Sumber: theodysseyonline.com

Belajar tidak lagi menjadi kata kerja primer sebagai bagian dari identitas sekolah baik dimaknai guru dan juga murid. Menurut saya, hal ini terjadi karena konstruksi makna atas kata “belajar” direduksi menjadi sekadar kebutuhan pragmatis pendidikan semata yang dibentuk oleh aktor pendidikan di sekolah. Belajar, kini lebih tepat menjadi sebuah kata suruhan, bukan ajakan. Kita akan lebih sering mendengar “belajar!” dan “ayo belajar!” justru dengan nada tinggi. Kita bisa bayangkan bersama apabila kata “main” yang diberi imbuhan “ber” menjadi ungkapan suruhan dan dengan tanda seru, “Bermain!”, barangkali akan ada banyak anak yang tidak mau bermain. Sederhananya belajar bukan lagi suatu hal yang menyenangkan.

Masalah pemaknaan kata belajar di sekolah sering kali terhenti pada aspek teknis semata. Tak jarang banyak guru mengartikan belajar sebagai menggugurkan kewajiban menjalankan tugas dan memberi PR serta ulangan serta mengajarkan apa yang seharusnya diajarkan, itu lagi, itu lagi. Sedangkan, murid hanya akan berhenti memaknai kata belajar sebagai aktivitas menyelesaikan tugas, membuat bagus nilai ulangan dan lulus UN. Keduanya sering lupa bahwa makna belajar di sekolah berarti kita sedang melakukan aktivitas belajar sebagai studi.

Bagaimana cara membuktikan pernyataan di atas? Sederhana, mari kita refleksikan diri sebagai seorang guru ataupun sebagai murid, apakah kita belajar karena didorong rasa ingin tahu?

Arthur Bestor seorang pakar pendidikan AS (1952) pernah mengungkapkan suatu pertanyaan, “…Apakah kecenderungan sekolah-sekolah umum kita mengarah ke penekanan pada disiplin-disiplin intelektual mendasar yang terorganisasi seperti dalam dunia ilmu pengetahuan yang matang, ataukah ke arah mengecilnya penekanan pada disiplin-disiplin itu itu dan menyurutnya kepercayaan bahwa kita harus menyajikan mereka dalam bentuk yang sistematis kepada murid?”

Refleksikanlah apa yang Bestor katakan dalam ruang kelas kita. Berapa banyak murid yang mau terlibat dalam proses pencarian akar pengetahuan secara mendasar hanya untuk melepas dahaga atas rasa keingintahuannya?

Dari kecil kita sering diajarkan untuk belajar dengan baik, namun tak pernah dijelaskan panjang lebar belajar seperti apa sih yang masuk ke dalam kategori “baik” itu? Dari SD sampai SMA saya pribadi masih berpikiran sempit bahwa menjadi pembelajar yang baik adalah harus menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang ada di buku, tidak boleh lain. Hasilnya bisa ditebak dengan mengandalkan jurus Sistem Kebut Semalam (SKS) saya banyak menghapal dan menghapal saja kerjanya tanpa paham bahwa memahami konsep itu lebih penting daripada sekadar hapal. Dampaknya miris, meskipun mendapat nilai yang baik dari hasil menghapal namun banyak konsep penting yang lekas hilang dari kepala, dan itu bagi saya sangat menjengkelkan.

Bagi saya pendidikan haruslah melekat dengan situasi yang dialami oleh para murid di lingkungan tempat ia tinggal. Mengutip Russel bahwa “pendidikan dimaksudkan supaya manusia mencerminkan lingkungannya dengan tepat lewat pengetahuannya yang diperoleh dengan kecerdasan supaya ia melibatkan diri secara emosional dengan cinta, keramahan, dan keadilan pada sesama” (Russel,1993:xv).

Berapa banyak guru yang berani “mengajak” muridnya berpikir dengan melempar suatu pertanyaan tentang hal baru yang belum diketahui dan yang tidak ada di buku cetak? Pun ada, seberapa besar persentase murid yang mau menanggapi dan menganggap serius pertanyaan yang diajukan?

Berapa banyak murid yang mati-matian belajar bahasa Inggris hanya untuk lolos TOEFL yang ia anggap pengorbanan supaya nantinya, “bisa dapat kerja”? Berapa banyak murid yang pandai sekali belajar IPA hanya sekadar karena ada anggapan, “supaya cari universitasnya gampang dan bisa dapet jurusan yang dibutuhkan di dunia kerjanya mudah”.

Saya yakin murid-murid itu jelas pandai, tapi hanya pandai di atas kertas sekaligus mereka perlahan menghancurkan esensi belajar itu sendiri. Fenomena di atas menggambarkan suatu kutipan, “I studied but I didn’t learning anything”. Hal ini sangat bertolak belakang dalam artikel pendidikan yang ditulis oleh Max Rafferty pengajar cum politisi yang berjudul “Pendidikan yang Mendalam”. Rafferty memberikan contoh terbaik bagaimana belajar sebagai studi itu perlu dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa posisi belajar adalah aktivitas yang dilakukan hanya demi menjunjung tinggi segala kualitas yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan perkembangannya. Ia sangat mensyaratkan guru yang memahami satu bidang disiplin ilmu sedalam-dalamnya dan perlu adanya pemilihan buku-buku sastra yang berkualitas agar dibaca kepada anak.

