Sophia (Robots) (sumber: https://www.cnbc.com/2018/06/05/hanson-robotics-sophia-the-robot-pr-stunt-artificial-intelligence.html)

 

Situasi kehidupan yang dinamis mengharuskan demokrasi liberal untuk menyusun ulang strategi guna mengatasi tantangan zaman. – M. Nur Alam Tejo

kebenaran dan kekuasaan acapkali dicampuradukkan dalam praktik keseharian. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda untuk bisa dipukul rata, namun akhir-akhir ini kita mengalami kesulitan membedakan kedua hal itu. Memang tapal batas antara keduanya seringkali rancu dan abu-abu, namun nyatanya sejarah manusia juga mengafirmasi demikian. ‘Manusia kebanyakan’ sudah sedari dulu tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana tongkat justifikasi (pembenaran)—yang dipegang oleh kekuasaan/otoritas.

Dalam pemahaman kaum modernis, kebenaran selalu merujuk pada kerangka epistemologis untuk menjustifikasi, sementara kekuasaan lebih dekat ke arah kerangka aksiologis. Jikalau boleh saya sederhanakan, kebenaran berkutat pada mengapa sesuatu ‘dianggap benar’ dan yang ‘dianggap salah’, sedangkan kekuasaan pada alur moral baik-buruk. Dalam fenomena keseharian, sudah terhitung banyak lakon kehidupan yang menceritakan bagaimana kekuasaan membuat kebenaran laiknya butir-butir peluru—memodifikasi kebenaran sedemikian rupa hanya untuk mengukuhkan tahta kekuasaan dan membasmi yang menentangnya.

Ia (Harari) bahkan berani berkesimpulan bahwa demokrasi liberal akan berakhir, bukan karena revolusi komunisme atau bangkitnya sistem ke-khalifahan Islam, melainkan akibat pesatnya perkembangan teknologi.

Justifikasi epistemik diperlukan sebuah rezim atau kelompok untuk bertindak. Kita dapat mengetahuinya dari sejarah perkembangan hidup manusia yang menghasilkan noda kelam seperti, imperialisme, kolonialisme, sampai fasisme. Di akhir abad ke-20 sampai awal abad ke-21 ceritanya menjadi lain, demokrasi liberal mampu keluar sebagai pemenang pasca perang dingin setelah komunisme Uni Soviet runtuh. Ilmuwan politik macam Francis Fukuyama pun sesumbar bahwa demokrasi liberal merupakan sitem politik paling ideal, dan oleh karena itu, sejarah perkembangan sistem politik sudah mencapai titik final. Tapi nyatanya sejarah manusia berkata lain. Situasi kehidupan yang dinamis mengharuskan demokrasi liberal untuk menyusun ulang strategi guna mengatasi tantangan zaman.

Yuval Noah Harari dalam Homo Deus memberikan bukti-bukti kegagalan demokrasi liberal dalam menghadapi tantangan zaman. Ia bahkan berani berkesimpulan bahwa demokrasi liberal akan berakhir, bukan karena revolusi komunisme atau bangkitnya sistem ke-khalifahan Islam, melainkan akibat pesatnya perkembangan teknologi—khususnya Data-isme melalui Big Data. Harari berkata bahwa “Liberal habits such as democratic elections will become obsolete, because Google will be able to represent even my own political opinion better than I can”. Lalu jika sudah demikian di mana kebebasan berpendapat mendapatkan tempatnya, sementara Google jauh lebih paham tentang diri kita dibandingkan diri kita sendiri? Jika benar demikian, apakah masih penting kebebasan berpendapat demi memperoleh kebenaran?

Parrhesia sebagai salah satu landasan penopang demokrasi liberal dianggap terancam keberadaannya oleh perkembangan info-tech dan bio-tech. Ia menjadi penting untuk ditinjau kembali guna memberikan metode berkelit atau akrobatik teoretik untuk membebaskan manusia dari segala efek negatif data-isme ala Hararian dan mengafirmasi dorongan bermain sebebas-bebasnya. Saya berargumen bahwasanya otoritas akan selalu jadi tumpuan justifikasi kebenaran, sebab manusia masih belum mampu membayangkan hilangnya subjek dalam menjustifikasi penilaian baik-buruk. Konsep parrhesia sebagai “keterusterangan manusia dalam membicarakan kebenaran” pun membutuhkan otoritas untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Kebenaran saat ini sudah menjadi satu dengan otoritas, kebenaran bukan lagi sesuatu yang utuh. Sementara kebenaran sudah runtuh, yang bisa dinikmati manusia hanyalah Spieltreb (dorongan bermain).

