G. E. Moore (Sumber: alchetron.com)

Pengantar Skeptisisme

Seseorang bertanya kepadamu, “apa kamu percaya UFO?”. Kamu menjawab “Tidak, UFO hanyalah dongeng konspirasi belaka”. Suatu hari seorang yang sama bertanya tentang alien, tatanan dunia baru, gosip artis yang mempunyai pacar baru, diskon Indomie Kari Ayam di Indomart, dan Steam Sale yang tanggalnya dimajukan. “Apakah kamu percaya dengan semua ini?”. Inilah sebagian kecil contoh dari apa yang disebut sebagai pandangan skeptis. Dalam definisi umum, skeptis adalah sikap yang tidak mudah untuk percaya. Sikap yang selalu mempertanyakan kebenaran, keaslian, dan keabsahan atas segala sesuatu yang datang menerpa pikiran kita[1][2]. Selain contoh “bodoh” yang telah saya paparkan di atas, contoh pandangan skeptis lainnya adalah skeptis terhadap agama—mempertanyakan dogma dasar dari suatu agama. Selain itu, pandangan skeptis yang lebih terkenal dan memang berguna adalah skeptisisme ilmiah.

Sains sering mendapatkan serangan-serangan yang kadang cukup fatal dari oknum yang memanfaatkan sains untuk keperluan tertentu, misalnya: uang, politik, kekuasaan, agama, dan keributan. Serangan inilah yang disebut dengan pseudosains.

Sains sering mendapatkan serangan-serangan yang kadang cukup fatal dari oknum yang memanfaatkan sains untuk keperluan tertentu, misalnya: uang, politik, kekuasaan, agama, dan keributan. Serangan inilah yang disebut dengan pseudosains. Kita tidak berbicara bahwa pseudosains menyerang dalam artian menghancurkan ilmu sains itu sendiri. Bukan. Kita berbicara mengenai pseudosains yang menghancurkan pikiran masyarakat dengan fakta-fakta yang seolah terdengar ilmiah, padahal tidak, lalu menjauhkan—bahkan menolak—fakta sains dari pikiran masyarakat itu sendiri. Dan oleh karenanya, sebagian besar masyarakat yang terpapar oleh radiasi fakta pseudosains—apalagi yang menguntungkan[3] atau mendukung suatu kepercayaan—akan mempercayainya.

Contoh klasik dari pseudosains yang benar-benar sangat dekat kehidupan kita adalah pandangan bumi datar, vaksinasi menyebabkan autisme, hoax pendaratan manusia di bulan, hoax DHMO (dihidrogen monooksida), dan lain sebagainya—bahkan mungkin tak terhitung banyaknya, apalagi di negara kita tercinta ini. Skeptisisme ilmiah sangat berguna apabila kita ingin berlindung dari paparan sinar radiasi pseudosains. Skeptisisme ilmiah menggunakan berbagai perangkat logika, metode ilmiah, bukti-bukti empiris, dan fakta ilmiah yang telah mapan (established scientific fact) untuk menginvestigasi berbagai fakta-fakta pseudosains yang tersebar demi kemaslahatan manusia[4]. Tetapi lebih dari itu, skeptisisme ilmiah dibutuhkan bagi seorang saintis untuk melakukan percobaan ilmiah menggunakan metode ilmiah (scientific method). Setiap saintis haruslah skeptis tentang hasil observasinya, skeptis terhadap kesimpulan atau hasil eksperimen. Oleh sebab itu, diperlukan pengujian berulang, pelebaran jumlah sampel yang dijustifikasi menggunakan berbagai perangkat statistika (misalnya statistika Bayesian) dan yang paling penting, peer-review antar sesama saintis dengan bidang keilmuan sejenis sebelum memasuki jurnal ilmiah.

Kita perlu memiliki landasan atau alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu benar, kita tidak bisa percaya buta begitu saja. Kita perlu menjustifikasinya.

Akan tetapi pada pembahasan kali ini, kita tidak berbicara mengenai skeptisisme ilmiah atau skeptisisme terhadap hal-hal partikular seperti yang telah disebutkan di atas, melainkan skeptisisme filosofis (philosophical scepticism). Skeptisisme filosofis (selanjutnya ditulis “skeptisisme” saja) meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Meragukan semua proposisi yang dapat kita pikirkan. Secara umum, skeptisisme meragukan dan mempertanyakan tentang pengetahuan itu sendiri[5]. Dapatkah kita mendapatkan pengetahuan? Apakah pengetahuan itu mungkin? Suatu pengetahuan dapat dikatakan benar apabila dapat dijustifikasi kebenarannya. Kita perlu memiliki landasan atau alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu benar, kita tidak bisa percaya buta begitu saja. Kita perlu menjustifikasinya. Ambil contoh bahwa kita percaya ada naga terbang di atas kastil Krasiczyn di Polandia. Kita harus mempunyai bukti yang cukup bagus untuk mempercayai fakta ini. Misalkan kita memiliki foto, rekaman video, bahkan kita telah menangkap naga itu sendiri lalu memasukkannya ke dalam sangkar. Kaum skeptis akan menolak bahwa kita telah membuktikan keberadaan naga terbang tersebut dengan meragukan salah satu dari bukti atau hal-hal yang mendukung eksistensi bukti tersebut. Misalnya, jika kita mempunyai naga terbang yang ada di dalam sangkar, kaum skeptis dapat meragukannya dengan berkata bahwa apa yang kamu bawa itu tidak nyata. Mereka dapat berkata bahwa “saya telah tertipu daya oleh ilusi masal yang menyebabkan saya melihat adanya naga di depan mata. Ilusi tersebut bisa jadi adalah ilusi iblis jahat[6] yang menyebabkan adanya perubahan partikel-partikel fundamental seperti quark, berubahnya dimensi ruang-waktu, dan perubahan komposisi natrium dan kalium di dalam otak saya sehingga saya mempersepsi naga tersebut”. Selain itu, jika seseorang skeptis menganut solipsisme (tidak ada yang nyata selain self atau diri sendiri), maka bukti apa pun tidak berpengaruh pada orang tersebut.

Skeptisisme sendiri bukanlah satu pemikiran yang seragam. Ada banyak jenis skeptisisme. Skeptisisme akademik mengatakan bahwa pengetahuan itu tidak mungkin untuk didapatkan. Akademik di sini mempunyai artian akademik Plato, yaitu institusi pendidikan yang dibentuk oleh Plato. Skeptisisme akademik tidak meragukan bahwa pengetahuan mungkin ada, tetapi meragukan cara mendapatkan pengetahuan tersebut[7]. Pemikiran skeptisisme akademik banyak dipengaruhi Arcesilaus sebagai kepala Akademi Plato. Arcesilaus pada awalnya menolak kaum Stoik yang begitu percaya diri akan eksistensi pengetahuan, misalnya Zeno. Arcesilaus berpendapat bahwa data indrawi tidaklah pasti. Kita selalu dapat dibohongi oleh data indrawi (misalnya ilusi dan halusinasi). Oleh karena itu, kita tidak dapat memercayai pengamatan langsung melalui indra[8]. “Kita tidak tahu apa-apa, bahkan ketidaktahuan (ignorantia) itu sendiri”. Selain Arcesilaus, filsuf skeptis akademik yang terkenal lainnya adalah Carneades dari Cyrene.

