Sumber: www.rfa.org

Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya.”

—Karl Marx, “Tesis-tesis tentang Feurbach”, 1845

Kutipan kalimat tersebut akan terus menggema di telinga para Marxian sebagai suatu pernyataan paling mendasar sebagai dalih bahwa tujuan akhir dari marxisme ialah revolusi. Filsafat marxisme pada dasarnya memang merupakan kritik atas kebekuan filsafat Jerman yang idealistik. Kritik Marx terhadap Hegel, pada awalnya, dan terhadap Feurbach setelahnya menghasilkan suatu filsafat sendiri oleh Marx yang dikenal dalam konsep materialisme dialektika/historis. Lewat Hegel, Marx membuat konsep dialektika memiliki lompatan dari idealisme ke arah materialisme; dan atas jasa Feurbach lompatan tersebut menjadi mungkin terjadi.

Materialisme dalam Marxisme bukan sekadar larut dalam perdebatan filsafat yang sejak lama terjadi; tentang apakah pikiran yang menentukan keadaan atau keadaan yang menentukan pikiran. Materialisme dalam marxisme bukan sebatas pilihan bahwa keadaan lebih dahulu ketimbang pemikiran, melainkan bahwa baik keadaan maupun pikiran hanya nyata jika berpangkal pada aktivitas manusia. Untuk memahami hal ini lebih lanjut lah kita harus memulai dari beberapa pikiran Feurbach yang berpengaruh pada konsepsi Marx terhadap materialisme.

Materialisme Feurbach

Materialisme Feurbach merupakan sebuah respon atas kondisi yang dikritik oleh Feurbach sebagai keterasingan dalam agama. Agama sebagai serangkaian ide-ide yang mendahului keberadaan manusia, merupakan premis yang ingin dibalik oleh Feurbach—bukan ide-ide dalam agama yang menentukan keberadaan manusia, tetapi manusialah yang menentukan ide-ide yang terdapat dalam agama. Manusia sebagai titik pangkal (antroposentris) inilah yang menginsipirasi Marx untuk melandasi pemikirannya tentang materialisme.

Namun bagi Marx, materialisme Feurbach merupakan materialisme yang vulgar, dan tetap menyimpan sisa-sisa idealisme dalam berbagai tesisnya. ‘Manusia’ yang dimaksud Feurbach masih merupakan ‘manusia ideal’ yang mendambakan kebahagaian dengan menciptakan agama baru atas nama cinta. Lebih dari itu, Marx juga mengkritik filsafat materialisme lama yang hanya menyentuh objek di luar manusia, tanpa melihat bahwa segala aktivitas manusia juga merupakan fokus dari materialisme;

“Ajaran materialis bahwa manusia itu adalah hasil keadaan dan didikan, dan bahwa, oleh karenanya, manusia yang berubah adalah hasil keadaan-keadaan lain,dan didikan yang berubah, melupakan bahwa manusialah yang mengubah keadaan dan bahwa pendidik itu sendiri memerlukan pendidikan.”

Materialisme Dialektis/Historis

Gagasan Marx yang lahir dari kritik atas Hegel dan Feurbach adalah materialisme dialektis dan materialisme historis. Secara ringkas, materialisme Marx mencoba merujuk bagaimana gerak sejarah sebagai landasan materialismenya. Gerak sejarah tersebut tidaklah bergerak statis—sebagai hukum absolut yang mengatur—melainkan melalui sebuah proses dialektis; di mana gerak yang dimaksud menemukan negasi-negasinya yang nyata dalam proses produksi dan melahirkan kemajuan-kemajuan dalam peradaban manusia. Dan titik utama dari gerak sejarah tersebut adalah tindakan-tindakan manusia yang mengubah sejarah.

“Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sekehendak hati mereka; mereka tidak membuatnya di bawah situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, tetapi di bawah situasi-situasi yang sudah ada, yang ditentukan dan ditransmisikan dari masa lalu.”

Maka kesimpulan yang terlontar tentang materialisme Marx—baik yang keluar dari mulut para marxian maupun dari pengamat yang mengolok-olok marxisme—yang masih mengandaikan materialisme sebagai pertentangan antara objek dengan subjek adalah sebuah lelucon dari pemahaman yang dangkal tentang marxisme. Justru pada tindakan subjek, yang didasarkan pada objektivitas (keadaan) sejarah dan alam dan sejauh membentuk sejarah dan alam itulah materialisme a la Marx—sebuah materialisme atas prinsip dialektis dan dibangun atas objektivitas historis. Bukankah termasuk sebuah lelucon jika pun kita sekadar menjelaskan keadaan dengan marxisme tetapi tidak melakukan apa-apa?

Marxisme sebagai Ilmu Pengetahuan: Sebuah Kritik

Pasca kekalahan dramatis komunisme di akhir dekade abad ke-20, muncul suatu gerakan yang tegas untuk menjatuhkan Marxisme ke dalam dasar aquarium sejarah pemikiran-pemikiran besar dunia. Langkah-langkah awal yang nampak untuk menjadikan Marxisme sebagai sekadar hiasan bagi aquarium pemikiran dunia adalah kecenderungan ragam teori yang lahir sebagai kritik terhadap marxisme. Varian-varian mulai dari neo-marxis, post-marxis, feminis marxis, hingga yang sekedar mempengaruhu segi epistimik laiknya post-modernisme, dsb adalah bukti bahwa marxisme telah terperosok menjadi hiasan sejarah pemikiran dunia.

Kegagalan negara-negara komunis dalam mewujudkan tatanan masyarakat tanpa kelas menjadi sebab-sebab munculnya gagasan bahwa marxisme sudah menjadi fosil. Namun, jawaban mereka sendiri atas krisis yang melanda marxisme adalah kritik paling mendasar dari pokok pikiran Marx; bahwa tugas filsuf bukanlah menjelaskan dunia, melainkan mengubahnya.

Landasan yang digunakan untuk menjatuhkan marxisme menjadi sesutu yang Marx sendiri tidak bayangkan adalah beberapa peristiwa sejarah yang memunculkan trauma-trauma yang memuakkan; Sebut saja munculnya Stalinisme di Uni Soviet yang memicu kritik dari Mazhab Frankfurt dan melahirkan varian teori neo-marxis. Kegagalan negara-negara komunis dalam mewujudkan tatanan masyarakat tanpa kelas menjadi sebab-sebab munculnya gagasan bahwa marxisme sudah menjadi fosil. Namun, jawaban mereka sendiri atas krisis yang melanda marxisme adalah kritik paling mendasar dari pokok pikiran Marx; bahwa tugas filsuf bukanlah menjelaskan dunia, melainkan mengubahnya. Barangkali benar bahwa masyarakat hari ini telah melampaui keadaan yang pernah Marx bayangkan—bahkan ketika beberapa pemikirannya tetap berhasil menjelaskan kondisi-kondisi mendasar dari masyarakat sekarang. Tetapi, jawaban-jawaban yang sekadar menjelaskan kondisi khusus masyarakat hari ini dengan pisau analisis marxis hanya membuat kita makin jera memahami masyarakat dalam jerat kapitalisme.

Tentu saja, di tengah-tengah kondisi yang telah membuat marxisme nampak begitu dekaden, ada harapan-harapan yang bisa disemai demi melanjutkan cita-cita terhapusnya penindasan dari manusia atas manusia. Gerakan-gerakan intelektual Prancis di tahun 1968 adalah hal pertama yang menunjukkan marxisme belum dapat dikatakan menemukan dekadensi sebagai sebuah praxis. Begitu pula masih bertahannya beberapa gerakan kiri di Amerika Latin yang sempat menemukan titik puncaknya di awal-awal abad ke 21; mereka bersepakat bahwa mereka sedang mempraxiskan sebuah tatanan sosialisme yang mutakhir, sosialisme abad 21. Meski lantas ke depan menemukan kembali kegagalan, haruskah kita berhenti meneruskan praxis-praxis revousioner dan berhenti untuk bermegah-megah dengan varian teori marxis yang secara praxis terbukti dekaden?


Daftar Refrensi

Karl Marx, “Ideologi Jerman”, Yogyakarta: Pustaka Nusantara

Karl Marx, “Tesis-tesis tentang Feurbach”, https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1845/tesis-feuerbach.htm

Friederich Engels, “Ludwig Feurbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman”, https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1886/ludwig-feuerbach/pengantar.html

Martha Harnecker, “Sosialisme Abad Keduapuluh Satu: Pengalaman Amerika Latin”, Jakarta: Pustaka IndoPROGRESS

LEAVE A REPLY