Ilustrasi oleh Andrea NK

Hervé Touboul

(Alih bahasa dan anotasi oleh Muhammad Al-Fayyadl)

Ini adalah tugas yang berisiko, tetapi saya sungguh berterima kasih kepada penyelenggara seminar ini— Isabelle Garo, Jean-Numa Ducange, dan Jean Salem[1]—yang memberi saya kesempatan untuk mengambil risiko ini, dengan membahas tema Derrida membaca Marx. Tugas yang berisiko, setidaknya karena tiga alasan:

1/ Karya Derrida terbit baru-baru ini, dan kita belum memiliki kesempatan untuk membacanya secara “mundur”, suatu pembacaan yang memungkinkan kita melihat bagaimana karya itu sedikit dimasuki kembali, membedai dirinya.

2/ Alasan kedua adalah melimpahnya karya itu, yang tampaknya muncul dari banyak sekali judul, yang sejujurnya nyaris mustahil untuk disapu dengan sekali pandang—tetapi bukankah itu juga tantangan? Dan saya tidak akan berpretensi melakukannya.

3/ Alasan ketiga, karena karya itu rumit, tetapi kita tidak boleh menyerah kepada kerumitan ini. Barangkali kita berpikir bahwa karya Derrida adalah suatu tipe tulisan yang rumit, yang mungkin kerumitannya tidak berguna, dan setiap orang punya hak untuk menilai demikian, tetapi karya itu rumit pertama-tama karena karya itu ingin tampil ketat. Ia ingin berangkat dari pengertian-pengertian sederhana yang sepanjang penalaran akan mempertahankan kesederhanaannya, tetapi dalam filsafat, kesederhanaan ini dibangun dalam bahasa yang alamiah, di mana gagasan menjadi lepas, dan suatu definisi mengantar kepada kata lain, yang membawa gagasan-gagasan lain, dan gagasan-gagasan lain itu terbungkus dalam kata-kata, tetapi hidup berdenyut di antara gagasan-gagasan itu dan kata-kata itu. Dan Derrida selalu mencoba menangkap dengan cara paling ketat pergerakan itu, yang dikatakannya di tempat lain sebagai “différance”.[2] Kita berpikir mampu menangkapnya, sementara différance itu telah hadir di sana, dan gagasan yang dituju telah lepas. Derrida juga selalu mencoba mendekati beberapa unsur sekaligus, agar unsur-unsur yang penting tidak hilang, beberapa jalan muncul, dan jika sulit mengikuti satu jalan, maka lebih sulit untuk mengikuti semua jalan. Menyusuri jalan-jalan itu, selain kita berisiko tersesat, kita juga berisiko tidak pernah memulai: terlalu banyak gagasan yang muncul sekaligus, jika kita gunakan bahasa klasik. Harus ditambahkan pula bahwa jalan-jalan itu tidak perawan; jalan-jalan itu telah pernah dilalui, dan kita sangat naif jika percaya dapat memulainya secara absolut. Hal itu bukan karena kita tidak berpikir sedang menyusun sejarah filsafat yang sebelumnya tidak kita buat, bukan karena tidak ada hantu-hantu dalam suatu argumen. Suatu argumen memiliki suatu sejarah, terutama dalam filsafat. Sudah selalu ada beragam jalan, dan beragam penelusuran yang telah dilakukan. Merintis suatu jalan baru, jika hal semacam itu mungkin, menuntut kita mengenali jalan-jalan yang telah dilalui dan rute-rute yang telah dituju oleh jalan-jalan itu. Ini untuk mengatakan bahwa pemikiran Derrida telah selalu bermula; salah satu dari buku-buku itu merujuk ke buku yang lain, yang merujuk ke buku yang lain lagi, yang kembali ke banyak sekali buku dari para pendahulunya, yang beberapa di antaranya mungkin tidak dikenal. Pemikiran Derrida adalah suatu kultus pemikiran, tetapi adakah kebudayaan tanpa kultus? Saya akan segera kembali tentang makna kata “kultus” yang dalam pemikiran penulis kita ini tidak berarti menutup pemikiran di dalam pemikiran.

