Palette knife Oil Painting on Canvas by Leonid Afremov - Size 30"x24"

Tolong izinkanlah saya (si tuna-asmara) menulis sedikit kegetiran dan kegamangan rasa yang selama ini saya kubur dalam-dalam. Ya, izinkanlah saya menulis tentang cinta. Cinta bagi saya adalah sesuatu yang tak akan pernah selesai. Suatu keadaan di mana perdebatan panjang antara perasaan dan logika bertempur sengit tiap malam.

Jujur saya tak paham-paham betul apa itu cinta dan bagaimana bisa seseorang jatuh cinta. Sains menjelaskan cinta dari reaksi biologis ketika tubuh mengeluarkan zat endorphine guna memicu benih cinta turun dari mata menuju ke hati. Tapi saya masa bodo dengan penjelasan seperti itu. Lebih baik saya membaca puisi atau menonton drama romantik di laptop atau PC. Ah… cinta memang rumit bagi saya. Cinta kadangkala memberikan semangat hidup berkobar-kobar tapi di sisi yang lain bisa seketika meredupkan atau bahkan mematikan semangat hidup.

Cinta yang saya alami selalu tentang kepedihan yang tak kunjung usai. Perjalanan panjang yang tak pernah sampai dan berakhir dengan kekecewaan panjang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tapi tenang saya tak ingin curhat atau pun berkeluh kesah menye-menye di sini. Saya akan mengangkat isu bagaimana cinta seringkali mempengaruhi kita dalam bertindak dan seringkali membawa kita menuju ke arah kehancuran.

Pertanyaan Cinta yang Tak Kunjung Usai

“Aku tidak tahu apa yang orang maksud dengan cinta” begitulah kata penulis mahsyur, Leo Tolstoy dalam buku hariannya. “Jika cinta adalah hal-hal yang sudah kubaca dan kudengar, maka aku belum pernah mengalaminya.” Tulisan itu mengingatkan saya pada apa maksud dari manusia saling mencintai.  Dalam The Devil, Tolstoy masih bergulat dengan masalah apa itu cinta? Atau bagaimana seharusnya cinta yang ideal itu?

Dalam novel itu Tolstoy mengajak kita merenung sejenak untuk berpikir tentang perseteruan antara nafsu alamiah dan idealisme sosial yang dialami manusia menjadi hal yang sangat diperhitungkan oleh para penulis. Para penulis berusaha menyingkap selubung-selubung palsu dari cinta yang ternyata menyumbangkan banyak kepekaan sosial dalam era kontemporer. Sebut saja ‘nasionalisme’ yang mengatasnamakan cinta kepada negara dalam mengafirmasi kejahatan yang diperbuat (pembantaian atas nama membela negara).

Setiap pecinta berhak bertanya model cinta jenis apa yang ia pahami. Mereka sah-sah saja bertanya apakah yang sedang mereka alami benar-benar cinta atau hanya sekadar nafsu? Karena para pecinta pun mungkin tak tahu perasaan apa yang sedang ia alami. “Cinta ada dalam setiap karya sastra,” kata pastur D’Arcy. “Tidak sebagai episode yang lewat begitu saja dalam karya itu, tetapi ada dalam setiap denyut kisahnya. Dengan cinta, terjadilah bermacam-macam insiden yang menegangkan!.” Sebagai seseorang yang mendalami sastra mungkin akan setuju akan hal ini. Namun, dalam realitas yang serba kompleks, simbolik dan tak terelakkan, cinta menjadi pelarian ataukah tujuan?

Sepenting-pentingnya cinta dalam kehidupan manusia, toh penelitian dan penggalian tentang cinta jarang sekali dilakukan. Paling banyak hanya para sastrawan yang menjelaskan panjang lebar apa itu cinta. Dalam karya-karya mereka—tanpa maksud menggeneralisir—cinta tergambarkan sebegitu kayanya, tapi terjelaskan sebegitu miskinnya. Dalam karya seni, pembaca selalu diarahkan untuk bisa merasakan dengan ambiguitas, alih-alih menimbulkan jawaban pasti, kita malah sering dibingungkan dan menimbulkan banyak pertanyaan lagi. Sebagaimana John Dewey katakan, seni mengeksprsikan apa yang dicari oleh sains. “Tangan-tangan kasar” sains telah membuat suatu permulaan untuk membuat intuisi menjadi pengetahuan.

Adapun ketabuan sains yang membingungkan ketika sains menganggap sains haruslah mencegah mengatakan terlalu banyak tentang cinta. Professor Albert Kinsey, dalam sebuah transkrip diskusi Psychiatric Implications of a Surveys on Sexual Behaviour (1954) mengatakan. “Bagaimana mungkin kita dapat mengukur cinta? Pertanyaan seperti ini menimbulkan kesan seakan-akan kita tidak peduli dengan pentingnya cinta. Namun kenyataannya, ada orang yang keberatan membicarakan hal-ihwal yang tidak dapat diuraikan—sebagaimana uraian tentang perilaku seksual—karena untuk menguraikannya kita perlu melihat kembali karya-karya para filsuf, penyair, dan moralis, serta membuat tulisan tentang hal yang tidak konkrit ini.” Rumit bukan?

