Manusia lahir di dunia, tanpa mengetahui tugasnya. Ia tiba-tiba terlempar begitu saja, tanpa pernah ingin, dan tanpa pernah mau. Tanpa ada secuil pun kehendak, ia dipaksa hidup. Namun, ironisnya, ia pun dipaksa mati. Untuk apa sebenarnya kita memulai (hidup), jika pada akhirnya kita harus berakhir (mati)? Dalam kedua momen kejadian itu, kehendak kita tak pernah terlibat, atau mungkin tak pernah ada.

Sebagai manusia, kita mencari kebenaran yang diinginkan oleh kehidupan dan kematian. Kita bagaikan entitas yang tidak berharga, yang dipermainkan oleh kedua takdir itu. Akhirnya, kita pun menasbihkan, bahwa mungkin ada suatu misteri yang terhampar di luar sana. Menunggu kita untuk menengoknya dan dengan setia menunggu kita untuk dijenguk. Misteri itu seolah-olah hadir di luar kedirian manusia.

Manusia mencoba menyibak realitas untuk memenuhi kebutuhan akan eksistensinya di dunia. Mungkin, kita bisa berasumsi bahwa hanya manusialah satu-satunya mahluk yang memiliki ketertarikan dengan kenyataan. Barangkali ini merupakan karakter khas manusia, ia adalah mahluk yang memiliki daya untuk heran, takjub, hingga ia mempersoalkan dan juga memikirkan realitas. Semua itu merupakan usaha demi sesuatu yang disebut dengan kebenaran.

Dengan sikap skeptisnya, manusia membentuk gambaran realitas. Ia mencoba menjelaskan realitas sejelas-jelasnya, mencoba menyingkap setiap tirai yang ia rasa ‘mengganggu’ kejelasan realitas, dan mencoba merobek-robek selubung yang menutupnya. Semua usaha itu merupakan dorongan untuk menghadirkan realitas dalam keadaan yang sebenarnya, atau dalam bahasa lain, menyajikan—dengan pikiran mereka—kenyataan secara objektif; dan barangkali universal.

Perlu diakui, bahwa kita berakhir dalam kubangan gambaran puspa ragam wajah realitas, padahal kita sebenarnya ingin menggapai yang objektif dan absolut. Kita dibuat heran, karena gambaran tentang realitas malah memiliki wajah yang berbeda-beda.

Banyak pendapat yang bermunculan terkait pewujudan realitas kebenaran. Pendapat-pendapat dan pikiran-pikiran itu, berserakan di dalam narasi sejarah peradaban manusia. Manusia-manusia yang skeptis tersebut, bahkan rela mengorbankan apapun untuk merealisasikan buah pikirnya. Keringat, kesehatan, waktu, harga diri, bahkan nyawanya sekali pun.

Tokoh pemikir, filsuf, teolog, dan saintis, berlomba untuk mengemukakan hasil pikiran mereka di gelanggang sejarah. Bahasa, budaya, dan segala pra-sangka yang mengkonstitusi manusia sebagai bukti eksistensinya di dunia sebisa mungkin dicoba dilangkahi oleh para tokoh tersebut.

Perlu diakui, bahwa kita berakhir dalam kubangan gambaran puspa ragam wajah realitas, padahal kita sebenarnya ingin menggapai yang objektif dan absolut. Kita dibuat heran, karena gambaran tentang realitas malah memiliki wajah yang berbeda-beda. Kita bahkan tidak tahu klaim mana yang lebih benar di antara klaim-klaim gambaran tentang realitas tersebut, yang masing-masing menjustifikasi sebagai objektif. Namun, apakah itu patut untuk kita sesali? Bisa ya, bisa juga tidak. Pada satu sisi hal tersebut patut disesali, karena mungkin pada akhirnya kita harus sadar, bahwa kita belum pernah mencapai inti realitas. Kita tidak pernah sampai pada tataran mengetahui dasar misteri kehidupan. Atau ia tak perlu disesali, karena barangkali, realitas sudah tergambarkan ‘sedikit’, dan upaya mencapai kebenaran masih memiliki harapan. Meskipun pertanyaanya kemudian adalah, dari mana kita tahu, bahwa ia pernah tergambarkan? Tak ada jawaban lain selain: “Kita hanya bisa berharap, sekaligus tetap percaya bahwa kebenaran objektif tentang realitas ada di sana.” Tapi salahkah jika kita hanya bisa berharap? Tentu tidak.