Para Penjaga Gerbang Parrhesia

Kata parrhesia telah berkembang sedemikian jauh dari mulai karya-karya Euripedes (sekitar abad 487-407 SM) sampai awal Kekristenan. Sebagaimana yang telah dijabarkan oleh Foucault dalam bukunya Parrhesia Berani Berkata Benar, term parrhesia muncul baik secara tersurat atau pun tersirat di dalam teks-teks Yunani, seperti naskah-naskah Euripedes, Ioannes Khrysostomos, Sokratik, Platon, Pseudo-Xenophon, Dio Khrysostomos dan lain sebagainya. Teks tersebut merupakan catatan-catatan sejarah pada kebudayaan Yunani, Romawi dan Helenis. Term Parrhesia mempunyai tiga macam bentuk; kata benda parrhesia; kata kerja parrhesiazomai (atau lebih tepat parrhesiazesthai); dan ada juga kata parrhesiastes.

Kebenaran sepanjang sejarah hidup manusia selalu bergantung pada sesuatu, entah itu Tuhan, alam, ‘mitos’ kemampuan manusia berpikir secara rasional, atau pun pada kemampuan manusia mengolah fiksi.

Parrhesia umumnya diterjemahkan sebagai “berbicara bebas” (free speech dalam Bahasa Inggris, franc-parler dalam Bahasa Prancis, dan dalam Bahasa Jerman Feimüthigkeit). Di dalam parrhesia terdapat pelbagai bentuk centang-perentang sifat dasar penggunaan kata tersebut dan penggunaannya dalam berbagai bidang, seperti retorika, politik, dan filsafat. Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa parrhesia merupakan konsep Yunani yang memiliki makna “keterusterangan dalam berbicara kebenaran”.  Ada berbagai macam jenis parrhesia yang dipaparkan oleh Foucault, mulai dari parrhesia dalam naskah-naskah Euripedes, Krisis Lembaga Demokrasi, Sokratik, dan Filosofis.

  • Parrhesia dalam Naskah-naskah Euripedes

Dalam naskah-naskah Euripedes, parrhesia terkait dengan dua aspek utama yang penting untuk digarisbawahi. Pertama, perihal siapa yang berhak menggunakan parrhessia dan kedua, perihal krisis kebenaran itu sendiri. Aspek pertama merupakan analisis kelas yaitu status dan peran. Rakyat kecil yang tidak memiliki kuasa dan tidak menguntungkan dirinya dari apa yang dikatakan merupakan sebuah parrhesia. Begitu sebaliknya, raja yang memiliki kuasa dianggap tidak memiliki parrhesia karena ia tidak memiliki risiko apa-apa—nantinya dalam jenis parrhesia sokratik relasi kelas ini menjadi lebih egaliter karena yang dilihat adalah keselarasan antara logos dengan bios seseorang. Pertanyaan mendasar yang menjadi titik sentral dalam hal ini ialah, siapa yang berhak menggunakan parrhesia? Apakah cukup diamini bahwa parrhesia adalah hak sipil yang sedemikian sehingga setiap dan sembarang warga dapat angkat bicara dalam sidang rakyat jika dan tatkala ia menghendakinya? Ataukah parrhesia harus diberikan khusus kepada beberapa warga saja, seturut status sosial mereka atau keutamaan pribadi?

Aspek kedua yaitu meninjau krisis parrhesia, yaitu kebenaran itu tidak bisa dimiliki semua orang melainkan orang-orang yang memiliki kualitas diri. Tak bisa ditentukan secara sembarangan siapa orang yang memiliki kualitas diri, hingga nantinya apa yang dikatakannya merupakan sebuah parrhesia yang positif. Hubungan antara parrhesia dengan mathesis, pengetahuan dan pendidikan, memegang peranan sentral di titik ini. Dengan demikian, parrhessia memiliki kompleksitas pada individu penggunanya. Bagi Foucault, krisis yang terjadi pada parrhesia terkait erat dengan hak seseorang berbicara kebenaran dalam batas-batas sistem kelembagaan. Krisis parrhesia menghadirkan problematisasi dari beberapa hubungan yang sebelumnya tidak bermasalah antara kebebasan, kekuasaan, demokrasi, pendidikan, dan kebenaran di Athena pada akhir abad kelima.

