The Execution, 1995, oil on canvas (Photo © Yue Minjun)

Bergson telah membangun sistem pemikiran yang tidak hanya bertumpu pada ilmu, tapi juga pada metafisika. Oleh karena itu, konsep metafisik yang abstrak tersebut, perlu diperluas dan disempurnakan melalui aplikasinya dalam dunia kehidupan, sebagaimana telah dilakukan Bergson dalam karyanya tentang makna humor. Buku Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic (1913, McMillan), sebenarnya menyampaikan metafisika humor. Teori humor Bergson mengatasi dua mainstream teori humor, teori superioritas dan keganjilan. Bergson menyintesiskan kedua teori besar tersebut: humor ialah penegasan superioritas sosial dan intelektual, sedangkan sesuatu yang membuat tertawa merupakan bentuk khusus keganjilan fenomen.

Sesuatu yang menggelikan dapat ditemukan saat seseorang menyangka adanya tanda-tanda kehidupan, tapi malah menampilkan sifat-sifat mekanistik. Humor peristiwa atau aksi (misal, terpeleset kulit pisang), karakter yang komedik (misal, kekakuan tokoh Don Quixote), atau permainan kata-kata (misal, pantun atau permainan olah bahasa lainnya menunjukkan gerak mekanistis dan menekankan materialitasnya, terdapat banyak repitisi), berbagai kejadian tersebut bagi Bergson memamerkan kategori eror. Apa yang kita tertawai ialah sebuah keganjilan sesuatu yang ‘seharusnya’ bertindak vital, atau sesuatu yang hidup menjadi terselubungi mantel mekanis, something mechanical encrusted on the living.

Kehidupan bukanlah elemen yang tetap bagi Bergson, tapi sesuatu yang dapat menjadi lebih atau kurang: seseorang dapat menjadi lebih atau kurang hidup, lebih atau kurang mekanis atau material dalam kehidupan orang itu sendiri. Dan ketika seorang voluntir kehilangan vitalitas seseorang, baik karena desain atau tindak tanduk kelalaian (seperti tidak melihat dimana seseorang itu sedang berjalan), akan menjadi tertawaan.

Bergson memulai Laughter dengan pertanyaan ontologis, apa itu makna tertawa? Apa dasar dari suatu yang lucu? Bergson sementara menangguhkan pertanyaan itu dengan menjawab sekaligus memberi kritik atas teori humor sebelumnya. Menurut Bergson mendefinisikan humor mestinya tanpa memenjarakannya dalam sebuah definisi seperti yang dilakukan oleh filsuf sebelumnya (hlm. 1-2). Menyangkal pencarian atas definisi yang mencukupi, karena ingin kembali pada pengalaman murni dan fakta itu sendiri. Memahami humor berarti harus menunjukkan pada konteks dan kondisi, tidak semua hal dapat menjadi objek kelucuan. Maka perlu dikembalikan pada fakta lelucon yang menimbulkan tertawa, fakta menjadikan pikiran bahagia karena tindakan, fakta rasa kemuakan terhadap peristiwa. Fakta itu sendiri memiliki kategori tertentu. Fakta yang membuat tertawa bermacam-macam, dan tidak semua menimbulkan tertawa. Fakta yang dirujuk ialah yang mempunyai proses produktif.

Seseorang tertawa karena terdapat sesuatu yang tidak diduga-duga atau tidak seharusnya demikian, hal ini bisa juga benar. Namun sebenarnya seseorang tertawa terhadap otomatisme manusia lain (human automata).

Bergson berusaha keluar dari analisis bersifat definitif tersebut. Tujuannya untuk memahami tertawa secara khusus atau humor secara keseluruhan, didasarkan pada sumber alamiahnya. Bergson (hlm. 7-8) mengungkap bahwa:

To understand laughter, we must put it back into its natural environment, which is society, and above all must we determine the utility of its function, which is a social one. Such, let us say at once, will be the leading idea of all our investigations. Laughter must answer to certain requirements of life in common. It must have a social signification.

