sumber: https://pjmedia.com/trending/2016/10/05/clown-update-wh-weighs-in-on-creepy-clown-epidemic-clown-riot-at-penn-state-more-sightings/

Amerika sedang gempar oleh serangan badut. Masyarakat negara paling adidaya di dunia ini sedang dilanda ketakutan, bukan pada senjata nuklir paling mutakhir, atau alat-alat perang lainnya, orang-orang ini takut jika tiba-tiba sesosok berwajah pucat, bermata hitam dengan hidung besar dan bulat berwarna merah darah mengintai mereka dari balik pepohonan, di kejauhan.

Histeria ini bermula di negara bagian South Carolina. Seorang wanita mengisi laporan kepolisian, mengaku anaknya melihat sesosok badut mengintip di balik pepohonan, sambil membisikkan sesuatu dan mengeluarkan suara-suara aneh. Laporan yang menggelikan pada awalnya, namun ternyata kejadian itu menjadi pemicu badut-badut selanjutnya. Selepas laporan aneh tersebut diberitakan, berpakaian badut, berdiri di sela-sela pepohonan dan menatap orang yang lewat dengan tatapan psikopat menjadi tren baru bagi para pranksters seantero Amerika. Badut-badut ini semakin tak lucu.

Badut di mana-mana. masyarakat semakin tegang. Di Kentucky, seorang laki-laki ditangkap karena memakai kostum badut dan bersembunyi (juga) di balik pepohonan. Di Alabama, seorang wanita menelpon polisi, mengaku melihat badut di parkiran salah satu pusat perbelanjaan. Di New York, badut mengejar seorang remaja di stasiun kereta bawah tanah. Karena alasan serupa, sebuah sekolah di Ohio ditutup. Bahkan sekelompok mahasiswa di beberapa universitas rela meluangkan waktu di antara padatnya tugas-tugas, untuk menjadi VIGILANTE CLOWN HUNTERS!   sekuel terbaru game Evil Dead: berburu badut.

Dalam membaca horor orang tidak secara langsung merasa jijik atau ketakutan pada sosok monster menakutkan di dalamnya, namun ia terserap ke dalam tokoh protagonis dalam novel tersebut, orang seakan terserap ke dalam posisinya, merasakan ketakutanya.

Kembali ke tahun 1980, tahun di mana bioskop penuh dengan film-film horor: ada An American Werewolf in London, Evil Dead, Friday the 13th Part II. Pada tahun itu histeria bermula, tak hanya di bioskop, monster-monster dalam film horor mulai bermunculan di jalanan. Begitu juga badut. Kasus creepy clowns pernah muncul pertama kali di Kansas City, Kansas: sekelompok remaja mengaku dikejar oleh seorang berpakaian badut dengan membawa senjata tajam. Pelaku terinspirasi oleh sebuah film horor, tertulis dalam judul berita itu.

Pada tahun 1981, bulan Mei, stasiun berita lokal mengangkat berita mengenai seorang berkostum badut yang mengajak anak-anak kecil naik ke dalam sebuah mobil dengan iming-iming permen. Di tempat lain, banyak juga laporan tentang kemunculan badut-badut yang mengganggu anak-anak. Setelah dilakukan investigasi, polisi tak menemukan hal yang mencurigakan, hanya badut-badut ulang tahun. Saksi mata juga diketahui semuanya anak-anak antara usia 5-7 tahun.

Tahun 1986, histeria badut mulai padam. Pada tahun itu Stephen King menerbitkan novel ‘It’ dan menjadi novel horor terlaris di tahun itu. Stephen King menyulut lagi histeria itu. Lebih parah, ia mengatributkan karakter menyeramkan pada sosok badut. Tahun demi tahun semenjak itu badut menyeramkan (creepy clowns) muncul secara sporadis di banyak tempat berbeda. Sekarang, mendekati hari Halloween dan peluncuran remake film ‘It’ histeria itu terjadi lagi.