  • Pharresia dalam Krisis Lembaga Demokrasi

Ada dua problematiasi politis dari parrhesia parrhesia yang diajukan Foucault dalam kebudayaan Yunani abad keempat. Pertama, dalam naskah Platon masalah kebebasan berbicara mempunyai persinggungan dengan pilihan eksistensi, dan cara hidup seseorang. Kebebasan dalam menggunakan logos (ilmu) kian menjadi kebebasan dalam memilih bios (hidup). Walhasil, parrhesia makin lama makin dianggap sebagai sikap personal, kualitas pribadi, sebagai keutamaan yang berguna bagi kehidupan politik polis apabila parrhesia itu bersifat kritis atau positif, atau sebaliknya sebagai suatu bahaya bagi poilis apabila parrhesia itu buruk atau negatif (Foucault, 2018: 94). Problematisasi yang pertama ini terlihat di dalam karya-karya, Xenophon, Isokrates, dan Platon.

Parrhesia bergeser dari yang sebelumnya merupakan hak institusional—sebagai mana dalam polis yang demokratis—menjadi kepada sikap pribadi, sebuah pilihan hidup (bios).

Problematisasi kedua, adanya perubahan antara parrhesia dengan jenis lembaga politik lainnya, yaitu monarki. Kebebasan berbicara kini harus dipakai kepada raja. Namun, dalam situasi monarkis macam itu, parrhesia bergantung pada kualitas pribadi sang raja (yang punya kuasa untuk menerima atau menolak penggunaan parrhesia) dan penasihat kerajaan. Kedudukan parrhesia bergeser dari yang sebelumnya merupakan hak institusional—sebagai mana dalam polis yang demokratis—menjadi kepada sikap pribadi, sebuah pilihan hidup (bios). Di dalam naskah Aristoteles, Athenaion Politeia (Konstitusi Athena), ia menggambarkan bagaimana parrhesia kritis dan positif dicontohkan di dalam rezim pemerintahan tiranik Peisistratos—seorang tiran yang manusiawi dan dermawan, karena pemerintahannya bermanfaat bagi Athena. Lalu, kata parrhesia juga muncul di dalam Ethika Nikomakheia, bukan untuk menyajikan corak lembaga atau praktik politik, tetapi sebagai watak orang yang berjiwa besar (megalopsykhos).

  • Parrhesia Sokratik

Jenis parrhesia ini muncul dalam hubungan pribadi antara dua manusia dan tidak dalam hubugan parrhesiastes dengan demos maupun raja. Di samping hubungan antara logos, kebenaran, dan keberanian dalam parrhesia politik, kini muncul unsur baru berkaitan dengan Sokrates, yaitu bios. Bios menjadi sentral dalam parrhesia Sokrates. Tujuan dari aktivitas parrhesiastik Sokrates ini adalah mengarahkan partner berbicara agar memilih jenis hidup (bios) yang sesuai dengan corak keselarasan Doria terkait logos, keutamaan, keberanian, dan kebenaran. Sosok Sokrates di pandang sebagai basanos (batu ujian), yang menguji kesesuaian laku/tindakan dengan bayangan ideal tentang kebenaran, keberanian, kebebasan, dll. Kebenaran yang terungkap dari wacana parrhesiastik adalah kebenaran tentang kehidupan seseorang, yaitu jenis hubungan seseorang dengan kebenaran. Secara sederhana, hubungan parrhesiastik ala Sokrates mencoba mengungkapkan siapa Anda itu—bukan hubungan Anda dengan macam-macam peristiwa di masa depan, tetapi hubungan Anda saat ini dengan kebenaran.

  • Parrhesia Filosofis

Corak parrhesia filosofis ini telah dipraktikkan selama berabad-abad oleh para filsuf. Foucault membagi tiga jenis aktivitas parrhesiastik peran parrhesia filosofis yang semuanya saling berkait satu sama lain. (1) Sejauh filsuf berupaya menemukan dan mengajarkan kebenaran tertentu tentang dunia, alam, dan sebagainya, ia mengemban beban epistemik. (2) Untuk menegaskan pendirian mengenai polis, hukum, lembaga politik dan sebagainya, diperlukan pula peran politik selain yang tadi. (3) Aktivitas parrhesiastik juga berupaya menjelaskan corak hubungan antara kebenaran dan gaya hidup, atau antara kebenaran dan etika serta estetika tentang diri.

