Sumber gambar: https://www.history.com/this-day-in-history/niccolo-machiavelli-born

Niccolò Machiavelli (1469-1527) adalah seorang filsuf politik cum diplomat yang masyhur. Ia kerap disangkutpautkan dengan prinsip “menghalalkan segala cara” demi mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.  Penguasa bisa saja bertindak sangat moralis, misalnya menunjukkan kemurahan hati, sikap saleh, manusiawi, dan jujur, tetapi semua ini harus berfungsi untuk mencapai maksud-maksudnya. Jika keadaan menuntut, demi kekuasaannya juga, dia harus bisa mengambil sikap sebaliknya. Itulah taktik “Machiavellian”. [1]

Tulisan ini tidak akan membahas filsafat politik Machiavelli, namun ingin menggali pemikiran spekulatifnya mengenai sejarah. Machiavelli bukanlah seorang sejarawan kondang. Namun, tampak sekali bahwa dia merupakan seorang pemikir yang menaruh minat besar pada sejarah. Dosen sejarah pemikiran politik di Universitas Ulster, Irlandia Utara, M. C. Lemon (1945-2014) mengungkapkan bahwa dalam karya-karya utama Machiavelli terkandung pemikiran-pemikiran tentang filsafat sejarah yang tidak bisa diabaikan untuk diselidiki. Lemon menengarai bahwa Machiavelli berulang kali menyebut pentingnya mempelajari sejarah bagi siapa pun, terkhusus para pemimpin.[2]

Pembahasan kali ini akan difokuskan pada salah satu konsep dalam horizon pemikiran Machiavelli, yakni Fortuna[3](keberuntungan atau nasib mujur). Dalam pemikiran politiknya, ketika dipadukan dengan virtù, Fortuna adalah resep untuk menjadi penguasa yang sukses. Apabila diteropong dari kacamata filsafat sejarah spekulatif, konsep Fortuna bisa dilihat sebagai salah satu daya yang menggerakkan arus sejarah. Apa yang dimaksud dengan Fortuna oleh Machiavelli? Bagaimana Fortuna menjadi penggerak atau daya pengubah arus sejarah dan masihkah pemikiran ini relevan di era kontemporer? Sebelum masuk ke pembahasan tersebut, terlebih dahulu akan dipaparkan garis besar pemikiran Machiavelli perihal sejarah.

Machiavelli dan Sejarah

Minatnya akan sejarah membuat Machiavelli menyisipkan uraian sejarah riil ke dalam karya-karyanya. Paul Avis menganalisis bahwa dalam menuliskan laporan peristiwa sejarah, Machiavelli menggunakan pendekatan deduktif, bukan induktif.[4] Dari fakta-fakta yang terkumpul, dia akan melanjutkan untuk membuat kesimpulan yang jauh jangkauannya. Secara khusus, Machiavelli banyak mengulik sejarah timbul dan tenggelamnya bangsa atau kepangeranan. Dia juga menaruh minat pada penyelidikan peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta yang menggetarkan secara moral, misalnya rezim Hannibal (247—181 SM) yang dikenal kejam.[5]

Lemon menangkap bahwa Machiavelli tidak berbicara sejarah sebagai urutan peristiwa, tetapi lebih memaksudkan sejarah sebagai roh (spirit, the true sense) yang hidup pada zaman tertentu.[6] Bagi Machiavelli, seorang pemimpin sama sekali tidak boleh mengabaikan roh yang sedang memandu pergerakan suatu zaman dan yang pada masa-masa sebelumnya telah memandu jalannya sejarah. Telah tampak dari sejarah bahwa ketika seorang pemimpin gagal memahami atau mengabaikan roh zaman, pada saat itu pula krisis dimulai. Terkait hal ini, Lemon menganggap bahwa ungkapan itu dimaksudkan Machiavelli untuk mengkritik orang-orang yang melupakan jasa-jasa dan tindakan-tindakan yang besar dari individu-individu pada masa lalu. [7]

