Karya: Hening Utami
Karya: Hening Utami

“Dapatkah seorang perempuan menjadi pemimpim dalam Islam?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang perempuan di sebuah pasar. Perempuan itu gelisah, ingin memberontak. Sejak kecil ia hidup bersama perempuan-perempuan lain di Harem. Sebuah tempat yang dikhususkan untuk mengurung dan membatasi gerakan perempuan.

Namun, di pasar itu ia mendapatkan jawaban yang sangat mengiris nurani keperempuanannya. Seorang pedagang yang ditanyainya, kaget mendapatkan pertanyaan tersebut, sambil berseru: “Saya berlindung kepada Allah.” Bahkan, karena saking kagetnya, setengah lusin telur yang hendak dibelinya hampir jatuh ke tanah.

Kemudian ada seorang pelanggan lain yang tampaknya merupakan guru sekolahan. Guru itu tiba-tiba menyampaikan sebuah hadis untuk menanggapi pertanyaan perempuan tadi. “Tidak akan pernah makmur suatu bangsa yang menyerahkan urusannya kepada seorang perempuan.” Demikian kutipan hadis itu meluncur dari mulut seorang guru; menghunjam, menusuk perasaan perempuan itu.

Suasana di pasar itu lalu menjadi sunyi. Senyap. Tak ada kata-kata. Dan perempuan itu pergi meninggalkan pasar dengan perasaan kalah dan marah.

***

Cerita itu adalah fragmen pengalaman hidup Fatima Mernissi sebagai seorang perempuan. Pengalaman yang ia ceritakan sendiri dalam bukunya, The Veil and the Male Elite (1991), itu mendorongnya untuk meneliti teks hadis di atas yang dianggapnya memojokkan posisi perempuan. Hadis yang bernada misoginis.

Fatima Mernissi tentu tidak sendirian. Ada banyak perempuan di belahan dunia lain yang mengalami hal yang sama. Mereka dikekang, dipojokkan, atas nama tradisi dan agama. Namun Mernissi beda. Ia punya keberanian yang lebih besar dari perempuan-perempuan lainnya. Ia berontok, melawan budaya patriarkat yang kadang menggunakan topeng agama.

Mernissi lahir dari keluarga kelas menengah di kota Fez, Maroko, pada tahun 1940. Ia dibesarkan di sebauh Harem. Di tempat itu perempuan-perempuan dipoligami; gerak-geriknya dibatasi; dan jelas, pendidikan bagi mereka hanyalah mimpi.

Namun Mernissi sedikit beruntung. Ia lahir ketika nasionalis Maroko sudah berhasil mengusir kolonialisme Prancis. Nasionalis Maroko menjanjikan perubahan—kesetaraan bagi tiap-tiap orang. Praktik poligami dilarang. Laki-laki dan perempuan diberi hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Karenanya, Mernissi kecil bisa leluasa untuk belajar.

Pendidikan dasar Mernissi ditempuh di sebuah sekolah yang dibentuk oleh gerakan nasionalis Maroko. Sementara pendidikan menengahnya, ia tempuh di sekolah yang dibiayai oleh Protektorat Prancis. Mernissi menjadi anak sekolahan. Lebih beruntung dari ibunya yang buta huruf.

Meski begitu, tembok Harem ternyata masih tetap tegak menjulang. Ia menjadi simbol dari kokoh-tegaknya budaya patriarkat yang masih belum hilang. Simbol-simbol itu masih terus direproduksi, hingga tanpa sadar menyublim ke dalam kesadaran kolektif banyak orang.

Di situlah terjadi pergulatan apa yang oleh Pierre Bourdieu (1986) disebut kuasa simbolik. Simbol-simbol direproduksi untuk memenangkan pergulatan. Dalam hal ini simbol laki-laki dan perempuan. Masing-masing memperebutkan rekognisi sosial yang legitim.

Reproduksi simbol itu bisa dilakukan lewat tradisi, teks agama, ataupun kekuasaan politik. Ketika kuasa simbolik sudah berhasil didapatkan, maka saat itulah kuasa itu punya daya untuk membentuk dunia dengan operasinya. Operasi kuasa simbolik itu dijalankan dengan kekerasan simbolik. Kekerasan yang punya daya represif, namun dengan bentuk yang amat halus dan subtil.

