Scene dalam film "Irrational Man"

Apa yang mesti dilakukan seorang filsuf di abad setelah berkembangnya psikologi? Atau dengan kata lain: apa yang mesti dilakukan filsafat terhadap hasil-hasil penelitian ilmiah psikologi tentang manusia? Pertanyaan tersebut memojokkan filsafat ke dalam posisi dilematis. Pertama, jika filsafat mengamini apa yang dikatakan oleh psikologi, maka berarti ia bunuh diri. Kedua, jika filsafat menolak mentah-mentah bukti empiris yang diajukan oleh psikologi, maka ia akan dihantui oleh sesuatu yang hendak dibunuhnya, yaitu dogmatisme. Mengapa?

Kita mulai dari yang pertama. Psikologi eksperimental, seperti yang akan saya tunjukkan nanti, punya bukti-bukti empiris bahwa manusia itu irasional. Oleh karena itu, di tahun-tahun 1970-an, banyak para psikolog berkomentar negatif tentang rasionalitas manusia. Semisal, sebagaimana dicatat Jonathan Cohen[1], beberapa komentar berikut ini: “temuan-temuan psikologis yang dapat dipercaya punya implikasi suram (bleak implications) bagi rasionalitas manusia,” (Nisbett & Borgida, 1975); “orang yang ingin melihat manusia sebagai makhluk rasional, pasti akan menemukan hasil yang mengecewakan,” (Kahneman & Tversky, 1972); atau “manusia sering secara sistematis melanggar prinsip-prinsip pembuatan keputusan secara rasional ketika menilai probabilitas, membuat prediksi, atau usaha-usaha lain yang berkaitan dengan soal probabilitas,” (Slovic, Fischhoff & Lichtenstein, 1976).

Jika hasil penelitian ilmiah psikologi eksperimental itu diterima begitu saja, maka filsafat sebenarnya hanya ilusi sejarah. Subjek filsafat tidak pernah berpikir secara rasional, tetapi hanya sebagai manusia bijak yang menunggu wangsit untuk kemudian diwartakan kepada sesamanya. Filsafat, dengan demikian, akan selalu lolos dari kritik, bukan karena ia selalu benar atau tak bisa dikritik, melainkan karena basis epistemik yang memungkinkan kritik itu tidak ada. Oleh karenanya, sekali filsafat mengafirmasi tesis irasionalitas manusia, pada saat itulah ia sedang memaklumatkan kematiannya.[2]

Pilihan kedua, filsafat menolak bukti-bukti empiris dari psikologi. Walaupun pilihan sikap seperti ini punya presedennya dari artikel sepanjang 53 halaman yang ditulis oleh Jonathan Cohen[3], tapi bagi saya itu bukanlah sikap yang tepat bagi filsafat. Dengan mengambil sikap ini, filsafat akan menjadi sejenis solipsisme yang hanya memikirkan pikirannya sendiri, tanpa mau tahu apa yang dipikirkan oleh, misalnya, sains atau jenis-jenis pengetahuan yang lain. Pada titik ini, filsafat jadi sama “buta”-nya dengan musuh yang dari awal hendak dilawannya, yaitu dogmatisme.

Jika pilihan pertama mengarah pada kematian filsafat dan akhirnya menjadikan filsafat tidak berdaya di hadapan fideisme dan dogmatisme, maka pilihan kedua mengurung filsafat ke dalam keyakinannya sendiri dan itu berarti menjadikan filsafat sebagai fideisme dalam bentuknya yang lain. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menyelamatkan filsafat dari jebakan fideisme religius saat psikologi mewartakan tesis irasionalitas manusia. Sikap yang akan diambil artikel ini adalah mengafirmasi tesis irasionalitas manusia dan kemudian memberikan justifikasi rasional terhadapnya. Dengan sikap seperti ini, filsafat masih bisa memperpanjang umurnya tanpa harus bersikap dogmatis terhadap ajaran rasionalismenya.