Sebelum Machiavelli, ada suatu pandangan umum bahwa sejarah bersifat diskontinu. Faktanya, tidak ada satu narasi tunggal sejarah. Tiap masa dan tiap budaya memiki kekhasan dan ciri unik tersendiri. Masa lalu akan selalu diam pada masa lalu dan tidak relevan untuk masa sekarang yang sudah dengan sendirinya unik. Akan tetapi, Machiavelli tidak berhenti pada diskontinuitas tersebut dan malah menekankan perlunya mencari konektivitas sejarah sehingga apa yang terjadi di masa lalu masih bisa bermakna. Dari konsep tersebut, Lemon melihat bahwa bagi Machiavelli sejarah seperti sebuah toko loak yang memuat harta karun atau peninggalan-peninggalan berharga. Di dalamnya, seseorang dapat menemukan hal-hal yang merupakan keunggulan, jasa khas, prinsip-prinsip, dan hal-hal berharga lain dari suatu zaman. Nantinya hal-hal unggul itu bisa diaplikasikan lagi untuk zaman sekarang, terkhusus dalam membangun suatu pemerintahan negara (statecraft). [8]

Selain menekankan pentingnya belajar dari sejarah, Machiavelli juga mencermati bahwa ada dua hal yang senantiasa tetap atau sama dalam sejarah.[9] Pertama, tatanan alam (order of nature). Kedua, kodrat manusia (human nature). Agar dapat mempertahankan kekuasaannya, seorang pemimpin harus memahami dua kodrat yang tak berubah itu. Misalnya, seorang pemimpin dianjurkan untuk mengeksploitasi rasa takut pada pengikut-pengikutnya karena secara kodrati perilaku manusia selalu dipengaruhi “rasa takut dan cinta”. Rasa takut dalam kodrat manusia adalah hal yang tidak akan hilang.

Namun, tidak mungkin segala hal yang ada di bawah matahari ini serba tetap. Sejarah tidak mungkin ada tanpa gejolak gejala dan gerak-gerik peristiwa. Menurut Machiavelli, adanya keragaman peristiwa sejarah yang bergonta-ganti di sana-sini hanyalah perkara distribusi kebaikan-kejahatan yang berbeda dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu, Lemon mengungkapkan bahwa bagi Machiavelli tampak jelas ada prinsip atau faktor lain yang menentukan jalannya sejarah.[10] Salah satunya, Fortuna.

Fortuna dalam Sejarah

Apa itu Fortuna? Machiavelli menyajikan secara berlapis-lapis definisi yang bisa ditelusuri. Secara etimologis, kata “Fortuna” mengacu pada sosok Dewi Fortuna, dewi keberuntungan atau kekayaan dari mitologi Romawi Klasik. Dewi Fortuna digambarkan dalam posisi berdiri di atas sebuah bola. Hal itu melambangkan bahwa keberuntungan tidaklah selalu stabil. Dia membawa bejana berbentuk tanduk besar (cornucopia) yang diisi hasil panen, bunga atau kacang. Hal itu melambangkan kelimpahan dan kekayaan.

Meskipun elemen-elemen klasiknya bertahan, gambar Dewi Fortuna yang beredar pada Eropa Abad Pertengahan lebih menonjolkan kemampuannya untuk menghancurkan harapan dan ambisi manusia. Dewi Fortuna dilukiskan memegang kendali roda (rota) perputaran nasib.[11] Di atas roda itu ada seorang manusia yang duduk, siap untuk tergelincir jatuh ketika roda berputar. Tidak ada orang yang selamanya bisa duduk di atas roda. Tidak ada manusia yang bisa menguasai nasibnya sendiri. Dalam hal ini, Fortuna bisa mencurangi atau menjahili manusia secara sewenang-wenang. Pertanyaan apakah peran Dewi Fortuna menaati kehendak Allah atau hanya kekuatan alamiah yang tidak bersifat pribadi merupakan topik perdebatan sepanjang Abad Pertengahan dan Renaisans.[12]

Pada awal abad XVI Machiavelli membuat syair yang menyebut Fortuna sebagai penguasa alam semesta, duduk di istana yang megah, ditakuti dan dipuja oleh Dewa Jupiter. Machiavelli juga menggambarkan peran Fortuna dalam sejarah. Orang-orang Mesir, Asyur, Babilonia, Media, Persia, Makedonia, dan akhirnya orang-orang Romawi berhutang kepada Fortuna yang maha kuasa untuk kejayaan kerajaan-kerajaan mereka. Caesar, Aleksander Agung, Pompey, dan Cyrus, mereka semua dicintai oleh Fortuna, tetapi juga dihancurkan olehnya. Kebajikan adalah satu-satunya hal yang dapat menaklukkan kekuatannya.[13] Meskipun demikian, bagi Machiavelli, Fortuna tidak pernah sekadar sebuah tokoh mitis atau personifikasi sebuah konsep.

