sumber foto: duriandaze.tumblr.com, foto oleh James Nachtwey

Kita berada dalam suatu masa di mana katup Sejarah telah dilepas, dan Sejarah bergerak tanpa tujuan. Tak ada lagi tujuan transendental yang menjadi “akhir Sejarah”—di mana umat manusia tiba pada suatu babakan yang mengakhiri semuanya secara dramatis. Tak ada “surga Sejarah”, tempat umat manusia menemukan pemuasannya atas makna Sejarah, dan mengatakan: “Sejarah telah berakhir”. Segala yang pernah hadir di masa lalu dapat muncul dan muncul kembali; setiap saat dapat menjadi Sejarah, dapat meledak menjadi Sejarah.

Sejarah pecah menjadi narasi-narasi kecil yang setiap saat dapat meledak menjadi narasi besar yang dapat tamat seketika atau bertahan lebih lama, tergantung pada konfigurasi hal-ihwal yang terlibat di dalamnya. Bahkan di dalam fisika pun, katup Finalitas yang absolut itu juga telah dilepas. Kosmologi tidak dapat memperkirakan bentuk akhir Semesta: remuk, tercabik, atau meluas. Kita belum dapat memastikan apakah nol adalah ketiadaan atau ketakterbatasan; kehancuran atau kelahiran baru.

Sejarah, kini, menjadi tempat diperagakannya kontingensi ini dalam bentuk teatrikalnya yang penuh kejutan: tak pernah ada yang dapat ditebak dari hari esok. Apa yang sebentar lagi terjadi, apa yang akan terjadi, keluar dari antisipasi kita yang paling minimal; setiap sesuatu telah menjadi tak terantisipasikan, meski upaya atas antisipasi itu dilakukan.

Gejala yang serupa terjadi pada Bahasa. Setiap kata dapat meledak menjadi Sejarah atau tidak sama sekali. Percakapan dapat berlanjut tanpa henti, bagaikan gerbong yang tak selesai-selesai keluar dari lubang kekosongan. Atau berhenti seketika, macet, dan meledak, lalu kesunyian. Tidak ada lagi kata yang terakhir. Bahkan sebuah buku yang tebal tak dapat lagi menjadi akhir bagi riwayat kepenulisan seseorang. Ia dapat menjadi monumen atau bukan apa-apa. Kekuatan sebuah kata tak lagi diukur dari akumulasinya, tapi dari efeknya. Bahasa memiliki massa yang dapat sama ringannya dengan sebuah quark, atau sama beratnya dengan sebuah lengan beton.

Di sisi lain, meski Sejarah bergerak tanpa tujuan, bukan berarti tidak ada tujuan. Di hadapan katup Sejarah yang membuka kepada masa depan yang tidak kita ketahui bentuk akhirnya, kita seperti dituntut untuk menciptakan suatu Finalitas guna memaknai tindakan kita. Orang bergerak untuk menciptakan Revolusi, pemodal bergerak untuk mencapai target akumulasi. Kita mengandaikan diri untuk mencapai suatu klimaks Sejarah melalui pengorganisasian atas tindakan-tindakan. Medan Sejarah terbuka bagi siapa saja untuk beradu dan menunjukkan siapa yang layak menang. Meskipun Sejarah bergerak tanpa tujuan, Sejarah seperti memberi kesempatan bagi kita untuk memenangkan episodenya yang terdekat.

Paradoks di antara kedua kenyataan ini mengisyaratkan  bahwa teori filosofis anti-metanarasi (postmodernisme) dan teori filosofis tentang metanarasi (Marxisme) hari ini menemukan irisannya yang paling tajam. Anti-metanarasi menyediakan pengandaian “transendental”-nya tentang tiadanya akhir Sejarah, teori metanarasi mengisi medan itu dengan narasi finalitas melalui praksis dan tindakan. Anti-metanarasi membuka ruang makronya, metanarasi mengisi ruang mikro. Pertemuan keduanya merupakan suatu “peristiwa” teoretik yang mencengangkan.

***

Metafisika menyebut fenomena ini dengan kontingensi. Hukum kontingensi berbunyi: “segalanya adalah mungkin; yang tidak mungkin adalah bahwa tidak ada yang mungkin”. Sejarah, kini, menjadi tempat diperagakannya kontingensi ini dalam bentuk teatrikalnya yang penuh kejutan: tak pernah ada yang dapat ditebak dari hari esok. Apa yang sebentar lagi terjadi, apa yang akan terjadi, keluar dari antisipasi kita yang paling minimal; setiap sesuatu telah menjadi tak terantisipasikan, meski upaya atas antisipasi itu dilakukan. Ketakterantisipasikannya hal-ihwal menjadikan bola peristiwa yang mengalir dari hubungan-hubungan kausal di antara Yang Tadi, Saat Ini, dan Sebentar Lagi tidak bergerak dalam satu garis kurva yang lurus.