Oleh karena itu, pembahasan artikel ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, penjelasan tentang klaim psikologi eksperimental terkait irasionalitas manusia serta bukti-bukti yang mendukungnya. Kedua, penjelasan tentang problem yang dihadapi oleh tesis irasionalitas manusia. Ketiga, upaya untuk menemukan basis epistemik yang rasional untuk menjustifikasi tesis irasionalitas manusia. Pada bagian inilah upaya penyelamatan filsafat yang tengah menghadapi tantangan dilematis dari psikologi dilakukan.

Memahami Tesis Irasionalitas

Sebelum lebih jauh memahami tesis irasionalitas manusia, kita perlu memahami kata dasarnya, yaitu rasional, beserta kata-kata derivatifnya, seperti rasionalitas dan rasionalisme. Kata ‘rational’ dalam bahasa Inggris punya pengertian “(of behaviour, ideas, etc.) based on reason rather than emotions,” (Oxford Advanced Learner’s Dictionary) atau “relating to, based on, or agreeable to reason,” (Merriam-Webster). Dari pengertian tersebut, setiap subjek yang mendapat ajektif ‘rasional’ berarti sesuatu yang didasarkan pada pertimbangan nalar daripada emosi. Sebaliknya, jika sebuah keputusan atau tindakan lebih didasarkan pada emosi subjektif manusia, maka berarti keputusan atau tindakan tersebut tidak rasional.

Rasionalitas, dengan demikian, dapat dipahami sebagai kemampuan manusia untuk berpikir sesuai dengan prinsip-prinsip normatif penalaran (logika). Sedangkan rasionalisme lebih merujuk pada suatu pandangan bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh dengan penalaran logis yang bersifat a priori yang berdasarkan pada kriteria-kriteria normatif logika. Jika ‘rasionalitas’ diimbuhi privative ‘i’, maka ia akan menjadi negasi dari ‘rasionalitas’. Tesis rasionalitas manusia, karenanya, secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah klaim bahwa kemampuan berpikir manusia merepresentasikan prinsip-prinsip normatif penalaran; sedangkan tesis irasionalitas manusia adalah klaim bahwa kemampuan berpikir manusia merepresentasikan prinsip-prinsip penalaran yang berbeda dari aturan normatif yang seharusnya.[4]

Psikologi, berdasarkan hasil eksperimentasinya, secara tegas mengafirmasi tesis irasionalitas manusia. Manusia dalam membuat sebuah pilihan ataupun keputusan di antara sekian banyak kemungkinan (probability) tidak mampu menjelmakan prinsip-prinsip normatif penalaran yang seharusnya dilakukan. Dengan kata lain, ketika dihadapkan pada problem probabilitas, manusia memilih berdasarkan kecenderungan emosionalnya. Bagaimana eksperimen yang dilakukan oleh psikologi untuk membuktikan hal ini? Salah satu contoh eksperimen yang terkenal adalah teka-teki logika yang–ditemukan oleh seorang psikolog kognitif Peter Cathcart Wason–diberi nama Wason selection task (WST).

Teka-teki WST itu juga dikenal dengan istilah four-card problem karena menggunakan empat kartu. Andaikan ada empat kartu di atas sebuah meja yang ditunjukkan kepada Anda. Masing-masing kartu punya dua sisi. Satu sisi berisi abjad, satu sisi lainnya berisi angka. Dua kartu pertama menampilkan sisi abjad yang masing-masing terdiri dari huruf A dan B. Dua kartu berikutnya menampilkan sisi angka yang masing-masing terdiri dari angka 5 dan 8 (lihat gambar di bawah ini).

Sang penguji (experimenter) kemudian memberitahu Anda bahwa jika terdapat huruf A pada satu sisi kartu, maka sisi lainnya pasti terdapat angka 5. Tugas Anda adalah menguji kebenaran pernyataan sang penguji tersebut dengan membalik paling banyak dua kartu. Kartu manakah yang akan Anda balik?