Konsep Fortuna diberi perhatian eksklusif oleh Machiavelli di Bab XXV Il Principe. Secara umum Machiavelli menyebut Fortuna untuk merujuk pada semua keadaan yang tidak dapat dikendalikan manusia, dan secara khusus kondisi-kondisi dan “tanda-tanda zaman” yang secara langsung memengaruhi keberhasilan atau kegagalan seorang pangeran. Lemon menyebutkan beberapa contoh Fortuna, seperti persoalaan ledakan penduduk, wabah penyakit, krisis ekonomi, atau serangan terorisme.[14] Fortuna berdampak pada pada semua orang, tanpa pandang bulu, tanpa bisa dikalkulasi atau diprediksi. Machiavelli menulis:

Saya bukannya tidak sadar bahwa banyak orang dahulu dan sekarang berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa dikendalikan oleh nasib mujur [Fortuna] dan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga kebijaksanaan [virtù] manusia tidak dapat mengubahnya. Bahkan orang berpandangan bahwa manusia tidak bisa memengaruhinya sama sekali. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya bekerja keras, tetapi orang harus menyerah pada kekuasaan nasib.[15]

Patut menjadi catatan bahwa pada kutipan tersebut Machiavelli membedakan Fortuna dengan Tuhan.

Lebih lanjut, Machiavelli menganalogikan Fortuna sebagai sungai atau banjir bandang yang destruktif. “Hal ini saya umpamakan seperti sungai berarus deras, kalau meluap membanjiri dataran sekitarnya, merobohkan pohon dan bangunan, menghanyutkan tanah dan menumpuknya di tempat lain. Setiap orang menghadapi keganasannya tanpa kemungkinan untuk melawan.”[16]

Jika pembacaan berakhir di sana, uraian Machiavelli sangat terkesan pesimistik dan deterministik. Akan tetapi, Machiavelli tidak mengajak pembacanya untuk sekadar menyerah pada dahsyatnya sungai. Menurutnya, derasnya arus sungai itu bisa dijinakkan, meskipun tidak bisa sepenuhnya dilumpuhkan. Ketika musim banjir belum tiba, ada langkah-langkah preventif yang bisa dilakukan, misalnya “membangun tanggul dan saluran-saluran sehingga kalau sungai banjir, air dapat mengalir lewat kanal atau kekuatan arusnya tidak begitu ganas membahayakan.”[17] Hal yang sama juga berlaku dalam menghadapi Fortuna. Fortuna menunjukkan kekuasaannya sewaktu tidak ada virtù mengendalikannya. Dan pengaruh kekuatannya dirasakan di tempat-tempat yang tidak ada tanggul atau saluran yang dibangun untuk menahannya.”[18]

Pada kalimat tersebut, Fortuna dilawankan dengan virtù. Apa itu virtù? Machiavelli tidak pernah menerangkan definisi virtù secara jelas.[19] Pada umumnya, virtù biasanya dipahami sebagai keutamaan (Inggris: virtue), kebajikan, moralitas atau hal-hal yang luhur sifatnya. Akan tetapi, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Secara etimologis, virtù memiliki akar kata vir (Latin) yang berarti berarti laki-laki atau sifat kejantanan. Makna virtù selingkung dengan tindakan-tindakan yang identik dengan sifat kelaki-lakian: ketegasan, keberanian, kegesitan, kegarangan, kelicikan, semua sikap yang perlu untuk berkuasa. Dalam penggunaannya Machiavelli konsisten menampakkan virtù sebagai dorongan, bakat, atau kemampuan yang diarahkan menuju pencapaian tujuan tertentu, dan itu adalah kualitas yang paling vital bagi seorang pangeran. Tersirat, virtù tidak selamanya merupakan perbuatan baik.