Skeptisisme Pyrrhonian menolak semua dogma pada berbagai jenjang dan jenis, termasuk skeptisisme itu sendiri[9]. Pyrrho merangkum filsafatnya dalam satu kata: acatalepsia yang berarti ketidakmampuan atau ketidakmungkinan dalam mengomprehensi atau memahami suatu benda atau peristiwa[10]. Dan masih banyak skeptisisme lainnya yang dicanangkan oleh filsuf tertentu, seperti skeptisisme cartesian (René Descartes)[6]; skeptisisme Buddhisme (Zen Buddhism)[11]; Zhuangsi yang terkenal dengan kupu-kupunya[12]; dan David Hume yang skeptis dengan pengetahuan[13].

Secara umum, skeptisisme dapat dibagi menjadi dua menurut tingkatan “skala objek yang akan diragukan”, skeptisisme lokal dan skeptisisme global. Skeptisisme lokal memandang bahwa manusia masih bisa mendapatkan dan memiliki pengetahuan tertentu pada bidang atau domain tertentu. Contoh skeptisisme lokal adalah skeptisisme moral, pandangan yang menolak bahwa manusia memiliki pengetahuan moral dan menolak semua alasan untuk menjadi yang bermoral[14]. Selain skeptisisme moral, skeptisisme teologis juga termasuk dalam skeptisisme lokal. Skeptisisme teologis berpendapat bahwa kita tidak akan pernah mengetahui dan mendapatkan pengetahuan tentang eksistensi Tuhan (atau tuhan)[15]. Seseorang yang berpandangan skeptisisme teologis tidak selalu merupakan agnostik ateis. Beberapa juga bisa menjadi seorang teis[15]. Hal yang disangsikan di sini adalah pengetahuan akan Tuhan saja, bukan masalah apakah kita percaya atau tidak. Seorang skeptis teologis bisa saja seorang teis, dengan menganut fideisme, yang menyatakan bahwa iman (kepercayaan akan ketuhanan) tidak berkaitan dengan pengetahuan akan Tuhan itu sendiri. kita tidak perlu memikirkan alasan yang rasional, atau empiris untuk meyakini eksistensi Tuhan[16]. Fideis hanya menggunakan iman (blind faith) sebagai satu-satunya jalan menuju ketuhanan. Di sisi lain, skeptisisme global meragukan semua pengetahuan yang ada. Kita tidak dapat mengetahui kebenaran dari setiap proposisi yang dapat kita pikiran, juga, kita tidak dapat mengetahui eksistensi dari setiap objek yang dapat terlintas di pikiran kita, bahkan pikiran kita pun dapat diragukan eksistensinya. “I only know that I know nothing” adalah kutipan Socrates paling terkenal yang menunjukkan bahwa ia seorang skeptis. Namun, Arcesilaus—seperti yang telah dijelaskan di atas—menolak semua dogma[17]. Ia mengoreksi Socrates dengan menambahkan “I don’t even know that” yang jelas-jelas sebuah paradoks (Bagaimana ia tahu pernyataan “I don’t even know that” benar? Jika pernyataan itu salah—karena kita ragukan kebenarannya—pernyataan Socrates malahan menjadi benar, padahal ia juga sedang meragukannya).

Salah satu argumen skeptis yang paling terkenal adalah skeptisisme epistemologis mengenai external world, yaitu apa-apa saja yang berada di luar pikiran kita (akan dibahas lebih detail nanti). Menurut Fumerton[18], skeptisisme ini termasuk ke dalam skeptisisme lokal kuat (strong local scepticism). Dikatakan “kuat” karena skeptisisme ini meragukan semuanya kecuali pikiran kita sendiri, meragukan semua benda-benda yang ada di luar pikiran kita, baik fisik maupun non-fisik. Ada istilah lain yang lebih tepat menggambarkan skenario ini: solipsisme (bahasa Latin: solus yang berarti sendiri, dan ipse yang berarti diri sendiri atau self). Argumen solipsisme muncul akibat dari keraguan manusia akan informasi-informasi indrawi[19]. Saat kita melihat sebuah kursi kayu berwarna coklat, kita sebenarnya menangkap foton-foton yang dipantulkan oleh kursi tersebut menuju mata kita. Dengan berbagai panjang gelombang yang ditangkap oleh mata, kita mempersepsi warna yang berbeda dari kursi tersebut. Masukan sensoris dari mata akan diubah menjadi impuls listrik oleh fotoreseptor melalui mekanisme aktivasi fototransduksi (phototransduction activation) yang melibatkan berbagai molekul penting seperti retinal, rhodopsin, dan  phosphodiesterase[20]. Impuls listrik pada sel saraf akan diteruskan menuju otak melalui saraf optik. Impuls akan sampai pada optic chiasm, bagian dari sistem saraf yang menjembatani antara saraf optik dan saraf sentral. Dari sini, impuls diteruskan menuju optic tract, untuk selanjutnya dijalarkan menuju Lateral Geniculate Nucleus (LGN) yang berada di dalam talamus. LGN adalah gerbang pemprosesan imaji visual sebelum akhirnya diproses, dipersepsi, dan direpresentasikan oleh korteks visual di lobus oksipitalis. Pada tahap ini kita masih belum bisa “melihat”. Informasi harus lebih lanjut diolah oleh korteks asosiasi visual yang berada di menyebar di lobus-lobus otak[21].

Brain in a vat merupakan versi modern dari perumpamaan iblis jahat (evil demon) a la Descartes. Pertama kali diperkenalkan oleh Gilbert Harman,  brain in a vat sering digunakan dalam skenario science fiction. Yang paling terkenal adalah film The Matrix. Secara singkat, thought experiment brain in a vat bercerita tentang dunia tersimulasi.