Tetapi, sebelumnya tersisa dua pertanyaan: bagaimana Derrida menulis? Tetapi juga bagaimana kita membacanya? Satu kunci, tetapi bukan suatu kata sandi: setidaknya ada dua gagasan yang terkait, setidaknya satu referensi yang menyertai penulis yang dibaca. Kita harus membaca Derrida dengan seluruh hantu-hantunya, suatu tugas yang tak berujung, sedangkan mengenai Marx, hal itu berarti, jika boleh saya katakan: neraka! Suatu referensi: Derrida akan membaca Marx bersama salah satu dari hantu-hantu Marx; hantu ini pun bukan nama yang paling sering dikutip dalam jalan-jalan yang biasa dilewati, yaitu Shakespeare,[3] dan dalam Shakespeare, pertanyaannya adalah pertanyaan Hamlet: to be or not to be, frase dialektis: sesuatu yang ada(lah) bukanlah sesuatu yang bukan ada(lah), kalimat hantu, hantu yang setiap orang tahu bahwa ia ada(lah) dan bahwa ia tidak/bukan ada(lah). Tentang dialektika dan hantu, kita juga harus kembali.

Kesulitannya bagi saya adalah dalam memulai. Solusinya adalah berpijak pada buku-buku Derrida tentang Marx, dengan berangkat dari gagasan bahwa saya dapat memaparkan intervensi seorang filsuf non-Marxis yang masuk dalam Marxisme, dalam beberapa hal, untuk memberi semacam pukulan kejutan, kejutan terhadap beberapa kamerad seperjalanan. Empat buku,[4] yang satu di antaranya terpenting, yaitu Hantu-hantu Marx. Saya akan berpijak pada buku ini atau buku-buku itu dan bertanya-tanya jika intervensi ini, dalam konteks Derrida, strategis atau oportunis, atau dua-duanya. Saya tidak dapat sepenuhnya meninggalkan metode ini, walaupun metode ini tidak dapat menggelar secara memadai arsitektonik pemikiran Derrida, arsitektonik yang menuntun pemikiran Derrida dalam suatu logika yang tidak membentuk suatu sistem, yang menyertai setiap saat buku-buku tentang Marx, dan yang menunjukkan kaitan terdahulu dan kuat dengan Marx dan dengan Marxisme. Marx, bersama dengan Engels (Derrida secara khusus menandai persahabatan keduanya yang nyaris tanpa cela), adalah hantu Derrida yang paling sering muncul. Saya akan menunjukkan keterlibatan saya dengan arsitektonik ini dan bagaimana ia bekerja di dalam Hantu-hantu Marx.

Dengan mencoba menyebut apa yang saya namai arsitektonik, saya ingin segamblang mungkin, sejelas mungkin berbicara untuk dimengerti publik yang tidak selalu terdiri dari para filsuf. Terhadap upaya memperjelas itu, panggilan yang saya lancarkan, saya akan melihat hantu Derrida tersenyum: kejelasan adalah suatu metafora, dan Derrida telah menunjukkan bahwa metafora itu tidak persis jelas. Matahari dapat memperlihatkan segalanya, namun apakah itu, memperlihatkan dengan terang pemikiran-pemikiran?

Ketergesaan untuk menyatakan kemenangan demokrasi liberal adalah suatu halusinasi, tetapi tak hanya itu, halusinasi itu menopengi kehadiran hantu. Suatu rasa dihantui. Dengan kata lain: kaum borjuis melihat Marx di mana-mana, dalam beragam bentuk, mereka terobsesi olehnya, mereka ingin memasukkannya ke dalam botol yang tak pernah berhasil mereka tutup, dan ketika kaum borjuis merasa telah menutupnya, kegembiraannya sesaat belaka, sang jin kembali keluar dari dalam botol, ia datang kembali di sini, dan selalu ada di sana…

Kita coba. Paparan saya akan terdiri tiga poin. Poin pertama ingin menunjukkan intervensi Derrida dalam Marxisme di dalam suatu konteks tertentu, poin yang secara langsung politis dan ingin menunjukkan cara bekerja pemikiran Derrida bersama Marx. Cara bekerja itu, yang arsitektonik tetapi berhubungan dengan persoalan Marx, akan menjadi objek poin kedua saya, yang secara wajar akan mendorong kepada poin ketiga, yang lebih cepat, tentang titik-titik oposisi dan hubungan di antara Derrida dan Marx.

I/ Intervensi Derrida

Kita mengetahui—kita layak kuatir bahwa kita tidak lagi mengenalinya—bagaimana Manifesto Partai Komunis yang ditulis oleh Marx dan Engels dan terbit pertama kali di London pada 1848 dimulai: “Sesosok hantu menghantui Eropa—hantu komunisme. Seluruh kekuatan Eropa lama bersatu dalam Persekutuan Suci untuk memburu dan mengusir hantu itu: Paus dan Tsar, Metternich dan Guizot, kaum radikalis Prancis, dan para polisi Jerman”.[5]