Ketika eksperimen ini dilakukan, hanya sekitar 10% dari subjek eksperimen yang berhasil membuat pilihan yang tepat. Sekitar 75-90 % subjek eksperimen memilih untuk membalik kartu (a) dan (c), atau hanya kartu (a). Padahal pilihan yang benar adalah kartu (a) dan (d), karena hanya dua kartu itulah yang bisa membuktikan kebenaran pernyataan sang penguji. Apa pun yang ada di sisi lain kartu (b) dan (c) itu tidak relevan dengan pernyataan sang penguji di atas.[5] Mengapa? Mari kita ingat kembali materi logika dasar, sebab teka-teki di atas hanya bentuk kasuistik dari implikasi material (A→5). Penyelesaiannya adalah dengan menggunakan model penalaran modus ponens dan modus tollens.

Pertama, dengan modus ponens, untuk membuktikan proposisi implikatif A→5, maka kartu (a) yang berhuruf A harus dibalik. Jika ternyata di sisi lain kartu (a) bukan angka 5, maka pernyataan sang penguji di atas salah. Kedua, dengan modus tollens, kita harus membalik kartu yang bukan angka 5, yaitu kartu (d), untuk memastikan bahwa ia di sisi lainnya tidak memiliki huruf A. Jika ternyata kartu (d) yang salah satu sisinya adalah angka 8 itu di sisi lainnya terdapat huruf A, maka pernyataan sang penguji salah. Itu berarti bahwa ada kartu berhuruf A tetapi sisi lainnya bukan angka 5. Padahal klaimnya: jika satu sisi A, maka sisi lainnya pasti 5. Oleh karena itu, membalik kartu (a) saja tidak cukup untuk membuktikan kebenaran pernyataan sang penguji.

Bagaimana dengan kartu (b) dan (c)? Dari dua kartu itu kita bisa melihat huruf B dan angka 5 pada masing-masing salah satu sisinya. Jika sisi lain dari kartu (b) bukan angka 5, maka itu tidak berpengaruh pada pernyataan sang penguji, karena sang penguji tidak membuat klaim apa pun tentang kartu berhuruf B. Sang penguji hanya membuat klaim tentang kartu berhuruf A. Kartu (c) yang salah satu sisinya terdapat angka 5 juga tidak relevan untuk dijadikan dasar pembuktian pernyataan sang penguji. Jadi, meskipun di sisi lain kartu berangka 5 itu ternyata tidak terdapat huruf A, maka pernyataan sang penguji di atas tetap tidak bisa disalahkan. Mengapa? Karena proposisi A→5 tidak menjadikan angka 5 eksklusif pada huruf A. Angka 5 bisa berada di kartu berhuruf apa pun selain A. Ini sama dengan proposisi, semisal, “jika hujan turun, maka jalanan basah”. Konsekuen “jalanan basah” tidak eksklusif pada anteseden “hujan turun”, sebab bisa jadi jalanan basah bukan karena hujan, melainkan karena ada air selokan yang meluap.

Itu salah satu bentuk eksperimen yang membuktikan bahwa manusia pada dasarnya adalah irasional. Hasil eksperimen semacam itu semakin menemukan justifikasinya dalam sejarah dan juga dalam kehidupan sehari-hari di dunia kita. Salah satu momen paling bersejarah dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah Revolusi Kopernikan. Revolusi ilmiah yang diprakarsai oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) ini mampu membalik seratus delapan puluh derajat pandangan kita tentang semesta. Bukan bumi tempat subjek pengamat yang merupakan pusat tata surya, melainkan matahari lah pusat tata surya. Pandangan heliosentrismenya itu dituangkan dalam sebuah risalah berjudul On the Revolutions.

Fakta yang tak banyak diketahui orang di balik kesuksesan Copernicus dalam melakukan revolusi ilmiah adalah sesuatu yang eksternal dari bukti-bukti ilmiah yang dijabarkan Copernicus untuk mendukung pandangannya. Sebelum memulai penjelasannya tentang bukti-bukti empiris dan matematis dari heliosentrisme, Copernicus terlebih dahulu menulis satu surat khusus kepada Paus Paul III. Berikut adalah salah satu bagian paragrafnya:

