Ilustrasi (sumber: https://www.haikudeck.com/mans-search-for-meaning-uncategorized-presentation-34fa476175)

He who has a why to live for can bear with almost any how.” -Nietzche

Judul Buku      : Man’s Search for Meaning

Penulis            : Viktor Frankl

Hidup ini dinamis. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ada kalanya terasa membahagiakan, tetapi bukan tidak mungkin mengalami sesuatu yang membuat kita menderita. Di dalam tulisan ini, saya hendak memberi sedikit refleksi pada “momentum di bawah” atau “momentum menderita”. Refleksi ini saya sandarkan pada sebuah buku apik karangan Viktor Frankl yang berjudul Man’s Search for Meaning. Apa yang dituliskan oleh Frankl kiranya ingin melukiskan bagaimana manusia berhadapan dengan penderitaan, terutama penderitaan yang absurd.

“Humor was another of the soul’s weapons in the fight for self-preservation.”

Secara umum, di dalam buku tersebut, Viktor Frankl bercerita mengenai pengalamannya merasakan dan menyaksikan penderitaan di kamp konsentrasi. Ia merasakan dan menyaksikan sendiri peristiwa “ambang batas” di mana manusia berjuang untuk mempertahankan hidupnya meskipun harapan untuk hidup sangatlah kecil. Pengalaman ini membuat Frankl tergerak untuk menganalisis karakter dan kepribadian manusia lebih dalam. Ia berusaha menemukan esensi manusia sebagai pengada hidup yang berbeda dengan pengada yang lain.

Esensi yang ditemukan Frankl terwujud dalam pencarian makna hidup sebagai sebuah kebutuhan dalam hidup manusia. Selama manusia dapat menemukan makna hidupnya, ia mampu untuk terus mempertahankan eksistensinya. Makna hidup ini dapat ditemukan dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia, baik pengalaman yang menyenangkan maupun juga yang menyedihkan.

Pencarian Makna dalam Hidup

Dari pengalaman hidup di kamp konsentrasi, Frankl menemukan bahwa manusia adalah pengada hidup yang mampu menemukan makna atau arti dari setiap pengalaman yang dialaminya. Makna hidup inilah yang dapat membuat manusia bertahan dalam hidup, terutama ketika mengalami penderitaan. Ada beragam alasan yang ditemukan Frankl di dalam kamp konsentrasi untuk terus memperjuangkan hidupnya. Salah satunya adalah rasa humor. Frankl pernah membuat janji dengan temannya untuk saling menceritakan kisah lucu untuk saling menghibur satu sama lain. Frankl merasa bahwa rasa humor adalah salah satu “senjata” jiwa untuk mempertahankan hidup. Secara gamblang, Frankl menuliskan demikian, “Humor was another of the soul’s weapons in the fight for self-preservation.”[1] Bukankah apa yang dituliskan Frankl ini ada benarnya? Humor dapat menjadi penawar derita yang membuat hidup ini lagi terasa begitu pahit. Menertawakan apa-apa yang terjadi dalam hidup membuat langkah diri terasa lebih ringan.

Salah satu prinsip Logotherapy adalah bahwa perhatian utama manusia dalam hidup bukanlah untuk mencari kesenangan ataupun menghindari penderitaan, melainkan mencari makna dalam hidupnya.

Selain rasa humor, Frankl juga menemukan beberapa alasan lain yang membuat manusia layak untuk memperjuangkan hidupnya, yakni cinta dan kepedulian pada orang yang dicintai, keindahan alam di sekitar, dan bahkan rahmat-rahmat hidup yang sederhana sekalipun. Humor, cinta, alam, dan rahmat sederhana inilah yang menjadi nikmat makna hidup. Apabila pikiran untuk mengakhiri eksistensi muncul, hal tersebut lahir dari ketidakmampuan dan ketidakmauan manusia untuk menemukan makna dalam setiap situasi hidupnya. Singkatnya, manusia sudah kehilangan harapannya. “The thought of suicide was entertained by nearly everyone, if only for a brief time. It was born of the hopelessness of the situation,” tulis Frankl.[2]

Frankl menyatakan dengan jelas bahwa manusia, dengan demikian, memiliki kehendak dan kebebasan dalam hidupnya. Manusia memiliki kehendak dan kebebasan untuk memilih sikap dalam setiap keadaan dan menentukan jalan mereka sendiri. Situasi penderitaan yang ada di luar diri manusia tidak menjadi penentu absolut. Di tangan kehendak dan kebebasan manusia sendirilah, makna akan hidup dapat diraih dan direnggut. Manusia tidak menyerah dan tidak kalah dengan keadaan. Dengan bijak, Frankl menuliskan, “[E]verything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.”[3] Takdir dan situasi sekitar bukanlah determiner kehidupan manusia. Karakter khas tersebut tidak dimiliki oleh pengada yang lain. Pengalaman hidup di kamp konsentrasi mengantar Frankl untuk menekankan bahwa kebebasan manusia untuk menentukan hidup dapat membuat manusia bertahan dalam penderitaan yang dialami.