Kita tahu bahwa Marx dan Engels adalah para materialis, bahwa mereka tidak percaya dan tidak pernah percaya kepada hantu-hantu. Ini tak lain hanyalah suatu cara beretorika, kurang lebih, suatu frase yang tidak akan dikutip Derrida secara langsung. Marx dan Engels menambahkan: “Telah tiba saatnya para komunis memperlihatkan, kepada seluruh dunia, konsepsi-konsepsi mereka, tujuan-tujuan mereka, dan tendensi-tendensi mereka; bahwa mereka melawan dongeng hantu komunis dengan manifesto partai itu sendiri”.[6] Hantu itu hanyalah dongeng! Ia tak eksis. Tetapi jika kita renungkan, kita melihat bahwa rumusan kata-kata dua sahabat itu tidak memuaskan: bagaimana mungkin pengaruh dongeng itu begitu dahsyat? Dan pertama-tama, tidak ada dongeng. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan, hal itu tak lebih dari cara beretorika, suatu cara menulis yang mungkin tidak adekuat, meski rumusan itu kemudian menjadi terkenal. Tetapi, yang menarik perhatian Derrida, antara lain, adalah bahwa tulisan mengantar kita kepada keberhinggaan. Bukanlah Tuhan yang menulis kalimat itu, tapi Marx dan Engels, dan mereka berdua harus menemukan suatu formulasi, yang mungkin tidak adekuat; formulasi itu tampaknya mengkhianati sesuatu yang baru saja “membedai”-nya (men-différance-nya), karena meskipun tidak ada hantu, pada masa itu terdapat sesuatu yang orang lihat berada di mana-mana yang walaupun demikian tak nyata, suatu atmosfer, sesuatu yang bukan apa-apa tetapi mulai orang lihat dan rasakan, nyaris di mana-mana, melihatnya dengan obsesi, meskipun ia tidak ada.

Tidak ada yang istimewa! Tetapi kita berada 145 tahun berikutnya, dalam suatu konteks yang sama sekali lain. Hantu-hantu Marx terbit pada 1993, akhir Uni-Soviet, akhir komunisme atau sesuatu yang disebut demikian, di negeri-negeri Eropa timur, kebangkrutan—seperti orang katakan—dunia komunis.

Maka, Derrida menunjuk dua hal:

Pertama, bahwa krisis kapitalisme yang tak terelakkan, yang lebih merupakan krisis bagi kaum buruh yang mengalaminya, datang kembali. Krisis itu tak pernah benar-benar berhenti, dan Marx tak butuh Derrida untuk datang kembali; Marx adalah hantu yang datang kembali (revenant) secara radikal dari fenomena kapitalisme itu sendiri.

Kedua, terdapat ketergesaan untuk menyatakan, beberapa saat setelah bubarnya Uni-Soviet, tentang kemenangan definitif demokrasi liberal, kemenangan yang orang inginkan terjadi definitif, sehingga orang kembali kepada tema lama, yang juga hantu-hantu, hal-hal lawas yang kembali muncul ke permukaan: akhir sejarah. Derrida melukiskan halusinasi ini demikian: “Sebutlah suatu ciri (akan terdapat sepuluh ciri, dalam kenyataannya) suatu hal yang berisiko menyedot euforia kapitalisme demokrat-liberal atau sosial-demokrat ke dalam halusinasi mereka yang paling gelap dan memabukkan, bahkan ke dalam kemunafikan yang semakin histeris, dalam wujud retorika formal dan yuridis hak-hak asasi manusia”.[7] Sepuluh ciri yang mengisi tabel kapitalisme buatan Derrida sangatlah menarik. Kita dapat mengatakan bahwa ciri-ciri itu semuanya ditemukan hari ini: pengangguran dan deregulasi perburuhan yang melahirkan berbagai bentuk kesengsaraan baru, kaum tuna-wisma, perang ekonomi (dan pada zaman itu Derrida tidak menyinggung China), ketakberdayaan mengatasi  kontradiksi-kontradiksi pasar liberal, “semakin bengkaknya utang luar negeri yang menjungkalkan sebagian besar umat manusia ke dalam keputusasaan”, meningkatnya pembangunan industri senjata, penyebaran senjata atom, perang antar-etnik yang terkait dengan fantasi arkhaik tentang komunitas sejati, peran para mafia dalam narkoba, ketakberdayaan instansi-instansi internasional yang membuat mereka semakin saling bergantung. Tabel itu benar adanya. Derrida juga bicara tentang politisi yang menjadi artis televisi.