Parrhesia filosofis memiliki dua “praktik” parrhesia; pertama, penggunaan parrhesia dalam jenis tertentu tentang hubungan manusia; dan kedua, tata cara dan teknik yang digunakan dalam hubungan tersebut.

Sasaran parrhesia ini bukanlah untuk membujuk sidang Majelis, melainkan untuk meyakinkan seseorang bahwa ia harus merawat diri sendiri dan orang lain; dan ini berarti ia harus mengubah hidupnya. Tema perubahan hidup merupakan tema sentral sejak abad keempat SM sampai awal Kekristenan. Hal yang demikan merupakan hakikat praktik parrhesia filosofis. Lalu, parrhesia baru ini menyiratkan satu rangkaian hubungan yang rumit antara diri dan kebenaran, sebab pengetahuan ini hanya memberikan pengetahuan diri, dan pengetahuan diri ini harus bisa menunjukkan jalan menuju kebenaran dan pengetahuan lebih lanjut.

Hal menarik lainnya ialah parrhesia filosofis punya alternatif ke berbagai teknik yang cukup berbeda dari teknik-teknik berwacana secara persuasif yang digunakan sebelumnya; dan ia tidak lagi secara khusus terkait dengan agora, atau persidangan raja, tetapi dapat digunakan di berbagai tempat yang berbeda. Parrhesia filosofis memiliki dua “praktik” parrhesia; pertama, penggunaan parrhesia dalam jenis tertentu tentang hubungan manusia, seperti dalam parrhesia Sinis ala Diogenes; dan kedua, tata cara dan teknik yang digunakan dalam hubungan tersebut, seperti pemeriksaan diri, teknik pengujian diri, dsb.

Keempat jenis parrhesia yang sudah dipaparkan di atas punya satu kesamaan, yaitu sama-sama membutuhkan otoritas dalam menyampaikan kebenaran. Misalnya dalam parrhesia awal lewat naskah-naskah Euripedes kebebasan berbicara terkait dengan hak seseorang dalam batas-batas sistem kelembagaan; di dalam parrhesia lembaga demokratis otoritas penyampaian kebenaran erat dengan privilege raja—bergantung pada kualitas pribadi sang raja. Lalu, di dalam parrhesia sokratik otoritas kebenaran ada di tangan sang filsuf Sokrates yang menjadi basanos seseorang, sementara dalam parrhesia filosofis otoritas berada penuh di dalam diri seseorang—kesesuaian ilmu dengan laku—sebagai makhluk yang dianggap rasional dan memiliki akal budi luhur pengertian diri, sebab pengetahuan diri ini harus bisa menunjukkan jalan menuju kebenaran dan pengetahuan lebih lanjut. Namun, nantinya di abad ke-21 manusia tidak butuh lagi pengenalan diri, sebab algoritma jauh lebih mengenal siapa kita sebenarnya. Pada akhirnya otoritas kebenaran akan beralih dari manusia ke ‘teknologi’.

Problematisasi Parrhesia

Parrhesia dalam kerangka problematisasi Foucault tidak bertujuan untuk membahas masalah kebenaran, melainkan masalah pengungkapan kebenaran, atau pengungkapan kebenaran sebagai sebuah aktivitas. Kebenaran bukan sebagai proposisi logis benar-salah, melainkan kebenaran sebagai sebuah aktivitas spesifik, atau sebuah peran. Kita mahfum bahwa filsafat Barat punya dua sisi/aspek utama. Dua hal inilah yang menandai berakhirnya filsafat Pra-Sokratik sekaligus menjadi awal filsafat yang masih berlangsung hingga saat ini. Pertama, tradisi filsafat “analitik kebenaran” yang berkaitan dengan proposisi pernyataan logis; kedua, tentang pentingnya mengatakan kebenaran, dan mengapa kita harus mengetahui kebenaran, akar tradisi ini dalam filsafat Barat disebut tradisi “kritis”.