Perkembangan virtù terus-menerus dipengaruhi dan diganggu oleh Fortuna.[20]Asumsi fundamental tersebut didasarkan pada paham bahwa Fortuna bertujuan untuk menyediakan kesempatan-kesempatan bagi orang yang memiliki virtù untuk membuktikan kualitas diri mereka. Jika kesempatan itu tidak mewujud (materialize) atau muncul, efek dari virtù bisa teranulir. Begitupun sebaliknya, jika tidak ada virtù yang bisa mengenali dan merebut kesempatan, kesempatan itu akan sia-sia.[21] Fortuna adalah apa yang mengakibatkan kesempatan mewujud atau muncul. Virtù tidak bisa menciptakan kesempatan. Dari sini terlihat bahwa Fortuna lebih tampak mendominasi. Namun, Machiavelli kadang-kadang mengatakan bahwa virtù bisa “mengalahkan” Fortuna jika diterapkan dengan benar.

Sebelum Bab XXV, Machiavelli sudah menyingung relasi virtù dan Fortuna. Bab I The Prince secara gamblang menjelaskan bahwa ada negara-negara yang “direbut dengan pasukan pangeran sendiri atau pasukan yang lainnya, atau kekuasaan negara jatuh ke tangan sang pangeran karena nasib baiknya [Fortuna] atau keahlian khusus [virtù] sang pangeran.”[22] Istilah Fortuna dan virtù muncul kembali di Bab VI dan VII, ketika Machiavelli membandingkan antara pangeran yang menggunakan virtù untuk berkuasa dan pangeran yang mengandalkan Fortuna belaka. Di Bab VI, saat merefleksikan tokoh-tokoh besar seperti Musa, Cyrus, Romulus, Theseus, Machiavelli menulis, “Dan dalam menganalisis hidup dan perbuatan mereka, kita akan melihat bahwa orang-orang besar ini tidak mencapai kebesaran mereka karena keuntungan mereka, namun karena kesempatan yang diberikan kepada mereka dan yang mereka bentuk sesuai keinginan mereka.”[23] Menurut James Atkinson, mulai pada Bab ini tampak ide kreatif dari Machiavelli bahwa seorang pangeran harus bertindak seakan-akan dia bisa mengontrol Fortuna.[24]

Baru di Bab XXV, gagasan ini dipertegas. Manusia masih bisa memegang kendali sejarah hidupnya. Dengan jeli, Machiavelli menjelaskan bahwa Fortuna memang menguasai hidup manusia, tetapi hanya separuh. Separuhnya lagi dibiarkan untuk diatur oleh diri manusia sendiri dan di arena inilah virtù menari-nari. Keduanya menjadi sisi sepasang sayap seorang pemimpin: 

[R]aja yang mendasarkan diri seluruhnya pada Fortuna akan menderita kalau Fortuna [nasib mujur] itu berubah. Saya yakin bahwa orang yang menyesuaikan virtù-nya dengan zaman akan berkembang, dan demikian pula orang yang virtù-nya bertentangan dengan tuntutan zaman tidak akan berkembang. Kalau ia mengubah sifatnya sesuai dengan tanda-tanda zaman dan situasi, maka nasib mujurnya tidak akan berubah….

Karena itu, saya mengambil kesimpulan bahwa Dewi Fortuna atau nasib mujur dapat berubah-ubah dan orang yang tetap memegang teguh cara-cara mereka, akan berhasil selama cara-cara ini sesuai dengan situasi, tetapi kalau cara-cara itu berlawanan, maka mereka akan mengalami kegagalan.[25]

Machiavelli mengambil contoh tentang virtù Paus Julius II yang serba tergesa-gesa dan cepat dalam segala tindakannya dan keputusannya. Ketergesa-gesaan itu adalah strategi khasnya dalam berpolitik. Dengan sikap seperti itu, menurut catatan sejarah dia selalu berhasil memikat dukungan dari raja-raja lain dan menang dalam peperangan. Akan tetapi, menurut Machiavelli, cara-cara Julius yang tergesa-gesa akan sia-sia jika dia memasuki suatu zaman yang menuntutnya untuk lebih bersikap pelan-pelan dan hati-hati. Andaikata Paus ini tetap memaksakan virtù khasnya (ketergesa-gesaan) saat zaman itu tiba, kemungkinan besar Fortuna tidak akan berpihak padanya.