Konstruksi filosofis bertebaran di mana-mana: buku-buku, artikel, dan segala hal yang lahir dari kepala para pemikir. Setelah kita dihadapkan dengan keberagaman wajah konsepsi realitas, berikut juga sekian banyaknya klaim akan kebenaran sudut pandang (sebagai persoalan kita di atas), sambil lalu tetap menaruh harapan akan adanya konsepsi tentang realitas yang objektif dan universal, pertanyaan yang kemudian  muncul lagi adalah untuk apa kita mencari-cari segala konsepsi tentang realitas itu? Dan juga, apakah kita telah bersikap dengan pantas ketika kita membayangkan akan mendapatkan konsepsi realitas yang objektif, alias menggambarkan realitas sebagaimana adanya?

Kebenaran adalah Kebenaran Untukku

Kita seringkali dihadapkan kepada konstruksi teoritis yang mutakhir tentang realitas dan juga dianggap mampu merengkuh realitas. Kita bisa megetahui hal tersebut di dalam sains. Sains dianggap mampu menjadi alat guna memecahkan misteri realitas yang selama ini ditelusuri oleh manusia. Kemudian para teolog pun melakukan hal yang sama, dengan mengklaim bahwa pengetahuan tentang realitas sudah termaktub di dalam kitab suci. Begitu juga dengan para filsuf dengan bangunan filosofisnya masing-masing, tetapi apa artinya semua itu? Bagi Soren Kierkegaard, semua konsepsi kita tentang dunia itu akhirnya tidak berguna, sejauh itu tidak berelasi sama sekali dengan subjek atau diri.[1]

Maksud dari perkataan Kierkegaard adalah, ketika suatu konsepsi mengenai realitas itu tidak berkaitan dengan tindakan kita sebagai subjek personal yang konkret, maka ia tidak dianggap sebagai ‘kebenaran itu sendiri’, karena kebenaran ialah ‘kebenaran bagiku’.[2] Permasalahan utama terkait kebenaran bukanlah terletak pada tataran mampu mengetahui tentang ‘sesuatu’, melainkan terkait bentuk yang bisa dilakukan di hadapan konsepsi kita sendiri. Atau dihadapan ‘kebenaran’ itu sendiri kita bertanya, “Apakah ‘aku’ yang sebenarnya?”

Yang dimaksud dengan menghidupi itu sendiri adalah mengaktualkan sesuatu yang menjadi konsepsi kita selama ini. Karena apa yang sebenarnya menjadi pikiran kita, itu harus menubuh dalam diri kita.[5]

Namun, tidak berarti bahwa yang dimaksud Kierkegaard adalah kita diperbolehkan bertindak spontan dan secara kacau saja. Pengetahuan dan kesadaran kita akan suatu konsepsi kebenaran, merupakan suatu hal yang penting. Akan tetapi, sejauh itu tidak berelasi apapun dengan ‘kedirianku’ sebagai subjek eksistensial konkret, maka itu tidak berguna sama sekali. Jika kita tidak hidup di dalam sesuatu yang kita pikirkan, maka itu bukanlah kebenaran.[3]

Kierkegaard sama sekali tidak menolak konsepsi atau pikiran kita tentang kebenaran, misalnya klaim saintifik, filosofis, dan lain sebagainya. Klaim dan segala usaha penggambaran realitas tetap diakui, tetapi sejauh klaim tersebut patut hidup di dalam diri kita sendiri.[4]Namun, apa yang dimaksud dengan menghidupi konsepsi kita tentang realitas itu? Yang dimaksud dengan menghidupi itu sendiri adalah mengaktualkan sesuatu yang menjadi konsepsi kita selama ini. Karena apa yang sebenarnya menjadi pikiran kita, itu harus menubuh dalam diri kita.[5]

Posisi Kierkegaard atau Johannes Climacus (nama samaran Kierkegaard), bisa kita sebut dalam satu kalimat: kebenaran adalah subjektif. Kebenaran subjektif ini merupakan suatu posisi di mana kita terus menerus menjadi subjek, atau dalam bahasa lain, kita terus menerus menjadi subjek dalam eksistensi kita. Proses menjadi subjek ini misalnya muncul dalam beberapa persoalan yang, mau tidak mau, harus dijawab secara subjektif, dan tentu saja persoalan-persoalan ini merupakan persoalan penting bagi eksistensi kita sebagai manusia. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain: tentang kematian, tentang menjadi abadi, tentang berterimakasih kepada Tuhan, dan tentang pernikahan. Dan menariknya, jika persoalan-persoalan ini kita bawa ke ranah objektif, atau dalam bahasa lain, diobjektifikasi, maka persoalan tersebut akan kehilangan kedalaman maknanya.[6]

