeroleh aksentuasi politisnya.

Setelah Nietzsche, gestur filsafat sofistik adalah konsekuensi ontologis dari sebuah semangat zaman yang disebut sebagai postmodernisme (era kontemporer). Filsuf tidak lagi “memandang langit” untuk menemukan hukum-hukum fondasional bagi fenomena yang terberi.

Arogansi Platonis Akhir-Akhir Ini 

Platon melalui Sokrates (sebagai representasi metodelogi) adalah penjaga marwah utama dari Filsafat. Sementara Kaum Sofis adalah penista intelektual terhadap marwah filsafat. Dua konfigurasi pemikiran tersebut menunjukkan bahwa filsafat sejak awal sudah selalu ideologis. Pemahaman kanonik tersebut bertahan kurang lebih selama 20 abad, setelah Nietzsche membunuh horizon fondasionalisme dari tradisi metafisika Platon. Setelah Nietzsche, gestur filsafat sofistik adalah konsekuensi ontologis dari sebuah semangat zaman yang disebut sebagai postmodernisme (era kontemporer). Filsuf tidak lagi “memandang langit” untuk menemukan hukum-hukum fondasional bagi fenomena yang terberi. Di lain pihak, filsuf kontemporer berangkat dari faktisitas korelasi untuk mengidentifikasi relasi kuasa dibalik fenomena yang terberi.

Lanskap historis tersebut membantu untuk mengidentifikasi pre-teks ideologis dari teks sloganistik di kalangan pegiat filsafat indonesia satu minggu terakhir. Adapaun teks tersebut memperoleh aksentuasi kontekstualnya pada fenomena sofistik Rocky Gerung di dalam diskursus publik Indonesia. Beberapa teks yang dapat saya inventarisasi sebagai berikut:

  1. “Menolak Pemiskinan Dan Pembusukan filsafat di Ruang Publik” [10]
  2. “Akal Sakit Rocky Gerung” [11]

Di luar teks tersebut, pada hari Rabu 13 Februari 2019, akan diadakan diskusi publik dengan tema “menolak pembusukan filsafat” oleh pegiat-pegiat filsafat di Jakarta. Adapun beberapa figur representatif yang akan hadir dalam kegiatan tersebut adalah Goenawan Mohamad, Setyo Wibowo, Donny Gahral Adian, dan Akhmad Sahal.[12]

Teks tersebut adalah tanggapan dari fenomena Rocky Gerung sebagai wajah sofisme klasik kontemporer. Adapun (kon-)teks dari teks tersebut dapat diidentifikasi sebagai tedensi Rocky Gerung dalam merendahkan marwah filsafat ke dalam retorika sofis yang minus esensi sokratik. Pada lanskap yang lebih subtil, pre-teks dari teks tersebut adalah paradigma politis dan ideologis yang dapat diidentifikasi dalam dialog Platon. Oleh karena itu, teks tersebut menunjukkan arogansi platonis–akhir-akhir ini–terhadap wajah cantik sofime klasik kontemporer! Dengan kata lain, Goenawan Mohamad, Setyo Wibowo, Donny Gahral Adian, dan Akhmad Sahal dapat diidentifikasi sebagai wajah arogan filsafat Platon akhir-akhir ini.

Sejarah telah berulang kembali. Kontestasi politis (ideologis) di antara Kaum Sofis dan Platon terjadi kembali. Dan sejarah selalu dimenangkan oleh orang-orang gila. Siapakah orang gila hari-hari ini?

[1] Lih. Martin Heidegger, Being and Time, terjemahan oleh John Macquarrie & Edward Robinson (UK: Blackwell Publishers, 1962), Hal.82.

[2] Lih. Dr. Herry Priyono, Adam Smith dan Munculnya Ekonomi : Dari Filsafat Moral ke Ilmu Sosial, Diskursus, Vol 6, No. 1, April 2007

[3] Postulat fundamental dari korelasionisme kuat dapat diformulasikan sebagi berikut : ada (being) dan pikiran (thinking) harus dapat dipikiran dapat menjadi berlainan satu sama lain. Lih. Quentin Meillassoux, After Finitude, ( London: Continuum, 2009), hal. 44.

[4] Lih. Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, terjemahan oleh . D. F. Pears dan B. F. McGuinness (London: Routledge, 1974), Hal.73.

[5] Lih. Jacues Derrida, Margin Of Philosophy, terjemahan dan anotasi oleh Alan Bass (Chicago: The Univerisity of Chicago, 1982), hlm. 7.

[6] Lih.Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy, terjemahan oleh Hugh Tomlinson (New York : Continuum,2002), hlm. 77.

[7] Lih.Miguel de beistegui, Aesthetics after Metaphysics, (New York :Routledge, 2012), hlm. 95.

[8]  Gilles Deleuze & Felix Guatarri, A Thousand Plateaus : Capitalism and Scizophrenia, Vol 2, terjamahan oleh B. Massumi (New York : Continuum, 2004), hlm. 263.

[9] Lih.Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy, terjemahan oleh Hugh Tomlinson (New York : Continuum,2002), hlm. 76-77.

[10] Teks tersebut dikutip dari pernyataan dan seruan “Komunitas Pegiat Filsafat Indonesia”

[11] Teks tersebut dikutip dari “ Pernyataan Sikap Lingkar Studi Filsafat Nahdliyin (LSFN) dan Solidaritas Pemerhati Filsafat”

[12] Informasi diperoleh dari media sosial WhatsApp

 

Editor: Azhar Jusardi Putra


Catatan Akhir:

[1] Lih. Martin Heidegger, Being and Time, terjemahan oleh John Macquarrie & Edward Robinson (UK: Blackwell Publishers, 1962), Hal.82.

[2] Lih. Dr. Herry Priyono, Adam Smith dan Munculnya Ekonomi : Dari Filsafat Moral ke Ilmu Sosial, Diskursus, Vol 6, No. 1, April 2007

[3] Postulat fundamental dari korelasionisme kuat dapat diformulasikan sebagi berikut : ada (being) dan pikiran (thinking) harus dapat dipikiran dapat menjadi berlainan satu sama lain. Lih. Quentin Meillassoux, After Finitude, ( London: Continuum, 2009), hal. 44.

[4] Lih. Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, terjemahan oleh . D. F. Pears dan B. F. McGuinness (London: Routledge, 1974), Hal.73.

[5] Lih. Jacues Derrida, Margin Of Philosophy, terjemahan dan anotasi oleh Alan Bass (Chicago: The Univerisity of Chicago, 1982), hlm. 7.

[6] Lih.Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy, terjemahan oleh Hugh Tomlinson (New York : Continuum,2002), hlm. 77.

[7] Lih.Miguel de beistegui, Aesthetics after Metaphysics, (New York :Routledge, 2012), hlm. 95.

[8]  Gilles Deleuze & Felix Guatarri, A Thousand Plateaus : Capitalism and Scizophrenia, Vol 2, terjamahan oleh B. Massumi (New York : Continuum, 2004), hlm. 263.

[9] Lih.Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy, terjemahan oleh Hugh Tomlinson (New York : Continuum,2002), hlm. 76-77.

[10] Teks tersebut dikutip dari pernyataan dan seruan “Komunitas Pegiat Filsafat Indonesia”

[11] Teks tersebut dikutip dari “ Pernyataan Sikap Lingkar Studi Filsafat Nahdliyin (LSFN) dan Solidaritas Pemerhati Filsafat”

[12] Informasi diperoleh dari media sosial

Facebook Comments