Setiap peristiwa dapat melahirkan peristiwa, diinterupsi oleh peristiwa, atau dihentikan sama sekali oleh peristiwa. Aksiden menjadi karakteristik dari peristiwa. Aksidentalitas—dan insidentalitas yang dibawanya—menjadi kategori penting. Aksidentalitas ini bekerja bukan saja pada setiap substansi. Ia bekerja bahkan pada gestur yang paling sederhana: menekan tak sengaja tombol pelepas nuklir, mengetik tanpa sengaja sebuah kata di layar telepon genggam, atau silap-lidah pada sebuah acara publik—yang memicu kemarahan ribuan orang di tempat lain.

Hal ini akan merevisi teori Aristoteles tentang aksiden yang niscaya melekat pada tubuh. Dalam Bab 2 Kategori-kategori, Aristoteles memahami aksiden sebagai properti inheren substansi. “Merah” adalah properti bagi “apel yang merah”. Kebergantungan aksiden pada tubuh, baginya, adalah swabukti. Aksiden tidak lepas dari tubuh. Namun, hari ini kita dapat mengatakan lain. Aksiden hanya dapat menjadi aksiden ketika, sebaliknya, lepas dari substansi—menjadi peristiwa.

Fisika masa depan adalah pertunjukan bagi keterlepasan aksiden dari tubuh. Kita akan melihat itu, ketika sebuah bagian tubuh yang putih, hanya dalam beberapa saat, dapat hitam legam karena radiasi matahari yang memuncak. Ketika “sifat baik” yang mencirikan seseorang, dapat sekejap berubah menjadi “sifat buruk”, atau sebaliknya. Ketika seorang pembunuh menjadi orang suci, atau orang suci menjadi pembunuh. “Kita tertarik pada sisi berbahaya setiap hal: pencuri yang jujur, pembunuh yang lembut, ateis yang beriman”, kutip Orhan Pamuk di prolog Salju.

Aksiden tak lagi melekat pada substansi, maka ia datang dari luar. Aksidentalitas ditandai oleh eksterioritas. Dalam kontingensi, eksterioritas ini radikal, sehingga apa saja dapat diubah oleh apa saja. Manusia, benda, dan alam tidak lagi memiliki supremasi ontologis satu sama lain. Dari sudut pandang aksidensi, Newton mungkin tak akan berpikir tentang gravitasi andai tak ada apel jatuh. Apel memiliki signifikansi sama berbobotnya dengan kejeniusan Newton dan gravitasi objektif Bumi.

Hubungan lepas-sambung antara aksiden dan substansi metafisis itu, namun demikian, belum sepenuhnya terjelaskan. Itulah enigma peristiwa: meletak pada relasi yang non-relasional, relasi di mana segalanya terkait namun tak berpaut-erat dengan niscaya. Makna Sejarah kini terletak pada enigma ini, di mana segala hal yang tak terkait mungkin terkait, di mana yang terkait dan dianggap niscaya terkait dapat menjadi tak terkait. Narasi pun bekerja dengan kontingensi. Tidak ada narasi tanpa kontingensi.

***

Sejarah adalah anak kecil yang bermain di sebuah taman hijau yang seperempat bidangnya berisi ranjau: siapa dapat menjamin bahwa si anak tak terluka? Sejarah adalah bidang di mana kesempatan, peluang, dan keberuntungan berbagi momen yang sama dengan risiko, bahaya, dan kecelakaan. Hubungan antara masa kini dan masa depan beririsan begitu dekat, seperti dua garis radiasi yang dapat saling mengganggu—kita tak tahu apakah yang kita lakukan di detik ini dapat mengubah apa yang akan terjadi beberapa jam nanti atau tidak mengubah apa-apa, karena yang terjadi nanti tidak datang dari tindakan kita di sini tetapi dari X di sana.