Dalam hal ini, maka kebenaran subjektif itu memiliki posisi berhadap-hadapan dengan kebenaran objektif. Kebenaran objektif itu sendiri tidak menghiraukan subjek atau diri, karena hal tersebut tidak ada di dalam kedirian subjek. Kierkegaard mengungkapkan,

“For objective reflection the truth becomes something objective, an object, and the thing is to disregard the subject. For subjective reflection the truth becomes appropriation, inwardness, subjectivity, and the thing is precisely, in existing, to deepen oneself in subjectivity”.[7]

Sebagaimana sempat dibahas di awal tulisan, pencarian akan kebenaran objektif atau menangkap gambaran realitas apa adanya merupakan tujuan kita sebagai manusia. Misteri realitas, seolah-olah tidak akan bisa terjelaskan dengan tepat, jika penggambaran itu ternyata terjatuh pada jejaring subjektif. Namun, Kierkegaard mengingatkan, bahwa refleksi objektif—sebagai upaya kita mencapai kebenaran objektif—mau tidak mau mesti terjerat dalam intensi subjektif. Segala keputusan kita untuk mencari kebenaran objektif itu pun, mau tidak mau dan harus diakui, dijangkarkan pada kehendak subjektif.[8]

Hal ini tampak dalam proses refleksi tentang kenyataan. Kecenderungan kita dalam meneliti realitas, atau berspekulasi tentangnya, ternyata menyimpan jeratan-jeratan subjektif. Jeratan-jeratan tersebut tampak, misalnya dalam proses ketika subjek mencoba memilah-milah kenyataan, merinci, dan merumuskan kesimpulan. Itu semua sebenaranya merupakan dorongan-dorongan subjektif yang hadir, dalam proses pencarian ‘kebenaran objektif’. Lebih lanjut, ‘keinginan’ untuk mendapatkan objektifitas itu sendiri merupakan dorongan subjektif.

Dengan demikian, refleksi subjektif itu tak terhindarkan. Bahkan, menurut Kierkegaard, “…Absence of inwardness is…madness.” Pada posisi ini, kita harus mengakui, bahwa terdapat kontradiksi, ketika mengatakan, bahwa kebenaran objektif pada akhirnya merupakan kebenaran subjektif itu sendiri. Namun, justru itulah yang ingin ditegaskan oleh Kierkegaard.[9]

Lebih jelasnya, kita bisa menyebut posisi Kierkegaard tersebut mewakili posisi yang disebutnya sebagai refleksi subjektif, sedangkan posisi Hegel disebut dengan refleksi objektif.

Kita bisa menjelaskan persoalan tersebut dengan mengetengahkan persoalan tentang Ironi, yang mana dalam pandangan Kierkegaard, dengan ‘musuh utamanya’ yaitu Hegel yang memiliki perbedaan sudut pandang. Ironi dalam sudut pandang Hegel terjadi di dalam iring-iringan yang objektif dan perkembangan ironi tersebut teraktualisasi secara dialektis dalam keluarga, masyarakat sipil, Negara, dan sejarah, yang mana individualitas pada Hegel mengalami transendensi, atau menjadi konkret universal. Sedang di tangan Kierkegaard, ironi berkembang melalui individu konkret.[10]

Perlu diketahui bahwa meskipun Kierkegaard tidak sepakat dengan posisi Hegel, ia toh masih mempertahankan, bahkan mempergunakan salah satu ajaran Hegel terpenting, yakni dialektikanya. Tapi di sisi lain, sebagaimana kita lihat di atas, ia menolak salah satu unsur dialektika Hegelian, yaitu sisi spekulatifnya.[11] Sehingga, dialektika di tangan Kierkegaard menjadi ‘konkret’, artinya ia tidak terjadi sebagai hukum universal dan abstrak, serta juga tidak ada intensi objektif, ia justru terjadi di dalam subjek yang personal dan konkret. Unsur dialektika inilah, yang dimaksud Kierkegaard ketika menegaskan paradok kebenaran subjektif.