Foucault memilih proses ‘problematisasi’ yaitu bagaimana dan mengapa hal-hal tertentu menjadi problem melalui pembacaan perilaku, gejala dan prosesnya. Menurutnya, problematisasi adalah jawaban untuk situasi konkret yang riil. Ia juga menarik batas yang jelas antara “sejarah gagasan” dengan “sejarah pemikiran”. Seorang sejarawan gagasan umumnya mencurahkan sebagian besar waktu untuk mencoba menentukan kapan suatu konsep tertentu muncul, dan momen ini sering diidentifikasi dengan munculnya kata baru. Namun, apa yang Foucault tawarkan adalah metodologis “sejarah pemikiran”. Ia menganalisis “cara-cara lembaga, tindakan, kebiasaan, perilaku menjadi problem bagi orang-orang yang bertindak dengan cara tertentu, yang punya jenis-jenis kebiasaan tertentu, yang terlibat dalam jenis tindakan tertentu, dan yang terlibat dalam jenis pekerjaan khusus di lembaga tertentu”.

Hari-hari ini parrhesia bukan hanya diusik oleh pemerintahan yang otoritarian, ia diusik dengan munculnya rangkaian algoritma yang dapat mendeteksi kebenaran sesuai dengan kondisi biokimia personal.

Dengan demikian, parrhesia masuk sebagai sejarah pemikiran karena ia merupakan bidang pengalaman atau tindakan yang tidak problematis, yang diterima tanpa dipertanyakan, diakrabi, dan tidak perlu dibahas lagi. Kemudian ia menjadi suatu problem, menimbulkan diskusi dan perdebatan, memunculkan pusparagam reaksi baru, dan menyebabkan krisis dalam perilaku, kebiasaan, tindakan, dan lembaga yang sebelumnya sunyi belaka. Tepat di sinilah kita memproblematisasi parrhesia—atau bahasa demokratisnya “free speech”—sebagai sesuatu yang sudah ada dari sananya atau terberi. Krisis parrhesia di abad kelima muncul di persimpangan jalan penyelidikan tentang demokrasi dan penyelidikan tentang kebenaran.

Di abad ke-21 ini, arwah dari gagasan parrhesia terpaksa dipanggil kembali setelah sebelumnya manusia meyakini betul sistem demokrasi liberal sebagai sesuatu yang sudah final. Hari-hari ini parrhesia bukan hanya diusik oleh pemerintahan yang otoritarian, ia diusik dengan munculnya rangkaian algoritma yang dapat mendeteksi kebenaran sesuai dengan kondisi biokimia personal. Parrhesia diguncang menjadi sesuatu yang tak lagi signifikan.

Kebenaran Selalu Kalis

Kebenaran sepanjang sejarah hidup manusia selalu bergantung pada sesuatu, entah itu Tuhan, alam, ‘mitos’ kemampuan manusia berpikir secara rasional, atau pun pada kemampuan manusia mengolah fiksi. Dalam beberapa abad terakhir, pemikiran liberal mengembangkan kepercayaan besar pada individu yang rasional. Penggambaran manusia sebagai agen rasional yang independen sebagai dasar dari masyarakat modern. Demokrasi didirikan pada gagasan bahwa pemilih tahu yang terbaik, kapitalisme pasar bebas percaya bahwa pelanggan selalu benar, dan pendidikan liberal mengajarkan siswa untuk berpikir untuk diri mereka sendiri.

Tak lama lagi watak kebenaran akan ditentukan oleh teknologi melalui serangkaian algoritmanya. Kebenaran akan didefinisikan sesuai dengan kondisi personal seseorang ketika menghadapi suatu peristiwa spesifik. Saat ini manusia sudah tidak lagi mempertimbangkan keagunan akal budi dalam menilai sesuatu. Manusia lebih mengandalkan mesin pencari Google ketika mengambil keputusan. Barangkali manusia kontemporer sudah sedemikian bergantung dengan teknologi. Problematisasi kebenaran yang dijustifikasi oleh teknologi perlu untuk disikapi dengan bijak.  Menarik untuk disimak bagaimana sikap, cara, dan tindakan manusia mengelak dan kemudian berani berkata tentang kebenaran di bawah bayang-bayang otoritas moral yang ditentukan oleh algoritma.

Warta kebenaran sebagai sesuatu yang sulit direngkuh memang sudah jauh-jauh hari dikumandangkan oleh Nietzsche. Ia percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, sebuah proses yang terus menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dalam alir itu tak pernah kembali, bahkan yang ada adalah suatu cheos.

