Di perpustakaan Fakultas Filsafat apa pun bisa terjadi. Ini adalah suatu pernyataan spekulatif dari saya, sebab memang segala pemikiran tokoh-tokoh besar tertata rapi di jajaran rak-rak buku. Luar biasa pikir saya. Di tengah kebingungan ingin melakukan aktivitas apa guna mengisi jeda pergantian dari mata kuliah yang satu ke mata kuliah lainnya, saya sengaja memilih perpustakaan kampus untuk mengisi waktu senggang. Sekadar santai-santai di ruangan ber-AC atau memandang perempuan-perempuan yang sedang asyik membaca buku atau menggarap tugas.

Siang itu saya tertarik oleh medan magnet dari sebuah majalah. Pembahasan khusus tentang sufisme. Tulisan-tulisan menarik dengan judul yang luar biasa menjadi daya tarik tersendiri. “Mencari Tuhan” dan “Wajah Perempuan, Wajah Tuhan” adalah dua artikel yang saya baca. Boom…bagai terjatuh dari ketinggian saya tenggelam di lautan spiritual.

Berdoa, bagi sebagian orang, sungguh dapat menguatkan kalbu dari keputusasaan, sebuah pelarian spiritual dari realitas yang berat, atau kesadaran diri paling kaffah bahwa manusia memang makhluk yang lemah. Bagi sebagian yang lainnya, berdoa merupakan aktivitas yang sia-sia, sebuah kegiatan bagi orang yang sudah menyerah atas kerasnya kehidupan, atau mungkin aktivitas orang dungu yang tidak menyadari bahwa Tuhan adalah proyeksi dari ketakutan manusia seperti yang dikatakan Feuerbach.

Saya berada di persimpangan antara keduanya. Kadang kala saya berdoa dan menyerah dalam sujud panjang. Kadang kala pula saya merasa superior dengan free will yang saya punya. Berdoa bagi saya adalah afirmasi atas kelemahan sekaligus kekuatan. Suatu paradoks bagi diri. Pengakuan atas ketidakberdayaan saya terhadap realitas sekaligus superioritas saya atas kebijaksanaan yang coba saya dapatkan.

Saat ini saya sedang berusaha menggantung semua pertanyaan tentang Tuhan di dalam lemari. Melepas embel-embel manusia religius yang saya coba bangun sedari kecil. Di antara kepulan asap rokok dan secangkir kopi hitam tiba-tiba terbersit di kepala tentang doa. “Mau berdoa? Mari berdoa secara nyata saja: berbuat sesuatu, melakukan aksi-aksi nyata untuk membantu meringankan beban orang lain.” Mungkin begitu hasil abstraksi dari pemikiran saya. Setelah itu terbersit, “Apa yang mau kamu lakukan?” Entahlah jawabku pada diri sendiri.

Ada suatu riwayat cerita tentang Allah yang sedang jatuh sakit. Allah bercerita kepada Rasulullah bahwa Dia sedang sakit, dan Dia menegur Rasul mengapa tidak menjengukNya. Rasulullah pun bingung dan sontak bertanya, “Bagaimana bisa sakit, ya Allah?” Dan Allah kemudian menjawab, “Itu lihatlah, tetanggamu sedang sakit”. Tentu hal tersebut adalah suatu kiasan. Bukan Allah sendiri yang sakit. Tetapi hal tersebut menunjukan bahwa habluminannas juga merupakan hal yang penting selain habluminallah. Saya juga teringat perkataan Karl Marx, bahwa para filsuf berusaha menjelaskan tentang dunia, tetapi yang terpenting adalah mengubah dunia.

Puisi K.H. A. Mustofa Bisri juga mengafirmasi pernyataan bahwa hubungan antar manusia berdiri sejajar dengan hubungan manusia dengan Tuhan.