Selama berada di Harem, Mernissi merasakan betul adanya kekerasan simbolik terhadap kaum perempuan. Dari situ, suara-suara kritis terhadap kuasa kaum laki-laki mulai muncul dari mulut seorang Mernissi. Mernissi sadar betul bahwa simbol-simbol agama telah dimanipulasi sedemikian rupa hanya untuk mengokohkan kuasa kaum laki-laki sebagai kelompok yang tak mau kalah: 

“If women’s rights are a problem for some modern Muslim men, it is neither because of the Koran nor the Prophet, nor the Islamic tradition, but simply because those rights conflict with the interests of a male elite.” (The Veil and the Male Elite, 1991: iv)

Di dalam Dreams of Trespass: Tales of a Harem Girlhood (1994), ingatan Mernissi juga menceritakan betapa tersiksanya hidup di Harem. Anak-anak perempuan hanya bisa menatap langit, mungkin bermimpi, bahwa di suatu saat mereka bisa berjalan dengan bebas di jalanan, tanpa harus ada yang mengekang. Karena selama berada di Harem mereka hanya bisa melihat dunia luar melalui sebuah lubang kecil.

Mengingat kondisi itu Mernissi merasa resah, gelisah, dan ingin melawan. Tentu perlawanan Mernissi mesti dengan modal simbolik yang bisa dipertaruhkan untuk memenangkan rekognisi sosial. Demi kaum perempuan.

Modal simbolik itu, dalam pandangan Bourdieu, bisa berupa modal ekonomi atau modal kultural. Dalam struktur sosial masyarakat religius tentu modal kultural lah yang lebih dipentingkan. Modal kultural, di antaranya, bisa berupa gelar kesarjanaan, label keahlian dalam suatu bidang, atau posisi struktural dalam ranah keagamaan.

Demi memperoleh modal simbolik itu—untuk nantinya melakukan perlawanan—Mernissi pergi meninggalkan Harem. Ia melanjutkan studinya di Universitas Mohammed V di kota Rabat. Kemudian melakukan pelancongan intelektual ke Prancis, studi di Universitas Sorbonne, Paris; dan akhirnya memperoleh gelar doktor sosiologi dari Universitas Brandeis.

Mernissi bukan tipe intelektual karbidan. Selain sudah terlibat sendiri dalam pergulatan nyata sebagai seorang perempuan, ia juga telah benar-benar mematangkan dirinya dengan melahap banyak warisan intelektual. Ia punya hasrat yang besar pada pengetahuan—tentu juga, pengetahuan itu ia gunakan sebagai alat perlawanan.

Pernyataan berikut dapat menggambarkan betapa ia merupakan sosok perempuan yang punya gairah intelektual dan spirit perlawanan yang besar:

Inspired by a fierce desire for knowledge, I read al-Tabari and the other writers, especially Ibn Hisham, author Sira; Ibn Sa’d, author al-Tabaqat al-Kubra; al-‘Asqalani, author al-‘Isaba; and the Hadith collections of al-Bukhari and al-Nasi’i. All of this, in order to understand and clarify the mystery of the misogyny that Muslim women have to confront even in the 1990s.” (The Veil and the Male Elite, 1991: 8).

Sebagai bukti perlawanan, ia lalu menulis banyak buku. Buku pertamanya adalah Beyond the Veil (1975). Kemudian disusul bukunya yang begitu populer, The Veil and the Male Elite (1991). Setelah itu muncul secara berturut-turut: Women’s Rebellion and Islamic Memory (1993); Dreams of Trespass (1994); Scheherazade Goes West (2001); dan Islam and Democracy (2002).

Selain itu semua, masih ada beberapa karya Mernissi yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ini menunjukkan bahwa Mernissi memanglah sosok perempuan yang gigih, berani, dan unik. Namun, tanpa sosok perempuan bernama Yasmina, neneknya, nama Fatima Mernissi mungkin tak akan pernah dikenal oleh dunia.

Neneknya lah yang membentuk watak intelektual dan keberanian Mernissi sejak dini ketika tinggal di Harem. Ia seperti melanjutkan warisan kegelisahan neneknya yang sebelumnya tak pernah tersampaikan. Dan kini, tepat pada 30 November lalu, perempuan tangguh itu telah meninggalkan kita semua untuk selamanya. Mungkin ia menyusul neneknya.

Biarlah Mernissi fisik itu sudah tiada. Namun, Mernissi sebagai sebuah teks akan terus dibaca dan tak henti-hentinya diberi makna. Sebab teks Mernissi di dunia belumlah purna. Adieu, Mernissi…![]

LEAVE A REPLY