***

Orang tahu bahwa film horor adalah fiksi. Sebelum masuk ke dalam gedung bioskop, orang 100% yakin bahwa monster-monster yang ditontonnya dalam film tersebut tidaklah benar-benar ada dalam dunia nyata. Makhluk-makhluk menyeramkan itu tak akan keluar dari layar lalu mengejar dan menakut-nakuti mereka. Namun emosi yang dirasakan penontonnya tidak demikian. Ketakutan tersebut bukan emosi palsu. Ketakutan tersebut melekat pada alam bawah sadar dan memengaruhi kehidupan sehari-harinya. Sebelum “it”, tak ada yang menyeramkan dari badut, badut hanyalah orang yang memakai kostum sedemikian rupa dan bekerja sebagai penghibur anak kecil di hari ulang tahun. Orang belum mempersepsikan badut semenyeramkan sekarang.

Dalam buku A Philosophy of Horror, Noel Carrol menyusun sebuah penjelasan mengenai bagaimana makhluk fiksi (fictional being) dalam film atau novel, yang tentunya orang tahu bahwa makhluk itu hanya fiksi, dapat memengaruhi emosi pembaca atau penonton secara riil. Menurut Carrol, hal tersebut merupakan sebuah paradoks dalam cara seseorang menanggapi cerita fiksi, ia menyebutnya ‘the paradox of fiction’. Bagaimana bisa orang memberikan respon emosi yang ‘asli’ (misalnya benar-benar tersentuh atau benar-benar ketakutan) pada hal-hal yang ia tahu itu tidak nyata.

Jadi bagaimana emosi orang dapat terpancing oleh bualan penulis novel horor? Dalam membaca horor orang tidak secara langsung merasa jijik atau ketakutan pada sosok monster menakutkan di dalamnya, namun ia terserap ke dalam tokoh protagonis dalam novel tersebut, orang seakan terserap ke dalam posisinya, merasakan ketakutanya. Keterserapan semacam ini tak hanya terjadi dalam fiksi horor, kita dapat juga memahaminya dari perasaan (turut) bahagia ketika melihat Cinta akhirnya kembali pada pelukan Rangga, atau dari tawa, tangis dan rasa gemas ibu-ibu yang sedang menonton televisi sehabis isya’. Keterserapan tersebut merupakan sifat bawaan manusia: tergerak emosinya atas apa yang dirasakan orang lain. Sekilas keterkaitan perasaan semacam ini nampak rasional.

Benarkah?

Ternyata tidak sesederhana itu. Coba simak percakapan dua orang di bawah ini:

Ceng Melfin: “Saya mau curhat sama kamu, Fiq.”

Taufiq : “Sini-sini, mau curhat apa kamu, Ceng?”

Ceng Melfin: “Saya sedang sedih, Fiq. Setelah bertahun-tahun pacaran, akhirnya kemarin saya tau, kalo pacar saya selama ini selingkuh!”

Apakah Taufiq akan merasa prihatin dan menepuk-nepuk pundak Ceng Melfin? Ternyata tidak! Mengapa? Karena Taufiq yakin, haqul yaqin bahwa Ceng Melfin selama ini JOMBLO. Artinya bahwa emosi seseorang hanya akan terpicu jika objek emosi tersebut memiliki basis dalam keyakinan.

Kembali ke horor. Ketakutan akan monster menyeramkan dalam novel atau film horor tidak memiliki basis dalam keyakinan, penonton yakin bahwa monster itu tak benar-benar ada. Objek-objek dalam film horror, menurut Carrol adalah apa yang menurut sains kontemporer tidak ada (tidak terbuktikan keberadaanya). Makhluk-makhluk ini berada dalam apa yang disebut Descartes sebagai realitas objektif (dalam pikiran) bukan berada dalam realitas formal (realitas fisik).

Rasa takut itu disebabkan karena makhluk-makhluk tersebut dicitrakan dengan bentuk yang aneh dan menjijikkan. Karenanya orang menjadi takut, meskipun tahu bahwa makhluk itu tak benar-benar ada. Tidakkah ketakutan semacam itu irasional? Di sinilah letak paradoks yang dimaksud oleh Carrol. Orang tak bisa sekaligus rasional dan irasional. Jika dirumuskan, The Paradox of Fiction berakar pada tiga proposisi berikut:

  1. Kenyataannya, fiksi dapat memengaruhi emosi seseorang.
  2. Orang sebenarnya meyakini bahwa apa hal-hal yang digambarkan dalam fiksi tidak nyata.
  3. Emosi seseorang hanya terpicu oleh kenyataan yang (diyakininya) faktual.