Pada penjelasan mekanisme melihat di atas, kita dapat meragukan sumber data indrawi yang ada. Bagaimana jika impuls listrik tersebut tidak berasal dari mata, namun dari luar—misalnya komputer yang terhubung dengan saraf optik. Hal ini berlaku pula pada indra lainnya seperti penciuman (olfaktori), perabaan (somatosensori), dan keseimbangan (vestibular). Jika kita tidak bisa benar-benar membuktikan dengan kepastian yang cukup untuk mengatakan bahwa data-data indrawi memang berasal dari dunia nyata (external world), maka kita dapat meragukan keberadaan external world. Salah satu contoh dari solipsisme adalah brain in a vat (otak dalam bejana). Brain in a vat merupakan versi modern dari perumpamaan iblis jahat (evil demon) a la Descartes. Pertama kali diperkenalkan oleh Gilbert Harman,  brain in a vat sering digunakan dalam skenario science fiction. Yang paling terkenal adalah film The Matrix. Secara singkat, thought experiment brain in a vat bercerita tentang dunia tersimulasi. Telah dibahas di atas bahwa semua persepsi kita mengenai dunia ini berasal dari data-data indrawi. Sedangkan, data-data indrawi sendiri berasal dari saraf sensoris yang terhubung dengan otak. Saraf sensori menerima impuls saraf dari reseptor, dan reseptor menghasilkan impuls ketika reseptor tersebut terangsang oleh lingkungan sekitar berdasarkan jenis reseptor yang sesuai. Telah kita singgung pada penjelasan proses melihat di atas, terdapat reseptor peka cahaya yang terdapat di dalam retina mata. Reseptor tersebut sering disebut sebagai fotoreseptor, mempunyai dua bentuk sel yaitu sel kerucut dan sel tabung. Apabila ada cahaya yang diterima oleh sel reseptor tersebut, terbentuklah proses kimiawi sehingga impuls saraf tercipta dan berpropagasi hingga menuju otak. Apabila kita mengganti sumber rangsangan dengan lingkungan artifisial, persepsi yang ditimbulkan tetap sama. Sekarang, kita berpikir lebih luas. Apabila semua reseptor dalam tubuh kita diganti dengan suatu komputer maha canggih yang selama 24 jam penuh selalu memberikan saraf-saraf sensori kita dengan berbagai impuls seperti impuls yang dihasilkan oleh reseptor karena rangsangan lingkungan, maka kita tentu tidak dapat membedakan yang mana yang nyata—dalam artian informasi tersebut berasal dari dunia nyata, dan yang mana yang fana—dalam artian informasi tersebut berasal dari komputer. Semua informasi dan data indrawi (misalnya rasa lapar, kenyang, haus, sakit, panas, dingin) pada akhirnya menuju dan diproses oleh otak. Semua realitas ini tergantung dan terbentuk di otak kita. Ini berarti otak merupakan suatu objek ultimate dalam persepsi kita mengenai realita. “Otak manusia dipisahkan dari badan, lalu disimpan di dalam suatu toples yang memberikan semua nutrisi dan kelangsungan hidup otak. Lalu, kabel-kabel dari komputer maha canggih yang tersambung dengan saraf otak menjuntai-juntai. Pada layar komputer tersebut, ditampilkan imaji otak kita. Tidak jauh dari situ, duduklah seorang saintis gila yang bersekongkol dengan iblis jahat. Mereka tertawa.” Inilah gambaran singkat mengenai thought experiment brain in a vat. Terdengar mengerikan bukan?

Zhuangsi dalam syairnya juga mengutarakan argumen solipsisme dengan memberikan perumpamaan “ketika aku, Zhuang Zhou, sedang bermimpi, aku memimpikan kupu-kupu yang indah. Aku yang bermimpi menjadi kupu-kupu tidak menyadari bahwa aku adalah Zhou. Tetapi ketika aku bangun, apakah aku adalah kupu-kupu yang bermimpi menjadi seorang manusia?” [12]

Struktur Argumen Skeptis dan Moorean Fact

Kita telah melihat berbagai pemaparan mengenai jenis-jenis skeptisisme dan beberapa contoh argumen yang diusungkannya. Semua skeptisisme mengajukan argumen yang bersifat menolak untuk memercayai sebagian atau semua pengetahuan. Namun, adakah pola yang dapat kita simpulkan dari berbagai argumen tersebut? Sejarah skeptisisme memang panjang. Meskipun begitu, ada pola mendasar yang melatarbelakangi penulisan argumen skeptisisme. Dengan mengetahui pola tersebut, kita dapat membentuk dengan jelas bagaimana struktur argumen skeptisisme. Dengan bermodalkan struktur argumen yang jelas, analisis yang rigor mengenai skeptisisme memungkinkan untuk dilakukan. Inilah yang mengilhami George Edward Moore, seorang filsuf analitik, menulis counter argument untuk kaum skeptis.

Ilustrasi seorang BIV (brain-in-a-vat) sedang melihat meja dan kursi.
Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Brain_in_a_vat_(en).png dan IKEA. (gambar utuh merupakan hasil editan)

Misalkan P adalah sembarang proposisi mengenai “pengetahuan umum” dunia ini (dunia itu ada, kursi itu ada, saya bukan brain-in-a-vat, dan lain-lain). Untuk argumen ini, kita misalkan P adalah proposisi “saya sekarang sedang duduk di atas kursi”. Misalkan S adalah proposisi skeptis, yaitu, proposisi yang berlawanan (incompatible) dengan proposisi P (sceptical counterpossibility to P). Untuk argumen ini, kita misalkan proposisi S adalah “saya brain-in-a-vat, sehingga data-data indrawi yang menuju ke otak saya tidak dapat dibedakan dengan pengalaman sungguhan yang terjadi di external world”. Kita akan membentuk susunan argumen dengan proposisi-proposisi di atas. Kita akan menyebut argumen di bawah ini dengan argumen A [22].

(1A) Jika saya tidak tahu bahwa ¬S, maka saya tidak tahu bahwa P

(2A) Saya tidak tahu bahwa ¬S

(3A) ∴Saya tidak tahu bahwa P

Argumen di atas memiliki bentuk modus ponens yang dapat dinyatakan dalam notasi logika proposisional sebagai

((r→q)∧r)→q

dengan r adalah “saya tidak tahu bahwa ¬S” dan q adalah “saya tidak tahu bahwa P”.

Sekarang, coba perhatikan argumen di bawah ini (sebut saja argumen B).

(1B) Jika saya tidak tahu bahwa ¬S, maka saya tidak tahu bahwa P

(2B) Saya tahu bahwa P

(3B) ∴Saya tahu bahwa ¬S

Argumen B tidak menyerang premis pertama dari argumen A—yang dinamakan sebagai proposisi skeptis atau hipotesis skenario skeptis—melainkan, argumen B hanya mengubah bentuk modus ponens menjadi bentuk modus tollens yang jika dinyatakan dalam notasi logika proposisional menjadi

((r→q)∧¬q)→¬r

Argumen B disebut sebagai pergeseran Moore (Moorean Shift), karena Moore hanya mengubah struktur argumen dari modus ponens menjadi modus tollens [22].

 

Tetapi apabila kita perhatikan pada argumen B di atas, premis (2B) terlihat hanya berasumsi belaka. Bagaimana cara kita mengetahui P itu benar? Padahal, inilah yang dikritik oleh kaum skeptis (premis ke-3 dari argumen A). Inilah yang disebut sebagai Moorean Fact. David Lewis menjelaskan Moorean Fact sebagai “salah satu proposisi yang kita mengetahuinya lebih baik daripada proposisi argumen filosofis lainnya” [23]. Proposisi Moorean Fact dianggap lebih memungkinkan daripada proposisi lain yang berlawanan. Kita mengetahui dunia ini lebih baik (bahwa dunia ini nyata), daripada kita mengetahui bahwa kita adalah brain-in-a-vat (dan karenanya kita tidak mengetahui bahwa kita adalah brain-in-a-vat—argumen utama skeptisisme). Dalam kata lain, kita menerima bahwa premis (2B) tidaklah memiliki standar kepastian yang tinggi, tetapi premis (2B) memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk dapat diketahui. Dapat disimpulkan bahwa, meskipun premis (2B) tidak memiliki kebenaran (truth value) yang pasti, kita mengetahui premis (2B) lebih baik daripada premis (2A), oleh karena itu argumen B dapat diterima. Secara umum, kita dapat menyatakan proposisi Moorean Fact sebagai berikut: “Proposisi X adalah Moorean Fact jika dan hanya jika proposisi X diketahui lebih baik daripada semua kemungkinan alternatif dari proposisi X” [22].

