sumber: nasional.tempo.co
sumber: nasional.tempo.co
sumber: nasional.tempo.co

Sebagai seorang penulis, Benedict Anderson lebih dikenal sebagai seorang sejarawan, antropolog, dan kritikus atau komentator sastra; seorang aesthete dalam artinya yang kontemporer. Tetapi, di samping identitas-identitas itu, Ben dapat juga dibaca sebagai seorang filsuf. Dalam arti ini, kita kehilangan seorang penulis yang telah membawakan diskursus filosofis dalam caranya yang khas, yang memungkinkannya merayap intim di antara ilmu-ilmu sosial dan literer.

Pertama, secara metodologis, Ben telah memperkenalkan suatu  kebaruan dengan keberhasilannya mendobrak strukturalisme dalam sejarah, memperkenalkan suatu pendekatan baru pada tingkat metasejarah, dengan melihat sejarah tidak lagi sebagai narasi tunggal, dengan struktur-strukturnya yang konstan, linear, dan evolutif, melainkan sejarah sebagai garis-lenyap (ligne de fuite) yang dalam ontologi Guattari-Deleuzian menunjuk suatu proses kemenjadian yang radikal, suatu titik a-konstan permanen. Apa arti sejarah? Tanyakan kepada Ben, maka teks-teksnya akan menjawab: berbagai proses acak yang kebetulan menyatu dalam satu momen lalu melenyap bersama, dan muncul lagi dalam determinasi yang lain untuk lenyap lagi…

Imagined Communities adalah contoh terbaik dari filsafat sejarah yang sedang ditawarkan dan dikerjakan Ben dengan menawan ini. Meski melacak sejarah nasionalisme, dan disambungkan oleh benang merah itu (“nasionalisme” sebagai struktur dan “nasion” sebagai subjeknya), sejarah itu tidak menghadirkan nasionalisme dalam bentuknya yang evolutif, terstruktur, dan terkembang, melainkan suatu titik momen yang muncul-dan-lenyap dalam gelombang-gelombang waktu yang luas. Perubahan bentuk dan tegangan yang mengembang-kerutkan “bangsa” antara provinsialisme dan internasionalisme, antara partikular dan universal, antara tuntutan nama dan anonimitas Sejarah Universal ala Hegel, tidak menggambarkan perkembangan dinamis-struktural nasionalisme itu sendiri, tetapi ketakmenentuannya dalam waktu—keterseretan struktur itu dalam gelombang waktu yang mengubah dan menjejakkannya dalam titik-titik-lenyap sejarah.

Maka, “bangsa” ada-dan-tiada, muncul-dan-lenyap, tetapi jejak-jejaknya eksis, sebagai abu, tilas-tilas yang ditinggalkan oleh peristiwa dan orang-orang, dan muncul kembali bagai burung Phoenix yang bangkit dari reruntuhan dalam badai sejarah. Bukan kebetulan kalau dalam hal ini, Ben adalah seorang Benjaminian; “Malaikat Sejarah”-nya di Bab Sembilan merupakan metafora tentang penghancuran dan kehancuran terus-menerus “bangsa”, tetapi juga pembentukan dan renaisansnya. Kita menangkap pesimisme Benjaminian itu berpadu dengan lirisisme Nietzschean tentang penghancuran dan pembentukan kembali subjek, dalam suatu gelombang besar Entah, yang mengubah secara revolusioner bentuk-bentuk pengalaman manusia, suatu gelombang yang, menurut Marx, dapat sekejap mengubah sejarah dari tragedi menjadi lelucon.

Dengan cara itu, Ben sedang mendobrak filsafat sejarah modern, baik dalam bentuknya yang klasik dalam rupa sejarah ide (histoire des idées)—termasuk di dalamnya sejarah ideologi—maupun analistik ala Braudel, dengan kurun-kurun waktunya yang panjang (longue durée), rapat, berjenjang. Falsafah “anarkisme” Ben tercermin dari cara peristiwa dan nama-nama hadir di sela-sela narasinya: kutipan roman José Rizal atau José Fernandez Lizardi yang bersahut-sahutan dengan cerbung Semarang Hitam Marco Kartodikromo, membawa keriuhan sebuah makan malam di Manila, Filipina, ke kegetiran jalanan becek di Semarang di awal abad ke-20, di mana seorang gelandangan proletar tewas kedinginan. Peristiwa fiksional memberi bentuk bagi peristiwa historis-aktual, sebagaimana peristiwa historis-faktual memberi bentuk bagi peristiwa fiksional. Di sini konsep “pembayangan” termaknai filosofis.

