Statue of Georg Wilhelm Friedrich Hegel. (sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mitte_Hegelplatz-01.jpg)

Perlu diakui bahwa Hegel memang tidak memiliki intensi untuk menuliskan catatan sejarah secara detail. Bukunya yang berjudul Lectures on the Philosophy of History menunjukkan bahwa dia ingin menelaah sudut pandang peristiwa dalam sejarah secara filosofis-metafisis. Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab adalah, “Bagaimana pergerakan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya secara menyeluruh dapat dijelaskan? Apa yang memberikan fundamen bagi terjadinya kejadian besar di dunia?”

Secara garis besar, dapat diungkapkan bahwa dalam pandangan Hegel, sejarah bergerak secara progresif melalui kebebasan Roh. Hegel memberikan ilustrasi bahwa sejarah-dunia tampak seperti suatu teater di mana Roh adalah penggeraknya.[1] Karena itu, sejarah tidak bersifat siklis, tetapi memiliki arah yang terus-menerus menyempurnakan diri. Kebebasan Roh tersebut juga tampak melalui sifat dialektisnya yang terdiri atas tiga fase, yakni tesis, antitesis, dan sintesis. Roh yang ada-dalam-dirinya (tesis) mulai mengeksternalisasi-diri (antitesis), lalu seluruh kenyataan historis ini diangkat ke tataran yang lebih tinggi/aufgehoben (sintesis). Kendati cenderung abstrak, sesungguhnya pemikiran Hegel memiliki kesan optimisme dalam melihat perubahan zaman.[2] Khususnya, di tengah kondisi wabah Covid-19 yang tidak pasti, pandangan Hegel kiranya dapat menjadi sumber refleksi yang menarik untuk memahami peristiwa di dunia.

Dialektika Hegel : Mengapa Kontradiksi?

Budi Hardiman, dalam buku Filsafat Modern, mengatakan bahwa gagasan tentang dialektika ini tidak lain daripada aktivitas sehari-hari, yakni dialog.[3] Akan tetapi, dialog yang dimaksud di sini bukan komunikasi antara satu orang dengan yang lainnya. Dialog atau dialektika ini kiranya lebih bernuansa suatu proses berpikir. Dialektika merupakan alur pemikiran yang berpetualangan untuk memperoleh kesimpulan yang menyeluruh.

Ada tiga tahap yang hadir dalam dialektika. Pertama adalah tesis yang menjadi idea atau preposisi awal dari suatu pemikiran. Yang kedua adalah antitesis, yakni sanggahan atas gagasan yang pertama atau sebelumnya. Ketiga, yaitu sintesis, merupakan percampuran antara tesis dan antitesis yang menghasilkan gagasan baru. Dalam The Science of Logic, Hegel memberikan contoh bahwa apabila tesisnya merupakan “ada” (being), antitesisnya berarti “tidak ada” (nothing). Dari kedua konsep yang saling berlawanan tersebut, kebenarannya bukan lagi “ada” maupun “tidak ada”, tetapi “ada” yang telah menuju “tidak ada”, serta “tidak ada” menuju “ada”.[4] Keduanya telah disatukan ke dalam konsep “ke-menjadi-an” (becoming), sebagai suatu sintesis. Dengan demikian, penyatuan gagasan tentang tesis dan antitesis bukan lagi kondisi statis antara kehadiran maupun ketiadaan, tetapi sebuah proses. Gagasan “ke-menjadi-an” merupakan suatu “pergerakan di mana dua konsep dibedakan, [dan] melalui perbedaan tersebut, kedua-duanya meleburkan diri.”[5]

Untuk mempermudah pemahaman tentang dialektika Hegel, Lemon memberikan ilustrasi mengenai kisah pembuat tembikar.[6] Suatu ketika, seorang tukang tembikar sedang membayangkan satu bentuk karya seni. Pada tahap ini, dia sesungguhnya telah membentuk suatu usaha, sekalipun masih kasar. Lantas, tukang tembikar tersebut mencoba mengaktualkan apa yang ada dalam pikirannya dengan mengambil tanah liat dan mulai membentuknya. Dia pertama-tama membuat bagian pinggirnya agak tebal supaya terlihat lebih kuat dan tidak pecah saat pembakaran. Di sini, fase awal muncul sebagai suatu tesis. Akan tetapi, dalam proses pengerjaan, ketika dia mengamati kembali karyanya, ternyata tembikar tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atau dipikirkan olehnya. Dia merasa bahwa tembikar itu bukan merupakan miliknya atau bagian dari dirinya, serta menganggapnya sebagai objek yang asing (an alien object). Melalui penolakan (negates), tukang tembikar itu lantas menghancurkan hasil karyanya. Perbaikan ini merupakan fase antitesis. Lalu dia memperbaiki kecacatan yang ada dan membuat tembikar dengan bagian pinggir yang lebih tipis. Akhirnya, dia berhasil membuat suatu karya seni yang benar-benar berbeda antara bentuk yang dipikirkan dengan hasil tembikar yang awalnya tampak tebal. Perpaduan antara bentuk awal dengan penolakan terhadap hasil karyanya tersebut dapat dikatakan sebagai suatu sintesis.

Namun, pembuatan tembikar yang baru ini ternyata bukan merupakan aktualisasi sepenuhnya dari sang pengrajin. Mungkin ada nilai keindahan atau fungsi yang masih kurang. Maka, dia mencoba memperbaiki bagian yang tidak sempurna. Sang pengrajin lantas memberikan gagang atau mewarnainya dengan corak tertentu. Di satu sisi, tembikar yang baru ini merupakan hasil dari perbaikan atau kontradiksi sebelumnya. Di sisi lain, tembikar ini justru juga menjadi titik awal atau tesis baru dalam menghadapi kontradiksi yang lebih tinggi. Memang, keseluruhan metode yang dilakukan pada akhirnya merupakan upaya melihat, mengevaluasi, memperbaiki, menciptakan, dan memperbaikinya kembali, sehingga menghasilkan tesis-antitesis-sintesis yang terus berulang dari keseluruhan hasil karyanya. Akan tetapi, dalam proses membuat dan mengamati ini, tukang tembikar justru merasa puas dengan kinerjanya karena dia telah melakukan apa yang menjadi “tujuan dari dirinya”. Dia telah mengalami “objektifikasi-diri” sebagai seorang tukang tembikar.[7] Segala yang ada dalam pikirannya teraktualisasi pada hasil karyanya. Dengan demikian, tembikar yang terakhir adalah gabungan dan kompleksitas dari berbagai macam daya imajinasi, bentuk, warna, maupun ukuran, yang mengungkapkan koherensi dari keseluruhan.

Melalui ilustrasi ini, dapat dikatakan bahwa kontradiksi mendorong ke arah penyempurnaan. Pengenalan terhadap sesuatu juga dapat terjadi karena ada yang lain dan memiliki hubungan dengan yang lain pula. Seperti yang dikatakan oleh Hegel dalam Phenomenology of Spirit, “Sesuatu adalah Satu karena diperlawankan dengan yang lain. Tetapi [Sesuatu] itu bukan Satu ketika dia menyingkirkan yang lain dari dirinya, karena menjadi Satu adalah relasi universal antara dia dengan dirinya, [dengan demikian] fakta bahwa dia adalah Satu membuatnya dirinya sama dengan yang lain, [dan] melalui tekadnya tersebut, dia [juga] justru berbeda dengan yang lain.”[8] Dalam ilustrasi tukang tembikar, argumen tersebut mungkin dapat dijelaskan demikian: adanya kecacatan pada bentuk tembikar yang pertama dapat disadari karena adanya bentuk yang lebih sempurna. Namun, tembikar yang “cacat” juga tetap berkorelasi dengan gambaran tentang tembikar yang lebih sempurna. Melalui korelasi tersebut, apa yang disebut kontradiksi antara cacat dan sempurna dengan demikian menjadi tampak. Dalam proses berpikir pun, khususnya pada logika negatif, sesungguhnya pemikiran yang sifatnya berlawanan juga menjadi sesuatu yang tak terelakkan sebagai satu kesatuan. Orang dapat mengetahui sesuatu karena dia juga melihat apa yang berlawanan atau tiadanya sesuatu itu. Misalnya, yang dimaksud dengan cacat dapat diketahui dengan memahami apa yang dimaksud dengan sempurna, begitu pula sebaliknya.

Melalui dialektika, dari kontradiksi-kontradiksi yang terjadi, lantas muncul hal yang baru, yakni sintesis. Akan tetapi, sintesis tersebut sebenarnya juga menunjukkan tesis baru yang akan dipertentangkan dengan antitesis yang lain, dan seterusnya, hingga kemudian menghasilkan suatu pembaruan. Tjahjadi mengatakan bahwa dalam dialektika, Hegel menggunakan istilah sintesis dengan kata “aufheben” yang berarti mengangkat, menyimpan, maupun meniadakan atau membatalkan.[9] Tesis dan antitesis merupakan suatu kontradiksi. Kedua hal ini diangkat dan dibatalkan, sehingga muncul konsep yang baru, yakni sintesis.

Sejarah : Aktualisasi Roh Absolut

Lantas, bagaimana hubungan antara logika pada dialektika pemikiran Hegel dengan filsafat sejarah? Pertama-tama, dalam buku Philosophy of History, Hegel mengatakan bahwa di balik tatanan dan keseluruhan totalitas sejarah dunia, ada yang disebut sebagai Yang-Absolut atau Rasio. Yang-Absolut merupakan “substansi yang memiliki kekuatan tak terbatas (infinite power).”[10] Karena ketakterbatasan itu, maka realitas yang dilaluinya dan berada di dalamnya ada (exist) dan hidup. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa Rasio menjadi pengatur bagi tatanan dunia.

Mengapa rasio? Ada dua alasan yang menunjukkan bahwa rasio adalah prinsip bagi sejarah dunia. Yang pertama adalah penjelasan di dalam sejarah filsafat Yunani. Mengutip tulisan dalam Phaedo, Hegel mengatakan bahwa Socrates merasa begitu gembira ketika menyadari bahwa melalui Rasio, adanya tujuan dan arah dari totalitas dapat dijelaskan. Alam (nature) pada dirinya sendiri—yang menurut Anaxagoras menjadi prinsip dasar—hanya merupakan suatu konsep abstrak.[11] Alam hanya merupakan gejala yang tampak, tetapi segala yang berada di balik gejala tersebut tidak dapat dijelaskan oleh alam. Karena itu, melalui segala yang dapat diamati, adanya Rasio dapat diketahui sebagai pembentuk keseluruhan jaringan yang saling berkaitan. Alasan yang kedua, Hegel juga mengatakan bahwa pandangan Rasio yang mengatur dunia juga diterapkan pada ajaran agama-agama. Dalam agama, dunia bukan merupakan subjek dari berbagai macam peluang dan kemungkinan eksternal, tetapi telah diatur oleh Sang Penyedia (Providence) atau Tuhan. “Suatu kebenaran [mengatakan] bahwa Sang Penyedia Ilahi mengarahkan peristiwa dunia, seturut dengan prinsip yang telah ditetapkan: Sang Ilahi merupakan kekuatan tak terbatas, yang menyadari tujuan dirinya sebagai yang absolut, [serta] tujuan akhir yang rasional tentang dunia, sementara Rasio adalah Pikiran, [yang] dengan bebas menentukan dirinya.”[12]

Selain rasio, Hegel juga mengungkapkan tentang istilah lain yang juga menjadi dasar pemikirannya, yakni Roh. Apabila Idea Kebenaran—melalui dialektika—merupakan produk spesifik dari Rasio, menurut Lemon, Roh merupakan keseluruhan dimensi dari suatu perkembangan yang hadir melalui kesadaran diri (self-consciousness).[13] Dalam arti tertentu, Roh adalah dimensi yang tertinggi dari totalitas kesadaran diri. Sederhananya, jika Rasio adalah pengarah atau penunjuk jalan, Roh merupakan seluruh “kesadaran” dalam proses menuju suatu tujuan. Sebagai ilustrasi, mungkin dapat dijelaskan demikian: seseorang hampir tidak mungkin memikirkan sesuatu tanpa menyadari atau menghiraukan perkembangan selanjutnya. Misalnya, Budi merasa sangat lapar dan hendak makan. Di sini sudah jelas bahwa tujuannya adalah melepaskan rasa lapar. Lantas, dia mengambil piring yang tersedia di atas meja. Hal tersebut tidak serta-merta mengandaikan pikiran Budi terhadap satu tindakan tertentu, tetapi juga proses perkembangan aktivitas lainnya. Dalam kesadarannya, Budi juga memikirkan seberapa banyak nasi, lauk, dan sayur yang dia butuhkan. Lalu, dia juga menyadari di mana dia akan makan. Akhirnya, dia juga menyadari bahwa setelah makan, dia harus mencuci seluruh peralatan makannya hingga bersih. Dengan demikian, keseluruhan pemikiran yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya merupakan prosedur yang teratur. Karena itu, Roh dapat dikatakan sebagai pemikiran manusia beserta kesadaran dan segala perkembangannya yang sifatnya tertata. Dalam arti tertentu, seluruh kesadaran diri yang terus mengalami kemajuan—dari satu titik peristiwa ke peristiwa lainnya—menunjukkan bagaimana dimensi Roh tersebut hadir.

Hegel mengatakan bahwa pada dasarnya, “Roh harus diamati dalam sejarah dunia sebagai suatu realitas paling konkret.”[14] Perjalanan sejarah merupakan manifestasi dari Roh. Karena itu, Hegel juga mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan sejarah dunia tidak lain juga merupakan sejarah Roh (history of Spirit). Melalui ketersingkapan dalam sejarah, tampak suatu gerak dialektika dalam Roh. Hegel menunjukkan gerak dialektika ini pada bagian akhir bukunya yang berjudul Philosophy of Right.[15] Dia mengungkapkan bahwa pada mulanya, yang dilakukan oleh Roh hanya menjadikan dirinya sebagai objek kesadaran bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, Roh melakukan tindakan refleksi. Tindakan inilah yang disebut sebagai prinsip Roh, dan menjadi tesis dalam pemikiran dialektika. Sebagai antitesisnya, pada saat yang sama, Roh juga mengeksternalisasikan atau menyangkal dirinya dalam kenyataan lain yang melampaui dirinya. Tjahjadi mengatakan bahwa pada tahap inilah Roh mengembara di dunia.[16] Artinya, sejarah mulai diaktualisasikan. Sejarah terjadi dalam seluruh tatanan kehidupan. Hal ini secara lebih jelas tampak melalui cara manusia mengungkapkan atau menyatakan kehendak dalam aktivitasnya.

Akan tetapi, gerak Roh tidak berhenti pada saat itu. Sebagai sintesis, seluruh kenyataan yang terjadi pada sejarah dunia diangkat ke dalam tataran yang lebih tinggi. Kesadaran yang pada mulanya bersifat individual “dinaikkan” menuju kesadaran sosial, hingga menuju kesadaran universal. Roh yang hadir dalam sejarah teraktualisasikan dalam kesadaran yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian, menurut Hegel, melalui proses tersebut, sejarah tidak lain merupakan “pengejawantahan Roh dalam rupa peristiwa-peristiwa [di dunia], atau realitas yang terjadi pada seluruh alam, [maka] fase perkembangan [Roh] merupakan suatu prinsip alamiah.”[17]

Di Bawah Bayang-Bayang Kebebasan Roh Absolut

Lantas, pertanyaan lain yang dapat diungkapkan adalah, “Bagaimana cara kerja Roh?” Berkaitan dengan penjelajahan Roh dalam sejarah dunia, Hegel mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang dapat mendeskripsikannya lebih jauh. Yang pertama berbicara tentang karakter Roh. Kedua adalah penjelasan tentang sarana-sarana yang digunakan oleh Roh. Ketiga, negara (the state) merupakan bentuk yang digunakan Roh untuk merealisasikan dirinya di dunia secara penuh.

Pertama, dalam pandangan Hegel, karakter Roh adalah bebas. Roh tidak tergantung pada apa yang berada di luar dirinya. Kebebasan ini secara khusus hadir melalui kesadaran dirinya. Dengan kata lain, sejarah dunia tidak lain merupakan “kemajuan di dalam kesadaran pada kebebasan.”[18] Lebih lanjut menurut Hegel bahwa kesadaran Roh pada kebebasannya, serta bagaimana Roh mengatualisasikan kebebasannya, menjadi tujuan akhir sejarah dunia. Dalam arti tertentu, dapat dikatakan bahwa tujuan (final goal) sejarah dunia bagi Hegel tidak lagi terbatas pada kondisi tertentu, entah dalam bentuk kehancuran atau kedamaian. Orang sering kali menafsirkan bahwa akhir dari dunia ini adalah kiamat, yakni suatu kondisi yang ditunjukkan dengan tiadanya kehidupan. Akan tetapi, menurut Hegel, tujuan akhir dari sejarah dunia ini merupakan proses sejarah itu sendiri. Tujuan akhir sejarah terungkap ketika Roh merealisasikan kebebasannya terhadap realitas dunia.

Kedua, lantas apa yang menjadi sarana bagi Roh untuk memanifestasikan kebebasannya dalam sejarah? Jawabannya adalah seluruh kebutuhan, hasrat, kehendak, ketertarikan, maupun talenta yang dimiliki oleh manusia. Semua hal tersebut berkaitan langsung dengan berbagai aktivitas manusia. Keseluruhan kehendak manusia diangkat oleh Roh menuju kesadaran dan diaktualisasikan melalui berbagai macam tindakan.[19] Karena itu, peristiwa besar yang terjadi pada dunia tidak serta-merta ditentukan oleh alam, tetapi kehendak. Melalui argumen ini, Hegel kiranya menekankan bahwa yang dimaksud dengan sejarah dunia berhubungan langsung dengan sejarah umat manusia. Akan tetapi, menariknya, Hegel juga menuliskan bahwa sejarah dunia tidak hanya terbatas pada keputusan yang dibuat oleh manusia dalam rangka mengaktualisasikan keinginannya. Dengan pandangan yang lebih komprehensif, menurut Hegel, suatu kebenaran menunjukkan adanya kesatuan antara yang bersifat universal dengan aspek subjektif individual.[20] Dalam sejarah, aktivitas maupun tindakan manusia memang menentukan diri dan peristiwa yang akan dialaminya. Misalnya, bila Adi memutuskan untuk sering bolos kuliah, maka dia akan merasa kesulitan untuk mengejar pelajaran yang ditinggalkannya. Akan tetapi, sesungguhnya “tujuan akhir murni dari sejarah tidak [hanya] berisi kebutuhan dan keinginan setiap individu.”[21] Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada Rasio tertinggi yang mengatur alur sejarah dunia. Dalam kenyataannya, dapat terjadi bahwa orang tidak dapat menduga bahwa dampak dari keputusannya dapat lebih besar dari yang dipikirkan olehnya.

Hegel memberikan contoh mengenai seseorang yang sedang marah dan ingin balas dendam dengan membakar rumah orang lain atau saingannya.[22] Maksud awal dari tindakannya adalah untuk membuat lawannya kesal saat barang-barangnya hancur karena diterpa oleh api. Karena itu, dia hanya menyalakan api yang kecil supaya dampak yang ditimbulkan hanya mengenai saingannya tersebut. Akan tetapi, tanpa diharapkan sama sekali, api yang awalnya kecil lama-kelamaan semakin membesar. Bahkan, rumah-rumah di sekitar saingannya tersebut juga ikut terbakar. Api tersebut tidak hanya merugikan musuhnya, tetapi juga orang lain di luar dari intensi orang yang menyalakan api tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah atau kejadian merupakan sintesis antara kehendak bebas agen atau manusia yang melakukannya dengan tatanan yang telah mengaturnya.[23]

Ketiga, Hegel mengungkapkan bahwa esensi dari kesatuan antara kehendak subjektif dan kehendak Rasio sebagai totalitas terungkap melalui adanya negara (the state). Sebab, negara merupakan realitas di mana individu memiliki dan menikmati kebebasannya, sejauh dia mengetahui, meyakini, serta menghendaki nilai universalitas.[24] Akan tetapi, Hegel juga memberikan catatan bahwa makna kebebasan ini bukan diartikan secara negatif. Maksudnya, kebebasan individu dijalankan sejauh tidak mengganggu kebebasan umum, seolah-olah kebebasan diri dipenuhi sekaligus dibatasi bagi orang lain. Kebebasan yang diusung oleh Hegel bersifat positif. Melalui adanya negara, konkretnya adalah hukum, orang dapat merealisasikan kebebasannya. Dengan kata lain, melalui ketaatan yang dijalaninya, dia menunjukkan kebebasan untuk memutuskan sesuatu. Begitu pula dalam contoh hak milik pribadi di mana seseorang menaruh kehendaknya atas suatu benda. Dia menginginkan agar benda tersebut menjadi miliknya, dan tepat pada saat itu kehendak atau kebebasannya hadir. Dengan demikian, “pengakuan terhadap hak milik pribadi di dalam hukum merupakan pengakuan terhadap kehendak individu.”[25]

Untuk lebih mempermudah pemahaman antara dialektika, kebebasan manusia, dan negara, seperti yang diungkapkan Tjahjadi dalam pembacaannya terhadap History of Philosophy, Hegel memberikan contoh melalui adanya reformasi protestan dan revolusi Perancis.[26] Pada mulanya, manusia masih memiliki kesadaran yang bersifat abstrak. Kesadaran ini hanya sekadar kepercayaan manusia terhadap hakikatnya serta bagaimana Allah memanggilnya. Sifatnya masih berasal dari dalam. Hal ini digambarkan oleh Hegel melalui kehadiran institusi Gereja Katolik yang cenderung bersifat dogmatis. Kemudian, muncul reformasi protestan sebagai antitesis atau suatu gagasan yang baru. Bertolak belakang dengan Gereja Katolik, reformasi protestan mengakui bahwa setiap orang memiliki hak menyangkut iman kepercayaan dan pemahaman terhadap isi kitab suci, tanpa mengikuti tafsiran dari otoritas. Hegel bahkan mengatakan bahwa dalam reformasi protestan, muncul prinsip pengakuan terhadap individu,[27] yang berarti semakin memberikan ruang lebih besar bagi kebebasan.[28] Akan tetapi, reformasi tersebut masih bersifat terbatas dan abstrak. Lantas, muncul Revolusi Perancis yang menjadi kemenangan bagi kebebasan dan kehidupan masyarakat. Revolusi menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengungkapkan otonominya. Dengan demikian, berkat Revolusi Perancis, hadir sebuah institusi bernama negara yang tidak lagi mengekang manusia, tetapi justru mendukung kebebasannya.

Mengenakan Kaca Mata Pemikiran Hegel

Setelah memahami gambaran besar tentang filsafat sejarah Hegel dan berlabuh ke dalam situasi politik serta agama di abad 18, bagian ini akan mencoba memaparkan sejarah umat manusia yang berkaitan dengan kebebasannya melalui perkembangan ilmu kesehatan. Sebelum itu, dengan melihat situasi dunia saat ini, yang dipenuhi oleh kondisi tak menentu karena pandemi Covid-19, orang mungkin akan bertanya, “Sesungguhnya, bagaimana dan ke arah mana sejarah umat manusia bergerak?” Beberapa bulan yang lalu, situasi dunia masih tampak ditandai dengan kemajuan teknologi serta pengetahuan dalam segala lapisan, khususnya ilmu kesehatan. Akan tetapi, sekitar bulan Desember kemarin, ketika Cina mengumumkan tentang virus baru dan ternyata dapat menyebar begitu cepat, orang-orang mulai merasa resah sambil mengesampingkan perkara lain demi memusatkan perhatian pada entitas yang sangat kecil. Suatu bentuk mikroorganisme yang menyerang saluran pernapasan ini telah memengaruhi kehidupan manusia hampir dalam segala bidang, seperti ekonomi, sosial, hingga politik.

Jika menarik mundur ke belakang, sejarah juga menunjukkan bahwa ternyata tidak kali pertama ini saja umat manusia menghadapi pandemi yang meresahkan bagi mereka. Dengan semakin jauh ke belakang dan pandangan yang holistik, akan semakin tampak pula bahwa upaya manusia menyejahterakan dirinya kerap kali terbentur dengan berbagai penyakit yang senantiasa “baru”. Manusia berusaha membuat teknologi dalam ilmu kesehatan, tetapi berbagai virus dan mikroorganisme lainnya terus berevolusi dengan membentuk diri yang lebih kompleks. Dengan meneropong dari sudut pandang filsafat sejarah Hegel, berbagai fenomena munculnya wabah penyakit, cara manusia menangani, dan muncul kembali jenis penyakit yang baru kiranya bukan sekadar suatu peristiwa tanpa arah. Begitu pula perkembangan ilmu kedokteran bukan hanya suatu kebetulan, tetapi merupakan gerak dialektika. Setiap fenomena yang terjadi menunjukkan bagaimana Roh mengalami proses refleksi dan kemudian mengeksternalisasikan dirinya melalui berbagai peristiwa di dunia. Fenomena-fenomena tersebut sekaligus memanifestasikan kebebasan Roh.

Mengambil beberapa catatan sejarah dari Clifford A. Pickover, pada mulanya manusia memandang bahwa munculnya segala macam penyakit karena ditentukan dari luar kekuasaannya. Mengapa kepala, perut, tangan, atau punggung seseorang dapat sakit? Dari mana asalnya penyakit tersebut? Karena tidak dapat diketahui, manusia mempostulatkan penyebab penyakit tersebut dari kuasa yang melampaui mereka, entah dewa, roh-roh, maupun “Tuhan”. Maka, kata Pickover, sekitar tahun 1000 SM, proses pengobatan dilakukan melalui praktik Shaman atau oleh para dukun.[29] Mereka melakukan berbagai ritual untuk dapat berkomunikasi dengan yang supranatural. Akan tetapi, sebagai tonggak sejarah selanjutnya, sekitar tahun 6500 SM manusia mulai melakukan pemotongan (trepanation) pada bagian tengkorak. Beberapa arkeolog menemukan adanya lubang pada pada bagian atas tengkorak—seperti dibuat secara sengaja—dalam situs-situs pemakaman masa kuno. Dalam hal ini, mulai tampak tanda-tanda kebebasan dengan melakukan suatu intervensi dan tidak hanya berpasrah pada ketentuan alam. Namun, intervensi ini pun masih bersifat terbatas karena teknik pemotongan ini dilakukan dengan maksud agar roh-roh jahat yang berada pada diri manusia dapat keluar.

Lantas, sebagai sintesis antara permohonan langsung dewa-dewa dan usaha untuk melakukan tindakan tertentu pada tubuh manusia, sekitar tahun 4000 SM, Pickover mencatat bahwa manusia mulai melakukan analisis terhadap urin.[30] Artinya, mereka tidak lagi sungguh-sungguh terpaut pada kenyataan yang ada di luar alam. Penelitian langsung terhadap urin menunjukkan bahwa suatu jenis penyakit dapat terjadi secara alamiah, dan dapat diobati. Bahkan, teks-teks medis dalam bahasa Sansekerta kuno menuliskan bahwa paling tidak ada 20 macam urin yang berada pada tubuh manusia. Akan tetapi, seperti yang telah diketahui bahwa perkembangan ilmu kesehatan tidak hanya berhenti pada satu titik. Sebelumnya juga sudah dijelaskan bahwa satu titik peristiwa justru menjadi tesis baru dan akan diperlawankan dengan antitesis yang lain. Kesadaran-kesadaran baru akan muncul yang menunjukkan gerak maju pada Roh. Contohnya adalah teknik penjahitan pada luka, pembedahan bagian dalam tubuh, maupun operasi mata.

Ketika ilmu kesehatan semakin menunjukkan langkah ke depan, termasuk dibuatnya kanon yang berisi standar ilmu kedokteran, Pickover mengungkapkan bahwa pada abad 14, muncul wabah bernama maut hitam (black death).[31] Hal ini ingin menunjukkan bahwa di satu sisi, umat manusia memang memiliki kehendak untuk menentukan sejarahnya. Mereka memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan keinginannya, termasuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya. Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada “kekuatan alam”. Hegel juga meyakini bahwa alam organik (organic nature) merupakan suatu entitas yang tidak bersifat pasif, tetapi juga memiliki prinsip perkembangan yang berasal dari dalam dalam dirinya.[32] Alam juga menjadi “sarana” yang digunakan oleh Rasio dalam mengatur sejarah dunia.[33] Dengan demikian, karena maut hitam merupakan bagian dari gerak sejarah, kiranya wabah ini dapat dikatakan sebagai “antitesis” atas berbagai keberhasilan manusia dalam bidang kesehatan. Meskipun demikian, hal ini sekaligus menjadi batu loncatan bagi penemuan antibiotik yang dikembangkan sekitar abad 19-20.

Semakin meningkatnya pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan, lambat laun orang tidak hanya berpikir reaktif terhadap segala penyakit, tetapi juga mencegahnya. Contohnya adalah penemuan vaksin dan vitamin. Sedapat mungkin orang dapat mengkondisikan tubuhnya agar tetap sehat. Bahkan, Yuval Noah Harari juga mengatakan bahwa proyek manusia modern saat ini adalah upaya menuju imortalitas. Paling tidak, rentang waktu usia manusia menjadi semakin bertambah melalui perkembangan rekayasa genetika dan nanoteknologi. Harari mengatakan bahwa sejak tahun 2013, Google memiliki anak perusahaan bernama Calico yang memiliki misi untuk memerangi penuaan dan meningkatkan masa hidup manusia. [34] Akan tetapi, betapa progresifnya kemampuan manusia dalam teknologi kesehatan, alam sesungguhnya juga turut mengalami evolusi. Virus Corona yang diyakini berasal dari hewan, kini dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Hal tersebut sekaligus menjadi bentuk “pertentangan” atau antitesis bagi ambisi manusia untuk melanggengkan kehidupannya. Mengambil sudut pandang dari Hegel, kontradiksi semacam itu merupakan bagian dari perjalanan sejarah, bukan sebagai kemunduran, tetapi justru membawa kemajuan. Sebab, berbagai penemuan dan inovasi lantas akan terus meningkat serta diperbarui.

Selain itu, dapat dikatakan pula bahwa dampak pandemik Corona ini jelas bukan hanya merupakan kesadaran perorangan atau kelompok tertentu saja, tetapi juga telah diangkat ke dalam tataran negara, bahkan “universal”. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggapi wabah ini, seperti pemberlakukan lockdown atau—versi moderat seperti yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia—yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal-hal lain yang diupayakan diantaranya pemberian bantuan sosial hingga pemberian stimulus fiskal agar roda perekonomian di beberapa sektor dapat tetap berjalan. Banyak orang saling bahu-membahu mengumpulkan dana, memberi bantuan pangan kepada kelompok yang berkekurangan, serta membelikan alat-alat kesehatan. Kesadaran ini sekaligus menunjukkan bahwa pandemi corona merupakan bagian dari sejarah yang memengaruhi kehidupan manusia. Dalam keadaan ini pula, Roh turut memanifestasikan dirinya dari berbagai kebutuhan dan hasrat manusia untuk mempertahankan spesiesnya. Roh mengeksternalisasikan dirinya ke dalam berbagai keputusan dan aktivitas manusia.

Kini, kita sedang mengalami suatu sintesis besar. Ada yang menyebutnya New Normal, Norma Baru, PSBB transisi, dan beberapa istilah lainnya. Pada dasarnya, manusia diundang untuk memiliki sikap dan cara pandang yang berbeda. Konferensi dan pertemuan yang dilakukan secara online, pembelian barang dengan model antar-jemput, serta work from home menjadi kebiasaan baru yang mau-tidak-mau dilaksanakan oleh manusia. Kapan gaya hidup seperti ini akan berakhir? Tidak ada yang tahu. Mungkin pula, setelah vaksin ditemukan, kebiasaan baru ini akan tetap berjalan dengan intensitas tertentu.

Akan tetapi, dengan situasi seperti ini, kita mungkin juga diundang untuk melihat kembali di suatu hari mendatang sebuah ”antitesis“ yang menunjukkan kondisi baru lagi sebagai buah dari pertentangan antara umat manusia dan alam. Dalam arti tertentu, di satu sisi, Roh Absolut mengatur seluruh perjalanan semesta melalui alam. Namun lewat kebebasannya, manusia juga senantiasa memanifestasikan kesadaran Roh yang ada pada dirinya. Kebebasan manusia selalu menunjukkan pergerakan, bukan sikap pasif terhadap peristiwa yang dihadapinya. Karena itu, manusia terus memanifestasikan kesadaran Roh yang ada padanya. Pada saat itulah, manusia juga mengambil bagian dalam sejarah dunia. Dapat dikatakan bahwa kesadaran yang senantiasa terungkapkan ini menunjukkan adanya suatu pandangan yang optimis. Dalam keadaan yang meresahkan saat ini, sambil menyadari kebebasan yang dimiliki oleh manusia, boleh diungkapkan bahwa penantian terhadap perkembangan selanjutnya kiranya bukan sesuatu yang utopis. Bersama dengan kebebasan yang dimiliki manusia, penantian terhadap sintesis-sintesis baru dalam pergerakan sejarah ini bukan sesuatu yang tanpa alasan, tanpa harus menagih kepastian waktunya.

Simpulan

Pemaparan filsafat sejarah yang bersifat abstrak menunjukkan bahwa Hegel ingin menguraikan pergerakan fenomena satu dengan yang lainnya secara mendasar. Selama penjelasannya masih berada pada tataran realitas itu sendiri, sesuatu yang fundamental belum sungguh-sungguh terungkapkan. Karena itu, Hegel menggunakan istilah Rasio sebagai pengatur atau arah sejarah, sementara Roh adalah dimensi dari keseluruhan kesadaran. Pembicaraan tentang sejarah dengan demikian merupakan suatu diskursus tentang manifestasi Roh yang menyadari dirinya. Dalam pergerakan sejarah tersebut, ada sebuah pola dialektis, antara tesis-antitesis-sintesis yang berkelanjutan, sehingga keseluruhan fenomena dalam sejarah merupakan bentuk progresivitas.


Catatan akhir:

[1] G. W. F. Hegel, Introduction to the Philosophy of History, diterjemahkan oleh Leo Rauch (Indianapolis: Hackett Publishing Company, 1988), hal. 19.

[2] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 321.

[3] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hal 181.

[4] G. W. F. Hegel, Science of Logic, diterjemahkan oleh George Di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), hal 59-60.

[5] Ibid, hal. 60.

[6] M. C Lemon, Philosophy of History: A Guide for Students (London: Routledge, 2003), hal. 205-206.

[7] Ibid, hal. 206.

[8] G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, diterjemahkan oleh A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), hal, 72-73.

[9] Tjahjadi, Op. Cit., hal. 319.

[10] Hegel, Introduction to the Philosophy of History, hal. 12.

[11] Hegel mengatakan bahwa pikiran yang konkret ditunjukkan melalui pengamatan yang terperinci serta mengungkapkan adanya kesatuan dari berbagai aspek yang terpisah. Sebaliknya, cara berpikir yang abstrak hanya memperhatikan sifat inderawi serta didasarkan pada persepsi. Bdk. G. W. F. Hegel, Philosophy of Mind, diterjemahkan oleh W. Wallace dan A. V. Miller (New York: Oxford University Press, 2007), 8-9. Gagasan ini kiranya agak terbalik dengan pemahaman bahwa yang konkret biasanya dipahami sebagai sesuatu yang senyatanya tampak secara empiris atau lewat pengalaman, sedangkan abstrak merupakan suatu jaringan konsep. Akan tetapi, mengutip Simon L. Tjahjadi, argumen ini menjadi lebih masuk akal pada contoh seorang pembunuh yang didakwa di pengadilan. Berpikir abstrak berarti melihat momen manusia sebagai pembunuh terlalu ditampakkan dan terpisah dengan momen kehidupan yang lainnya, seperti pendidikan orang tua maupun kondisi keluarganya. Berpikir konkret justru melihat segala kenyataan yang dimiliki pembunuh tersebut sebagai satu kesatuan diri sebagai manusia, termasuk menyelidiki riwayat hidupnya. Bdk. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 317.

[12] Hegel, Op. Cit., hal. 15-16.

[13] Lemon, Op. Cit., hal. 214.

[14] Hegel, Op. Cit., hal. 19.

[15] G. W. Hegel, Philosophy of Right, diterjemahkan oleh S. W. Dyde (Ontario: Batoche Book Limited, 2001), hal. 266-267.

[16] Tjahjadi, Op. Cit., hal. 320.

[17] Hegel, Philosophy of Right, hal. 267.

[18] Hegel, Introduction to the Philosophy of History, hal. 22.

[19] Ibid., hal. 28.

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Ibid., hal. 30.

[23] Dalam pembacaan Fitzgerald K. Sitorus terhadap karya-karya Hegel, dia mengatakan bahwa Roh dengan demikian dapat dikatakan sebagai dalang, sedangkan alam semesta beserta manusia yang bertindak dalam sejarah merupakan wayang-wayangnya yang digunakan Roh dalam rangka merealisasikan dirinya. Roh merupakan aktor dari sejarah manusia yang bersifat partikular. Bdk. Fitzgerald K. Sitorus, “Dualitas Idealisme dan Materialisme”, artikel diterbitkan dalam rangka Extension Course Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung, 13 Oktober 2017.  Tersedia dalam bentuk PDF.

[24] Hegel, Op. Cit., hal. 41.

[25] Tjahjadi, Op. Cit., hal. 323.

[26] Ibid., 322.

[27] Hegel, Op. Cit., hal. 105.

[28] Hegel menuliskan ilustrasi ini dalam konteks Eropa sekitar abad 16-18, yakni ketika reformasi protestan bertumbuh, dan menjadi bentuk “perlawanan” bagi tatanan Gereja Katolik yang konservatif. Lalu, muncul revolusi Perancis tahun 1789 yang semakin mendorong diakuinya kebebasan individu.

[29] Clifford A. Pickover, The Medical Book: From Witch Doctors to Robot Surgeons, 250 Milestone in the History of Medicine (New York: Sterling, 2012), hal. 24.

[30] Ibid.,hal. 28.

[31] Ibid., hal. 64.

[32] Hegel, Op. Cit., hal. 58.

[33] “In speaking of a ‘means’, we at first imagine something merely external to the ‘end’ and having no part in it. But in actuality even natural things in general, even the most common lifeless objects used as means must already be such as to be appropriate to their end and must have something in common with it.” Bdk. Hegel, Introduction to the Philosophy of History, 36.

[34] Yuval Noah Harari,  Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, diterjemahkan oleh Yanto Musthofa (Tangerang: PT Pustaka Alvabet, 2018), 23.


Daftar Pustaka

Harari. Yuval Noah. Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia. Diterjemahkan oleh Yanto Musthofa. Tangerang: PT Pustaka Alvabet, 2018.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Hegel, G. W. F. Introduction to the Philosophy of History. Diterjemahkan oleh Leo Rauch. Indianapolis: Hackett Publishing Company, 1988.

__________. Phenomenology of Spirit. Diterjemahkan oleh A. V. Miller. Oxford: Oxford University Press, 1977.

__________. Philosophy of Right. Diterjemahkan oleh S. W. Dyde. Ontario: Batoche Book Limited, 2001.

__________. Science of Logic. Diterjemahkan oleh George Di Giovanni. Cambridge: Cambridge University Press, 2010.

Lemon, M. C. Philosophy of History: A Guide for Students. London: Routledge, 2003.

Pickover, Clifford A. The Medical Book: From Witch Doctors to Robot Surgeons, 250 Milestone in the History of Medicine. New York: Sterling, 2012.

Sitorus, Fitzgerald K. “Dualitas Idealisme dan Materialisme”. Artikel diterbitkan dalam rangka Extension Course Filsafat. Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung. 13 Oktober 2017.  Tersedia dalam bentuk PDF. http://journal.unpar.ac.id/index.php/ECF/article/view/2889

Tjahjadi, Simon Petrus L. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.


Facebook Comments