Dari contoh tentang Paus Julius II seperti yang diungkapkan Lemon, visi historis Machiavelli mengenai alur sejarah jelas bukan siklis dan bukan juga bukan linear. Akan tetapi, lebih tepat dikatakan bahwa dalam pemikiran Machiavelli sejarah berjalan secara acak kacau balau (threatening chaotic), naik-turun (ups and downs), bahkan tanpa arah.[26] Ciri tersebut analog dengan gambaran roda nasib yang diputar Dewi Fortuna.

Bersenjatakan virtù, manusia mengekang Fortuna agar tidak terlampau liar dan berdampak buruk. Dengan bahasa seorang misoginis, Machiavelli mengibaratkan Fortuna sebagai seorang perempuan yang perlu dipukul dan dihajar agar bisa dikendalikan:

Saya memang berpendapat bahwa lebih baik bersikap impulsif daripada berhati-hati; karena Fortuna adalah seorang wanita, dan jika Anda ingin menguasainya, Anda perlu mengalahkannya dengan paksa. Pengalaman membuktikan bahwa wanita membiarkan diri dikuasai oleh orang yang pemberani daripada oleh mereka yang malu-malu. Karena itu, seperti seorang wanita, Fortuna selalu merupakan sahabat bagi orang muda, karena mereka cenderung bertindak impulsif, lebih bergelora, dan menguasainya dengan keberanian lebih besar.[27]

Rumusan “Fortuna adalah seorang wanita, dan… perlu  mengalahkannya” adalah ekspresi sintetik yang menunjukkan penolakan Machiavelli terhadap teori klasik dan Kristen tentang penyelenggaraan ilahi.[28]

Kontekstualisasi

Masihkah pemikiran Machiavelli ini relevan di era kontemporer?

Tulisan ini dibuat ketika kita sedang gencar memerangi pandemi Covid-19 (Corona virus disease 2019) akibat menyebarnya virus SARS-CoV-2 dari Wuhan, Tiongkok sejak Desember 2019. Di kondisi yang paling parah, seorang penderita Covid-19 dapat mengalami sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome atau ARDS), pneumonia, dan kegagalan multiorgan yang akhirnya berujung pada kematian. Penularannya berskala global, terjadi begitu cepat, tanpa mengenal perbedaan kaya-miskin, warna kulit, dan agama. Lebih dari 150 ribu nyawa terenggut. Terjadi krisis ekonomi di mana-mana. Direfleksikan dari pemikiran Machiavelli, pandemi ini bisa dikatakan sebagai manifestasi Fortuna, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan manusia, daya destruktif yang mengakibatkan kematian di mana-mana. Citra penyebaran wabah ini seolah menjadi identik dengan kesewenangan nasib.

Godaan terbesar bagi manusia adalah malas pikir yang dipupuk dengan keyakinan agama/kepercayaan yang konservatif, bahwa semua bencana, termasuk wabah Covid-19, datang dari Tuhan.[29] Dengan paradigma seperti itu, upaya-upaya untuk meminimalkan dampak bencana dan mencari penyebab bencana tidak terlalu penting. Bencana dipahami sebagai kutukan Tuhan kepada manusia karena kejahatan dan dosa-dosa mereka. Maka sikap yang diambil dalam menghadapi bencana ini adalah pasrah dan berdoa agar diampuni dari segala dosa. Paradigma seperti ini membuat orang menyerah pada Fortuna. Tampak pula bahwa dengan paradigma ini, mustahil terjadi perpaduan virtù dan Fortuna. Paradigma yang menumpulkan sense of crises ini tentu berakibat fatal, seperti peningkatan jumlah korban.