Lebih jelasnya, kita bisa menyebut posisi Kierkegaard tersebut mewakili posisi yang disebutnya sebagai refleksi subjektif, sedangkan posisi Hegel disebut dengan refleksi objektif. Refleksi objektif ini tampak dalam konstruksi Hegelian yang membawa refleksi ke dalam pikiran abstrak dan kepada pikiran historis (yang tentu saja mereduksi subjek personal konkret, dengan pola determinasi sejarahnya).[12]

Tradisi yang dibawa oleh Kierkegaard sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Namun ia merupakan gagasan yang pernah hadir ketika filsafat masih belia. Tepatnya, posisi filosofis ini pernah diduduki oleh Socrates, dari Athena.

Kaum positivis berpendirian bahwa kebenaran itu harus terukur, atau dalam pengertian lain, pengetahuan harus berbasis pada suatu hal yang bisa dikalkulasi.

Socrates, dengan filsafatnya mencoba mendudukan persoalan filsafat tidak lagi pada persoalan teoritis metafisis, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulunya. Para pendahulu Socrates, melakukan refleksi terhadap realitas dengan keinginan untuk mengetahui dan mencari sesuatu yang menjadi entitas paling dasar di antara entitas-entitas yang ada di dalam kenyataan. Para filsuf alam itu, akhirnya melakukan spekulasi-spekulasi tertentu dan menghasilkan buah pikiran yang dianggap benar-benar mewakili kenyataan. Socrates tidak melakukan hal itu, ia merupakan filsuf yang mencoba menarik persoalan filsafat yang mulanya berorientasi teoritis menuju ke praktis. Ia fokus ke pada persoalan-persoalan tentang cara bertindak yang benar, dibanding abstraksi teoritis.[13]

Tradisi ini kemudian berlanjut ke tangan kaum Stoa dan Epikurean, yang ada pada periode Hellenis. Fokus kajian filosofis mereka berada dalam jalur etika praktis, yakni sebuah usaha filosofis untuk menemukan cara hidup yang utama. Kemudian tradisi ini pun terus hidup dalam pikiran St. Agustine dan Blaise Pascal, serta kaum Romantik Jerman awal abad 19.[14] Meskipun akhirnya, pola-pola subjektif ini pun terus menerus dihantam oleh serbuan paradigma positivisme pada abad 19 dan awal abad 20.[15]

Kaum positivis berpendirian bahwa kebenaran itu harus terukur, atau dalam pengertian lain, pengetahuan harus berbasis pada suatu hal yang bisa dikalkulasi secara matematis. Usaha kalkulasi segala sesuatu pada akhirnya, berimplikasi pada pengesampingan hal-hal yang non-kuantitatif atau tidak terukur, yakni dimensi kualitatif. Sedangkan dimensi non-kuantitatif atau kualitatif tersebut, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan unsur subjektif. Dengan pendirian inilah mereka memberikan klaim, bahwa pengetahuan saintifik itu bebas nilai.[16]

Selain di ranah saintifik tersebut, filsafat pun mengalami nasib yang sama dalam alur sejarahnya. Posisi filosofis yang bersifat ‘saintifik’ mulai dominan, dalam artian pola-pola filsafat yang berpretensi menemukan objektifitas, universalitas, dan lain sebagainya mulai menutupi kecenderungan praktis. Hal ini sebagaimana yang kita lihat, berpuncak di tangan Hegel, yang konon disebut sebagai puncak metafisika Barat. Namun pola ini akhirnya mendapat tantangan dari Kierkegaard, sebagaimana kita bahas di atas.

Dengan demikian Kierkegaard bisa dibilang, merupakan filsuf dalam jalur Socratian. Dapat diartikan bahwa, ia merupakan sosok yang mencoba menghidupkan lagi pola-pola subjektif dalam filsafat. Dengan posisinya, ia mampu mempengaruhi dan sekaligus membidani filsafat eksistensialisme—yang merupakan filsafat yang menitik beratkan pada subjek—yang mulai berkembang pada abad 19 awal hingga abad 20, yang berpuncak pada Jean-Paul-Sartre, Albert Camus, dan juga Simone De Beavoir.[17]

Ketegangan Subjektif

Setelah disebutkan, bahwa kebenaran adalah kebenaran bagiku, atau dalam pengertian lain, kebenaran adalah subjektif, Kierkegaard kemudian melanjutkan bangunan filsafat subjeknya kepada konsepsi tentang subjek paradoksal. Makna dari kehidupan, bagi Kierkegaard terdapat dalam paradoks, sehingga individu ‘sejati’ pun merupakan individu yang paradoks.[18]