Tak ada masalah pada ketiga proposisi tersebut jika dibaca secara terpisah. Namun jika dihubungkan satu sama lain, akan tampak kontradiksi antara ketiganya. Dalam bukunya Carrol mengemukakan tiga cara untuk menghapus kontradiksi tersebut. Namun hanya akan dibahas dalam tulisan ini cara pertama saja. Cara pertama ini mampu menjelaskan irasionalitas di dalam menanggapi fiksi. Cara pertama ini mengafirmasi kenyataan bahwa dalam menanggapi fiksi, orang tidak menggunakan rasionalitasnya, baik secara tidak sadar maupun secara sadar menanggalkannya.

The Illusion Theory of Fiction

Cara ini bertumpu pada penolakan atas proposisi kedua. Teori ilusi fiksi ini mengandaikan bahwa ketika memasuki dunia fiksi, orang dilingkupi ilusi: Monster dalam fiksi memang benar-benar ada. Ketika membaca novel horor, entah bagaimana, orang dibuat benar-benar yakin bahwa monster-monster dalam novel tersebut nyata dan ada di sekitarnya. sehingga tak heran jika emosi yang ditimbulkan begitu nyata.

Tentunya teori ini cacat besar, andaikan ketika menonton film horor orang meyakini bahwa monster-monster itu memang benar ada dalam dunia nyata, tentu orang tak akan duduk diam di bioskop menonton film horor, sedang mereka meyakini monster-monster menyeramkan berkeliaran di luar sana dan bisa menerkam mereka kapan saja. Tentu orang akan memilih lari dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Pada kenyataannya penonton tidak bertindak demikian, mereka tetap menikmati cerita, menikmati ketakutannya tanpa rasa khawatir diserang oleh monster-monster itu.

Namun orang dapat menutup kecacatan dalam teori ini dengan mengubah pengandaian adanya ilusi dengan anggapan bahwa teknik penyampaian fiksi itulah yang menyebabkan seseorang, sementara waktu, ‘terlupa’ akan keyakinanya (bahwa monster itu tak pernah ada). Carrol menyebutnya teori ‘forgetfullness’. Ketika memasuki gedung bioskop, sebagai prasyarat untuk medapatkan emosi yang riil dari fiksi yang ditonton, orang seakan dipaksa melucuti pengetahuannya. Dengan begitu, orang akan menanggapi fiksi dengan emosi yang nyata, seakan emosi tersebut memiliki basis pada keyakinan. Jadi, jangan pernah lupa untuk menanggalkan atribut logikamu sebelum memasuki gedung bioskop, atau uang 35.000-mu akan terbuang sia-sia. Namun, jika kalian adalah orang yang ‘terlalu’ rasional, kemungkinan besar kalian sering kehilangan 35.000 itu sia-sia. Di situlah letak kelemahan teori keterlupaan ini.

Carrol juga menjelaskan cara lain tentang keterlupaan ini melalui cara lain. Kali ini orang bukan terlupa, namun sengaja menanggalkan apa yang diyakininya, untuk sementara waktu. Samuel Taylor Coleridge, seorang Penyair, kritikus sastra dan filsuf berkebangsaan Inggris, dalam Biographia Literaria, mengungkapkan bahwa seringkali ketika sastra harus menggambarkan sesuatu yang supranatural, atau paling tidak, romantik, orang sengaja meninggalkan keyakinan-keyakinanya (willing suspension of disbelief) untuk menimbulkan ‘rasa’ puitis, cukup dengan cara memadukan antara hasrat manusia dengan hal-hal yang memiliki kemiripan dengan kenyataan.

***

Untuk menikmati horor, seseorang memang harus menanggalkan rasionalitasnya. Namun apa jadinya jika rasionalitasnya ‘lupa’ ia pakai lagi ketika keluar dari gedung bioskop? Menurut saya badut-badut tersebut memahami hal tersebut. Ada sisa-sisa emosi yang secara tidak sadar dibawa seseorang saat keluar dari gedung bioskop, sisa-sisa emosi itulah yang kemudian dimanfaatkan badut-badut ini untuk meruntuhkan tembok rasionalitas, mengacaukan batas antara fiksi dan fakta dalam pikiran seseorang. Tanpa logika, orang merasakan ketakutan terhadap benda fiksi yang seharusnya tidak perlu ditakuti.


Bahan Bacaan:

Carrol, Noël. 1991. Philosophy of Horror or Paradoxes of the Heart, New York, Routledge.

 

LEAVE A REPLY