Di sini, Moore mencoba untuk menunjukkan bahwa argumen skeptis dibentuk atas dasar yang sama rapuhnya dengan Moorean Fact. Premis (2A) terlihat superior, sebab kita memang tidak akan pernah tahu hal itu terjadi. Namun, jika kita lihat premis (2B), kita tahu bahwa hal itu memang terjadi, meskipun kita tidak tahu (2A) terjadi. Moore mencoba menunjukkan sesuatu yang bersifat positif daripada negatif dalam ranah pembuktian ini. Moore lebih memilih sesuatu yang kita ketahui dengan baik (positif) daripada sesuatu yang kita tidak tahu (negatif) untuk menunjukkan suatu bukti.

Pembuktian Moore atas Realitas External World

Argumen Moore kali ini mengikuti pola yang sama dengan argumen B. Namun, perlu digarisbawahi terlebih dahulu, apa yang sebenarnya dimaksud dengan External World?

Dalam pembukaan esainya yang berjudul “Proof  of an External World”, Moore mengutip prakata yang ditulis oleh Kant dalam Critique of Pure Reason[24].

“It still remains a scandal to philosophy … that the existence of things outside of us … must be accepted merely on faith, and that, if anyone thinks good to doubt their existence, we are unable to counter his doubts by any satisfactory proof”

Apa yang dimaksud “existence of things outside us” oleh Kant? Moore menjelaskan hal ini dengan menghabiskan setengah dari esai tersebut. Pada esainya, Moore menjelaskan bahwa “existence of thing outside us” sama artinya dengan “existence of thing outside our mind”. Lalu apa yang disebut dengan “mind”?

Kita lihat lagi pada bagian awal esai ini ketika kita menelisik lebih lanjut bagaimana cara kita melihat. Semua representasi kita atas dunia ini sebenarnya hanyalah konstruksi imaji yang terjadi dalam otak. Kita tentu sangat yakin tentang eksistensi imaji tersebut. Ketika kita melihat kursi, kita sangat yakin bahwa kita memiliki imaji kursi pada pikiran kita, yang menyebabkan kita bisa berkata apa yang kita lihat adalah kursi, dan inilah yang menyebabkan kita tahu bahwa kita sedang membicarakan kursi, bukan meja. Semua imaji kualitatif adalah data-data indrawi yang dipersepsi oleh pikiran kita. Meskipun kita sangat yakin dengan eksistensi imaji tersebut, tetapi kita dapat meragukan eksistensi dari “benda” asli dari imaji pikiran kita. Imaji kursi memiliki benda kursi yang identik dengan imaji kursi pada pikiran kita. Benda kursi dikatakan berada di luar pikiran jika imaji kursi berasal dari suatu serangkaian proses fisika, kimia, dan biologis yang terjadi saat data indrawi kita dapatkan dari aktivitas melihat. Tapi apakah benar ada yang namanya benda kursi? Inilah yang disebut sebagai external world: dunia di luar pikiran kita. Dan telah dijelaskan di atas bahwa pikiran adalah persepsi kita yang serupa dengan external world. Tapi apakah cukup untuk menaungi pembeda antara external world dan minds?

Bayangkan sesuatu seperti kuda poni berwarna merah muda bersayap coklat dengan kepala seperti sapi dan kaki seperti elang melayang di atas gunung emas dengan kawah perak cair. Tentu kita bisa membayangkannya, padahal tidak ada benda seperti deskripsi di atas pada dunia ini (dunia nyata atau actual world). Inilah yang disebut mental representation. Selain itu, emosi dan hasrat juga tidak memiliki referensi aktual pada dunia nyata. Rasa senang, sedih, bingung, sakit, dan lain sebagainya tidak memiliki “benda” seperti halnya imaji kursi memiliki benda kursi. Semua contoh ini disebut sebagai mental states. Lebih tepatnya, semua aktivitas, proses, atau sesuatu yang dapat dilaksanakan oleh dan pada pikiran disebut sebagai mental states. Secara keseluruhan, mental states meliputi kepercayaan (saya percaya hujan akan turun hari ini), hasrat (saya ingin makan martabak), pengetahuan (aku tahu ), pemikiran (thought—saya memikirkan bahwa pernyataan 3 > 2 bernilai benar), mental represntation (saya membayangkan ada kuda berkepala babi), emosi (saya merasa sedih), persepsi (saya melihat kursi), sensasi (saya merasakan gatal di tangan kanan)[25]. Kemudian kita dapat mendefinisikan bahwa external world adalah apa-apa saja yang bukan termasuk mental states, karena, mental states hanya terjadi di dalam pikiran (minds). Kepercayaan kita akan hujan akan turun adalah mutually exclusive dengan peristiwa hujan yang sebenarnya. Begitu juga dengan rasa sakit yang terjadi karena digigit semut. Kita tahu rasa sakit itu ada di lengan kanan. Kita juga tahu semua proses kimiawi dan biologis yang terjadi dalam peristiwa gigitan semut tersebut. Namun, rasa sakit itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Seseorang yang melihat saya kesakitan mungkin mengetahui letak rasa sakitnya di mana (di lengan kanan) tetapi bagaimana rasanya rasa sakit itu, dia tidak tahu. Namun, tidak selalu pengamat mengetahui di mana letak rasa sakit itu. Phantom limb adalah sensasi rasa sakit yang dialami oleh mereka yang telah teramputasi bagian alat geraknya[26]. Beberapa orang yang mengalami phantom limb merasakan sakit pada bagian yang telah tiada. Misalnya jempol kaki saya terasa sakit, padahal kaki saya (sampai bawah paha) telah diamputasi. Tentu saja kasus ini sangat berbeda dengan kasus di mana seekor semut menggigit lengan kanan saya. Sebenarnya tidak penting apakah rasa sakit itu dapat diketahui letaknya (sumber dari rasa sakit) oleh seorang pengamat atau tidak. Poin yang penting di sini adalah rasa sakit merupakan mental states yang tidak memiliki referensi di dunia nyata (bahkan pada kasus ekstrem seperti phantom limb).

