Ilustrasi (sumber: https://wallpapersafari.com/philosophical-wallpapers/)

Realitas keduniaan adalah segala sesuatu yang secara sadar maupun tidak, terprediksi ataupun tidak, disebabkan oleh dan berakibat nyata pada kehidupan sehari-hari, yang harus dipertanggungkan sepenuhnya oleh makhluk duniawi. Dari beragam makhluk duniawi itu, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengkonseptualisasikan benda duniawi–dalam batas tertentu juga untuk yang tak kasat mata hingga yang bersifat ilahiah. Karenanya, tak salah apabila manusia dianggap sebagai yang memberi andil paling besar pada gerak realitas keduniaan. Dengan demikian, eksistensi manusia menjadi penting untuk disadari.

Dalam filsafat, kajian yang secara radikal menggali hakikat “ada” bagi manusia adalah eksistensialisme. Nama Jean-Paul Sartre, tidak luput sebagai pemikir eksistensialis populer di abad ke-20. Ia seorang marxis asal Prancis yang memiliki keganjilan dalam pilihan politik. Walaupun dikenal sebagai seorang marxis, namun ia menolak bergabung bersama teman diskusinya–yang kelak akan mengubah pandangan filsafatnya–Maurice Marleau-Ponty, seorang fenomenolog marxis, ke dalam Partai Komunis Perancis. Di lain sisi, Sarte mendukung kebijakan dan program politik Stalin di Moskow. Dukungannya ini akan menjadi awal bagi keretakan hubungan Sartre dengan sahabatnya yang lain, salah satunya ialah filsuf cum sastrawan, Albert Camus, yang pada satu kesempatan pernah mengatakan, “Jika dahulu kita menolak keberadaan kamp konsentrasi Nazi, maka saat ini pun kita harus menolak keberadaan kamp kerja paksa Soviet”.

Dengan menggagas ide eksistensialisme yang dikawinkan dengan marxisme, sebenarnya sudah merupakan suatu keganjilan yang tak tertandingkan sepanjang sejarah pemikiran marxisme. Pasalnya, eksistensialisme merupakan ideologi yang mengusung ide individualisme radikal, anti sosial, dan akrab dengan filsafat kaum borjuasi. Hal tersebut berseberangan dengan marxisme yang diasosiasikan dengan perjuangan kelas proletar, komunal, serta anti kaum borjuasi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, benih kelahiran marxisme-eksistensial ini tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan diskusi Sartre bersama Marleau-Ponty, yang akhirnya menyebabkan Sartre memutuskan untuk tidak melanjutkan penulisan buku Being and Nothingness yang awalnya diproyeksikan dapat menjawab dimensi etika eksistensialisme.

Hanya saja kini persoalannya, bagaimana penyingkapan itu bisa diterangkan dalam praksis eksistensialisme yang, alih-alih tidak mengambil sikap pada penolakan eksistensi Tuhan, justru sebaliknya berkeyakinan bahwa yang berhak menanggung segala perbuatan manusia adalah manusia itu sendiri tanpa adanya campur tangan kekuatan di luar dirinya.

Eksistensialisme merujuk pada existensialism is a humanism. Proyek ini berkesimpulan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, yang pada batasnya mensyaratkan kita untuk bersikap mendiskreditkan suatu realitas ketuhanan. Di sini akan ditemukan bahwa untuk menjaga kejujuran eksistensi manusia, tidak ada cara lain selain menolak ke-ada-an Tuhan. Apabila terjadi pengingkaran akan berakibat pada munculnya sikap kemenduaan dalam diri manusia. Sebab, apabila Tuhan dilibatkan dalam realitas profan, adanya pilihan sikap ‘kembali kepada Tuhan’, pembohongan terhadap eksistensi manusia itu sendiri sebagai konsekuensinya. Meskipun Sartre sendiri mengatakan, “eksistensialisme bukanlah teori ateisme. Dalam artian, bahwa teori ini bukan dimaksudkan untuk berusaha mati-matian membuktikan ketiadaan Tuhan”.

Dari penuturan Sartre di atas, walaupun tidak secara eksplisit, sebenarnya memberi celah pada upaya untuk menyingkap sifat homo-religious yang melekat pada diri manusia–eksistensi manusia sebagai makhluk berketuhanan. Hanya saja kini persoalannya, bagaimana penyingkapan itu bisa diterangkan dalam praksis eksistensialisme yang, alih-alih tidak mengambil sikap pada penolakan eksistensi Tuhan, justru sebaliknya berkeyakinan bahwa yang berhak menanggung segala perbuatan manusia adalah manusia itu sendiri tanpa adanya campur tangan kekuatan di luar dirinya. Atau dalam filsafat materialisme Feuerbach, keyakinan manusia atas eksistensi Tuhan hanya sebagai “proyeksi diri manusia” itu sendiri, pelarian dari hidup yang tak tertanggungkan oleh manusia.