Sedangkan apa yang diharapkan dari murid adalah kesiapan untuk terlibat total dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Harus diakui ada dimensi otoritatif dan sedikit konservatif atas metode yang ditawarkan oleh Rafferty. Tetapi, keunggulannya adalah dia tidak melupakan sisi penting dari studi yang berpangkal pada kaidah ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu antarkedua aktor pendidikan. Namun, ada alternatif yang bisa kita coba, yaitu dengan menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang dekat dengan keseharian murid.

Bagi saya pendidikan haruslah melekat dengan situasi yang dialami oleh para murid di lingkungan tempat ia tinggal. Mengutip Russel bahwa “pendidikan dimaksudkan supaya manusia mencerminkan lingkungannya dengan tepat lewat pengetahuannya yang diperoleh dengan kecerdasan supaya ia melibatkan diri secara emosional dengan cinta, keramahan, dan keadilan pada sesama” (Russel,1993:xv).

Murid haruslah dikenalkan dengan lingkungannya. Tak usah ditutup-tutupi kebobrokan di tempat ia tinggal. Misalnya ia tinggal di daerah persawahan, otomatis murid diajarkan bagaimana mengolah sawah agar padi tetap tumbuh subur tanpa menggunakan bahan-bahan kimia. Murid juga diajarkan agar tidak usah malu memiliki cita-cita sebagai petani, toh itu juga pekerjaan yang mulia dan dapat menghasilkan uang yang banyak jika pandai mengelola keuangan. Murid yang hidup di daerah pesisir harus diajarkan bagaimana caranya merawat laut dan biota di dalamnya. Tidak harus diajarkan dengan cara menghafal namun dengan diajak berpartisipasi langsung membersihkan pantai. Dengan begitu diharapkan murid memiliki kecintaan terhadap lingkungan dan rakyatnya. Ketika murid sudah mempunyai keterikatan dengan lingkungan dan rakyatnya murid berusaha semaksimal mungkin untuk memberi solusi guna menyelesaikan masalah yang ada. Outputnya adalah murid memiliki kemampuan problem solving dengan berbasis fakta yang terjadi di masyarakat.

Setiap pengajar juga harus mengedepankan dialog, karena dengan berdialog proses belajar dan mengajar menjadi dua arah. Menurut Freire dialog harus berdasarkan pada kepekaan bahwa dalam diri manusia ada kemampuan untuk menemukan dirinya. Maka dialog menuntut sikap rendah hati, kepercayaan yang besar, dan cinta sesama (Freire, 2007:75). Sehingga Freire mengajukan metode pendidikan yang dapat disebut ‘pendidikan hadap-masalah’. Hal ini berangkat dari metode Freire yang selalu dimulai dengan mengemukakan persoalan (problem posing education).

Metode ini berangkat dari pengamatannya atas model penceritaan atau saat itu disebut metode bercerita (narrative education). Suatu metode yang menganggap anak didik hanya sebagai objek, karena yang sangat berperan dalam sistem pendidikan seperti itu hanyalah pendidik. Sedang anak didik hanya sebagai kolektor atau katalog pengetahuan saja. Sistem ini menghasilkan manusia yang mudah disetir, kurang kreatif, paternalistik dan anti dialog, serta kurang kritis (Freire, 2007:52-55)

Pada metode dialogis unsur dialog sangat penting. Terdapat suatu dinamika dialektik antara pendidik dengan anak didik. Penekanannya adalah dengan menyadarkan pendidik dan anak didik agar berani bertindak dan mengubah situasi mereka. Dengan kata lain bahwa pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehingga mengantar orang menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian secara kritis menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif (Freire, 2007:123).

Dengan adanya keterikatan antara murid dengan apa yang dipelajarinya dan terdapat dialog dengan pihak guru maka akan terjadi kolaborasi yang baik untuk belajar. Belajar akan terasa menyenangkan sebab guru tak memaksakan apa yang ia pikirkan. Lalu murid pun akan lebih bebas mengeksplorasi apa yang ingin dia pelajari sebab medium pembelajarannya adalah lingkungan di mana ia tinggal. Kemudian pendidikan menjadi satu hal yang menyenangkan sekaligus humanis bagi murid dan pengajar sebab berangkat dari aspek personal dan sosial hakikat manusia. Bahwa manusia dikaruniai dengan berbagai bakat dan adalah tanggung jawab manusia itu sendiri untuk mengembangkan dan memanfaatkan bakat tersebut untuk dirinya sendiri serta masyarakatnya melalui pendidikan.


Daftar Pustaka

Russell, Bertrand. 1993. Pendidikan dan tatanan sosial; penerjemah Ahmad Setiawan Abadi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Freire, Paulo. 2007. Politik Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1 COMMENT

  1. Belajar tanpa hasrat memang bisa dikategorikan sebagai paksaan. Saya bersyukur telah membaca analisis dan teori yang Bung kumpulkan. Terima kasih!

LEAVE A REPLY