Pertanyaan pokok Bergson ialah bagaimana seseorang dapat membuat  yang lain tertawa? Lebih lanjut, apa yang mendefinisikan karakteristik-karakteristik yang membuat sesuatu lucu?

Sesuatu lucu, pada dasarnya, perlawanan di dalam relasinya dengan norma-norma dan cita-cita sosial. Hidup di dalam masyarakat, seperti observasi Bergson, membutuhkan perhatian terus menerus dan keterjagaan (wakefulness), ‘elastisitas tubuh (body) dan pikiran (mind)’. Seseorang tertawa karena terdapat sesuatu yang tidak diduga-duga atau tidak seharusnya demikian, hal ini bisa juga benar. Namun sebenarnya seseorang tertawa terhadap otomatisme manusia lain (human automata).  Analisis ini dapat disebut ‘the automaton theory’, khusus dalam analisis Bergson. Saat melangkah di jalan misalnya, seseorang perlu sadar atas gerak-gerik pejalan kaki lain, ataupun hewan-hewan yang melintas, dan sebagainya yang dapat memotong jalan. Seseorang butuh untuk dapat mengkoordinasi geraknya di antara gerak-gerak lain, butuh berjalan dengan aliran yang telah ada, dan sadar dengan tujuan. Tanpa adanya elastisitas tubuh dan pikiran, kemungkinan terjatuh ataupun terpeleset semakin besar.

Membahas humor berarti juga membahas manusia hidup yang penuh daya kreatif. Artinya tertawa ataupun humor bukan sekedar ekspresi tubuh. Tertawa sebagai ekspresi tubuh belaka dimaksudkan merujuk pada konsepsi teori keganjilan. Seperti termuat dalam gagasan Kant dan Schopenhauer. Sebuah ketidakseimbangan antara perkiraan seseorang dengan apa yang telah ia lihat. Seperti pendapat Kant, tertawa muncul karena perubahan tiba-tiba dari perkiraan ke kekosongan. Upaya Kant menjelaskan tertawa sebagai eskpresi ketubuhan itu, membutuhkan paralelisme antara pikiran dan tubuh. Goncangan tubuh yang terbahak, karena pikiran tersentak oleh fenomena. Sedangkan bagi Scopenhauer, tertawa ialah ekspresi dari keganjilan antara objek dan pikiran. Sebuah reaksi reflek karena adanya stimulus mental.

Argumen Bergson diperkuat dan bersandar pada tiga observasi, sekaligus menunjukkan posisi Bergson. Tiga observasi tersebut bagi Bergson sangat fundamental untuk menunjukkan hakikat humor (hlm. 3). Observasi Bergson secara garis besar melihat kehidupan sehari-hari. Kemudian diperbincangkan dalam bingkai ontologis.

Observasi pertama Bergson, hanya apa yang secara asali manusia mengandung kelucuan (whait is properly human is comic). Artinya, manusia tidak hanya satu-satunya hewan yang dapat tertawa, tapi satu-satunya hewan yang dapat menjadi tertawaan (laughable) (h 4). Bergson membandingkan dengan fenomen lain, pemandangan misalkan, dapat begitu indah, anggun, sublim, atau jelek, tapi alam tidak pernah menjadi lucu. Memang seseorang kadangkala tertawa pada benda tidak hidup, hewan, binatang, tapi seseorang melakukan itu, menurut Bergson, karena sebuah alasan adanya beberapa kemiripan dengan manusia yang dapat ditemukan di dalam fenomena itu.

Katakanlah seseorang tertawa karena melihat kucing berkali-kali gagal menangkap makanan yang digantung, atau tertawa pada pohon pisang yang buahnya begitu kerdil tidak seperti umumnya, atau tertawa pada anjing yang disuruh berpose oleh majikannya. Namun, sebenarnya seseorang tidak benar-benar tertawa pada kucing, pohon pisang, ataupun anjing, tetapi pada kenampakan (appearances) yang menjelma seperti layaknya manusia.  Menurut Bergson, apabila binatang ataupun objek tidak hidup membuat seseorang tertawa, itu oleh karena terdapat kemiripan dengan manusia.