Selain itu, Moore menjelaskan sesuatu yang terlihat benar-benar nyata di dunia nyata tidak selalu merupakan objek external world. Hal ini dapat dideskripsikan oleh kondisi fisiologis mengenai persepsi bernama after images. Misalnya kamu secara fokus menatap gambar negatif (inverted color photo, seperti pada “film” kamera jadul) selama 30 detik atau lebih tanpa berkedip, lalu memalingkan pandanganmu pada tembok putih polos (atau sesuatu yang plain seperti layar putih), kamu akan “melihat” sesuatu gambar yang memiliki bentuk identik dengan gambar negatif yang telah kamu tatap tadi, akan tetapi warnanya di­inverse menjadi positive image (seperti gambar pada umumnya) [27]. Jika ada seseorang juga menatap tembok putih bersamamu (di tempat yang sama) ketika kamu melakukan percobaan ini, tetapi orang tersebut tidak menatap gambar negatif (dalam artian, dari awal percobaan orang yang bersamamu terus menatap tembok putih yang sama dengan tembok putih yang kamu tatap), maka orang tersebut tidak akan melihat positive image yang serupa dengan imajimu (padahal kamu dan orang yang bersamamu sama-sama melihat tembok yang sama pada waktu yang bersamaan). Inilah contoh dari mental states yang presented in space (ditampilkan pada ruang) tetapi eksis hanya pikiran kita. After images tidak menampakkan dirinya realitas ruang-waktu, tetapi after images hanya menampakkan dirinya di imaji dari realitas ruang-waktu (yang tidak lain adalah mental representation) [24]. Contoh lain dari mental states yang presented in space yang telah saya jelaskan di atas adalah rasa sakit karena gigitan semut di lengan kanan[24].

Kita telah mengenal batasan-batasan yang jelas antara external world dan minds. Oleh karena itu kita dapat memulai untuk mendefinisikan apa itu external world. Dari yang telah kita bahas, external world adalah apa-apa saja yang bukan mental states, sehingga dapat didefinisikan external world adalah “semua objek dan peristiwa yang dapat kita persepsi dan kita pikirkan, akan tetapi, eksis secara independen dari pikiran kita”. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membuktikan eksistensi dari external world?

Mengenai pertanyaan di atas, Moore menjelaskan dengan cara yang sangat simpel. Struktur argumen mirip dengan argumen B yang telah kita bahas sebelumnya[24].

  1. Ini adalah satu tangan (here is one hand)
  2. Ini adalah satu tangan yang lain (here is another hand)
  3. Jika di sini ada tangan, maka ada external things (if there are hands, then there are external things).
  4. Maka dari itu, external things ada (therefore, there exist some external things)

Dalam logika formal, argumen di atas dapat dinyatakan sebagai[24]

  1. ∃x(Hx)
  2. ∃x(Hy∧¬(y=x))
  3. ∃x(Hx→∃z(Ez))
  4. |−∃z(Ez)

dengan H adalah predikat dari tangan, E adalah predikat dari external world, x, y, dan z adalah sebarang variabel.

Dari pembahasan mengenai Moorean fact di atas, kita telah mengetahui bahwa eksistensi dari tangan yang ingin ditunjukkan oleh Moore merupakan salah satu contoh dari Moorean fact. Kita mengetahui eksistensi dari tangan kita sendiri lebih baik daripada kita mengetahui eksistensi mesin seperti pada film “The Matrix” yang mensimulasikan imaji tangan pada pikiran kita.

Pada Twin Earth thougt experiment, Hilary Putnam menjelaskan bahwa ada dua bumi. Kedua bumi tersebut identik. Identik di sini dalam artian semua komposisi dan susunan fisik persis sama, sampai pada posisi dan susunan atom, serta partikel subatomik. Juga, kedua bumi berada dalam letak yang sama di alam semesta, yaitu tata surya dengan matahari yang sama pula). Di bumi kembar (twin earth) terdapat manusia yang sama pula. Namun, hanya ada satu hal yang berbeda: komposisi air. Air di bumi (bumi yang sebenarnya) memiliki penyusun H­2O dengan atom Hidrogen seperti yang kita kenal dan atom oksigen seperti yang kita kenal. Di lain sisi, “air” di bumi kembar memiliki sifat yang identik, kecuali hanya satu: penyusunnya.

Kritik Terhadap Moore dan Keberlanjutan Permasalahan Skeptisisme External World dalam Khazanah Filsafat Analitik

Begitu setelah Moore mempublikasikan esainya, kritik berdatangan. Disusul dengan pembelaan atas argumen Moore, atmosfer balas-membalas khas akademik pun terjadi. Berbagai jurnal diisi oleh topik yang tidak jauh-jauh dari masalah yang Moore angkat[28]. Wittgenstein juga pernah membahas masalah ini pada esainya yang berjudul “On Certainty”. Cabang pemikiran filsafat yang terinspirasi baik secara langsung ataupun tidak langsung juga bermunculan setelah Moore menulis masalah ini. Salah satu contohnya adalah eksternalisme dan internalisme dalam epistemologi. Hilary Putnam mempopulerkan argumen eksternalisme semantik (semantic externalism) untuk membuktikan bahwa proposisi “kita adalah brain-in-a-vat (BIV)” adalah salah. Dalam esainya yang berjudul “Meaning of Meaning”, Hilary Putnam juga membahas contoh thought experiment terkenal, Twin Earth, untuk menjelaskan bahwa eksternalisme (lebih sempit lagi: pengetahuan mengenai external world) adalah benar. Di sini saya akan membahas kedua argumen di atas secara singkat.

Eksternalisme semantik (dalam filsafat bahasa) adalah paham yang menyatakan bahwa makna (meanings) tidaklah dibentuk oleh mental states saja—diasosiasikan dengan makna lain yang ada dalam mental states[29]. Makna dan referensi dari kata-kata (misalnya kursi) ditentukan oleh realitas eksternal, faktor yang berada di luar mental states seseorang—external world[29]. Hilary Putnam merangkumnya dalam satu kalimat yang terkenal, “meaning just ain’t in the head!”[30]. Pada Twin Earth thougt experiment, Hilary Putnam menjelaskan bahwa ada dua bumi. Kedua bumi tersebut identik. Identik di sini dalam artian semua komposisi dan susunan fisik persis sama, sampai pada posisi dan susunan atom, serta partikel subatomik (ini mengimplikasikan bahwa bumi kedua ini dihuni oleh makhluk hidup yang sama pula). Juga, kedua bumi berada dalam letak yang sama di alam semesta, yaitu tata surya dengan matahari yang sama pula). Di bumi kembar (twin earth) terdapat manusia yang sama pula—wajah mereka sama, kepribadian, tingkah laku dan lain sebagainya. Namun, hanya ada satu hal yang berbeda: komposisi air. Air di bumi (bumi yang sebenarnya) memiliki penyusun H­2O dengan atom Hidrogen seperti yang kita kenal dan atom oksigen seperti yang kita kenal. Di lain sisi, “air” di bumi kembar memiliki sifat yang identik, kecuali hanya satu: penyusunnya. Air di bumi kembar memiliki molekul penyusun XYZ yang benar-benar berbeda dengan atom hidrogen dan oksigen seperti yang kita kenal, namun memberikan sifat-sifat yang sama sehingga penduduk bumi kembar tidak merasakan kejanggalan bahwa “air” yang mereka pakai selama ini adalah air XYZ. Sebelum sains berkembang (misalkan abad ke-15) di bumi dan bumi kembar, masyarakat juga menyebutnya sebagai air, sama seperti masyarakat bumi. Di sini pertanyaan mulai muncul. Ketika penduduk bumi pada saat sains belum berkembang (sebut saja “Oscar”) dan identically counterpart (seseorang yang identik di bumi kembar) dari Oscar (Twin-Oscar) berkata “air”, apakah mereka merujuk pada benda yang sama? Tentu tidak. Apa yang dimaksud Oscar adalah H2O sedangkan apa yang dimaksud Twin-Oscar adalah XYZ. Padahal, mereka sama-sama tidak tahu apa pun tentang molekul dan struktur kimia. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mental states (atau sebut saja sebagai “isi” dari otak seseorang) tidaklah cukup untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang mereka rujuk[31]. Kita perlu sesuatu faktor eksternal yang dapat menambal lubang fallacy ini. Sekali lagi, Putnam merangkum, “Meaning just ain’t in the head!”