Dalam kajian psikoanalisa Freudian, kita menemukan tahap perkembangan struktur mental manusia yang dimulai dari pemenuhan naluri ke-makhluk-annya (id), setelah kejadian–meminjam istilah dari Heidegger–“keterlemparan” manusia ke dunia. Seorang bayi yang lapar akan berusaha memasukkan benda apa saja di sekitarnya ke dalam mulutnya tanpa memedulikan apakah benda itu layak atau tidak untuk dimakan. Kedua, tahap berfungsinya ego, di mana id tidak lagi sepenuhnya mendominasi pilihan manusia, karena pada tahap ini telah muncul sikap untuk mengkritisi pilihan yang tersedia. Ketiga, kesadaran manusia akan eksistensi institusi super-ego. Pertimbangan-pertimbangan yang dihasilkan oleh ego mulai dibatasi oleh hal-hal eksternal seperti hukum, norma adat, nilai-nilai, keyakinan, dan sebagainya yang mengatur bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup di lingkungannya. Pada tahap ini manusia mulai mempertimbangkan antara keputusan diri dengan aturan-aturan di luar diri yang berkonsekuensi pada keterbatasan ekspresi manusia.

Teori empiris-rasionalis Immanuel Kant menyebutkan dua tahap pengenalan diri manunsia: sensibility, kesan inderawi yang ditangkap oleh manusia dan, understanding atau pemahaman yang darinya keputusan-keputusan kesan inderawi diambil. Pada tahap pertama manusia hanya mengikuti nalurinya, dalam artian pertemuan manusia dengan lingkungannya yang hanya sepintas lalu. Sedangkan tahap kedua telah mensyaratkan manusia untuk bisa membedakan dirinya dari benda di sekitarnya, tanpa harus terlebih dahulu mengenal perbedaan sebutan antara dirinya dengan benda. Dengan begitu, manusia mulai menyadari eksistensinya dan perlahan menghayati esensi ke-diri-annya.

Pilihan manusia yang berasal dari dirinya, menjadi untuk dirinya, dan hanya dipertanggungjawabkan oleh dirinya, mendapat antitesisnya, bahwa eksistensi manusia hakikatnya adalah suatu faktisitas dari realitas ketuhanan.

Kesadaran atas adanya sesuatu di luar diri adalah langkah awal pemahaman manusia bahwa dalam realitas terdapat suatu hukum kausalitas. Sejak manusia mengetahui bahwa ia adalah manusia, sejak itu pula ia menyadari bahwa ada yang lain di luar dirinya, yang profan maupun transenden. Kesadaran akan yang profan ditemui manusia sebagai fakta, sedangkan kesadaran tentang adanya hubungan dengan yang transenden–antara manusia-Tuhan beserta atribut-atribut ketuhanan–menjadi suatu faktisitas, yang melampaui fakta.

Bahwa pada akhirnya kita menemukan proyek-proyek filsafat yang memposisikan Tuhan sebagai objek kajian atau yang lebih radikal berusaha menafikan keberadaan Tuhan, sebenarnya tak pernah bisa melepaskan peran Tuhan sebagai ens primum, pengada yang utama. Upaya untuk mengukuhkan tesis eksistensi manusia melampaui esensi, menemui jalan kerikil terjal, kalau tidak bisa dikatakan buntu. Pilihan manusia yang berasal dari dirinya, menjadi untuk dirinya, dan hanya dipertanggungjawabkan oleh dirinya, mendapat antitesisnya, bahwa eksistensi manusia hakikatnya adalah suatu faktisitas dari realitas ketuhanan. Sebab, manusia tak pernah bisa sepenuhnya mendapatkan kebebasan mutlak, selalu saja terbentur pada pilihan-pilihan yang terbatas, yang tak bisa diterobos oleh diri manusia itu sendiri. 

Sampai di sini, walaupun semua sebab yang bermula dari, dan berakibat pada manusia serta realitas dunia–diyakini oleh filsuf eksistensialis–, ada tanpa keterlibatan kekuatan transendental. Namun secara tidak disadari, faktisitas transenden telah ada sebelum eksistensi itu sendiri diakui keberadaannya. Dengan begitu celah untuk menyingkap kemungkinan kebenaran manusia sebagai homo-religious telah diupayakan menjadi lebih terang. Uraian ini berusaha menjelaskan bahwa eksistensialisme tak mampu menyelamatkan manusia dari keterbatasan pilihan. Bahwa tak pernah ada suatu apapun di dunia ini yang ada karena dirinya sendiri, sehingga segala konsekuensi hanya harus ditanggung oleh dirinya sendiri pula sebagai pengambil tindakan. Bahwa tak ada yang berdiri sendiri, termasuk tulisan ini sendiri. Tabik!

Facebook Comments