Paradoks yang paling jelas adalah perbedaan absolut antara Tuhan dan manusia. Tuhan merupakan sosok yang tidak mampu digapai oleh manusia, karena Ia berada di luar kapasitas manusia untuk mengaksesnya. Ia merupakan entitas tak terbatas, sedangkan manusia adalah entitas terbatas. Namun, meskipun Ia tak terakses, Ia tetap dibutuhkan dalam rangka memaknai kehidupan. Manusia yang selalu memaknai kehidupan akan selalu berada dalam kekurangan, dalam proses pemaknaannya. Kekurangan itulah yang sebetulnya diisi oleh Tuhan. Namun, perlu diingat, bahwa makna itu tidak hadir lewat spekulasi, sebagaimana yang dilakukan oleh Hegel, justru makna itu hadir dari Tuhan lewat proses pemahaman eksistensial manusia. Dengan demikian, persoalan utamanya adalah tentang cara seseorang yang mampu melibatkan Tuhan dalam dirinya dan keterlibatan ini merupakan wujud transformasi diri terus menerus tanpa henti.[19]

Jika misalnya ada seseorang yang mencoba mendorong dirinya kepada ketakterbatasan, bahkan sampai lupa pada dimensi keterbatasannya, maka bagi Kierkegaard, ia akan terjatuh pada abstraksi.

Dalam posisi ini sebenarnya Kierkegaard menegaskan, bahwa diri atau subjek merupakan sintesis konkret atau kesatuan antara keterbatasan dan ketakterbatasan. Kedua bentuk itu hadir di dalam eksistensi manusia secara serentak. Namun perlu diketahui, bahwa keserentakan kedua bentuk itu menjadikan eksistensi subjek senantiasa berada dalam ketegangan. Dalam artian, manusia merupakan entitas yang selalu menjaga kestabilan ketegangan tersebut tanpa terperosok ke dalam salah satu kutubnya.[20]

Kondisi keterbatasan ini terus menerus membatasi horizon makna kita akan kehidupan, sedangkan ketakterbatasan terus menerus mendorong kita untuk terus memperluas cakrawala makna tersebut. Namun, pertanyaan yang bisa kita ajukan selanjutnya adalah, apa yang akan terjadi jika seseorang berusaha keluar dari ketegangan dan jatuh pada salah satu kutub tersebut? Jika misalnya ada seseorang yang mencoba mendorong dirinya kepada ketakterbatasan, bahkan sampai lupa pada dimensi keterbatasannya, maka bagi Kierkegaard, ia akan terjatuh pada abstraksi. Sedangkan abstraksi itu sendiri, akan membuat seseorang lupa akan dunia konkret dan personalitasnya.[21]

Sedangkan jika seseorang terjatuh kepada jurang keterbatasan, sembari kehilangan ketakterbatasan, ia akan berada dalam kondisi tanpa visi, tanpa mimpi, dan juga tanpa harapan. Ia pun akan selalu terjebak pada horizon ‘kesekarangannya’, tanpa ada keinginan untuk memperluas atau mengembangkan horizon tersebut. Dia akan terjebak dalam fatalisme duniawi dan kebekuan.[22]

Tugas manusia adalah belajar tentang cara merentangkan jarak oposisi dan terlibat dalam permainan dialektika oposisi tersebut.

Dengan demikian paradoks merupakan inti dari subjektivitas, bahkan ia merupakan jiwa bagi kedirian kita sendiri. Dalam bahasa Kierkegaard: “The thinker without a paradox is like a lover without feeling: a paltry mediocirty”.[23]

Kondisi paradoks ini juga merupakan sebuah ragam bentuk dalam pikiran, yaitu ketika pikiran mencari suatu hal yang tak terpikirkan. Dalam artian, ia merupakan mode transendensi diri.[24] Pikiran dimaknai dalam paradoks tersebut, ia terus menerus berada dalam pergulatan dua kutub yang saling berlawanan satu sama lain. Dan ‘peperangan’ kedua kutub ini tidak diakhiri dengan kemenangan  salah satu kutub.

Akhirnya kita pun sadar, bahwa posisi Kierkegaardian ini sungguh berbeda dengan posisi yang ditawarkan oleh Hegel. Maksudnya, ketika mereka berhadapan dengan konsepsi tentang dialektika, Kierkegaard sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya, mengadopsi dialektikanya Hegel. Namun, ia mencoba merombak konsepsi diealektika itu.