Ketergesaan untuk menyatakan kemenangan demokrasi liberal adalah suatu halusinasi, tetapi tak hanya itu, halusinasi itu menopengi kehadiran hantu. Suatu rasa dihantui. Dengan kata lain: kaum borjuis melihat Marx di mana-mana, dalam beragam bentuk, mereka terobsesi olehnya, mereka ingin memasukkannya ke dalam botol yang tak pernah berhasil mereka tutup, dan ketika kaum borjuis merasa telah menutupnya, kegembiraannya sesaat belaka, sang jin kembali keluar dari dalam botol, ia datang kembali di sini, dan selalu ada di sana… Ketergesaan untuk meneriakkan kemenangan menyembunyikan suatu penyangkalan luar biasa, dan di jantung kemenangan itu hantu itu selalu ada, ia tak henti-hentinya menghantui, ia ada nyaris sepanjang waktu, seperti dalam Hamlet: masuklah hantu, keluarlah hantu.

Dua hal patut dicatat di sini.

1/ Hantu yang menghantui dapat tampak kepada kita seperti yang-negatif: di sini terdapat negasi bercorak dialektika Hegelian. Afirmasi atas kemenangan kapitalisme akan tampak diiringi secara dialektis oleh negasinya; terdapat aspek semacam ini bagi Derrida, tampaknya, tetapi bagi Derrida negasi ini rumit. Ini disebabkan karena negasi itu sekaligus penyangkalan, suatu penyangkalan untuk melihat apa yang orang lihat: “Marx, tak usahlah memikirkannya, dia telah mati!”. Persoalannya adalah bahwa Marx ada di sana, “di suatu tempat”, seperti biasa orang katakan hari ini, kita semua tahu itu! Tetapi juga jika negasi ini ada, negasi ini plural, ia tak tak hadir dalam suatu bentuk yang unik; hantu itu muncul dalam berbagai bentuk. Marx, bagi kaum borjuis, terus-menerus menyamar dan dapat muncul, bagi mereka, dalam beragam penampilan yang bermacam-macam: buruh pabrik, feminis, jenggot brewok José Bové,[8] istilah “altermondialisme”, perjuangan di suatu tempat dan kegaduhannya, kata “komunis”, dst. Terdapat kontradiksi-kontradiksi, yang tidak memiliki status yang sama, pergeseran tempat dan pemadatan-pemadatan dalam tipe Freudian[9] yang mengisi negasi ini.

2/ Terdapat konteks-konteks: 1848 dan 1993, misalnya. Tetapi yang tidak dapat diabaikan, bahwa konteks itu tidak sendiri, tidak mungkin ada suatu konteks tanpa kaitan dengan konteks lain. Suatu konteks terbaca dengan konteks yang lain: suatu konteks selalu berbeda-beda, namun demikian, ia selalu mengulang konteks yang lain, suatu konteks adalah hantu dari konteks yang lain, dan banyak yang lain. Seolah-olah tidak ada kaitan antara 1848 dan 1993, tapi Derrida akan berkata: bisakah kita bicara yang satu tanpa yang lain? Suatu tanggal selalu merujuk ke tanggal yang lain.

Dua konsekuensi.

1/ Kata-kata yang di dalamnya gagasan-gagasan memiliki suatu konteks tertentu, memiliki suatu referen yang memberi kata-kata itu makna, di dalam apa yang dapat kita sebut “permainan bahasa”, namun makna yang terhubung dengan konteks dan referen itu niscaya lepas. Untungnya, karena di dalam permainan itulah terbuka komunikasi, komunikasi ini tidak hanya bisa lahir dari perselisihan (différend) yang dapat berarti suatu dialog, alih-alih perang. Makna sebuah kata adalah sebuah hantu: ia tidak merujuk kepada suatu pemikiran pertama yang berada di kedalaman bahasa dan merupakan suatu makna absolut; ia merujuk kepada kata-kata lain yang langsung bermunculan dan dapat berjumlah sangat banyak, menggeser konteks-konteksnya secara terus-menerus. Jika saya mengatakan kepada orang di sebuah meja, “beri aku garam”, saya akan mengerti bahwa dia akan memberi saya sebotol garam, tetapi kata “garam” itu menghantu (spectral), ia membawa sebuah ingatan, melempar saya secara menghantu ke konteks-konteks lain, di sini kebetulan Kristiani, tapi tak hanya itu, ia dapat memiliki pemaknaan-pemaknaan yang luar biasa beragam, sekalipun di atas satu meja, tergantung pada orangnya, kebiasaan-kebiasaan mereka, membawakan makna yang sedikit-banyak kabur kepada kesadaran orang yang memintanya. Permainan bahasa terperangkap di dalam botol permainan-permainan bahasa yang lain.