“Saya yakin bahwa astronom yang tajam dan terpelajar akan sepakat dengan saya, jika mereka mau memeriksa dan mempertimbangkan, tidak secara dangkal tetapi secara menyeluruh, apa yang saya kemukakan dalam buku ini. Tetapi, agar orang terpelajar maupun orang tidak terpelajar (uneducated) menganggap saya tidak menghindar dari penilaian orang lain sama sekali, saya memilih untuk mendedikasikan studi saya ini untuk Keagungan Yang Mulia daripada orang lain. Karena bahkan di daerah terpencil tempat saya hidup, Yang Mulia dianggap sebagai otoritas tertinggi lantaran kehebatan Yang Mulia dan kecintaan Yang Mulia pada buku-buku dan astronomi. Oleh karena itu, meskipun dengan wibawa Yang Mulia, Yang Mulia dapat dengan mudah membuat putusan untuk mendiamkan serangan fitnah, namun—sebagaimana kata pepatah—tetap tidak ada obat untuk sikap suka memfitnah.”[6]

Kutipan tersebut merepresentasikan keseluruhan isi surat Copernicus kepada Paus. Artinya, peristiwa penting dalam bidang sains pun masih melibatkan sisi emosionalitas. Di situ Copernicus tampak sedang memberikan persuasi daripada argumentasi untuk memengaruhi perasaan Paus. Oleh karena itulah, Copernicus selamat dari dakwaan gereja sekalipun mewartakan pengetahuan yang bertentangan dengan doktrin resmi gereja. Jika semisal Copernicus tidak pernah berpikir untuk melakukan tindakan persuasif terhadap Paus, maka bisa jadi paradigma ilmiah yang tetap berkembang sampai saat ini adalah geosentrisme, dan kita tidak akan pernah mengenal nama Copernicus dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Justifikasi berikutnya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Semisal saat kita melihat orang yang mulanya sangat rajin, cerdas, dan selalu punya pilihan-pilihan cemerlang nan rasional, tetapi karena jatuh cinta atau patah hati, ia menjadi berantakan, bukan lagi anak muda dengan semangat belajar yang berkobar-kobar, kita akan segera berkomentar: “Ah, hanya manusia biasa!” Komentar tersebut seolah-olah menegaskan bahwa saat orang itu rasional, ia bukan sebagai manusia biasa, atau malah melampaui manusia, tetapi saat orang itu menjadi sosok yang emosional seolah kemanusiaannya kembali menjelma. Dengan kata lain, sifat kemanusiaan itu identik dengan emosionalitas yang dapat berseberangan dengan rasionalitas.[7]

Problem Tesis Irasionalitas

Berdasarkan bukti-bukti empiris yang dijabarkan di atas tampak bahwa irasionalitas merupakan fakta fundamental manusia. Namun, apakah dengan itu berarti bahwa irasionalitas manusia sudah sah sebagai sebuah tesis? Sayangnya: belum! Irasionalitas sebagai sebuah tesis masih dihantui oleh problem inkonsistensi logis, dan ini nantinya akan berimplikasi pada pembatalan tesisnya sendiri secara otomatis. Problem itu secara umum dapat disebut problem self-refutation atau penyangkalan-diri.

Secara sederhana, self-refutation ini dapat dipahami sebagai sebuah tesis/statemen yang mengandung kontradiksi dalam dirinya sehingga dapat menyangkal (refute) dirinya sendiri. Ia setidaknya memiliki tiga macam bentuk: 1) pragmatic self-refutation; 2) absolute self-refutation; dan 3) operational self-refutation.[8] Self-refutation pragmatis adalah sebuah statemen yang disampaikan dengan cara yang bertetangan dengan pokok soal yang disampaikan. Semisal, saya menulis “Saya tidak bisa menulis”. Kalimat “Saya tidak bisa menulis” jelas salah dengan sendirinya, karena kalimat itu sendiri ternyata ditulis oleh saya sendiri. Contoh lain: saya berkata “saya tidak bisa bicara”.

Self-refutation absolut adalah statemen yang menyangkal dirinya karena secara substansial mengandung kontradiksi internal. Semisal, kata-kata bijak yang begitu terkenal dari Sokrates, “Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa”; atau “kita dapat membuktikan bahwa tidak ada yang dapat dibuktikan”. Tahu bahwa saya tidak tahu itu sudah merupakan sebuah pengetahuan, sehingga klaim bahwa “saya tidak tahu apa-apa” dengan sendirinya terbatalkan. Demikian juga dengan pembuktian bahwa tidak ada yang dapat dibuktikan.