Penderitaan itu sendiri tidak mampu merenggut kebebasan manusia untuk menentukan hidupnya. Manusia justru dapat mengambil makna hidup yang berarti baginya dengan menjalani penderitaan. Makna hidup inilah yang berperan banyak dalam diri manusia untuk mengatasi setiap penderitaan yang dialaminya. Dengan demikian, penderitaan merupakan bagian dari perkembangan hidup manusia untuk mencapai taraf yang lebih sempurna. Bagi Frankl, tidak ada pertumbuhan tanpa penderitaan.[4] Dari sini, Frankl mulai mengembangkan teorinya tentang “Logotherapy”.

Logotherapy[5]

Menurut Logotherapy, usaha mencari makna kehidupan manusia adalah motivasi dasar yang mendorong seseorang untuk hidup. Keinginan untuk terus-menerus memaknai kehidupan menjadi ciri yang dasariah bagi manusia. Salah satu prinsip Logotherapy adalah bahwa perhatian utama manusia dalam hidup bukanlah untuk mencari kesenangan ataupun menghindari penderitaan, melainkan mencari makna dalam hidupnya.[6] Hal inilah yang mendorong manusia berani untuk menghadapi penderitaan, karena di dalam penderitaan itu sendiri ia dapat menemukan makna hidupnya. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa, bagi Frankl, prinsip kesenangan bukanlah prinsip dasar hidup manusia. Arti hidup manusia jauh lebih penting daripada sekadar permasalahan senang atau susah.

Belajar dari Frankl, apa yang membuat kuat adalah kemampuan manusia sendiri untuk memberi makna. Kemampuan inilah yang perlu terus-menerus dilatih dalam praktik hidup harian.

Logotherapy menyadarkan manusia bahwa mereka bertanggungjawab atas hidup mereka masing-masing. Tanggung jawab inilah yang perlu diwujudkan dalam pencarian makna hidup mereka dan pengaktualisasian diri mereka dalam hidup. Pengaktualisasian diri berarti bagaimana manusia mulai tergerak untuk memberikan dirinya bagi orang lain.[7] Saat itulah, manusia mulai mengalami transendensi eksistensi dari pencarian makna menuju kepada pemberian diri.

Makna yang Memberi Daya Hidup

Makna hidup manusia yang satu dan yang lain memiliki keunikannya masing-masing, karena situasi hidup manusia berbeda satu sama lain[8]. Makna itu pun tidak akan pernah habis, karena dengan menjalani pengalaman-pengalaman hidup yang baru, manusia terus-menerus memperbaharui makna hidupnya sendiri. Keberagaman dan kekayaan makna hidup itulah yang menjadi daya bagi manusia untuk menjalani hidup. Ketika pencarian makna hidup manusia berjalan dengan baik, ia tidak hanya dimampukan untuk bergembira dalam hidup, melainkan juga siap untuk menghadapi setiap situasi hidupnya, termasuk penderitaan. Tidak hanya berhenti sampai di situ, makna hidup akhirnya juga memampukan manusia untuk memberikan dirinya bagi orang lain.

Menurut saya, buku Man’s Search for Meaning merupakan sebuah buku filosofis yang ditulis dengan bahasa yang sederhana. Buku ini mengajak kita untuk menyadari eksistensi manusia sebagai pengada hidup, sebuah terminologi neutrum untuk “manusia”. Manusia memiliki kebebasan untuk tidak ditentukan oleh situasi. Ia tidak kalah ketika sedang berada “di bawah”. Ia tidak tergilas oleh kerasnya hidup. Belajar dari Frankl, apa yang membuat kuat adalah kemampuan manusia sendiri untuk memberi makna. Kemampuan inilah yang perlu terus-menerus dilatih dalam praktik hidup harian. Sesederhana apapun pengalaman yang kita dapatkan dalam hidup kita sehari-hari pasti memiliki makna yang bila digali pasti akan memunculkan signifikansi yang mendalam.

Sesaat setelah selesai membaca buku ini, seorang teman saya berceletuk, “Hmm… Nggak ada gunanya dulu saya nangis nggak karuan ketika diputuskan pacar. Frankl yang hidupnya berat aja masih bisa bertahan.” Saya cuma bisa tersenyum kecut mendengarnya.


Catatan Akhir:

[1] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning (Washington: Washington Square Press, 1984), 63.

[2] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 36-7.

[3] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 86.

[4] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 172. “[W]ithout the suffering, the growth that I have achieved would have been impossible.”

[5] Akar kata Logotherapy berasal dari bahasa Yunani yang adalah logos. Logos berarti makna atau arti.

[6] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 136. “It is one of the basic tenets of logotherapy that man’s main concern is not to gain pleasure or to avoid pain but rather to see a meaning in his life.”

[7] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 133. “The more one forgets himself – by giving himself to a cause to serve or another person to love – the more human he is and the more he actualizes himself.”

[8] Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, 98. “[T]herefore the meaning of life, differ from man to man, and from moment to moment. Thus it is impossible to define the meaning of life in a general way.”

 

 

Facebook Comments