Kearbitreran kontingen “masa nanti”—kita tawarkan ini sebagai alternatif bagi term “masa depan”—merebakkan spekulasi, tebakan, terkaan, perkiraan, prediksi, futurologi. Spekulasi dan prediksi menjadi ciri saintifik dari Sejarah; sains dipaksa mampu menyentuh yang tak dapat dipastikan, yang tak pasti. Agar mampu menyentuh ranah ini, sains mengilmiahkan harapan. Politologi mengilmiahkan harapan untuk memprediksi kemenangan—bisnis survei menjamur dan tak pernah kehilangan peminat; biologi mengilmiahkan harapan akan kelangsungan hidup, bahwa manusia tak akan musnah 50 tahun lagi; psikologi memastikan depresi Anda pagi ini tidak membuat Anda bunuh diri nanti malam. Kondisi struktural bagi Sejarah menjadi sangat psikologis: ia tergantung pada kebutuhan kita untuk percaya. Minimal, percaya bahwa esok masih ada. Dalam hal ini, dusta dan kebenaran sama dapat bernilainya—karena spekulasi, pada dasarnya, adalah separuh dusta dan separuh kebenaran.

Sejarah menjadi sangat politis—keberhasilan para spekulan Sejarah adalah kesuksesannya memobilisasi harapan dan rasa takut atas peristiwa. Apa yang terjadi jika dua tahun lagi Indonesia pecah? Jika Perang Dunia ketiga terjadi? Sejarah adalah bisnis yang menguntungkan, karena dengannya segelintir orang dapat menaklukkan apa saja sekaligus membolehkan apa saja. Propaganda situasi “darurat politik” membuat militerisasi dibuat-benar. Propaganda chaos membuat ketertiban ditegakkan.

Yang patut digarisbawahi dari kondisi ini adalah paradoks fundamental: semakin peristiwa dihadirkan pasti, semakin Sejarah politis dan menjadi alat menguasai. Representasi Sejarah menjadi taruhan: sejauh mana Sejarah hadir, dihadirkan, dibuat-hadir, tidak dibuat-hadir, dipastikan, dibuat-pasti. Kita lalu menghadapi paradoks yang diajukan Meister Eckhart, mistikus Jerman itu. Eckhart berdoa untuk “membebaskan Tuhan dari Tuhan”. Kita berspekulasi untuk “membebaskan Sejarah dari Sejarah”.

***

Memikirkan Sejarah adalah memikirkan praksis dari titik terkecil ini—membuka semesta dengan mengintip dari lubang kunci yang ditutupi oleh kabut-kabut ilusif tentang kekinian yang stabil, tenang, dan damai oleh status quo.

Badai aksidentalitas tak dapat dibendung. Di “masa nanti”, kita sebenarnya hanyalah jatuh dari satu aksiden ke aksiden lain. Setiap tindakan, setiap gerak, selalu terekspos kepada aksiden. Di hadapan keniscayaan aksidentalitas itu, di satu sisi, sekaligus ketakterpastikannya peristiwa, di sisi lain, Sejarah dan teologi menjadi beririsan. Apa yang dapat menyelamatkan kita, secara riil, dari kontingensi? Tuhan. Tindak penyelamatan itu, teologi menyebutnya grace, pertolongan ilahi.

Teologi membedakan antara destiny dan grace, antara takdir dan pertolongan ilahi. Destiny adalah spektrum tak berhingga dari berbagai aksiden yang mungkin—dan hanya pengetahuan ilahi yang misterius yang mengetahui alurnya. Grace adalah intervensi ilahi pada titik aksiden, dan pada momen keterjatuhan substansi dari satu aksiden ke aksiden lain. Destiny tidak diminta—ia berlaku pada siapa saja dan apa saja, secara indifferent. Grace  diminta—ia hanya berlaku pada siapa yang percaya pada Tuhan dan intervensi ilahi.

Pada destiny, Sejarah sedikit relevan, karena ini adalah spektrum metafisik dari seluruh peristiwa yang pernah, sedang, dan akan terjadi, yang hubungan-hubungannya sebagian telah kita ketahui dan sebagiannya lagi tidak: lepas dan arbitrer. Kita tak tahu keluasan spektrum ini, persis karena kita tahu bahwa Sejarah tak memiliki akhir. Ketakberhinggaan spektrum ini mencakup di dalamnya ketakberhinggaan kemungkinan dalam Sejarah. Begitu katup Sejarah dilepas, kita tak tahu apakah Semesta ini memiliki sekian bab Sejarah; kita juga tak dapat memastikan apakah umat manusia akan menghidupi sekian bab lagi dalam Sejarah, di manakah epilog dari seluruh bab ini, dan apakah epilog itu bukan suatu awal baru dari bab yang lain dari buku yang sama atau buku yang berbeda.

Destiny adalah medan yang dihuni Sejarah pada taraf kosmik—di titik itu Sejarah, kosmologi, dan teologi bertemu. Namun, ia bukan ranah Sejarah yang sebenarnya. Pertautan hakiki Sejarah dan teologi terjadi pada grace, yang merupakan momen tindakan-tindakan ilahi pada peristiwa. Grace merupakan pertautan paling intim, rahasia, sekaligus terkuat antara tindakan manusiawi, yang mengubah Sejarah, dan tindakan ilahi, yang memungkinkan perubahan itu terjadi.

Untuk menyelamatkan diri dari badai aksidentalitas, seorang religius memanggil Tuhan dengan doa. Dengan melibatkan Tuhan, ia meniti rangkaian tindakan tanpa membuat aksiden menjadi suatu kecelakaan yang mengganggu horizon harapannya. Aksiden tetap hadir sebagai suatu eksterioritas, tetapi efek destruktifnya diminimalisir. Eksterioritas itu tak radikal—dengan cara ini, seorang religius menjinakkan kejutan aksiden. Menjinakkan, namun tanpa meniadakannya sekali. Aksidentalitas tetap efektif. Kontingensi tetap bekerja.

Pada titik ini, narasi agama menyediakan kerangka bagi finalitas tindakan. Narasi agama, melalui teologi, memungkinkan gagasan finalitas tindakan dipikirkan. Dengan cara demikian, seorang religius memaknai tindakannya, sekaligus memungkinkan tujuan-tujuan terdekatnya dalam Sejarah termaknai “sejalan dengan restu ilahi”. Agama dapat menjadi narasi kecil bagi finalitas-finalitas tindakan, sebagaimana Marxisme dapat menjadi narasi bagi pengorganisasian perlawanan. Namun, agama dapat berambisi menjadi metanarasi yang memberikan kepastian bagi kontingensi, seperti sains. Kita tahu dusta apa yang terjadi ketika teologi menjadi metanarasi ini: agama menjadi kepentingan para pengkhotbah demagogi, yang hanya menawarkan salah satu dari dua hal: kepatuhan atau kehancuran bila membangkang. Narasi teologi yang cocok bagi tirani.

Agama pun, dengan keyakinannya pada Surga, tak akan pernah mampu menghadirkan “surga Sejarah” dan memaklumkan bahwa Sejarah telah “berakhir”. Meski kehidupan telah menjadi begitu sempurna tanpa cacat dan kemaksiatan, Sejarah terus bergerak, dalam aksidentalitasnya yang tak tertebak.

***

Apa arti “mengubah Sejarah”? Mengubah Sejarah adalah mengonstruksi suatu finalitas dan mengorganisasikannya ke dalam hamparan medan tindakan-tindakan yang mungkin. Di dalam ketertujuan finalitas ini, kausalitas dimungkinkan. Namun, kausalitas ini berada dalam medan aksidentalitas yang arahnya tak tertebak. Ibarat perahu, kausalitas adalah perahu kecil yang berayun, di mana kemungkinan-kemungkinan ia tenggelam dan sampai di daratan yang dituju sama besarnya. Kausalitas adalah hubungan logis di mana memukul dapat membuat orang sakit, namun aksidentalitasnya adalah bahwa memukul dapat membuat orang mati. Analogi lain mungkin diberikan. Kausalitas adalah di mana kelaparan dapat membuat rakyat marah dan Revolusi pecah, namun aksidentalitasnya adalah bahwa kelaparan dapat membuat orang-orang mati begitu saja dan Negara baik-baik saja—kekuasaan tetap berada di tangan “mereka”.

***

Sejarah lebih banyak dipikirkan dalam hubungannya dengan masa lalu. Tesis-tesis Walter Benjamin tentang Sejarah sudah cukup menjawab hal itu, dan membuktikannya. Dalam hubungannya dengan masa lalu, kita mencari apa yang disebut Benjamin, “gambaran sejati masa lalu” (Tesis V). Sangat jarang kita memikirkan Sejarah dalam hubungannya dengan “masa nanti”.

Kita berpikir bahwa masa lalu sepenuhnya menentukan cara kita menyikapi “masa nanti”, masa depan. Begitu kita memikirkan Sejarah dari peristiwa, maka cara pandang kita sepenuhnya berubah. Apa yang akan terjadi memiliki hubungan aksidental dan kausal dengan koordinat tindakan terkecil yang kita lakukan detik ini. Memikirkan Sejarah adalah memikirkan praksis dari titik terkecil ini—membuka semesta dengan mengintip dari lubang kunci yang ditutupi oleh kabut-kabut ilusif tentang kekinian yang stabil, tenang, dan damai oleh status quo.

Facebook Comments