Self-refutation operasional adalah bentuk penyangkalan-diri yang lebih kuat daripada penyangkalan-diri pragmatis, tetapi lebih lemah dibandingkan penyangkalan-diri absolut. Jika dalam self-refutation pragmatis pokok soal yang disampaikan bertentangan dengan cara ia disampaikan, maka dalam self-refutation operasional ini pokok soalnya sama sekali tidak bisa disampaikan, walaupun kontennya bisa saja benar. Semisal, dalam kehidupan sehari-hari bisa saja saya memang tidak punya keyakinan pada apa pun, tetapi saya tidak bisa menyampaikan hal itu secara koheren. Sebab, untuk menyatakan “saya tidak punya keyakinan pada apa pun” itu butuh sebuah keyakinan—dan jika itu dilakukan, berarti pokok soal yang disampaikan dengan sendiri ternegasikan.

Tesis irasionalitas juga merupakan salah satu bentuk dari self-refutation. Jika tesisnya dieksplisitasi, kira-kira berbunyi seperti ini: saya menyimpulkan bahwa semua kesimpulan yang dibuat oleh manusia itu melanggar norma-norma penalaran. Artinya, jika benar bahwa semua kesimpulan yang dibuat oleh manusia itu melanggar norma-norma penalaran, maka kesimpulan apa pun yang dibuat oleh seseorang (termasuk psikolog) semestinya juga tidak valid—betapa pun itu sudah disertai dengan bukti-bukti empiris. Oleh karena itu, tesis ini lebih tepat disebut sebagai self-refutation operasional. Berdasarkan bukti empiris, kita akui bahwa manusia memang irasional. Persoalannya: bagaimana para psikolog itu, yang adalah manusia, bisa membuat tesis yang rasional saat ia sendiri diklaim tidak rasional? Maka, sebagaimana problem self-refutation operasional, pokok soal irasionalitas manusia tidak bisa didemonstrasikan, karena untuk melakukan demonstrasi atas irasionalitas manusia kita butuh rasionalitas.

Filsafat dapat dengan mudah membuat argumen semacam itu. Pokok argumentasinya: tesis irasionalitas tidak dapat diakses (inaccessible) secara epistemologis. Sebanyak apa pun bukti empiris yang disajikan oleh para psikolog, bagi filsafat, kita tetap tidak akan bisa punya akses pengetahuan yang valid tentang irasionalitas. Inilah problem pilihan kedua dari filsafat: ia mengabaikan bukti-bukti empiris yang diajukan oleh sains, hanya karena pikirannya sendiri tidak bisa mengakses hal itu. Sebuah solipsisme naif, saya kira! Oleh karena itu, tantangan berat artikel ini berikutnya adalah bagaimana filsafat bisa punya akses epistemologis terhadap bukti-bukti empiris yang disajikan oleh psikologi terkait irasionalitas manusia?

Akrobat Fisikalisme Non-Reduktif

Untuk menyelesaikan persoalan bagaimana kita bisa punya justifikasi rasional terhadap tesis irasionalitas manusia, kita dapat meniru akrobat ontologis emergentism dalam menjelaskan dunia. Emergentism ini adalah salah bentuk dari varian fisikalisme non-reduktif. Ia setidaknya punya tiga doktrin utama: landasan ontologis, kemunculan sifat, dan ketidakreduksian sifat-sifat yang muncul (the irreducibility of the emergents).[9]