Humor dapat memecah belah apa yang bukan manusia, tapi selalu membawa pada apa sebenarnya manusia itu. Kerangka analisis akan hakikat humor tidak dapat dilepaskan dari konsep tentang manusia. Seperti ungkap Philip Tew, Bergson menggagas bahwa tertawa menunjukkan apa yang secara ontologis menyusun kemanusiaan. Bergson menekankan berulang-ulang, kualitas tersebut untuk mengkritik tindak tanduk seseorang yang bersifat kebendaan (We laugh every time a person gives us the impression of being a thing).

Observasi kedua menyatakan tertawa bukanlah sebuah emosi, namun sebuah tindak intelektual. Tertawa bukan muncul dari hati, tapi dari pikiran.  Untuk menampilkannya, perlu momen-momen insensibilitas, atau dapat dikatakan mematirasakan hati sejenak, “a momentary anesthesia of the heart” (hlm. 5).  Dalam melihat kelucuan seseorang, kita harus menghindarkan diri dari perasaan menilai dan membayangkan posisi seseorang itu di posisi kita. Contoh lain, misalkan seorang anak kecil melihat keadaan seseorang yang galau, ia tidak akan tertawa, malah dengan tertawa bakal membuat marah seorang itu.  Melihat kelucuan seseorang membutuhkan emosi yang bebas dari kepentingan tertentu dan sebuah ketertarikan intelektual. Tertawa bukan pada keanehan subjek, namun sebuah penyimpangan dari fenomena yang telah ada, termasuk norma sosial.

Observasi ketiga ialah bahwa tertawa selalu dalam lingkup kelompok, “our laughter is always laughter of a group”. Artinya tertawa selalu dengan orang lain yang sama-sama melihat dunia yang dialami, atau apa yang secara umum disebut sense of humor. Tertawa nampak butuh gaung sampai di sekitarnya, “it seems that laughter needs an echo” (h. 5). Setidaknya, humor yang dikeluarkan seseorang, didukung oleh fakta yang secara umum dapat menimbulkan kelimpahan dan bahkan pada teman-teman sekitar.

Setiap humor ialah komentar atau kritik yang melibatkan kesadaran. Humor dalam pemikiran Bergson sebagai kritik untuk kehidupan, oleh karena itu tidak dapat dilepaskan dari batasan-batasan manusia. Sehingga kritik atas hidup melibatkan ‘ide-ide’ atau konsep relasional pengetahuan. Laughter Bergson dapat disebut sebagai usaha mensistematisasi dan memvalidasi humor sebagai kritik.

Sesuatu yang lucu (the comic) atau humor bergerak pada aras pikiran, emosi tidak dapat coexist dengan humor. Di dalam dunia tanpa ide, berarti humor tidak akan ada. Terdapat bidang khusus bagi konsep atau ide yang mengatasi kelangsungan humor, yaitu pola-pola pemikiran dan insting yang membuat-mengolah norma-norma sosial. Masyarakat ialah seperti organisme, bertahan dengan cara mengalir bersama arus kehidupan dan fleksibel. Musuh terbesar dari organisme itu ialah otomatisme. Sebaliknya, musuh dari otomatisme ialah humor. Gagasan pokok ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

The rigid, the ready-made, the mechanical, in contrast with the supple, the ever-changing and the living, absentmindedness in contrast with attention, in a word, automatism in contrast with free activity, such are the defects that laughter singles out and would fain correct.

Kata correct dapat menarik perhatian apabila dihubungkan dengan manusia yang hidup bersama manusia lain di-dunia-kehidupan. Sebagaimana Bergson menaruh hidup bersama sebagai hidup secara sosial, dan kata manusia lain selalu merujuk ke masyarakat, tempat humor tumbuh secara alami. Di satu sisi, humor memang nampak seperti kesenangan tanpa tujuan, tapi sebenarnya humor menjadi komentar atau kritik sosial, bahkan humor dapat lebih dari sekadar menjadi senjata sosial, ketika masyarakat menggunakannya untuk menjaga harmoni individu dengan norma sosial.

