Auguste Comte (Sumber: positivists.org)

Tulisan ini tercipta dari kejenuhan penulis terhadap tiga tahap evolusi sosial/akal-budi Auguste Comte. Penulis berpikir bahwa pemikiran Comte terlalu gegabah dan merupakan suatu bentuk dari bias. Hal tersebut dapat dimengerti melalui pemikirannya. Comte berpandangan, sesuai dengan prinsip positivisme dan tahapan akal-budi/sosialnya, bahwa konsep religius dan konsep metafisik haruslah digantikan dengan konsep ilmu pengetahuan yang bersifat positif. Namun, apakah benar demikian?

Kecacatan Pemikiran Comte
Auguste Comte mengklaim bahwa ketiga tahap—religius, metafisik, dan positif—tersebut memiliki konsep yang pasti bertentangan, kontradiktori. Ini mengimplikasikan bahwa apa yang dikatakan oleh pemuka agama, filsuf, dan ilmuwan merupakan hal yang mutlak berlawanan. Klaim ini menunjukkan bahwa Comte benar-benar seseorang yang gegabah.

Kenyataannya, pernyataan orang yang mempelajari konsep dalam tiga tahap tersebut tidak selalu dan tidak sepenuhnya bertentangan. Ada ulama yang setuju dengan pendapat filsuf tertentu dan ilmuwan tertentu karena sesuai dengan kitab sucinya; ada pula ilmuwan yang setuju dengan filsuf tertentu dan konsep religius tertentu karena sesuai dengan hasil penelitiannya; selain itu, juga ada filsuf yang setuju dengan konsep religius tertentu dan ilmuwan tertentu karena sesuai dengan pemikirannya.

Bagi Comte, positivisme merupakan akhir dari tahap evolusi sosial dan akal-budi yang menegasikan dua tahap sebelumnya—tahap religius-mistis dan metafisik-filosofis. Klaim ini belum dibuktikan. Justifikasi atas klaim ini didasarkan pada optimisme Comte. Dapat dikatakan bahwa klaim ini adalah pra-anggapan buta.

Hal lain yang menggambarkan kecerobohan Comte adalah di mana ia menggolongkan ketiga tahap tersebut seakan di dalamnya terdapat konsep yang pasti. Apakah benar demikian? Sungguh meragukan jika semua ulama memiliki konsep yang sama, jika semua filsuf memiliki konsep yang sama, dan jika semua ilmuwan memiliki konsep yang sama.

Kenyataannya, ulama juga memiliki perbedaan konsep dengan sesama ulama—demikian halnya dengan filsuf maupun ilmuwan. Contoh konkretnya adalah aliran dalam agama, ulama aliran tertentu memiliki perbedaan dengan ulama aliran lain. Contoh lain seperti filsuf materialisme dengan filsuf idealisme, mereka bertentangan, padahal sesama filsuf. Antara ilmuwan satu dengan ilmuwan lainnya pun demikian, contohnya perbedaan paradigma dalam ilmu antropologi juga menyebabkan perdebatan yang panjang dalam diskursus keilmuannya, padahal mereka berangkat dari realitas positif yang sama.

Kecerobohan Comte berikutnya adalah di mana ia mengasosiasikan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan positif. Dengan demikian, pengetahuan ilmiah selalu bersifat induktif di mana realitas diukur terlebih dahulu lalu dibentuklah suatu teori mengenai hasil pengukurannya. Pandangan ini cukup problematis, lantas apakah pemikiran deduktif tidak ilmiah? Bagaimana jika prosesnya di balik yaitu membentuk dan memahami konsep terlebih dahulu, lalu mencoba untuk mencari pembantahannya di lapangan. Tidak ada salahnya seorang ilmuwan mencoba untuk memahami konsep lama terlebih dahulu, lalu mencari bukti di lapangan. Selama argumentasinya sistematis dan memiliki bukti yang kuat, meskipun metodenya deduktif, itu tetap merupakan pengetahuan yang ilmiah.

Lantas, bagaimana Comte menjawab realitas bahwa terdapat berbagai tipe ataupun aliran di dalam suatu tahap tertentu? Contoh, konsep religius-mistis macamnya terdapat banyak, begitu pula dengan metafisik-filosofis dan paradigma ilmu. Veeger (1985: 34) mengatakan bahwa Comte mengutip Montesquieu bahwa perbedaan tersebut dikarenakan aspek materiil seperti keadaan geografis dan iklim yang berbeda.

