Keke Challenge-Dog (sumber: https://celebritypets.net/these-dogs-are-killing-drakes-in-my-feelings-challenge/keke-challenge/)

Orang-orang yang sudah tua, yang merasa sudah merasakan asam garam kehidupan seringkali merasa heran dengan tingkah anak zaman sekarang, khususnya pada zaman di mana penggunaan teknologi, lebih spesifik lagi media sosial, semakin marak, semakin banyak orang-orang yang dianggap aneh berkeliaran. Berkeliaran, viral dan terkenal, memiliki pengikut dengan jumlah yang menakjubkan pula. Mungkin beberapa orang, termasuk saya, masih memiliki warisan pemikiran orang-orang yang lebih dahulu hadir di dunia, masih tidak ‘ngedong’ dan ‘make sense’ tentang bagaimana bisa manusia-manusia seperti sebut saja, Bowo, mimi peri, Nurrani, dan sejenisnya bisa menarik perhatian begitu banyak orang, bahkan memiliki pengikut setia yang sampai tega merongrong orangtuanya untuk mengikuti meet n greet, padahal kedua orangtuanya berjasa dan berperan lebih besar dalam hidupnya, bahkan ia tidak akan dapat bertemu Bowo jika tidak dilahirkan.

Tidak berhenti sampai di sana, belakangan pun bermunculan tantangan demi tantangan unik dan aneh, Keke Challenge misalnya. Sebelumnya, tantangan ini mulai dikenalkan pertama kali oleh Creator asal Amerika Serikat (AS) yaitu Shiggy. Dalam video yang diunggah lewat akun Instagram miliknya, Shiggy menari dengan diiringi lagu oleh Drake In My Feelings yang baru dirilis pada 29 Juni 2018 di album Scorpion. Karena aksi tersebut pula, kini banyak orang yang berlomba-lomba untuk membuat video serupa. Namun, karena ingin lebih menantang mulailah dikembangkan dengan cara yang lebih unik yaitu menari mengikuti mobil yang tengah berjalan[1].

Mereka yang lari dari satu ruang karena kejenuhan dan ketakutan terus terperangkap dalam lingkaran setan, mendobrak dan membuat ruang sendiri, dan ironisnya lingkaran setan mereka sendiri.

Sekilas tidak terlihat bermasalah, sampai entah siapa yang memulai dan mendapat wangsit dari mana, Keke Challenge ini dilakukan di jalan raya, jelas berbahaya dan mengganggu ketertiban lalu lintas.

Masih banyak lagi challenge yang dianggap viral dan memiliki banyak pengikut, hingga challenge yang menyerempet bahaya seperti Skip Challenge, Erase Challenge, hingga Blue Whale Challenge yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan paus biru. Khusus yang terakhir disebutkan nampaknya tidak viral atau malah mungkin tidak diketahui, suatu hal yang dirasa patut disyukuri karena challenge tersebut terlalu mengerikan[2].

Ada apa dengan orang-orang ini? Mungkin sebagian dari kita akan menuding dan menghakimi orang-orang seperti ini sebagai orang-orang bosan hidup, para masokhis yang haus akan penderitaan. Orang-orang tua, mungkin akan lebih tenang melihat anaknya menekuni seni lukis, street dance, fotografi, game online, hingga skateboard daripada mengetahui anak-anaknya mengikuti ‘challenge-challenge’ yang bertebaran, aneh, apalagi menyerempet bahaya. Demi uang pun mungkin tidak sebanding dengan penderitaannya[3], lebih-lebih dengan yang hanya demi terkenal dan banyak penonton.

Namun, penulis merasa fenomena ini bukan hanya menarik untuk dihujat terus menerus dan direndahkan. Menggali latar belakang, alasan, serta motivasi apa yang mendasari tingkah para pemburu viral dan pelaku-pelaku challenge dan bagaimana mereka memandang hidup nampaknya cukup menarik untuk dibahas, dimulai dari kemungkinan mereka dalam memandang kehidupan.

Hidup adalah kepastian, kenyataan yang dapat dilihat dan dialami, namun kehidupan tidak selalu memiliki kepastian. Kepastian adalah sesuatu yang menenangkan dan jaminan akan keadaan yang pasti adalah yang seringkali dinantikan. Manusia membabi buta berlindung dan mencari perlindungan kepada kepastian. Seringkali mengorbankan diri, kepercayaan dan kebebasan diri untuk berpikir kritis, mengorbankan diri pada aturan keberadaan yang baku. Manusia sebagai diri yang merdeka, bagai terperangkap di tengah-tengah arena pertempuran aturan-aturan menyangkut moralitas. Mereka yang dapat mengikuti aturan begitu ditinggikan dan dielu-elukan, kontras sekali dengan mereka yang terseok-seok bahkan tak mampu mencapai dan mengikuti standar orang baik dalam masyarakat.

Bangun pukul sekian, beraktivitas seharian yang sama dan sangat monoton, lalu tidur kembali bagai lingkaran setan kehidupan. Lingkaran setan ini tidak berubah, terus berputar dan menekan. Setiap manusia memiliki kesempatan berada di dunia yang sama, hidup hanya sekali. Apakah karena memiliki kesempatan yang sama, maka harus melakukan hal yang sama pula? Lahir, berkembang, mengenyam pendidikan, bekerja untuk menyambung kehidupan, lalu kembali ke tanah tanpa membawa apapun?

Semakin ekstrim gambaran maupun isi suatu ruang, semakin memperlihatkan kebutuhan akan eksistensi. Mereka yang menyerah untuk menyamakan frekuensi dengan aturan di mana mereka berada, menunjukkan eksistensi mereka untuk sebuah kepuasan.

Tantangan atau challenge, sesuatu yang berbeda dan memacu adrenalin, rasanya itu yang manusia butuhkan. Sesuatu yang beda dan membedakan, terutama bagi mereka yang tidak bisa mengikuti aturan dunia dari para moralis dan para pencinta kepastian. Mereka yang sudah merasa kalah memerlukan ruang di mana mereka bisa berkembang dan bebas, ruang sendiri yang terbebas dari segala aturan moralitas.

Menariknya ruang sendiri ini pada akhirnya ditujukan untuk memikat mereka yang berada di luar ruang, semakin banyak yang tersaring dan semakin ruang baru ini menyita perhatian, tanpa sadar akhirnya ruang independen ini tunduk kepada aturan dan moralitas lainnya.

Di sini kita dapat melihat inkonsistensi dan kesia-siaan melarikan diri dari satu ruang ke ruang yang lain, menariknya di mana ada ruang di sana harus ada populasi, karena populasi itu lah yang menentukan keberadaan ruang. Mereka yang lari dari satu ruang karena kejenuhan dan ketakutan terus terperangkap dalam lingkaran setan, mendobrak dan membuat ruang sendiri, dan ironisnya lingkaran setan mereka sendiri.

Mengapa bisa mereka terperangkap dalam hal yang sama di ruang yang berbeda? Karena akhirnya para pencipta ruang ini mengakui mereka membutuhkan pengakuan dari yang lain, hingga tanpa sadar yang lain ini akhirnya mengontrol ruang baru dan terciptalah moralitas baru.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Lari mendobrak dan membangun ruang baru lagi? Percuma, karena cepat atau lambat akan terkuasai lagi. Daripada berpikir tentang bagaimana menciptakan ruang yang bebas dari segala aturan, bagaimana jika kita kembali memikirkan mengapa suatu ruang dikuasai?

Suatu ruang dikuasai karena kesediaan baik disengaja atau tidak sekalipun dari pemilik ruang. Bagaimana hal ini bekerja? Dengan menunjukkan kebutuhan akan pengakuan eksistensi. Semakin ekstrim gambaran maupun isi suatu ruang, semakin memperlihatkan kebutuhan akan eksistensi. Mereka yang menyerah untuk menyamakan frekuensi dengan aturan di mana mereka berada, menunjukkan eksistensi mereka untuk sebuah kepuasan. Hinaan, hujatan, dan segala anggapan merupakan kepuasan karena mereka menemukan bahwa segala kata kasar itu berarti, “Aku tidak bisa seperti mereka”.

Terkadang yang terpikir, tentang dua keadaan yang saling bersebrangan, seakan membaginya cukup dengan ungkapan: gila dan waras. Waras adalah mereka yang menjalani kehidupan monoton dan sama dengan yang lain, sekumpulan manusia yang bervisi misi sama sama namun cukup kreatif untuk membuatnya variatif, namun semua kembali saat kita menggunakan abstraksi. Gila? Tentu mereka yang melakukan hal-hal berbeda, tabu, ekstrim, hingga membahayakan sebagai sarana dan cara menunjukkan eksistensi mereka.

Golongan waras, mungkin hanya bisa mengetahui tetapi tidak memahami bagaimana segala kegilaan yang dilakukan orang-orang ini menjadi sangat penting, sangat dasar, hingga menjadi suatu hal yang prinsipil. Jelas pemikiran ini, memang apa yang bisa dilakukan orang-orang gila ini saat tiba-tiba situasi negara atau setidaknya lingkungan tempat tinggalnya menjadi genting? Apa yang dapat mereka lakukan saat terjadi krisis kesehatan ataupun krisis ekonomi, sementara dalam diri mereka sendiri terdapat krisis pendidikan dan aktualisasi diri?

Suatu ruang dikuasai karena kesediaan baik disengaja atau tidak sekalipun dari pemilik ruang. Bagaimana hal ini bekerja? Dengan menunjukkan kebutuhan akan pengakuan eksistensi. Semakin ekstrim gambaran maupun isi suatu ruang, semakin memperlihatkan kebutuhan akan eksistensi.

Benarkah seperti itu pembagiannya? Barangkali mereka yang gila adalah mereka yang menjalani hidup dengan monoton dan waras adalah mereka yang menyadari bahwa hidup hanya sekali dan berusaha hidup dengan luar biasa dan menghebohkan mungkin. Namun baru adalah baru, tidak ada yang dapat menyandang predikat baru dalam waktu lama apalagi selamanya. Baru pada akhirnya akan mengalami usang dan tergantikan, trend pasti akan hilang dan berganti trend lain.

Atau barangkali mereka tidak repot-repot memikirkan eksistensi dan hanya mencari segala cara untuk memenuhi kepuasan hati, mencari yang berbeda dan dapat ditunjukkan berbeda? Namun bukankah selama itu ditunjukkan kepada luar dirinya dan mendapat reaksi dari luar, tetaplah berkaitan dengan cara manusia meraih dan menunjukkan eksistensinya?

Ada penjelasan yang lebih sederhana lagi, orang-orang ini memiliki desire of recognition, yang dalam bahasa sehari-hari dapat diartikan sebagai cari perhatian.

Menurut Fichte kita menjadi sadar akan otonomi kita sendiri dengan ditantang — atau seperti yang dicirikan oleh Fichte: “dipanggil” —dengan tindakan-tindakan subjek lain. Hanya dengan memahami bahwa tindakan orang lain itu disengaja, kita juga dapat memahami tindakan dan ucapan kita sendiri sebagai ekspresi diri yang disengaja. Pemikiran ini paling terkenal diekspresikan dalam karya Hegel, Phenomenology of spirit. Dalam fenomenologi ide ini terdapat tesis tentang bagaimana kita dapat memperoleh kesadaran diri sebagai agen otonom, yaitu hanya dengan berinteraksi dengan subjek otonom lainnya[4].

Berdasarkan pada pernyataan tersebut, maka menjadi jelas mengapa caper ini terdapat pada pemburu viral dan pelaku challenge. Kata viral tersebut akan mereka dapatkan jika orang-orang di sekitarnya, hingga khalayak luas mengakui mereka, mengakui aksi mereka. Terlebih seperti apapun proses untuk mendapatkan predikat viral, masih lebih berat upaya yang harus ditempuh untuk menjadi viral di kalangan ‘orang waras’, terutama lama waktu yang ditempuh. Pandangan Fichte ini dapat membuat para pemburu viral dan pelaku challenge terlihat logis.

Lebih jauh lagi, pandangan Fichte ini membuat saya pribadi berpikir ulang tentang dikotomi waras dan gila. Jangan-jangan hubungan kedua hal ini tidak sepenuhnya dikotomi, di dalam diri yang waras terdapat kegilaan dan begitu pula sebaliknya. Sehingga yang ada adalah ‘orang waras yang gila’ dan ‘orang gila yang waras’.


Catatan Akhir:

[1] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/07/26/selain-my-feelings-challenge-ini-empat-tantangan-viral-lainnya-yang-berbahaya

[2] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/07/26/selain-my-feelings-challenge-ini-empat-tantangan-viral-lainnya-yang-berbahaya

[3] Gambaran dari tantangan demi menghasilkan uang dapat dilihat dalam film Nerve (2016)

[4] https://plato.stanford.edu/entries/recognition/

 

 

Facebook Comments