Kita akan memahami bahwa bagi Derrida, suatu metafisika, suatu politik, dapat hidup dengan menutup makna. Kita akan menggarisbawahi ini bersama Marx dan yang lain. Untuk sesaat, orang bisa menuduh Derrida dengan tuduhan yang biasa dituduhkan kepadanya: makna tidak pernah tertutup, konteks itu tak berhingga dan tak tentu, maka semua orang dapat mengatakan apa saja sesukanya! Tidak. Karena suatu kutipan, suatu komentar jika kita mau, yang kita buat pada suatu kalimat misalnya, adalah suatu ketegangan yang membuat perbedaan. Anggaplah, secara konyol, ketika kita meminta seorang siswa mengomentari suatu teks, maka kita sedang mengujinya untuk melawan frasa teks itu, yang bagaimanapun telah menjadi suatu permainan bahasa. Apa yang khas adalah bahwa komentar itu dapat tak berhingga, tapi bayangkan bahwa kita akan memberikan komentar yang sama kepada ribuan siswa, kita tak akan pernah mendapatkan komentar yang sama.

2/ Pergeseran konteks-konteks adalah kondisi niscaya agar muncul suatu sejarah, sejarah sebagai disiplin pengetahuan yang berusaha mengetahui sejarah yang bergulir, dan Derrida tampaknya menulis untuk melawan kembalinya sejarah positivis yang menyatakan bahwa hanya ada fakta-fakta, yang masing-masing memiliki singularitas konteks dan tidak memberi tempat bagi bentuk repetisi apapun, sejarah yang tidak lagi merupakan sejarah karena kita tidak dapat lagi membebaskan masa lampau, tidak saja membebaskan maknanya, atau signifikansinya, tetapi juga dan lebih-lebih beberapa pola penjelasannya. Kita harus mencermati bahwa sejarah positivis itu secara harfiah adalah mustahil, karena bahkan untuk mengatakan bahwa hanya ada fakta-fakta yang khusus, sejarah semacam ini butuh menggeser suatu konteks—konteks aktual, misalnya—ke konteks lain, apapun bentuk kehidupan masa lampau itu. Kita dapat menambahkan bahwa bagi Derrida, tidak akan ada Sejarah dengan ‘S’ besar, tetapi beragam sejarah yang dapat bersilangan, hal yang tidak berarti bahwa beragam sejarah itu dapat dijelaskan oleh perjuangan kelas, tetapi hal yang berarti bahwa sejarah-sejarah itu dapat terkadang berlangsung dengan perjuangan kelas—sesuatu yang tentu saja tidak akan bermasalah bagi Marx.

Kita tiba pada poin kedua saya, yang saya namai arsitektonik pemikiran Derrida yang tampaknya memberi benang merah bagi hubungannya dengan Marx.

II/ Arsitektonik

Kita tidak akan bertolak dari Hantu-hantu Marx. Marilah kita kembali jauh ke belakang. Di pembukaan Diseminasi, pada 1972 Derrida mengutip panjang pengantar 1873 Das Kapital. Pada bagian di mana Marx mengatakan membalik Hegel, Derrida berhenti di satu titik, saya kutipkan: “Bukan hal yang remeh bahwa hanya beberapa bagian sebelum paragraf-paragrafnya yang paling terkenal tentang pembalikan dialektika Hegelian, Marx menawarkan pembedaan yang menurutnya menentukan antara langkah pemaparan (eksposisi) dan langkah penyelidikan (investigasi).[10] Cukup dengan pembedaan itu, pecah kemiripan antara bentuk wacana Marx dan bentuk presentasi Hegelian”.[11] Apa yang ingin digarisbawahi oleh Derrida dengan pernyataan mengejutkan ini, tampaknya adalah suatu pemrucutan ganda (double décalage) bagi Marx, bersama Hegel. Pemrucutan antara yang nyata dan wacana, dan antara wacana penelitian dan hasilnya, seolah-olah dialektika Marx mrucut terus-menerus dari dialektika Hegel.

Dua kali dalam teks yang ditulis pada 1971, satu teks Derrida yang paling penting, Mitologi Putih, dan teks dari 1972 dalam Posisi-posisi, teks ini akan merujuk kepada Lenin dalam Catatan-catatan tentang Dialektika Hegel, rujukan yang penting. Ia menyatakan bahwa catatan-catatan Lenin,