Secara ontologis, sebagai bagian dari fisikalisme, emergentism mengasumsikan bahwa semua hal yang eksis di dunia ruang dan waktu adalah partikel-partikel dasar yang diakui dalam fisika. Dengan kata lain, hanya yang bersifak fisik lah yang eksis. Namun, dari ranah fisikal yang merupakan basis ontologis yang fundamental, dapat muncul (emerge) sifat-sifat tertentu yang menunjukkan kompleksitas struktur ranah fisikal. Contoh sederhananya adalah sifat transparan pada air. Sifat itu tidak ada pada partikel material oksigen dan hidrogen. Namun, ketika partikel oksigen dan hidrogen itu disatukan, jadilah air yang punya sifat transparan. Sifat-sifat yang muncul (emergent properties) itu tidak dapat direduksi ke, dan tidak dapat diprediksi dari, fenomena di level yang lebih rendah yang darinya mereka muncul. Artinya, kita tidak bisa menjelaskan sifat transparan air itu di level partikel material oksigen dan hidrogen, karena pada level itu kita bahkan tidak bisa memprediksi bahwa jika partikel oksigen dan hidrogen disatukan akan muncul sifat transparan.

Mengikuti akrobat ontologis emergentism tersebut, kita akui bahwa irasionalitas memang merupakan fakta fundamental manusia. Namun, ketika manusia sudah mencapai tahapan struktur yang kompleks (melalui perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan), dalam dirinya dapat muncul sifat-sifat tertentu yang memungkinkan manusia menjadi rasional.

Pertama-tama, untuk menghindari solipsisme pikiran filosofis, filsafat harus menerima bukti-bukti empiris yang disajikan oleh psikologi bahwa manusia irasional. Namun, agar filsafat tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan pascamodernisme, maka ia harus menemukan basis epistemik yang rasional untuk menjustifikasi tesis irasionalitas.

Sifat-sifat yang memungkinkan rasionalitas itu tidak dapat lagi direduksi ke dalam fakta fundamental irasionalitas manusia. Oleh karenanya, dengan rasionalitas yang muncul di level yang lebih tinggi dari level fakta fundamentalnya, manusia dapat punya dasar epistemik yang rasional untuk menjelaskan irasionalitasnya.

Hal tersebut dimungkinkan karena sifat rasional yang muncul pada struktur yang kompleks sudah bersifat independen dari basis fundamentalnya—dalam arti: rasionalitas yang muncul tidak lagi dapat direduksi ke dalam irasionalitas yang dianggap sebagai fakta fundamental manusia. Penyelesaian semacam ini saya pikir mampu menyelematkan filsafat dari dua pilihan yang sama-sama merugikan.

Pertama-tama, untuk menghindari solipsisme pikiran filosofis, filsafat harus menerima bukti-bukti empiris yang disajikan oleh psikologi bahwa manusia irasional. Namun, agar filsafat tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan pascamodernisme, maka ia harus menemukan basis epistemik yang rasional untuk menjustifikasi tesis irasionalitas. Mungkin Anda masih akan berpikir bahwa dengan cara itu filsafat justru semakin menegaskan irasionalitas—bahkan dengan cara yang rasional! Cara itu kemudian menjadikan filsafat sama gelapnya dengan pascamodernisme. Tapi tidak demikian sebenarnya.

Jika dalam varian filsafat pascamodern rasionalitas sama sekali tidak dimungkinkan, sehingga pengetahuan yang mungkin selalu didasarkan pada dorongan hasrat, pada diskursus wacana, pada relasi kuasa, atau pada kearifan lokal, maka dalam model berpikir emergentism rasionalitas itu tetap dimungkinkan sekalipun ia sekali waktu menjustifikasi sesuatu yang bertentangan dengan dirinya (irasionalitas). Kerena rasionalitas merupakan realitas yang independen dari irasionalitas, maka filsafat tetap memungkinkan kita untuk berdebat secara rasional tentang klaim apa pun. Sekalipun fakta fundamental manusia adalah irasional, filsafat masih memungkinkan kita, dengan rasionalitas yang muncul di level atas, untuk melakukan kritik rasional terhadap fideisme religius—yang tidak hanya menjelma dalam rupa agama, tetapi juga bisa berupa kapital, pasar, dan komoditas simbolik.