Bergson dalam pemikirannya mengungkapkan tiga pengertian, yang menandakan tumpang tindihnya berbagai sektor dalam kehidupan sehari-hari dan evolusi perkembangan umat manusia. Alam/dunia ialah dasar, masyarakat ialah superstruktur, dan individu ialah persona yang selalu terlibat dalam pergerakan ke depan dari otonomi egoistik ke arah kelompok atau kehidupan sosial. Setiap manusia secara tak terbatas lues dan terus menurus dalam gerak. Materi, seperti halnya tubuh, menolak gerak tersebut dan dapat membawa jiwa kepada kelembaman atau otomatisme. Dalam kelinglungan (absentmindedness), sebagai contoh, jiwa (termasuk keluesan pikiran) seringkali tertarik ke dalam rigiditas oleh materialitas aksi. Sesuatu yang rigid, tidak elastis, mekanis, keotomatisan, sesuatu yang siap-pakai (the ready-made), semua itu merupakan mode komikal yang membuat kemunduran dari yang lues (the supple) ke yang tetap (the fixed). Alam/dunia ialah dinamis-organis, masyarakat memiliki keluesan penyesuaian, dan individu merupakan anggota biologis dari kelompok sosial itu.

Berdasar atas interpretasi kebutuhan akan kewaspadaan di tengah dunia kehidupan, pernyataan tertawa sebagai ekspresi tubuh secara esensial menekan (punitive) individu. Penekanan atau penghukuman sosial atas individu menunjukkan bukti kekakuan tubuh atau pikiran, padahal keduanya mesti elastis, lues dan hidup saat menghadapi dunia. Di sini terlihat term metafisika Bergson secara umum yang merupakan proyek kritik atas mekanisme dan otomatisme. Formulasi-formulasi Bergson memuatnya secara jelas.  Bergson menjelaskannya bagaimana mekanisme berikut kata-kata yang menyertainya, yang telah disebutkan dengan cetak miring sebelum paragraf ini, membanjiri keseluruhan narasi dan analisis buku Laughter.

Pertanyaan yang dapat diajukan di sini, mengapa seseorang (termasuk masyarakat) terjatuh pada mekanisme atau rigiditas, menimbulkan absennya pikiran dan membuat dirinya menjadi bahan tertawaan? Bergson dapat memberikan jawaban lain selain kurangnnya elastisitas, yakni hilangnya being-made. Kehidupan adalah pergerakan dinamis, dalam tata kehidupan (individu/sosial) sebagaimana dibentuk oleh rasio. Di situlah tempat absennya being-made (aksi-mengolah terus menerus), sedangkan mode komikal selalu mentuturkan apa yang disebut ready-made (siap-pakai atau digunakan). Rasio cenderung menekankan mekanisme kerja yang terukur dan pasti seperti dalam masyarakat modern, rasio menjelma menjadi teknokrasi dan birokrasi, tempat mekanisme dan rigiditas dijunjung.

Seseorang tertawa karena keganjilan akan hidup, namun bukan sekadar keganjilan Kantian, Bergson memiliki poin berbeda, melainkan keganjilan atau ketidakseimbangan yang dapat membentangkan adanya hidup itu sendiri. Ketika melihat kelucuan, seseorang tahu di dalamnya terdapat kehidupan yang masih dalam kedok mekanis.

Term-term di atas dilihat sebagai modus utama oleh Bergson. Melihat kehidupan melalui halangan-halangan dari mekanisme. Bergson menjelaskannya di dalam bab pertama (dari 3 bab), dan menyebutnya bagian tersebut dengan comic in general. Melalui bagian ini suatu yang komikal dapat ditemui dalam mimik muka, gestur dan pergerakan tubuh. Pernyataan utama yang mewakili bagian pertama ini ialah: bagi Bergson seseorang tertawa pada otomatisme dalam hidup, imitasi, selubung mekanis, sifat kebendaan makhluk hidup. Manusia tertawa terhadap “the attitudes, gestures and movements of the human body are laughable in exact proportion as that body reminds us of a mere machine,” (h. 29), dan “mechanical encrusted on the living” (h. 49) serta we laugh every time a person gives us the impression of being a thing,” (h. 58). Seseorang tertawa karena keganjilan akan hidup, namun bukan sekadar keganjilan Kantian, Bergson memiliki poin berbeda, melainkan keganjilan atau ketidakseimbangan yang dapat membentangkan adanya hidup itu sendiri. Ketika melihat kelucuan, seseorang tahu di dalamnya terdapat kehidupan yang masih dalam kedok mekanis.