“… layak mendapatkan perhatian tekstual, suatu tipe pembacaan yang sepenuhnya spesifik … Apa yang dilakukan Lenin ketika menulis di hadapan pernyataan Hegel ‘bacalah’? (interpretasikanlah? Transformasikanlah? Terjemahkanlah? Pahamilah?) Ikuti juga seluruh ‘metafora’ yang dipakai Lenin untuk menentukan hubungan materialisme dialektis dengan logika Hegelian, ‘metafora-metafora’ yang, dalam kesan pertama, tidak pas satu sama lain (‘jin’, ‘firasat’ dan ‘sistem’, pembalikan dan pemenggalan, juga perkembangan genetik dan organik dari ‘bijih’ atau ‘benih’. Metafora-metafora itu tidak akan memadai, jika ditilik satu per satu, tetapi dalam ‘kontradiksi’ aktif mereka, mereka menghasilkan efek yang sama sekali lain. Masih ada banyak metafora yang lain, dan melimpahnya secara tertulis figur-figur itu yang masing-masingnya saja mengembalikan kita, terkadang, jauh sebelum Hegel, tetapi yang saling menggemakan satu sama lain, membuka suatu tugas praktis dan teoretis tentang suatu pengertian baru mengenai hubungan antara materialisme dialektis dan logika Hegelian. Masing-masing metafora itu juga berkontribusi pada uji-ulang secara umum atas ruang historis yang akan saya sebut yang-setelah-Hegel sekaligus atas pertanyaan-pertanyaan baru tentang penulisan, tentang penulisan filosofis, adegan penulisan dan filsafat”.[12]

Tampaknya, hal terpenting bagi Derrida dalam pembacaan Lenin atas Hegel itu adalah suatu gagasan, yang tidak inosens, tentang “pemenggalan” dan juga perhatian terhadap penulisan filosofis, yang sebelumnya digarisbawahi oleh minat Derrida atas “diskursus” investigasi menurut Marx. Tugas “dekonstruksi” atas dialektika Hegelian adalah apa yang tampaknya, bagi Derrida, menggarisbawahi hubungan kuatnya dengan Marx.

Satu kata tentang dialektika Hegelian, satu kata yang sepenuhnya khas Hegel, kata bagi orang-orang yang tidak akrab dengan dialektika ini. Kita mengenalnya: dialektika ini bermula dengan afirmasi, afirmasi ini membawa negasinya, dan negasinya membawa afirmasi, negasi membatalkan afirmasi tetapi sekaligus menyimpannya, peralihan terjadi menuju negasi atas negasi. Juga harus digarisbawahi bahwa negasi mengandung momen pembatinan (interiorisasi), dan momen negasi atas negasi adalah momen efektivitas di mana yang-dalaman (interior) dari sesuatu sejalan dengan yang-luaran (eksterior), dengan aktus-aktus atau tindakannya. Dukacita—poin sangat penting bagi Derrida—dapat menjadi contoh di sini, dan memberikan figur dialektika yang ideal; ideal adalah suatu istilah: saya kehilangan orangtua saya agar saya dapat menjadi dewasa, kematian orangtua itu saya batinkan, maka sembari saya menanggung kematian itu saya melampaui kematian mereka.

Tampaknya, “dekonstruksi” atas dialektika Hegelian mengandung dua poin sentral, dua poin di mana Derrida berpikir bersinggungan dengan Marx.

1/ Pemulihan waktu, pemulihan temporalitas yang berhingga, pemulihan waktu individu, waktu yang terkait dengan ruang dan tindakan di dalam kondisi-kondisi material tertentu, dengan dialektika abstrak Hegel.

2/ Gagasan bahwa dialektika, hingga titik tertentu, tentu saja tidak sepenuhnya, harus putus dari Aristotelianisme, dari gagasan bahwa kehidupan manusia atau binatang harus berlangsung dari potensi menuju aktus, bahwa manusia melakukan, dalam aktus, apa yang mereka miliki secara potensial. Keterputusan ini berarti: apa yang potensial dari kehidupan manusia tidaklah menentu; apa yang harus mereka lakukan, mereka tidak akan benar-benar lakukan. Hanya ada waktu, tindakan-tindakan, dan kematian. Hegel telah merasakannya, Marx melihatnya, Nietzsche, Freud, Bergson, dan Heidegger, terlepas perbedaan mereka, telah mulai menunjukkannya.

Tentu saja tidak mungkin mengikuti Derrida dengan seluruh dekonstruksinya, yang sangat renik pada para penulis yang dibahasnya. Saya hanya akan menyembunyikan kejelian pada hal-hal kecil itu untuk menunjukkan secara kasar dan brutal beberapa di antaranya, sehingga Derrida harus berpikir, setidaknya, dalam “roh Marx”. Dekonstruksi itu pertama-tama soal waktu:

1/ Waktu Hegelian terlalu kaku. Waktu ini metafisik, untuk tak mengatakan secara khas religius, suatu waktu Trinitas, waktu untuk menjadi Kristus, bukan waktu bagi orang-orang, yang tentu saja tak bermasalah bagi teologi. Dekonstruksi ini mengandung waktu yang lain daripada waktu Hegelian ini.