Jika semantik eksternalisme seperti yang telah ditunjukkan di atas adalah benar, maka kita juga dapat membuktikan bahwa proposisi “saya adalah BIV” bernilai salah[32].

  1. Saya BIV atau saya bukan BIV
  2. Jika saya bukan BIV, maka ketika saya berkata “saya bukan BIV”, pernyataan tersebut bernilai benar.
  3. Jika saya BIV, maka ketika saya berkata “saya bukan BIV” pernyataan tersebut juga bernilai benar, sebab “brain” dan “vat” yang dimaksud adalah brain dan vat yang ada dalam simulasi BIV, bukan brain dan vat yang ada di luar BIV.
  4. ∴Pernyataan “saya bukan BIV” adalah benar.

Agar lebih jelas, kita akan mengupas beberapa poin penting dari argumen di atas. Misalkan ada seseorang bernama Antonio. Antonia bukanlah BIV, dia hidup di dunia nyata (external world). Ketika Antonio sedang melihat kursi, lalu ia berkata, “saya sedang melihat kursi”. Secara eksternalisme semantik, “kursi” yang dimaksud Antonio adalah benda kursi yang ada di dunia nyata, bukan hanya sekedar imaji kursi dalam benak (mental states) Antonio. Sekarang kita beralih pada seseorang bernama Abidin. Abidin berada dalam dunia tersimulasi BIV. Ketika Abidin melihat kursi, lalu ia berkata, “saya sedang melihat kursi”. Secara eksternalisme semantik, pernyataan “saya (Abidin) melihat kursi” bernilai benar dengan referensi “kursi” adalah kursi yang tersimulasi dalam BIV, bukan benda kursi di dunia nyata (ingat contoh Oscar di atas? Ketika Oscar berkata “air”, yang ia maksud adalah H2O, bukan XYZ, sebab XYZ tidak ada dalam dunia Oscar. Contoh yang sama berlaku pada kasus Abidin). Sekarang, misalkan Abidin berkata “saya adalah BIV”, pernyataan tersebut benar jika dan hanya jika Abidin adalah BIV dalam dunia tersimulasi BIV itu sendiri. Padahal jelas, Abidin yang ada dalam dunia tersimulasi BIV bukanlah BIV, melainkan Abidin. Sehingga, telah jelas bahwa ketika Abidin berkata “saya bukan BIV”, Abidin telah membuktikannya. Baik saya adalah BIV maupun saya bukanlah BIV, kedua premis tersebut memiliki kesimpulan yang sama, yaitu ketika saya menyatakan “saya bukanlah BIV”, pernyataan saya bernilai benar. Oleh karena itu, eksternalisme semantik membuktikan bahwa BIV itu tidak mungkin.

Kita telah mendiskusikan salah satu argumen yang mendukung Moore, dalam artian, kesimpulan sama: external world itu benar-benar nyata. Lalu bagaimana dengan pendapat Moore sendiri, terutama konsep Moorean fact yang amat sangat kontroversial sekali. Moorean fact dapat dibantah dengan argumen yang simpel. Tentu saja Moorean fact yang saya maksud adalah versi Moore ketika ia menuliskannya dalam esainya yang berjudul “Proof of an External World”. Versi lain yang telah termodifikasi dan ter-upgrade telah muncul sejalan dengan perdebatan di kalangan filsuf mengenai keabsahan argumen Moorean fact (Lycan, 2001; Wai-Hung Wong, 2006; Kelly, 2005)[33][34][38]. Di sini, saya tidak akan menjelaskan versi yang telah termodifikasi (sehingga lebih rigor dan lebih dapat diterima). Saya hanya akan membahas versi yang dituliskan Moore saja (seperti yang telah kita diskusikan di atas) meskipun harus diakui versi asli memiliki banyak kelemahan. Namun, analisis Soames (2003) dalam esai Weatherall (2015) menyatakan bahwa Moore mengetahui kelemahan tersebut dan memang disengaja[38]. Watherall berpendapat bahwa argumen Moore sebenarnya bersifat ironi[37]. Hal yang berbeda diungkapkan oleh Stroud (1984) dalam esai Watherall. Stroud berpendapat bahwa Moore terlihat seperti tidak tahu menahu mengenai argumen skeptis, terutama mengenai apa sebenarnya yang kaum skeptis maksud[38]. Lebih lanjut, Weatherall menganalisis argumen Moore secara keseluruhan, bukan hanya pada esai “Proof of an External World” saja. Kesimpulan Weatherall sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, Moore yang digadang-gadang sebagai anti-skeptisime malahan bermaksud untuk membela skeptisisme. Argumen Moore dalam esai “Proof of an External World” didesain untuk memprovokasi respons tertentu dari kaum skeptis. Moore bermaksud untuk memicu argumen yang berpihak pada skeptisisme[37]. Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut di sini, tetapi saya akan membahas beberapa kritik yang lumrah dilontarkan oleh kaum skeptisisme kepada Moore (tentunya sebelum Wheaterall menuliskan pernyataan di atas).

Kita telah mengetahui bahwa Moorean fact seperti yang dituliskan oleh Moore tidak terlalu rigor dan meyakinkan. Saya akan tunjukkan mengapa hal tersebut terjadi. Misalkan proposisi D “meja ini tersusun oleh material padat pejal—tanpa ruang kosong sedikit pun”. Saya lebih mengetahui dan mempunyai bukti lebih banyak mengenai proposisi D daripada klaim proposisi yang menyatakan sebaliknya, “meja ini tidak tersusun oleh material padat pejal—kebanyakan terdiri atas ruang kosong”, meskipun proposisi  mungkin didukung oleh argumen-argumen dari fisika, kimia, dan biologi (susunan struktur rantai selulosa dan lignin yang ada dalam kayu hingga ruang kosong dalam atom yang menempati hampir seluruh volume atom). Meskipun begitu, Ferguson berpendapat bahwa untuk masalah metafisika, Moorean fact tidaklah seburuk seperti contoh untuk masalah sains di atas[22]. Pada masalah yang berhubungan dengan sains, dan perihal empiris lainnya, kita dapat mengetes premis tersebut, sehingga Moorean fact tidak bisa dijadikan alasan. Jika begitu, akan muncul pertanyaan, “mengapa Moorean fact dapat diaplikasikan pada masalah metafisika?”.