Memang argumentasinya cukup meyakinkan, namun apakah benar demikian adanya? Dapat kita bayangkan seperti dua masyarakat pantai yang hidupnya sama-sama bergantung pada laut. Tentu dapat dipahami bahwa anggotanya di dominasi oleh nelayan, namun apakah kapal mereka bentuknya sama semua? Apakah ukiran di kapal mereka sama semua? Apakah metode menangkap ikan mereka sama semua? Hal ini membuktikan adanya proses kreatif dari manusia, yang bisa jadi juga menginginkan suatu perbedaan secara identitas dengan masyarakat lainnya. Tentu dapat disimpulkan bahwa benda materiil hanya memberikan suatu bahan untuk dibentuk, namun yang membentuk adalah manusia maupun masyarakat.

Hal tersebut membuktikan upaya Comte dalam mengutip adalah upaya yang omong kosong—mencari pembenaran yang sesuai dengan teorinya saja, padahal penulis yakin masih banyak teori lain yang justru tidak mendukung, bahkan membantahnya; sayangnya ia tidak mempertimbangkan hal tersebut—atau mungkin penulis belum menemukannya.

Sebab Kecacatan
Secara akal sehat, pemikiran Comte jelas gegabah dan irasional. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, apa yang menyebabkan pemikirannya seperti itu? Jawabannya dapat dimengerti dari pemikirannya—kefanatikannya—mengenai positivisme.

Bayangkan wanita tersebut memiliki pasangan baru. Pasangannya sangat menyayanginya, selalu menemaninya, dan percaya penuh pada wanita tersebut. Lantas wanita tersebut tiba-tiba ingin mengakhiri hubungannya dengan pasangannya, dengan dalih ada perilaku pasangannya yang mengindikasikan perselingkuhan.

Bagi Comte, positivisme merupakan akhir dari tahap evolusi sosial dan akal-budi yang menegasikan dua tahap sebelumnya—tahap religius-mistis dan metafisik-filosofis. Klaim ini belum dibuktikan. Justifikasi atas klaim ini didasarkan pada optimisme Comte. Dapat dikatakan bahwa klaim ini adalah pra-anggapan buta.

Pra-anggapan atau kepercayaan sebelum hadirnya bukti, merupakan hal dapat berimplikasi pada hal yang cukup krusial. Salah satu implikasi dari pra-anggapan adalah confirmation bias. Confirmation bias adalah metode yang sering dipakai oleh orang-orang yang memiliki pra-anggapan. Confirmation bias sering terjadi ketika seseorang mencoba untuk membuktikan pra-anggapannya.

Confirmation bias dapat dipahami sebagai suatu cara di mana seseorang mencoba untuk membuktikan apa yang dia percayai—mencari konfirmasi atas apa yang ia percayai sebelumnya. Confirmation bias dapat dibagi menjadi—namun tidak terbatas pada—tiga hal: investigation bias, analysis bias, dan memory bias.

Investigation Bias
Investigation bias dapat dimengerti sebagai suatu keadaan di mana terdapat pra-anggapan dalam menginvestigasi maupun mengobservasi suatu hal. Sebagai contoh, anggaplah terdapat orang yang mempercayai keberadaan tuyul. Suatu saat, orang tersebut ingin mengambil uang yang ia simpan di lemari bajunya, namun ia mendapati bahwa uangnya berkurang dari jumlah yang ia ingat. Ia merasa bahwa ia belum pernah menggunakan uang tersebut. Lantas karena tidak ada bukti lain, ia akhirnya semakin yakin tentang keberadaan tuyul, lantas ia menyimpulkan bahwa uangnya hilang karena keberadaan tuyul.

Tentu pemikiran seperti itu amatlah kacau. Ia terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu karena sebelumnya ia telah memiliki pra-anggapan, ia tidak mau menunda kesimpulannya dan berhenti pada hipotesis, ia tidak mau menunggu bukti lain yang memperkuat hipotesisnya.

Analysis Bias
Analysis bias, yang secara sederhana, dapat dipahami sebagai penyimpulan apriori dari sebuah pra-anggapan. Bayangkan seorang wanita memiliki pra-anggapan bahwa laki-laki seperti mantannya adalah laki-laki yang brengsek. Wanita tersebut memiliki pengalaman diselingkuhi oleh mantannya. Suatu saat, temannya bercerita pada wanita tersebut mengenai pasangannya. Lantas, wanita tersebut bertanya perihal perilaku pasangan temannya, dan menemukan bahwa pasangan temannya memiliki kemiripan dengan mantannya di masa lampau. Akhirnya wanita tersebut berkata “Jangan pedulikan pasanganmu lagi, cepat cari laki-laki lain, sesungguhnya pasanganmu itu adalah laki-laki yang brengsek.”