2/ Terdapat waktu yang tidak terdialektikakan; différance telah bekerja sebelum dialektika. Suatu waktu yang tidak kita persepsikan bertolak dari saat ini, saat ini yang menggariskan suatu keterputusan dalam waktu yang menjadi suatu titik, dengan demikian, suatu ruang di luar waktu, melainkan bertolak dari kekinian yang menyelubungi suatu masa lalu, dan yang membedai seketika terhadap masa depan yang seketika menggeser masa lalu, suatu waktu keseharian, yang tidak selalu mengimplikasikan suatu negasi; waktu itu dapat berupa suatu waktu yang netral, yang berhenti sebelum pencarian suatu pengakuan, katakanlah seperti yang dikatakan tokoh Bartleby dalam kisah Herman Melville, yang tidak ingin sama sekali menguasai dan menolak masuk dalam pusaran dialektika, dengan selalu mengatakan: “Saya lebih suka tidak” (I would prefer not to). Ia dapat juga berupa waktu di mana afirmasi mengikuti dan menyudahi suatu afirmasi, sebagai contoh, kita tidak lagi mengatakan bahwa kita tidak lagi mencintai seseorang, tetapi mengatakan bahwa kita mencintai seseorang yang lain atau hal yang lain. Hal itu dapat berarti bahwa terkadang muncul kontradiksi yang kuat, terkadang lemah, terkadang tanpa kontradiksi sama sekali.

3/ Dukacita tidak dialami seperti yang dikatakan Hegel; dialektikanya terlalu yakin dengan dirinya sendiri. Hegel berpikir bahwa aku membatinkan kematian—di mana Derrida melihat, dalam sejarah metafisika kita, justifikasi yang diberikan agar kita menjadi makhluk pemangsa daging (karnivora); padahal dalam kematian seseorang, selalu ada yang tak dapat dipungut kembali, yang tak dapat didialektikakan, selalu ada abu, sesuatu yang tak terbatinkan, yang tak terlampaui. Kematian itu ada di sana.

4/ Dekonstruksi yang dipungut Derrida dari salah satu hantunya, yang pada puncaknya merupakan salah satu hantu Marx, yakni Feuerbach dalam Kontribusi Kritik terhadap Hegel, menunjukkan bahwa waktu Hegelian adalah waktu suksesi; waktu ini menyelubungi keserentakan. Di sini kita bisa mengambil contoh sejarah Hegelian: orang Yunani dilampaui secara dialektis oleh orang Romawi, yang dilampaui oleh orang Kristen, orang Katolik sendiri dilampaui oleh orang Protestan, tapi bagaimana dengan orang Yahudi yang selalu terpinggirkan? Hegel mengatakan, orang Yahudi adalah “kecemasan abadi Tuhan”. Tapi bagaimana dengan orang Katolik yang tetap Katolik pada saat agama Protestan muncul? Kita coba ikuti Hegel yang akan mengatakan bahwa Katolik itu, tanpa disadari, akan menjadi sedikit Protestan, lalu apakah itu sinkretisme? Dan bisakah kita gampangan mengatakan kepada orang Katolik itu, yang ingin menjadi seorang Katolik, bahwa ia telah dilampaui oleh sejarah, bahwa ia terlambat pindah agama? Dengan kata lain, apa yang kita lakukan pada hal-hal yang tersisa? Di sanalah kita menyentuh hal-hal yang lepas dan tak terduga dari dialektika.

[Bagian kedua baca di Derrida: Sang Pembaca Marx (2)]


[1] Teks ini ditranskripsi dari presentasi lisan penulisnya dalam rangkaian seminar periodik “Marx au XXIe siècle: l’esprit et la lettre” (“Marx Abad 21: Spirit dan Aksara”), 23 Februari 2013, di ruang ampiteater Université Paris-I (Sorbonne). Tiap Sabtu, dalam seminar yang diorganisir oleh Jean Salem itu, berbagai tema disuguhkan seputar Marx, Marxisme, dan sejarah gerakan kiri internasional; kali ini, mengulas interpretasi Marx dalam pemikiran Jacques Derrida. Apakah Sorbonne telah menjadi pusat kajian Marxisme? Ya, salah satunya, dan berkat Jean Salem, filsuf Sorbonne yang giat mendorong kajian ulang atas Marx, di luar batas-batas ortodoksi Partai Komunis Prancis dan diskursus Marxisme klasik. Semangat seminar ini tak lain menghadapkan Marx dan Marxisme kepada perkembangan pemikiran dan situasi abad ke-21, era “kontemporer”. Keterangan lebih lanjut seputar seminar ini dapat dicek di situs Sorbonne. [Muhammad Al-Fayyadl, selanjutnya disingkat MAF].

[2] Lihat esainya, “Différance”, dalam Marjin-marjin Filsafat (edisi Inggris, terjemahan Alan Bass, Chicago, 1982), 1-28 [MAF].

[3] Derrida, Hantu-hantu Marx (edisi Prancis), 29. Apa hubungan antara Derrida, Shakespeare, dan Hamlet? Mengapa untuk membaca Marx, Derrida harus melakukan jalan memutar (détour) via Shakespeare, via sastra? Karena Marx dan Shakespeare sama-sama menulis tentang hantu, jawaban pertama yang jelas. Tetapi tidak sesederhana itu. Jalan memutar via Shakespeare barangkali suatu strategi tekstual: memikirkan ulang Marxisme, dan juga politik, dari kesusastraan, dari teater: politik sebagai suatu dramaturgi hantu-hantu. Strategi ini mengingatkan pada Albert Camus dalam Manusia Pemberontak: membaca sejarah revolusi dan kontra-revolusi sebagai teater absurditas dalam politik. [MAF]

[4] Keempatnya adalah Hantu-hantu Marx: Kondisi Utang, Karya Belasungkawa, dan Internasionale Baru (Paris: Galilée, 1993); Bermain-main dengan Marx (bersama M. Guillaume dan Jean-Pierre Vincent, Cie, 1997); Marx dan Anak-anaknya (Paris: PUF/Galilée, 2002); Politik dan Persahabatan: Percakapan dengan M. Sprinker tentang Marx dan Althusser (Paris: Galilée, 2011; edisi I 1991).

[5] Marx-Engels, Manifesto Komunis (edisi Inggris, International Publishers, 1948), 8.

[6] Ibid.

[7] Hantu-hantu Marx (edisi Prancis), 134.  

[8] Politisi kiri Prancis, brewok dan gaya merokoknya terkenal, juru bicara Via Campesina dan gerakan reforma agraria global. [MAF]

[9] Pemadatan (condensation, Verdichtung), menurut Freud, adalah kemampuan suatu mimpi dalam bawah sadar seseorang untuk menggabungkan beberapa tema ke dalam satu simbol dalam mimpi. Dengan demikian, simbol itu dapat mewakili sejumlah atau beberapa pikiran, perasaan, harapan, gagasan, atau kecemasan. Pemadatan adalah suatu mekanisme intra-psikis untuk menyederhanakan mimpi agar mudah di(re)presentasikan ke dalam pikiran seseorang, tetapi penyederhanaan ini sekaligus menyembunyikan kompleksitasnya. [MAF]

[10] Ini merujuk pada Pengantar Kedua Marx untuk Capital, yang terkenal, ketika Marx mengomentari resensi buku Capital di Revue Positivis yang justru memperlakukannya sebagai penulis idealis! Resensi buku itu, menurut Marx, tidak akurat, karena gagal membedakan antara metode pemaparan (method of presentation) dan metode penyelidikan (method of inquiry) dari buku Capital. Metode penyelidikan adalah metode di mana Marx menyelidiki objek penelitiannya, menganalisis objek-objek materialnya secara detail, menganalisis perkembangan dan melacak hubungannya. Metode ini niscaya materialis, karena berpijak pada fakta-fakta material. Hasil penyelidikan ini yang kemudian dipaparkan, dan dikonseptualisasikan. Maka, simpul Marx, 1) metode penyelidikan berbeda dari metode pemaparan. Dalam metode penyelidikan, objek ada di luar pikiran, sedangkan dalam metode pemaparan, objek ada di dalam pikiran (terkonseptualkan); 2) metode penyelidikan materialis, sedangkan metode pemaparan bersifat idealis; metode penyelidikan lebih signifikan daripada metode pemaparan.

Marx ingin membedakan diri dari Hegel, karena dialektika Hegel persis merupakan manifestasi dari metode pemaparan (presentasi) dari Idea itu sendiri. Dialektika Marx bertolak dari penyelidikan menuju pemaparan, bertolak belakang dari dialektika Hegel, yang bertolak dari pemaparan menuju pemaparan. Lihat, Marx, “Postface to Second Edition”, Capital, vol. I, (edisi Inggris, terjemahan Ben Fowkes), 102-103.  [MAF]

[11] Derrida, Diseminasi (Paris: Seuil, 1972), 37; Diseminasi (edisi Inggris, terjemahan Barbara Johnson, The Athlone Press, 1997), 31.

[12] Derrida, Posisi-posisi (Paris: Minuit, 1972), 104-105; Derrida, “Mitologi Putih”, dalam Marjin-marjin Filsafat (Paris: Minuit, 1972), 255.

LEAVE A REPLY