Bagian selanjutnya (bab 2), melihat elemen kelucuan dari sisi berbeda, yaitu dari situasi-situasi dan kata-kata. Terdapat proposisi sentral dalam bagian ini (h. 69):

Any arrangement of acts and events is comic which gives us, in a single combination, the illusion of life and the distinct impression of a mechanical arran-gement.

Bergson mengilustrasikan imitasi sebagai elemen komikal secara konkrit, dapat ditemui dalam permainan kanak-kanak. Bergson sendiri mencontohkan tiga macam contoh, permainan the jack-in-the-box, boneka/wayang (the marionette) dan bola salju (the snowball). Pengertian mekanis yang ditunjukkan dalam the jack-in-the-box ialah jelas, kegiatan memantul, terdapat banyak pengulangan pergerakan. Drama boneka/marionette mengandung elemen komikal apabila kita membayangkan dengan bebas usaha menggerakkan tali itu sebanarnya kosong,  demikian pula cerita yang sering diulang, permainan seperti itu menerima situasi di mana repetisi ada di dalamnya. Hampir sama dengan permainan bola salju, seseorang cenderung memberi perhatian pada movement without life.

Sedangkan dalam kasus humor verbal, bukan dalam artian menggunakan kata-kata menjadi lucu, tapi bahasa itu sendiri mengandung kelucuan, dan absurditas yang muncul dari berpikir secara mekanis. Bergson menambah tiga prinsip khusus dalam humor verbal: memasukkan sebuah gagasan absurd dalam frasa (h. 112), menaruh sebuah ekspresi figuratif secara literal (h. 115), mengubah ekspresi natural idea ke arah yang lain (h. 123). Kesimpulan dari bagian ini adalah contoh-contoh tersebut menunjukkan tiga hal: seri yang saling timbal-balik, pembalikan (inversion) dan repetisi. Analisis dari kesemuanya itu bertujuan untuk melihat mekanisasi kehidupan (h. 101).

Setelah mendiskusikan bagaimana bentuk-bentuk, tindak-tanduk, gestur, situasi-situasi, dan kata-kata dapat menjadi sebuah kulucuan, akhirnya Bergson menambahkan data modus, yakni komedi dari karakter (bab 3). Karakter individu bukanlah kedok mekanis yang berdiri sendiri, melainkan bagian automaton masyarakat.  Namun, yang perlu digarisbawahi di sini, mekanisme tidak bersitegang melawan masyarakat atau yang lebih spesifik, tetapi melawan sosiabilitas (sociability) itu sendiri, sesuatu yang lebih penting dari sistem etika atau moralitas yang dihasilkan masyarakat. Apa yang selalu dikoreksi oleh humor ialah “the ready-made element in our personality” dan juga masyarakat (h. 148). Apabila seseorang gagal menyadrainya, akan tergelincir ke arah hidup yang mekanistik. Kemudian, ketika keluesan sosiabilitas manusia gagal menghalau, yang komikal akan meletus.

Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.

3 COMMENTS

  1. pertama kali saya baca, entah mengapa saya jadi ingat The Name of Rose-nya Umberto Eco, hehehe. Oh, ya, izinkan saya bertanya, maksud Mas Khoiril dalam kalimat ‘Musuh terbesar dari organisme itu ialah otomatisme.’ itu apa? Apakah ada hubungannya dengan apa yang sekarang kita hadapi, katakanlah Digitalisasi Industri? Saya juga ingin bertanya, apa pendapat Mas Khoiril tentang Digital Humanities? Terima kasih.
    nb. saya belajar filsafat secara otodidak, jadi mohon maklum (dan semoga saudara berkenan mengoreksi saya) jika terdapat kalimat saya yang masih kurang tepat.

LEAVE A REPLY