Selain menyerang premis Moorean fact, beberapa kritik untuk Moore juga mempermasalahkan proposisi skeptis yang digunakan oleh Moore. Brueckner (1994) dan Pritchard (2005)[39][40] dalam esainya menjelaskan bahwa proposisi skeptis berbentuk sebagai berikut. Misalkan P adalah proposisi mengenai external world dan S adalah proposisi mengenai sceptical counterpossibility dari P (misalnya saya BIV). Proposisi skeptis yang diajukan oleh Brueckner dan Pritchard (sebut saja proposisi A) mempunyai struktur “Jika saya mengetahui P, maka saya tidak mengetahui ”. Proposisi A adalah konvers (converse) dari proposisi skeptis yang Moore ajukan (sebut saja proposisi B)—“saya tidak mengetahui maka saya mengetahui P”. Jika ini benar, maka Moorean fact tentu tidak bisa dilakukan karena struktur argumen menggunakan proposisi A tidak memungkinkan untuk diubah menjadi modus tollens dengan harapan menghasilkan hasil yang diinginkan (yaitu Moorean fact).

Mari kita mencoba mengonstruksi struktur argumen skeptis menurut Brueckner dan Pritchard (sebut saja argumen X) dan struktur argumen yang digunakan Moore untuk membuktikan eksitensi eksternal world (sebut saja argumen Y). Argumen X berbentuk seperti berikut.

(1X) Jika saya mengetahui P, maka saya mengetahui ¬S

(2X) saya tidak mengetahui ¬S

(3X) ∴saya tidak mengetahui P.

Lalu bagaimanakah Moore menggunakan argumen X untuk melancarkan Moorean shift (mengubah dari struktur modus tollens menjadi modus ponens dan sebaliknya menggunakan premis Moorean fact)? Argumen X di atas mempunyai struktur modus tollens, maka argumen Y mempunyai struktur modus ponens seperti berikut.

(1Y) Jika saya mengetahui P, maka saya tidak mengetahui ¬S

(2Y) saya mengetahui P

(3Y) ∴saya tidak mengetahui ¬S

Ini jelas kontradiksi dengan apa yang Moore inginkan (saya mengetahui ¬S). Oleh karena itu, argumen Moore terbukti salah jika kita menggunakan struktur argumen yang diajukan oleh Brueckner dan Pritchard.

Argumen skeptis yang diajukan oleh Brueckner dan Pritchard sebenarnya lebih intuitif dan dapat diterima dibandingkan argumen skeptis yang diajukan oleh Moore. Perhatikan proposisi (1X). Asumsi yang kita pegang adalah “saya mengetahui P” karena memang itu lah pengetahuan yang kita miliki sekarang. Saya tahu bahwa saya sedang melihat kursi, atau mengetik esai, atau berjalan di taman bunga. Apa yang saya rasakan adalah apa yang saya tahu. Jika asumsi kita mengetahui external world (saya mengetahui P) bernilai benar, maka konsekuensinya adalah saya mengetahui bahwa ketidaktahuan saya mengenai external world (saya mengetahui ¬S) bernilai salah. Jika kita mengambil “saya mengetahui ¬S” sebagai anteseden, ini tidak terlalu intuitif, sebab pengetahuan yang dapat kita yakini pertama adalah “saya mengetahui P”. Bagaimana kamu bisa mengetahui ¬S jika pengalaman yang menyertaimu dalam keseharian merupakan refleksi dari pengetahuan akan P? Untuk mengetahui ¬S diperlukan pengetahuan akan P, sedangkan Moore menurunkan pengetahuan mengenai P dari pengetahuan mengenai ¬S. Jika begitu, akan terbentuk argumen yang melingkar alias sirkuler.


Catatan Kaki dan Referensi:

[1] skeptics. (n.d.) Random House Kernerman Webster’s College Dictionary. (2010). Retrieved June 3, 2017 from http://www.thefreedictionary.com/Skeptics

[2] sceptic. (n.d.) Collins English Dictionary. Retrieved June 3, 2017 from https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/sceptic

[3] Contoh penerapan pseudosains yang menguntungkan secara ekonomi dapat kita amati di sekitar kita. Cobalah Anda beranjak dari kursi malas Anda, lalu berjalan ke supermarket terdekat. Minuman air mineral dengan embel-embel “air basa” atau “air beroksigen tinggi” adalah salah satu contohnya. Untuk penjelasan lebih lengkap, lihat blog berikut: Kupas Tuntas Produk Minuman yang (katanya) Berkhasiat. Zenius Blog. Retrieved from https://www.zenius.net/blog/7668/minuman-oksigen-alkali-elektron

[4] Steven Novella. (2008). Skeptic – The Name Thing Again. Skeptic Blog. Retrieved June 3, 2017 from http://www.skepticblog.org/2008/11/17/skeptic-the-name-thing-again/

[5] Klein, Peter, “Skepticism”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2015 Edition), Edward N. Zalta (ed.), Retrieved from https://plato.stanford.edu/archives/sum2015/entries/skepticism/

[6] Penggunaan contoh “Iblis Jahat” merujuk kepada argumen skeptis Descartes “Evil Demon” atau “Deceptive God—Dieu Trompeur” (pada awalnya Descartes menggunakan contoh Deceptive God sebagai permisalan dalam argumen skeptisnya, namun Descartes—sebagaimana kaum teis lainnya—percaya bahwa Tuhan tidak akan melakukan itu. Maka, Descartes memperkenalkan argumen “Evil Demon” untuk menggantikan “Deceptive God”) yang ada pada Meditasi pertamanya (Meditasi I di Meditations on First Philosophy). Iblis Jahat membuat ilusi, seakan-akan semua yang dirasakan terasa nyata. Semua data indrawi merupakan ilusi dari iblis jahat. Oleh karenanya, External World juga merupakan ilusi. Bahkan, jika Iblis Jahat memiliki sifat Omnipotence, Dia dapat mengubah fakta-fakta matematika (a priori) seperti “2 + 2 = 5” dan sebagainya. Di sini, Descartes mempunyai alasan untuk meragukan semua pengetahuan—baik itu data-data indrawi, maupun kebenaran matematis. Descartes kemudian bertanya-tanya, “sesuatu apakah yang dapat ia ketahui dengan penuh keyakinan—tanpa ragu sedikit pun?”. Misalkan ia sedang berpikir mengenai indahnya bunga di taman kota, atau berpikir mengenai masa depan tak menentu di era otomatisasi robot yang sangat cepat menggerogoti jumlah ketersediaan lapangan kerja, semua pemikiran ini dapat diragukan kebenarannya—karena adanya Iblis Jahat yang menipu kita. Fakta bahwa ia terkena ilusi menunjukkan bahwa ia harus eksis terlebih dahulu (jika tidak, siapakah yang akan terkena ilusi oleh Iblis Jahat?). Oleh karena itu, ketika ia berpikir ia akan terkena ilusi oleh Iblis Jahat. Karena ia terkena ilusi, ia dapat yakin bahwa dirinyalah sendiri yang benar-benar nyata. I think, therefore I am—Cogito ergo sum.