Sebaliknya, virtù tampak bisa menari akur dengan Fortuna, ketika pemerintah setiap negara mulai bereaksi untuk menentukan kebijakan-kebijakanan guna menanggulangi pandemi ini, baik secara preventif maupun kuratif, Albertus Bagus Laksana berpendapat bahwa tantangan multidimensi yang urgen, seperti pandemi ini, menjadi kesempatan formasi pemimpin yang sejati.[30]  Dalam masa-masa krisis ini, bisa dilihat bahwa seorang yang menjadi pemimpin sejati ditempa dan dididik oleh tantangan. Yang dinilai dari diri sang pemimpin adalah cepat tanggapnya dia dalam bergulat dengan situasi krisis melalui seni mengambil keputusan, berikut menanggung risiko-risikonya. Dalam terminologi Machiavellian, persis inilah taktik untuk menguasai Fortuna.

Nyatanya, kebijakan-kebijakan tersebut mendisrupsi manusia dari kenyamanan hidup harian yang selama ini berjalan. Untuk mencegah eskalasi penularan melalui kerumunan dan kontak fisik antarwarga, pembatasan sosial diberlakukan di mana-mana. Untuk dapat sintas, dituntut adanya kedisiplinan warga dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kegiatan berpergian dibatasi. Pusat-pusat hiburan, mal, sekolah, rumah-rumah ibadat, dan tempat pariwisata untuk sementara ditutup. Pengecualian pada kegiatan vital seperti distribusi dan penjualan bahan-bahan pokok konsumsi, SPBU, bank, dan aparat keamanan. Banyak aktivitas dan pekerjaan harian yang mau tidak mau harus beralih ke dunia digital. Bekerja dari rumah. Mengikuti kelas atau kuliah dari rumah. Bahkan, beribadat dari rumah.

F. Budi Hardiman melihat:

[T]aktik pemencilan secara menakjubkan juga menghadirkan realitas yang selama ini hilang dan sesungguhnya telah lama kita rindukan: keluarga-keluarga yang berkumpul memulihkan diri dari luka-luka dunia kerja, lingkungan hidup yang mengaso dari asap mobil dan pabrik, kesadaran higiene dan disiplin suatu masyarakat yang sebelumnya jorok dan permisif, kepatuhan kelompok-kelompok agama kepada pemerintahan sipil, dan munculnya religiusitas yang berjarak dari ritualisme rutin.[31]

Serangkaian sisi positif tersebut memperlihatkan bahwa arus sejarah manusia tetap bergerak, kendati tampak dilumpuhkan oleh sebuah wabah kasat mata.

Tidak hanya dari pemerintah, virtù bisa tampak pula dalam diri para dokter dan perawat  yang dengan tabah mencari cara-cara terbaik untuk merawat pasien positif Covid-19. Virtù juga teraktualisasi pada kelompok-kelompok ilmuwan dan ahli obat-obatan yang berpacu dengan waktu untuk menghasilkan vaksin dan menemukan obat-obat yang efektif, para pengamat ekonomi yang aktif melakukan analisis-analisis untuk meramal masa depan perekonomian pascawabah, dan para aktivis sosial-kemanusiaan yang menggalang dana untuk pengadaan perlengkapan medis (e.g. alat perlindungan diri, masker, cairan disinfektan) dan memastikan kelompok-kelompok yang rentan secara ekonomi tidak semakin menderita karena tidak mendapat pemasukan. Tak ketinggalan, beberapa filsuf pun turun tangan untuk merefleksikan fenomena horor ini secara kritis dan mengais-ngais makna di balik kengeriannya. Dengan demikian, ketika virtù mulai dilibatkan dalam hidup manusia, ada harapan bahwa roda nasib bisa berputar ke arah yang lebih baik. Tanpa keterlibatan virtù, roda nasib manusia hanya berada di bawah kuasa sewenang-wenang Dewi Fortuna.