Dialektika Hegel, yakni peperangan antara dua kutub yang berlawanan, berakhir dalam suatu bentuk yang final. Dan bentuk final tersebut yang disebut dengan sintesis. Sedang dalam—kita sebut saja—dialektika Kierkegaardian, sintesis itu tidak terjadi. Dalam artian, proses dialektis itu terjadi terus menerus tanpa adanya bentuk final. Justru Kierkegaard malah menegaskan titik equilibrium ketegangan dialektis itu, tanpa mengakhirinya dalam salah satu kutub, atau sintesis kedua kutub tersebut.[25]

Dengan posisi tersebut, akhirnya kita bisa menyebutkan bahwa dialektika di tangan Kierkegaard bermakna ketegangan antara keadaan manusia di-dalam-waktu dan dengan keabadian. Tugas manusia adalah belajar tentang cara merentangkan jarak oposisi dan terlibat dalam permainan dialektika oposisi tersebut. Di mana dalamnya, manusia terus menerus menjaga ketegangan antara kebahagiaan abadi dan kebahagiaan sementara.[26]

Penutup

Setelah kita mencoba memahami bagian dari pemikiran Kierkegaard tentang kebenaran subjektif, muncul pertanyaan, “apa yang harus kita lakukan di tengah segala tebaran-tebaran konsepsi tentang gambaran realitas yang beragam itu?” “Apa yang mesti kita sadari di tengah buih-buih klaim akan kebenaran?” Jawaban Kierkegaard adalah, kita harus senantiasa sadar, bahwa konsepsi dan gambaran tentang dunia yang misterius itu tidak memiliki arti, jika konsepsi kita tidak pernah menubuh dalam tindakan kita atau dalam kedirian kita sebagai subjek.

Lalu kita pun diharapkan untuk menyadari, bahwa sebagai subjek kita terus menerus berada dalam ketegangan eksistensial abadi. Sehingga di hadapan kebenaran, di hadapan segala gambaran tentang realitas, kita harus terus menerus berada dalam kemenjadian, karena relasi kita di hadapan kebenaran tidak akan pernah selesai. Lebih jauh lagi kita sadar, bahwa kebenaran itu sendiri tidak lebih dari subjektivitas kita.


Catatan Akhir:

[1] John D. Caputo. 2007. How to Read Kierkegaard. Granta Books: London, hal. 10

[2] Ibid.

[3] Ibid, hal. 13.

[4] Ibid, hal. 14.

[5] M. Jamie Ferreira. 2009. Kierkegaard. Wiley-Blackwell: UK, hal. 105.

[6] Ibid.

[7] Kierkegaard. 2009. Concluding Unscientific Postcript to the Philosophical Crumbs. Trans. Alastair Hannay. Cambridge University Press: New York, hal. 161.

[8] Ibid, hal. 163.

[9] Ibid.

[10] Merold Westphal. 2004. “Kierkegaard and Hegel”, dalam The Cambridge Companion to Kierkegaard. Cambridge University Press: New York, hal, 105.

[11] Ibid, hal, 103.

[12] Thomas Flynn. 2006. Existentialism A Very Short Introduction, Oxford University Press: UK, hal, 9.

[13] Ibid, hal. 1.

[14] Ibid, hal. 2.

[15] Tapi bukan berarti kedua pola jalur ini datang bergiliran, kedua jalur kecenderungan subjektif dan objektif dalam filsafat ini hadir ‘kurang lebih’ berbarengan. Jadi maksud dari terlemparnya pola subjektif ialah, ia mulai terpinggirkan, sedangkan pola objektif mulai semakin dominan.

[16] Ibid, hal. 3-4.

[17] Mark A. Wrathall and Hubert L. Dreyfus. 2006. “A Brief Introduction to Phenomenology and Existentialism”. dalam Blackwell Publishing: UK. A Companion to Phenomenology and Existentialism, hal, 4.

[18] Michael Weston. 1994. Kierkegaard and Modern Continental Philosophy. Routledge: London, hal, 48.

[19] Ibid.

[20] Jhon D Caputo. 2007. Hal, 107.

[21] Ibid, hal. 107-108.

[22] Ibid.

[23] Soren Kierkegaard. 1962. Philosophical Fragments, Princenton University Press: New Jersey, hal. 46.

[24] Ibid.

[25] Jhon D Caputo. 2007. Hal, 19.

[26] Ibid, hal. 18.

Facebook Comments