Kegemaran Ben pada konsep-konsep “imajinasi”, “imaji”, “waktu-imaji” (kalacitra), pada spasio-temporalitas (“ruang”, “peta”…) bukan suatu hobi teknis. Ia pancaran lebih dalam dari kemelekatan pemikirannya dengan virtualitas ontologis dari metasejarah ini, virtualitas yang menjadi syarat dari eksis-tidaknya yang-riil. Bukan kebetulan kalau lagi-lagi di sini ia Deleuzian. Bagi Deleuze, virtualitas hadir dalam setiap peristiwa sebagai suatu ekses dari yang-riil, yang meleburkan yang-riil ke dalam suatu medan kekuatan yang lebih besar. Virtualitas itu sendiri dapat menjadi ‘aktual’, tetapi ‘aktualitas’-nya tidak dapat menguras habis potensi virtualnya. Dengan cara itu, ‘sesuatu’ terus menjadi, berganti rupa melalui ruang-waktu ke dalam ‘citra-citra’-nya yang tak terbatas, yang virtual dan menunggu ‘aktual’. Meski bangsa runtuh dan bubar, pembayangannya tidak serta-merta hilang. Wujud aktual bangsa tidak dapat menguras habis virtualitas terbayang-imajinernya.

Dengan meletakkan virtualitas pada spektrum pemikirannya, Ben sedang melakukan apa yang disebut filsuf Italia kontemporer, Massimiliano Tomba, dengan “membebaskan sejarah dari sejarah” (freeing history from history): melepaskan sejarah dari rangkaian peristiwa yang ditata-urut oleh Nalar ke dalam suatu tablo kronologis dan dibingkai dalam suatu kebermaknaan kosmologis, sejarah beritme tunggal ala Weltgeschichte, dan menceburkannya ke dalam pusaran temporalitas yang bergerak tumpang-tindih, sahut-menyahut, repetitif, dan saling berbenturan keras. Peristiwa-peristiwa dan manusia-manusia di dalamnya muncul-dan-tenggelam bagai material yang didamparkan oleh pusaran itu, oleh gerak pasang-surut temporalitas yang juga digerakkan oleh kekuatan-kekuatan lain, tubrukan antara yang material dan yang immaterial (pembayangan, imaji, imajinasi, ideologi…), antara peristiwa dan peristiwa, antara peristiwa dan manusia.

Dalam arti ini, Ben tampil sebagai seorang intelektual Marxis yang memberi pendasaran baru bagi materialisme historis dan konsepsi Marxis secara umum tentang sejarah. Kita tahu, Imagined Communities sendiri sebenarnya ditulis berangkat dari ketidakpuasannya atas historiografi Marxis biasa (lihat “Pendahuluan”). Penjelasan yang melihat peristiwa-peristiwa sejarah hanya sebagai refleksi tunggal dari benturan ideologi (imperialisme versus sosialisme, dalam kasus ini) tidak lagi memadai. Peristiwa-peristiwa sejarah di era-era krisis besar mesti dibaca dalam bingkai perubahan spasio-temporalitas yang juga mengalami krisisnya, dengan lubernya batas-batas tetapi juga pembentukan batas-batas baru. Dalam arti itu, Ben mengembalikan ideologi kepada watak material dari ruang-waktu yang membentuknya, membebaskan ideologi dari watak etatiknya kepada ekses imajinernya yang tak dapat ditampung lagi oleh aparatus-aparatus ideologis negara, dan mematerialkan waktu itu sendiri sebagai kekuatan produksi yang diperebutkan dalam sejarah. Suatu class struggle dalam ranah temporalitas. Perang masa kini adalah perang atas kekuatan produktif waktu untuk membentuk dan menghancurkan sejarah suatu kelas atau golongan.

Penyeragaman waktu, dengan demikian, bisa dibaca sebagai cara baru rezim-rezim politik untuk menundukkan dan menguasai orang-orang. Seragamkan waktunya, maka manusia akan berderet patuh mengikutimu. Tetapi, penyeragaman itu juga menciptakan antagonismenya. Penyeragaman juga menciptakan sebuah ruang hampa keserentakan yang memungkinkan waktu diisi dan diisi-ulang dengan imajinasi baru tentang kebersamaan atau ikatan-ikatan sosial baru. Dalam arti itu, solidaritas dan perlawanan menjadi mungkin, dan dalam keserentakan itu muncul pembayangan-pembayangan atas waktu sebagai properti bersama.

Dalam caranya mengajukan suatu pendekatan dan kerangka kerja baru memperlakukan waktu, tak pelak lagi Ben adalah seorang filsuf. Mungkin tidak penting baginya dikenang dengan identitas ini, tetapi sumbangannya terhadap filsafat sejarah akan menjadi berlian yang menunggu untuk digali dan ditemukan.[]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY