ilustrasi, The Thinker (sumber: https://images.metmuseum.org/CRDImages/es/original/DP-13618-012.jpg)

Sudah terlanjur beredar di kepala orang Indonesia, khususnya para akademisi, bahwa (ilmu) filsafat merupakan disiplin yang jauh dari kata “menarik” dan lebih menarik belajar ilmu yang nantinya mampu mempertebal isi dompet[1]. Kasus-kasus yang sering mengasumsikan filsafat demikian, biasanya tercermin dari beberapa opini yang beredar; pertama, memandang filsafat sebagai suatu disiplin ilmu yang “abstrak”, tidak memiliki korespondensi dengan praktik-praktik teknis. Orang-orang atau akademisi yang menerima asumsi pertama ini, pada umumnya berpendapat, “Untuk apa belajar filsafat? Toh, nantinya penekun filsafat akan tetap nganggur!” Asumsi kedua biasanya berbunyi, bahwa filsafat sama sekali jauh dari kerja praksis dan hanya mengandalkan aspek teoritis semata.

Opini-opini diatas melebar luas di dalam pikiran masyarakat Indonesia seolah-olah mahasiswa atau penekun filsafat memang bercerai dengan realitas seperti fenomena alam, kemiskinan, teror, dsb. Hal ini tidak lebih dari sebuah mitos akademik yang dikembangkan oleh “mereka” yang tuna-ilmu dan tidak mau mengerti sama sekali hakikat sebenarnya belajar filsafat—tetapi disini saya tidak akan menjelaskan filsafat secara definitif.

Opini-opini lain yang juga beredar dikalangan akademik ialah mitos bahwa antara teori (disiplin Filsafat, Matematika, Fisika, Geometri, Sejarah, dst.) dan praksis adalah dua aspek yang tidak saling terkait. Golongan akademik yang berwatak teoritis cenderung mengakui teori lebih dari sekedar memahami realitas—ini adalah tipikal mahasiswa kutu-buku (hidup dalam renungan) atau yang kesehariannya hanya dihabiskan di lingkungan akademik. Adapun golongan akademik yang berwatak praksis cenderung bergumul dengan realitas yang bersifat empirik, jika perlu meminimalisir teori dan kerja konseptual. Kecenderungan dua golongan ini sebenarnya berlebihan. Mereka belum mampu membedakan teori dan praksis secara definitif, pemahaman/makna, dan hubungan konkret antara kedua aspek tersebut.

Apa itu teori dan apa itu praktis masih rancu dan kabur dalam pemahamannya. Sebagian akademisi menganggap bahwa teori adalah sesuatu yang kita dapatkan dari buku-buku, ditulis oleh para ilmuan, filsuf, dan sejarawan. Sedangkan praksis adalah sesuatu yang mereka pahami sebagai bentuk “terapan”, pola kerja, pola realisasi dari konsep statis dalam buku. Benarkah dua distingsi ini? Saya menganggap pola ini adalah keliru, anehnya kita hidup dalam kekeliruan ini.

Tidak mungkin kiranya, jika tidak ada hubungan antara teori dengan praksis dan sebaliknya mustahil sebuah praksis ada tanpa berdasarkan pada teori atau ilmu.

Apa itu teori? Secara pola definitif [2]adalah suatu ide atau sekumpulan ide-ide yang ditujukan untuk menjelaskan fakta-fakta atau persitiwa. Sekumpulan ide atau konsep tersebut adalah teori. Ia diperoleh dari akumulasi pengetahuan yang lahir sebagai penjelas peristiwa(baca:Descartes). Lahirnya ide atau konsep tersebut yang kemudian kita sebut dengan ilmu. Ilmu secara ontologis memang tidak ada hubungannya dengan pola praktek kerja, akan tetapi ia menjelaskan dan melancarkan pekerjaan kita. Dengan demikian, ilmu tidak akan lahir tanpa adanya ide atau konsep.

Apa itu praksis? Budi Hardiman, dalam bukunnya Melampaui Positivisme dan Modernitas(2003), kepada tingkah laku, tindakan, perbuatan-perbuatan, pelaksanaan-pelaksanaan, [dan] kegiatan-kegiatan manusia, praksis disini bukan “sistem kerja”, labour, atau apa yang mengindikasikan praktek-praktek seperti perbengkelan dan medis. Praksis merujuk pada tindakan komunikatif yakni hubungan antar subjek sosial, antar manusia untuk mencapai hubungan timbal balik. Hubungan komunikatif atau meminjam istilah Habermas, praksis komunikatif, merupakan dua upaya taut-paut. Tidak mungkin kiranya, jika tidak ada hubungan antara teori dengan praksis dan sebaliknya mustahil sebuah praksis ada tanpa berdasarkan pada teori atau ilmu.

Dari dua pendefinisian sederhana ini, teori dan praksis tidak benar-benar berjarak dan memiliki distingsi secara ketat. Kita bisa mendapatkan teori dari pembacaan kita terhadap semesta, tentunya melalui media seperti buku atau bacaan dalam bentuk lain, yang perlahan-lahan praksis senantiasa menyertai keberlangsungan teori tersebut agar dapat dipahami lebih lanjut.

Tidak akan ada teori gravitasi, jika Isaac Newton tidak beranjak dari aspek praksis yakni fenomena jatuhnya Apel. Sama halnya, tidak akan ada teori roh absolut atau “geist” dari Hegel, jika dia tidak membaca fenomena sejarah yang tertulis secara langsung oleh buku-buku maupun kondisi sosio-politik saat itu.

Satu hal yang penting untuk dicatat dari dua pendefinisian tersebut adalah titik keberangkatan dari suatu teori atau praksis. Keduanya bersumber dari akal sehat, common sense. Akal tersebut yang menggiring manusia untuk bersikap ilmiah dan rasional. Sehingga berkat anugerah akal, manusia mampu menyelaraskan dua aspek yang bertaut-paut tersebut.

**

Sekarang kita kembali kepada inti persoalan kita, yaitu benarkah disiplin filsafat sama sekali bercerai dari realitas? Benarkah realitas itu hanya mampu dipahami dalam ranah praksis?

Pertanyaan tentang realitas bukanlah perkara yang mudah untuk dijawab. Para filsuf yang berikhtiar menjelaskan realitas bukan berarti mereka adalah pengangguran atau pun kurang kerjaan. Tetapi, alasan para filsuf masih berusaha menjelaskan realitas, oleh sebab posisi dirinya sebagai manusia, sebagai mahluk yang ingin mengerti eksistensi kediriannya dan karena mereka bukanlah benda mati layaknya batu.

Salah satu kelemaham kita dalam memahami filsafat adalah stagnansi pemahaman, berpola mandul yang melulu tertuju pada “kegunaan” atau “ manfaat”, tanpa mau menjalin hubungan lebih dalam dengan disiplin (ilmu) tersebut. Filsafat bukanlah lahan perusahaan yang mampu mencetak manusia-manusia bermental konsumtif. Hubungan antara subjek dan realitas adalah timbal balik. Antara manusia dan objek yang dipahaminya terdapat timbal balik yang berguna bagi keberlangsungan hidup. Filsafat bermain peran dalam menganalisis timbal-balik tersebut. Maka, filsafat adalah kerabat realitas bukan musuh.

….filsafat selalu dimengerti sebagai disiplin anti-realitas, akan tetapi filsafat sebenarnya berkaitan erat dengan kehidupan.

Saat ini, golongan manusia milenial berbondong-bondong menyerbu perindustrian dan kerja kapitalistik, filsafat seakan tidak memiliki tempat di dalam ruang pertumbuhan teknologi yang dikatakan sudah mencapai revolusi industri tahap 4.0, ketika semua hal serba cepat dan praktis. Asumsi ini semakin mempertebal mitos bahwa filsafat tidak ada nilai praksis. Sekali lagi saya telah mengatakan praksis bukanlah sistem kerja, labour, atau apa pun itu, melainkan daya yang mendorong ilmu atau konsep lahir—dan tentunya berlaku bagi disiplin ilmu-ilmu abstrak lainnya.

Filsafat sebagai teori berupaya menjelaskan dan memahami realitas dalam porsinya yang ketat, sistematis, teliti, dan komunikatif. Filsafat sebagai praksis, sesuai definisi yang saya tulis, adalah pola komunikatif antara apa yang ada di buku, realitas (alam, manusia, dan objek benda lainnya), dengan keberperilakuan kita. Filsafat dan ilmu abstrak lainnya memang tidak memiliki bentuk kerja seperti bentuk kerja medis, tetapi melalui filsafat kita mampu mengetahui dan memahami pergerakan peradaban serta kehidupan, meski filsafat selalu “dianaktirikan”. Setidaknya, filsafat masih memiliki manusia sebagai subjek pemaknaan, menikmati alam sebagai sari pati kehidupan, menikmati “gerak” benda-benda mati sebagai bagian dari sesuatu yang memiliki daya keberadaan. Menikmati, mengamati, dan memahami itu semua adalah kerja praksis yang jarang dilihat oleh orang-orang di luar lingkungan filsafat.

Maka, mitos yang disematkan pada filsafat sejatinya merupakan kesalah pahaman banyak sarjana terhadapnya. Pertama, para sarjana tidak mampu membedakan apa itu teori dan praktis secara definitif, pemahaman serta hubungannya. Kedua, filsafat selalu dimengerti sebagai disiplin anti-realitas, akan tetapi filsafat sebenarnya berkaitan erat dengan kehidupan.

Dari para ilmuan, filsuf, dan mereka yang bekerja dibidang sosial-humaniora, kita belajar bahwa kerja mereka bukanlah “kerja rodi”, tuntutan upah, maupun nafsu mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Mereka bekerja dalam rangka menjelaskan kehidupan. Teori dan praktik ditujukan untuk menafsir kehidupan, tetapi tidak untuk menjadi bigot kehidupan.

Filsafat, sekali lagi, bukanlah mitos (yang hanya ada di) akademik. Filsafat adalah kehidupan itu sendiri.

 


Catatan Akhir:

[1] Ini adalah sifat penekun filsafat bermental kapitalistik. Filsafat hanya dimengerti sebagai manifestasi kerja:  Lih artikel https://mojok.co/abm/esai/lulus-s2-jurusan-filsafat-harus-siap-nganggur-karena-dianggap-cuma-bisa-mikir/

 

[2] Kamus Merriam Webster, “an idea or  set of ideas that is intended to explain facts or events”

Facebook Comments