Pra-anggapannya membuat Comte melakukan berbagai cara untuk merendahkan konsep lain untuk meninggikan konsepnya, walaupun bertentangan dengan data positif dalam konsep lain—dengan kata lain, Comte tidak lagi teliti; sengaja menyederhanakan fakta—bahkan, kalau perlu, memutar balikkan fakta.

Kesimpulan tersebut sungguh sesat dan mengacaukan pikiran temannya—yang bisa jadi sebelumnya hanya bertujuan untuk bercerita, justru malah terpengaruh dan memiliki pra-anggapan yang sama. Wanita tersebut mengasosiasikan kemiripan perilaku pasangan temannya dan mantannya dengan kebrengsekan kedua orang tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana jika wanita tersebut dan temannya juga menyebarkan pra-anggapan seperti itu, bisa jadi mereka akan membuat perkumpulan wanita sakit hati yang akhirnya berkesimpulan bahwa “semua laki-laki itu brengsek,”—dan tidak bisa pula menegasikan kemungkinan bahwa mereka dapat memilih untuk menjadi lesbian karena pra-anggapan mereka yang bodoh tersebut.

Memory Bias
Memory bias dapat dimengerti sebagai ingatan yang terdistorsi karena pra-anggapan yang seseorang miliki. Kita bahas kembali wanita pada contoh sebelumnya, namun berbeda kondisi. Bayangkan wanita tersebut memiliki pasangan baru. Pasangannya sangat menyayanginya, selalu menemaninya, dan percaya penuh pada wanita tersebut. Lantas wanita tersebut tiba-tiba ingin mengakhiri hubungannya dengan pasangannya, dengan dalih ada perilaku pasangannya yang mengindikasikan perselingkuhan.

Hal tersebut, di mata penulis, merupakan hal yang sangat problematik. Bagaimana tidak, ia menegasikan seluruh perilaku dan usaha pasangannya hanya karena ada indikasi perselingkuhan—itu pun dengan indikator yang belum teruji—seakan lupa atas semua perilaku pasangannya yang menyayanginya; seluruh usaha pasangannya pun sia-sia, dilupakan begitu saja.

Simpulan
Confirmation bias amatlah fatal dan gegabah. Jika kita tarik pemikiran Comte di sini, jelas bahwa pemikiran Comte dapat dikategorikan sebagai bentuk confirmation bias, lebih tepatnya adalah investigation bias.

Pra-anggapannya perihal positivisme bahwa “positivismelah yang terbaik,” membuat ia mencari data secara parsial, hanya mengambil data yang mendukung pra-anggapannya. Namun, jika diperhatikan, pra-anggapannya tidak hanya berhenti di situ. Pra-anggapannya membuat Comte melakukan berbagai cara untuk merendahkan konsep lain, untuk meninggikan konsepnya, walaupun bertentangan dengan data positif dan bukti-bukti dari konsep lain—dengan kata lain, Comte tidak lagi teliti; sengaja menyederhanakan fakta—bahkan, kalau perlu, memutar balikkan fakta.

Refleksi
Lantas, bagaimana caranya agar kita terhindar dari pra-anggapan, baik dalam meneliti maupun dalam kehidupan sehari-hari? Secara sederhana, hal tersebut sangatlah sulit. Sebab, pra-anggapan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang sublim bagi subjek. Subjek seakan memuja dan menyembah pra-anggapannya sendiri.

Jika memang ingin terhindar, beranikan diri untuk menguji pra-anggapan diri. Berefleksi diri adalah kunci untuk mengenali pra-anggapan diri, kesadaran penuh sangat diperlukan. Anggaplah pra-anggapan sebagai suatu hipotesis yang perlu diuji terus-menerus.

Pertanyaannya, apakah subjek mampu melakukan hal tersebut? Apakah subjek mampu menguji seluruh praanggapannya, menguji seluruh kepercayaannya? Lebih ekstrem lagi, beranikah seseorang—bahkan, mungkin pembaca—menolak pra-anggapannya sendiri? Penulis masih skeptis atas kemampuan dan kemauan subjek, termasuk kemampuan dan kemauan pembaca.


Daftar Pustaka
Veeger, K. J. 1985. Realitas Sosial. Jakarta: PT Gramedia.

1 COMMENT

  1. Pos ini akan lebih menarik apabila penulis bisa mengungkap apa kelebihan dari Auguste Comte. Yang saya lihat, penulis condong pada kelemahan beliau. Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan kan? Karena teori dicetuskan tidak terlepas dari latar belakang beliau dan konteks masyarakat di mana beliau tinggal, mungkin akan lebih baik kalau penulis juga menganalisis itu 😀

    Salam dari penikmat Cogito

    Hanif Widya S.
    Mahasiswa Psikologi

LEAVE A REPLY