Aku adalah jasad ruhmu

Fayakunmu

Aku adalah aku

K-a-u

Mu

Merinding saya membacanya, sebab Tuhan bersemayam di setiap tubuh makhlukNya, baik manusia ataupun hewan sekalipun. Hal tersebut juga menjadi sebuah jawaban ketika kita berhasil memahami apa maksud dari mengapa Tuhan tidak menciptakan segalanya secara sama. Ketika kita paham hal tersebut, pemahaman akan rahmatan lil alamin pun akan terasa paripurna. Jalaluddin Rumi dalam puisinya yang berjudul “Tukang Rombeng” menuliskan kalimat-kalimat yang penuh akan penyatuan diri dengan Tuhan dan kasih sayang terhadap sesama. Beliau menuliskan: Tiap pagi lewat depan rumahku penjual roti, penjual tahu, pedagang minyak, pedagang sayur, tukang patri, dan tukang sepatu. Di telingaku teriakan mereka hanyalah roti, tahu, minyak, sayur, patri, dan sepatu. Adakah di balik roti itu kelaparanku akan Dia? Adakah di balik tahu itu kerinduanku mengetahui-Nya? Adakah di balik minyak itu zat yang menyalakan cinta-Nya? Adakah di balik sayaur itu kesegaran yang hendak dianugerahkan-Nya? Adakah di balik patri itu lubang yang hendak dimasuki-Nya? Adakah di balik sepatu itu alas kaki-Nya? Suatu afirmasi dari Jalaluddin Rumi atas kerinduannya kepada Tuhan, seolah-olah para pedagang yang lewat di depan rumahnya menampakkan pendar-pendar keagungan Tuhan.

Manusia saat ini lupa berdoa secara nyata. Terlalu sibuk kepada urusan halal-haram, sesat tidaknya suatu aliran, baik-salahnya suatu perilaku. Kita hidup di zaman di mana yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh melalui teknologi. Kita lupa bertegur sapa kepada teman atau sekadar basa-basi menanyakan kabar. Kita terlalu sibuk beribadah sehingga lupa urusan keduniawian, atau bahkan terlalu sibuk mengejar harta sehingga lupa terhadap gubuk si miskin.

Ada suatu hal yang unik dari Ibnu Arabi mengenai wujud Tuhan dalam diri seorang perempuan. “Tuhan tidak pernah terlihat dalam keadaan tak berwujud. Dan melihat-Nya dalam diri seorang perempuan adalah yang paling sempurna dari segalanya.” Saya juga tersadar bagaimana di negeri kita tercinta ini sering sekali terjadi diskriminasi dan pelecehan. Muncul pertanyaan benarkah memandang perempuan adalah hal yang menyenangkan? Kemudian saya mencoba menatap wajah perempuan di depan saya. Seketika itu juga saya sadar bahwa selama ini kita salah mengerti perempuan. Wajah perempuan adalah kerentanan, kata Muhammad Al-Fayyadl. Kapitalisme saat ini “menjajah” wajah itu lewat agama dan kultur yang tidak ramah pada perbedaan. Suatu perilaku laten kita secara tidak sadar memperlakukan perempuan secara salah.

Fatima Mernissi dan Riffat Hasan pernah menulis “Surga…Apakah aku—perempuan—memiliki surga? Atau aku hanya diizinkan memasuki surga milik orang lain? Apakah kaum perempuan memiliki surga? Apakah arti surga bagiku? Jawabnya sangat sederhana. Tak ada keraguan kukatakan: Surga adalah tempat di mana aku dan setiap orang bebas dari seluruh penghambaan duniawi” (Perempuan tertindas? Kajian-kajian Hadis “Misoginis”: 2005). Ya, kita juga salah menilai perempuan. Kadang-kadang memperlakukan mereka seperti seorang makhluk yang lemah, padahal mereka memiliki kesetaraan yang sama dalam bidang apa pun. Mungkin konstruksi sosial kita telah membuat “sangkar emas” bagi gender.

Thomas Merton dalam No Man is an Island (1955) menulis: “Betapa pun manusia dan dunia ini tampaknya rusak, dan betapapun keputusannya sangat memilukan, selama ia terus bertahan menjadi manusia, kemanusiaannya akan terus mengingatkannya bahwa kehidupan itu ada maknanya.” Sebuah kalimat yang menggugah rasa kemanusiaan kita. Jadi, pilih mana antara berdoa dalam kesunyian malam atau berdoa secara nyata? Kalau saya sih memilih dua-duanya.

1 COMMENT

  1. Setuju..bpk sependapat dengan dua duanya karena semua ada rujukannya dan dicontohkan oleh Rasullah dlm kehidupan nyata…Rasul berdoa dlm setiap kesempatan …dan beliau juga berdoa dlm amal dan perbuatan. Ok selamat Alam … Sukses buat kamu.

LEAVE A REPLY