Lihat :

[7] Smith, William, ed. (1870). “Arcesilaus”. Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Retrieved from http://quod.lib.umich.edu/m/moa/acl3129.0001.001/274?q1=Arcesilaus&view=text

[8] Chisholm, Hugh, ed. (1911). “Arcesilaus”. Encyclopædia Britannica (11th ed.). Cambridge University Press. Retrieved from https://en.wikisource.org/wiki/1911_Encyclop%C3%A6dia_Britannica/Arcesilaus

[9] Chisholm, Hugh, ed. (1911). “Scepticism”. Encyclopædia Britannica (11th ed.). Cambridge University Press. Retrieved from https://en.wikisource.org/wiki/1911_Encyclop%C3%A6dia_Britannica/Scepticism

[10] M. James Ziccardi. (2013). Portraits in Philosophy. Lulu Press, Inc. Retrieved from https://books.google.com/books?id=rchYCAAAQBAJ&lpg=PT29&ots=FFJ12kbSz8&dq=Acatalepsy%20pyrrho&hl=id&pg=PT29#v=onepage&q=Acatalepsy%20pyrrho&f=false

[11] John Danvers. Buddhism & scepticism. Sceptical Buddhism. Retrieved from http://www.scepticalbuddhism.com/buddhism/

[12] Watson, Burton (2003). Zhuangzi: Basic Writings (3rd ed.). New York: Columbia University Press.

[13] James Fieser. David Hume (1711—1776). The Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Retrieved from http://www.iep.utm.edu/hume/#H4

[14] Maitzen. (2006). 34: 453. The Impossibility of Local Skepticism. S. Philosophia. doi:10.1007/s11406-007-9047-y

[15] Robert Todd Carroll. (2015). skepticism. The Skeptics Dictionary. Retrieved from http://skepdic.com/skepticism.html#5

[16] Amesbury, Richard. (Winter 2016 Edition). “Fideism”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy, Edward N. Zalta (ed.), Retrieved from https://plato.stanford.edu/archives/win2016/entries/fideism/

[17] Chisholm, Hugh, ed. (1911). “Academy, Greek”. Encyclopædia Britannica. 1 (11th ed.). Cambridge University Press. Retrieved from https://en.wikisource.org/wiki/1911_Encyclop%C3%A6dia_Britannica/Academy,_Greek

[18] Richard A. Fumerton. (1995). Metaepistemology and Skepticism. Rowman & Littlefield, 1995. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=yOnLv3NlJlAC&lpg=PA31&dq=%22local%20skepticism%22&hl=id&pg=PA31#v=onepage&q=%22local%20skepticism%22&f=false

[19] Donald M. Borchert, ed. (2006). “Solipsism.” Encyclopedia of Philosophy. Retrieved June 09, 2017 from Encyclopedia.com: http://www.encyclopedia.com/humanities/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/solipsism

[20] Berg JM, Tymoczko JL, Stryer L. (2002) Biochemistry. 5th edition. Section 32.3, Photoreceptor Molecules in the Eye Detect Visible Light. New York: W H Freeman. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK22541/

[21] Chieyeko Tsuchitani, Valentin Dragoi. Chapter 15: Visual Processing: Cortical Pathways. Neuroscience Online. Retrieved from http://neuroscience.uth.tmc.edu/s2/chapter15.html

[22] Benjamin Ferguson. Week 1: Moore’s Proof of the External World. Lecture in Department of Philosophy, VU University Amsterdam. Retrieved from http://benjaminferguson.org/wp-content/uploads/2013/01/Moores-Proof-Copy.pdf

[23] Lewis, David (1999) “Elusive Knowledge”. Metaphysics and Epistemology (Cambridge: Cambridge University Press), pp. 418

[24] Moore, George Edward (1939). Proof of an external world. Proceedings of the British Academy 25 (5):273–300.

[25] Joe Lau. (2017). PHIL2230: Philosophy & cognitive science. Courses from Philosophy Department University of Hong Kong. Retrieved from http://philosophy.hku.hk/courses/cogsci/intentionality.php

[26] Subedi, B., & Grossberg, G. T. (2011). Phantom Limb Pain: Mechanisms and Treatment Approaches. Pain Research and Treatment, 2011, 864605. http://doi.org/10.1155/2011/864605

[27] Anda dapat mencoba sendiri eksperimen afterimages di http://www.arvo.org/Members/Optical_Illusions_-_Negative_Afterimage/

[28] Dengan melakukan pencarian “proof of an external world” pada situs Philpapers, kita dapat melihat ada 1000+ lebih paper yang telah diunggah. Lihat: https://philpapers.org/s/proof%20of%20an%20external%20world

[29] Lau, Joe and Deutsch, Max, Edward N. Zalta (ed.). (Winter 2016 Edition). “Externalism About Mental Content”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy , Retrieved from https://plato.stanford.edu/archives/win2016/entries/content-externalism/

[30] Putnam, H. (1973). Meaning and Reference. The Journal of Philosophy, 70(19), 699-711. doi:10.2307/2025079

[31] Putnam, Hilary (1975). The meaning of ‘meaning’. Minnesota Studies in the Philosophy of Science 7:131-193.

[32] DeRose, Keith (1999) “Responding to Skepticism”, Skepticism: A Contemporary Reader.

[33] Lycan, William G. (2001). Moore against the new skeptics. Philosophical Studies 103 (1):35 – 53. doi: 10.1023/A:1010328721653

[34] Wai-hung Wong. (2006). MOORE, THE SKEPTIC, AND THE PHILOSOPHICAL CONTEXT. Pacific Philosophical Quarterly 87, pp.271-287.

[38] Kelly, T. (2005), Moorean Facts and Belief Revision, or Can the Skeptic Win?. Philosophical Perspectives, 19: 179–209. doi:10.1111/j.1520-8583.2005.00059.x

[38] Soames, S. (2003). Philosophical Analysis in the Twentieth Century. Volume 1: The Dawn of Analysis. Princeton, NJ: Princeton University Press.

[37] Weatherall, J. O. (2015) On G.E. Moore’s ‘Proof of an External World’. Pacific Philosophical Quarterly, doi: 10.1111/papq.12132.

[38] Stroud, B. (1984). The Significance of Philosophical Scepticism. New York: Oxford University Press.

[39] Brueckner, A. (1994). The Structure of the Skeptical Argument. Philosophy and Phenomenological Research, 54(4), 827-835. doi:10.2307/2108413

[40] Pritchard, D. (2005), THE STRUCTURE OF SCEPTICAL ARGUMENTS. The Philosophical Quarterly, 55: 37–52. doi:10.1111/j.0031-8094.2005.00383.x

A. Kafa B.
A. Kafa B. (atau lebih dikenal sebagai Fabi Fuu) adalah seorang mahasiswa Biologi ITB. Aktif di komunitas Institut Sosial Humaniora “Tiang Bendera” ITB. Pekerjaan yang dilakoninya sekarang adalah menjadi admin FP Shitposting dan Komunitas Jejepangan

LEAVE A REPLY