old_mirror_by_vickie666-d591pyc

Pagi sekali seorang guru masuk dari pintu besar. Tergopoh-gopoh menuju mimbar di depan ruangan. Menenteng setumpuk buku besar nan tebal. Jika dilihat dari jauh buku itu tampak lapuk bersama usia uzur. Bau apek yang khas sampai pada hidung meski tak menciumnya. Lalu berdiri mapan di atas mimbar. “Silogisme sebagai temuan Aristoteles yang cukup sentral dalam logika,” ujar sang guru. Murid-murid menyimak buku yang sama di mejanya masing-masing.

Menginjak siang, munculah interpretasi berwarna-warna dari teks itu.  Dibahas pemecahan yang diragukan.  Murid-murid mempunyai pandangan pro dan kontra. Mereka berdiskusi melingkar di meja saling bantah. Sebagian menurunkan kacamatanya di batang hidung, membidik satu persatu kata yang hendak di garap. Datanglah kakak angkatan memberi solusi padanya. Penerangan sudah mulai didapat. Esok kelas benar-benar terang meski kaca tetap buram seperti biasanya, sang guru membawa kesimpulan atas keberatan-keberatan yang mereka alami.

Demikian kondisi yang dapat dibayangkan  saat aktivitas belajar mengajar berlangsung pada masa skolastik. Ya, sekitar 9 abad yang lalu. Di mana ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan oleh sekolah-sekolah, yang bermula dari biara-biara tertua di Gallia selatan. Masa ini bertedensi pada pengetahuan harus digali pada buku-buku. Semisal, trand pada masa itu adalah karangan Aristoteles mengenai logika. Dengan kata lain, penuntut ilmu akan menuntut dirinya berdialektika dengan buku-buku dan tokoh-tokoh yang berwibawa. Sehingga, untuk menemukan kebenaran perlu pemahaman mapan yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar.

Lalu bagaimana tradisi skolastik di masa kini? Pertanyaan ini membentur dinding-dinding keras tradisi papan tulis para pendidik yang jauh dari buku-buku induk. Kenyataannya saat ini, semakin banyak buku dengan ulasan simpel praktis setangah matang, laku keras dipasaran.

Persoalan buku mungkin masih bisa diatasi seiring berjalannya tradisi. Mulanya, menerapkan tradisi guru memberi persoalan melalui teks, murid-murid menginterpretasi, ada yang pro dan kontra –disebut Lectio dalam skolastik- harus dominan. Selanjutnya guru memberi kesimpulan atas keberatan –Disputatio-. Jadi pada intinya suasana ini menyebabkan objektivitas metodis yang mendalam sumbangan pemikiran. (baca Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat)

Tradisi semacam ini, secara implisit sudah dianjurkan Aristoteles, menurut semangat dialektik Sokrates. Menelaah baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar. Setidaknya, ada dua tradisi yang harus dijalankan, mendalami serta memberi komentar karya filsuf  dan mengambil alih metodenya untuk berpikir sendiri.

Bagaimana jika dikatakan tukang jahit atau tukang tempel? Sayang sekali, tradisi ini, dengan anasir kemesraan guru murid dan buku-buku jauh dari kata jahit maupun tempel. Tradisi skolastik tidak berhenti pada kompilasi dan eklektisme. Ia berpikir otonom. Berhasil mengasimilasi kenyataan-kenyataan tua dalam pemahaman baru, menjadi organisme hidup. (Baca Hoogveld, dalam Anton Bakker)

Sembilan abad yang lalu memang berbeda dengan sekarang. Bacaan praktis, ulasan para sarjana teridik pada kenyataannya mudah dibaca. Apakah sebaiknya berziarah? Tentu saja tradisi skolastik masih ada, meski dapat dikatakan mati. Bahkan  belum singgah di kampus kita.

Masa lalu ialah cermin. Jika kita sepakat demikian, bukankah kita harus selalu bercermin agar tampak necis luar dan dalam? (Khoiril Maqin, Mahasiswa Filsafat UGM 12′, Anggota Redaksi LSF Cogito)

Facebook Comments
Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.