Ketika manusia sudah merespon hal tersebut, maka problematisasi parrhesia mendudukkan krisis dari beberapa hubungan yang sebelumnya tidak bermasalah antara kebebasan, kekuasaan, demokrasi, pendidikan, kebenaran, dan teknologi secara spesifik masyarakat global di abad ke-21. Persilangan inilah yang akan memantik perdebatan secara spesifik di pelbagai lingkungan. Misalnya saja perbedaan budaya akan ikut berperan dalam menjustifikasi kebenaran di suatu lingkungan spesifik, atau perbedaan agama menentukan hubungan benar-salah yang coba dirumuskan oleh algoritma. Di sini peran otoritas memegang kuasa penting dalam menyusun batas-batas kebenaran yang nantinya akan disusun menggunakan algoritma. Tapi satu hal yang pasti bahwa kebenaran tidak pernah berada di dalam satu otoritas tunggal, kebenaran tidak pernah benar-benar utuh.

Warta kebenaran sebagai sesuatu yang sulit direngkuh memang sudah jauh-jauh hari dikumandangkan oleh Nietzsche. Ia percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, sebuah proses yang terus menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dalam alir itu tak pernah kembali, bahkan yang ada adalah suatu khaos. Bagi Nietzsche, kebenaran bukanlah antitesis dari kekeliruan, melainkan, dalam hal yang paling fundamental, hanya merupakan bentuk hubungan antara berbagai macam kekeliruan?

Harari mewartakan kebenaran yang ditempuh melalui rasionalitas adalah sesuatu yang mistik (Harari, 2018: 164), ia sulit mencapai keutuhan. Sementara, Foucault memperkenalkan konsep Parrhesia untuk mengungkapkan masalah kebenaran sebagai sebuah aktivitas. Di sini ada titik singgung bagaimana menyikapi kebenaran, apakah kebenaran adalah sebuah aktivitas atau sebuah cara berpikir? Di sini kita patut curiga, jangan-jangan kebenaran hanyalah sebuah dorongan bermain manusia!

Mereka Bangun Rumah dari Pasir

Sampai di sini banyak sekali tanda tanya untuk dijawab, dan kening saya sudah berkerut sedemikian intens. Sebuah syair dari Tagore dalam bukunya yang mahsyur, Gitanjali mungkin bisa meregangkan sedikit intensitas kedutan kepala.

“Di pantai dunia yang tak berujung, anak-anak bertemu. Langit tanpa batas terhenti di atas dan air yang resah bersuara ramai. Di pantai dunia yang tak berujung anak-anak bertemu, berseru, dan menari.

Mereka bangun rumah dari pasir, mereka mainkan lokan yang kosong. Mereka rajut kapal dengan daun-daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam. Anak-anak datang bermain di pantai dunia.

Mereka tak tahu bagaimana berenang, mereka tak tahu menebar jala. Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali. Mereka tak mencari harta karun, mereka tak tahu menebar jala…”

Anak-anak, permainan, pantai—saya bayangkan kehidupan umat manusia di dunia. Barangkali tidak yang lebih tepat ketimbang mengkiaskan kehidupan yang spontan, tidak terbatas, tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang pasti secara teleologis, kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan, proses yang tak berangkat dari sebuah asal yang lengkap dan tak berakhir dengan buah arah yang kukuh. Ada sesuatu yang tak beraturan di sini, suatu laku lalai tapi gembira. Anak-anak bukan penyelam mencari mutiara, mereka tak mengehendaki harta karun, mereka bukan pula saudagar yang hendak membawa pulang perolehan. Pantai bukan hanya sebuah batas, melainkan sebuah “tengah”, meskipun ia tak berada di tengah. Dalam keasyikan permainan, sebenarnya memang tak jelas pantai membatasi apa, laut ataukah pulau, arah penjelah atau tempat asal. Gegorafi raib. Kehidupan di momen itu tak mengenal teritorium. Garis dan ukuran tak ditarik. Hidup tidak dimulai dengan kesadaran, juga tak diakhiri oleh akalbudi.

Selaiknya dorongan bermain anak-anak, kebenaran mungkin adalah representasi dari “api hidup abadi” yang “bermain, seperti si anak dan sang seniman”, dalam arti “membangun dan menghancurkan, dalam keadaan tanpa bersalah…” Barangkali kebenaran dekat dengan hal itu, kebenaran berusaha dibangun lalu dihancurkan tanpa rasa bersalah. “Anak-anak tak menghimpun batu dan menebarkannnya kembali. Mereka tak mencari harta karun, mereka tak tahu menebar jala…” Tujuan kebenaran, sebagaimana halnya hasil, menjadi tak lagi relevan. Hidup hanya tinggal tertawa dan menari. Di pinggir pantai, “anak-anak membangun rumah dari pasir”.

Facebook Comments