Cinta atau Nafsu?

Hal yang diinginkan perempuan adalah hati yang serupa atap di mana ia bisa berteduh di bawahnya, dinding-dinding yang melindunginya dari kesendirian dan perasaan ditinggalkan, serta kekuatan yang bisa melindunginya. Kembali menjadi seorang gadis kecil yang manja dalam pelukan seorang laki-laki merupakan hal yang membahagiakan bagi seorang perempuan.

Theodor Reik pernah menguraikan panjang lebar mengenai permasalahan ini di dalam bukunya yang cukup provokatif, A Psychologist Look at Love. Buku yang memiliki asumsi bahwa pendiri psikoanalis, Freud, telah melakukan kesalahan yang fatal dalam teori libido manusia. Kegagalan dalam menyematkan identitas khas pada kepuasan ego dalam cinta menjadi titik serangnya. Menurutnya pendapat tersebut telah menjadikan psikoanalisis jatuh pada pemiskinan wawasan psikologis.

Bagi Reik, kunci pembedaan antara cinta dan nafsu—seks—ditemukan dalam fakta bahwa gairah seks sejatinya tidak memiliki objek. Nahloh, kok bisa? Yang membuat cinta berbeda dengan seks menurut Reik adalah, cinta yang lebih kepada ‘hubungan emosional antara Aku dan Kamu’. Poin yang coba dijabarkan adalah keanekaragaman penemuan dan pertukaran yang bersifat saling menguntungkan atas cita-cita ego dari setiap pasangan kekasih.

Kata cinta seringkali disalahpahami sebatas pengertian perasaan antara dua jenis kelamin. Terkadang kita lupa bahwa cinta bisa juga hadir dalam mengekspresikan emosi antar anggota keluarga atau pun pada lingkungan alam sekitar. Psikolog akhir-akhir ini seringkali berbicara tentang seks, tetapi seringkali mengabaikan cinta. Soalah-olah cinta menjadi tabu dibahas dalam lingkungan akademis. Dalam Carmen, Bizet mendeskrpisikan cinta sebagai ‘anak gipsi’, bila tak ada alasan dalam cinta, maka cinta itu tidak akan bisa menjadi objek penelitian ilmiah.

Kita mungkin teringat dengan Sigmund Freud, bukankah psikoanalisis berhubungan sepenuhnya dengan cinta? Bagi saya tidak. Psikoanalisis berhubungan dengan seks, cinta merupakan hal yang berbeda. Semula pandangan Freud terhadap cinta terkesan sederhana dan konsisten. Cinta identik dengan seks, begitulah kira-kira pandangan sederhananya. Freud kemudian mulai berbicara tentang objek cinta ketika yang dimaksud adalah objek seksual, dan membicarakan pilihan cinta ketika yang dimaksud adalah pilihan terhadap pasangan seks. Diasumsikan bahwa Freud berangkat dari pandangan kedokteran tentang libido sebagai citra awal dari energi dorongan seks. Dorongan yang menurutnya merupakan kasih sayang (affection) dan rasa tertarik (attraction).

Selanjutnya Freud menjelaskan dalam bukunya Group Psychology and the Analysis of the Ego bahwa libido adalah ekspresi kuantitatif, dari kesemua energi yang dirangkum menjadi cinta. Jadi, yang dimaksud tentang cinta oleh Freud adalah cinta di antara dua jenis kelamin. Freud tidak membedakan antara cinta pada lawan jenis dengan cinta orang tua-anak, antara teman, atau cinta antara kelompok sosial.

Kata seks ditarik terlalu luas oleh Freud. Kata “seks” selalu berarti hasrat dan aktivitas yang berkembang dari kebutuhan biologis untuk melepaskan ketegangan khusus dalam organisme. Ini merupakan suatu insting yang secara umum terdapat pada diri manusia dan hewan. Freud mengatakan seks dengan makna sama dengan kata eros yang digunakan Plato. Terlalu naif bagi saya mereduksi kata cinta hanya menjadi seks semata. Padahal cinta tak melulu urusan seks saja. Ada perilaku saling memahami, mengasihi, kasih sayang, dan berbagai perilaku yang menandakan bahwa ia mencintaimu.

Layaknya ciu dan fanta yang seringkali dicampuradukkan, cinta dan seks mengalami hal yang serupa. Sebagian orang tak bisa membayangkan rasa ciu yang tidak dicampur fanta akan sebegitu pahitnya, bahkan ada yang tidak mau meminumnya tanpa dicampur terlebih dahulu. Fanta tak lantas membuat ciu menjadi fanta, maupun sebaliknya. Keduanya berdiri mandiri, memiliki komposisi dan rasa yang berbeda. Sama seperti cinta dan seks.

