Taufiqurrahman

Taufiqurrahman
17 POSTS 0 COMMENTS
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, penikmat sastra, fokus belajar pemikiran Martin Heidegger dan metafisika. Sesekali menulis untuk media cetak nasional.

Metafisika Pascamanusia (In Memoriam Prof. Joko Siswanto)

Di akhir bulan Desember 1995, di suatu hari yang berkabung, Jacques Derrida mengantar arwah teman sekaligus gurunya, Emmanuel Levinas, dengan sebuah ceramah yang menggetarkan. Ceramah itu dibuka dengan ekspresi ketakutan Derrida atas sesuatu yang—karena di luar kuasanya—kini telah tiba saatnya. Perpisahan. “Sudah sejak lama, bahkan...

Maskulinitas Marlina

“Buka!” Lelaki berambut panjang yang sudah bau bangkai itu memaksa Marlina untuk membuka bajunya. Marlina menolak. Ia tetap saja memaksa, hingga Marlina menuruti kemauan lelaki keparat itu: menanggalkan baju. Markus, si lelaki keparat itu, mulai meraba paha Marlina, menyingkap sampirnya, menindih tubuhnya, hingga kemudian tanpa ampun...

Slavoj Žižek: “Hegel Itu Jauh Lebih Materialis daripada Marx”

Bagaimana kita semestinya memahami kapitalisme abad ke-21 ini, meresponsnya, dan kemudian melampauinya? Berikut adalah hasil wawancara Anja Steinbauer dengan Slavoj Žižek yang—awalnya terbit dalam versi bahasa Inggris di majalah Philosophy Now edisi 122 bulan Oktober-November—saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas izin dari pihak...

Kritik Marxisme terhadap Konsep Objektivitas Konvesionalisme

Dalam pandangan konvensionalisme yang menjadi salah satu wacana dominan dalam Sosiologi Ilmu, kebenaran ilmiah selalu ditautkan dengan proses sosial tempat sains itu berada. Artinya, tidak ada kebenaran ilmiah yang objektif yang kalis dari intervensi sosial. Di sisi lain, Marxime sebagai sains juga berpandangan bahwa...

Filsafat dan Problem Irasionalitas Manusia

Apa yang mesti dilakukan seorang filsuf di abad setelah berkembangnya psikologi? Atau dengan kata lain: apa yang mesti dilakukan filsafat terhadap hasil-hasil penelitian ilmiah psikologi tentang manusia? Pertanyaan tersebut memojokkan filsafat ke dalam posisi dilematis. Pertama, jika filsafat mengamini apa yang dikatakan oleh psikologi,...

GM dan Kepikunan Popperian

Goenawan Mohamad (GM) gak pernah kapok. Berkali-kali diingatkan, bahkan sampai “dihajar”, oleh Martin Suryajaya dan juga Muhammad Al-Fayyadl, namun ia tetaplah GM yang selalu alpa dalam banyak hal. Apa istilah yang tepat untuk itu? Tak ada, selain: pikun! Ya, barangkali GM memang sudah pikun. Ia...

Fisikalisme dan Celah bagi Tuhan

Kaum agamawan biasanya akan segera berang ketika mendengar istilah fisikalisme, atau yang lebih populer lagi, materialisme. Dua istilah itu dipandang dapat menggugurkan iman. Umat beragama, karenanya, terhadap dua istilah itu dituntut untuk bersikap ingkar—bahkan sejak dalam pikiran. Sejauh sebagai konsekuensi logis dari keimanan pada Tuhan...

Filsafat Nusantara dan Sebuah Kisah tentang Subaltern

/1/ Bayangkan, Anda seorang lelaki yang masih gamang dengan identitas seksualnya dan akhirnya menemukan diri memiliki orientasi seksual pada sesama lelaki lainnya. Bayangkan, Anda seorang santri yang baru keluar dari pesantren dan menemukan diri berada di tengah pergaulan anak-anak remaja kota dengan imajinasi urban. Bayangkan,...

Manusia Heideggerian dalam “Ikan-ikan yang Terdampar”

Pram membuka ceritanya yang berjudul "Ikan-Ikan yang Terdampar" dengan nada cemas: keterlemparan, kejatuhan, dan tegangan eksistensial—antara kehendak untuk melawan atau menerima begitu saja apa yang digariskan kehidupan. Idulfitri—tokoh utama dalam cerita itu—terdampar di Jakarta, dengan nasib yang sangat tidak beruntung bersama seorang kawannya yang bernama...

Fatima Mernissi: Teks yang Belum Purna

"Dapatkah seorang perempuan menjadi pemimpim dalam Islam?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang perempuan di sebuah pasar. Perempuan itu gelisah, ingin memberontak. Sejak kecil ia hidup bersama perempuan-perempuan lain di Harem. Sebuah tempat yang dikhususkan untuk mengurung dan membatasi gerakan perempuan. Namun, di pasar itu ia...