Kebangkrutan filsafat pascamodern adalah karena ia tidak mampu mengatakan “tidak” secara rasional bahkan terhadap musuhnya sendiri. Ia hanya mampu memberikan seruan etis “hargailah perbedaan!”—sekalipun perbedaan itu hendak membunuhnya. Menjustifikasi irasionalitas manusia dengan model emergentism ini tidak punya ekses negatif seperti pascamodernisme meruntuhkan rasionalitas. Meskipun mengafirmasi fakta fundamental manusia adalah irasional, akrobat ontologis emergentism dengan topangan epistemologisnya masih memungkinkan rasionalitas. Daya kritis filsafat, karenanya, terselamatkan dari ancaman amputasi. Dan itu berarti filsafat masih mungkin untuk hidup seribu tahun lagi!

 


[1] Lih. Jonathan Cohen, “Can Human Irrationality be Experimentally Demonstrated?”, The Behavioral and Brain Sciences (1981) 4, 317-370.

[2] Pilihan sikap semacam ini, dengan berbagai variannya, bisa kita lihat dalam tren filsafat pascamodernisme. Sejak Immanuel Kant melancarkan kritiknya terhadap metafisika, dengan mempertimbangkan batas-batas kognitif manusia, pengetahuan rasional tentang yang absolut (das Ding an sich) tidak lagi dimungkinkan untuk ada. Pengetahuan manusia, dalam filsafat pascamodernisme, karenanya, bukan lagi pengetahuan rasional, melainkan pengetahuan “irasional” yang mewujud dalam konsep, misalnya, “kehendak kuasa” (Nietzsche), “hasrat” (Lacan), “relasi kuasa-pengetahuan” (Foucault), dan “intertekstualitas” (Derrida). Varian filsafat pascamodern itu, oleh Quentin Meillassoux, disebut sebagai korelasionisme yang memblokade pikiran (rasional) manusia untuk mengetahui sesuatu-pada-darinya (things in themselves), sehingga, karenanya, satu-satunya pengetahuan yang dimungkinkan hanyalah pengetahuan yang selalu berkorelat dengan subjektivitas manusia. Pada titik ini, selain menumbuhkan relativisme dengan seruan untuk merayakan perbedaan, filsafat pascamodern juga menemui tumpulnya nalar rasional, sehingga ia menjadi demikian tidak berdaya secara epistemik untuk melakukan kritik rasional terhadap, misalnya, dogmatisme agama. Filsafat, karenanya, kehilangan daya kritisnya. “Correlationism provides no positive ground for any specific variety of religious belief, but it undermines reason’s claim to be able to disqualify a belief on the grounds that its content is unthinkable.” Lih. Quentin Meillassoux, After Finitude: An Essay on the Necessity of Contingency, terj. Ray Brassier, London: Continuum, 2008, hlm. 41.

[3] Cohen menolak tesis irasionalitas karena tesis itu tidak tepat jika didemonstrasikan secara eksperimental. Sebab eksperimen untuk menguji kemampuan rasional manusia, menurutnya, menggunakan kriteria normatif yang mendapat kredensialnya justru dari sistematisasi intuisi. Lih. Jonathan Cohen, Op.cit.

[4] “What I call the rationality thesis says that human reasoning competence embodies the normative principles of reasoning, while the irrationality thesis says that human reasoning competence embodies principles of reasoning that diverge from the norms.” Lih. Edward Stein, “Can We Be Justified in Believing that Humans Are Irrational?”, Philosophy and Phenomenological Research, Vol. 57, No. 3 (Sep., 1997), hlm. 545-565.

[5] George Botterill & Peter Carruthers, The Philosophy of Psychology, Cambridge: Cambridge University Press, 1999, hlm. 109.

[6] Lih. Nicolaus Copernicus, On the Revolutions, terj. Edward Rosen, Baltimore: John Hopkins University, (versi ebook tanpa tahun dan halaman).

[7] Saya mendapatkan contoh ini dari salah satu fragmen dalam buku Yosie Hizkia Polimpung, Ontoantropologi: Fantasi Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux, Yogyakarta: Aurora, 2017.

[8] Lih. J. L. Mackie, “Self-Refutation–A Formal Analysis”, The Philosophical Quarterly (1950-), Vol. 14, No. 56 (Jul., 1964), hlm. 193-203.

[9] Lih. Jaegwon Kim, Philosophy of Mind, Colorado: Westview Press, 1998, hlm. 227-228.

 

LEAVE A REPLY