Senyum Perempuan

Seturut perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, konsep cinta di antara mereka juga memiliki pandangan berbeda, demikian ungkap Simone de Beauvoir. Tanpa cinta, perempuan dianggap tidak eksis. Laki-laki yang sedang jatuh cinta kebanyakan merasa memiliki dan membuat perempuan jatuh ke dalam eksistensi dirinya. “Meski begitu perempuan tidak akan mengabdi dan menyerah begitu saja pada takdirnya, sampai ia yakin ia benar-benar dicintai,” pungkas de Beauvoir. Sungguh bagaimana saya amat terpesona dengan kata-kata itu.

Nietzsche menganggap bahwa cinta dan kehidupan adalah dua hal yang berbeda. Dalam The Gay Science, ia menulis “kata cinta itu sendiri menandakan dua hal yang berbeda di antara laki-laki dan perempuan. Pemahaman perempuan tentang cinta, cukup jelas: cinta tidak hanya pengabdian tetapi penyerahan jiwa-raga tanpa syarat, tanpa mengharapkan penghargaan dalam bentuk apa pun”. Sedangkan pemahaman cinta laki-laki “apabila ia mencintai perempuan, ia menginginkan perempuan itu juga mencintainya, sehingga laki-laki tidak harus selalu mengungkapkan perasaannya, terlihat tidak menuntut dan tidak “mengejar-ngejar” perempuan. Apabila ada laki-laki yang mempunyai keinginan menyerahkan diri pada cinta, maka ia bukan laki-laki.” Sungguh menyayat hati perkataan Nietzsche bagi lelaki sentimentil macam saya ini.

Saya berusaha memahami perempuan secara jernih. Spekulasi saya dari sejumlah cerita kawan-kawan dan keluh kesah perempuan di social media mengarah pada satu kesimpulan. Hal yang diinginkan perempuan adalah hati yang serupa atap di mana ia bisa berteduh di bawahnya, dinding-dinding yang melindunginya dari kesendirian dan perasaan ditinggalkan, serta kekuatan yang bisa melindunginya. Kembali menjadi seorang gadis kecil yang manja dalam pelukan seorang laki-laki merupakan hal yang membahagiakan bagi seorang perempuan.

Ada sebuah tulisan yang menggambarkan perasaan itu dengan jelas. “Bisa bergandengan tangan denganmu, melangkah bersamamu dengan kaki-kaki kecilku dengan sepatu hak tinggi, membuat aku mencintai semua cinta yang kau berikan padaku. Semua yang ada padaku; gerakan tangan, ekspresi wajah dan nada suara, mengisi hariku dengan kebahagiaan.” Hal ini menunjukkan perempuan yang sedang jatuh cinta merasa dirinya sangat berarti dan dihargai, sehingga pada akhirnya ia bisa berbangga pada diri sendiri lewat cinta yang ia curahkan itu. Ia senang ketika yang melihat nilai-nilai itu adalah kekasihnya sendiri.

Perubahan kekuatan cinta seperti itu menjelaskan mengapa laki-laki yang mengetahui cara menyenangkan dan mengangkat harga diri seorang perempuan, bisa memperoleh kasih sayang yang luar biasa dari perempuan meskipun secara fisik laki-laki itu tidak terlalu menarik. Lalu perempuan akan memberikan senyumnya. Senjata paling mematikan sejagad raya. Dan saya hanya bisa membuat sajak penuh metafora bagaimana laki-laki mengagumi senyum manis yang terpajang indah di paras manismu, oh… kasihku.

4 COMMENTS

  1. Sebagaimana kata ‘AKU’ yang kita tak tahu jungkiringnya, padahal kita meminjamnya dari sesuatu yang kita sebut Tuhan. Nah, Cinta juga, Jo… Hehe… memang banyak konsep tentang Cinta, namun sepertinya sekarang lebih gampang memahaminya sebagai legitimasi seksual, hahaha…

    Hening…

  2. Cinta itu kan sesuatu yg transendental, jadi tidak mungkin rasanya menemukan jawaban “apa itu cinta?” Kalau yg dituntut dari pertanyaan itu adl rupanya, bentuknya, atau wujudnya. Jadi, setiap upaya mengerti apa itu cinta selalu merupakan sebuah pemaknaan manusia terhadapnya. Tinggal sejauh mana manusia ‘bebas’ dlm memaknai cinta? Kalau merasa dirimu tuna asmara yg selalu gamang dlm usaha mengerti cinta, barangkali itu karena kau sendiri belum merdeka dlm memaknai cinta. Mungkin makna cintamu masih terjajah imaji ftv yg bikin km berkhayal (dgn muka pas-pasan, kurang berpengasilan dll) akan bertemu wanita sempurna di tengah jalan.

LEAVE A REPLY