Penutup

Fortuna secara radikal bersifat temporal. Fortuna menghancurkan apa saja yang dinilai manusia sebagai abadi dan menjadikannya kontingen. Fortuna, sebagai satu-satunya elemen konstan di dunia ini membuat semua hal lain menjadi tidak konstan, serba kontingen, dan dapat berubah tanpa akhir. Lemon menilai bahwa gagasan Machiavelli tentang Fortuna patut diapresiasi. Menurutnya, Machiavelli berhasil untuk tidak jatuh ke dalam aliran fatalisme (determinisme)yang mengagung-agungkan Fortuna, menihilkan kebebasan manusia, dan menerima sepenuhnya tali-tali nasib.[32]

Dari uraian Machiavelli, pembaca dapat melihat bagaimana pemahamannya mengenai daya-daya penggerak sejarah memengaruhi filsafat politiknya. Dengan berulang kali menggunakan kata virtù dan Fortuna secara bersamaan, Machiavelli ingin menganjurkan para pemimpin agar memadukan keduanya. Maksudnya, seorang pemimpin akan sukses bukan karena dia bergantung pada “keberuntungan” (Fortuna)—daya-daya di luar diri manusia semata. Dia juga tidak akan sukses jika hanya memaksakan diri dengan segala keunggulan virtù-nya. Dia perlu pandai-pandai mengenali dan mengambil kesempatan yang disediakan Fortuna, sembari menyetel virtù (mengambil sikap) agar tanggap terhadap tanda-tanda zaman. Dari sintesis ini, tampak bahwa Machiavelli masih memberi ruang untuk peran kebebasan manusia. Artinya, manusia tetap dituntut bertanggung jawab untuk sejarah. Secara positif, kontingensi sejarah akibat Fortuna dapat dijadikan sarana untuk memupuk kewaspadaan dan kerendahan hati seseorang untuk belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman (mengembangkan diri).

Mungkin satu-satunya celah yang bisa dimasuki untuk mengkritik pemikiran Machiavelli mengenai Fortuna terletak pada begitu banyaknya bentuk virtù. Dengan batasan yang begitu luas dan longgar, virtù bisa juga mencakup tindakan-tindakan yang secara moral bermasalah (e.g. membunuh, menipu, mencuri). Segala hal bisa dihalalkan ketika diatasnamakan sebagai cara menundukkan Fortuna. Kalau demikian, roda nasib tetap bisa sewenang-wenang berputar, hanya saja yang mengendalikannya adalah manusia ber-virtù culas.


Catatan akhir:

[1] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietszche (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), 19.

[2] M. C. Lemon, Philosophy of History: A Guide for Students (New York: Routledge, 2003), 94.

[3]Fortuna” (ditulis miring) menunjuk pada konsep Fortuna Machiavelli, sedangkan “Fortuna” (ditulis tegak) menunjuk pada tokoh Dewi Fortuna.

[4] Paul Avis, Foundations of Modern Historical Thought: From Machiavelli to Vico (New York, NY: Routledge, 2006), 41

[5] Lemon, Philosophy of History, 93.

[6] Lemon, Philosophy of History, 95.

[7] Lemon, Philosophy of History, 95.

[8] Lemon, Philosophy of History, 96.

[9] Lemon, Philosophy of History, 97.

[10] Lemon, Philosophy of History, 98.

[11] John T. Scott, The Routledge Guidebook to Machiavelli’s The Prince (New York, NY: Routledge, 2016), 223.

[12] Quentin Skinner, Machiavelli: A Very Short Introduction (New York, NY: Oxford University Press, 2000), 29-30.

[13] Daniele Miano, Fortuna: Deity and Concept in Archaic and Republican Italy (Oxford: Oxford University Press, 2018), 1.

[14] Lemon, Philosophy of History, 101.

[15] Niccolò Machiavelli, The Prince, ed. trans. James B. Atkinson (New York, NY: Macmillan Publishing Company, 1986), XXV: 1-7.

[16] Machiavelli, The Prince, XXV: 18-24.

[17] Machiavelli, The Prince, XXV: 24-30.

[18] Machiavelli, The Prince, XXV: 30-34

[19] Skinner, Machiavelli: A Very, 40.

[20] James B. Atkinson, introduction to The Prince by Niccolò Machiavelli, ed. trans. James B. Atkinson (New York, NY: Macmillan Publishing Company, 1986), 71.

[21] Machiavelli, The Prince, VI: 46-49.

[22] Machiavelli, The Prince, I: 10-14.

[23] Machiavelli, The Prince, VI: 42-46.

[24] Atkinson, “introduction,” 72.

[25] Machiavelli, The Prince, XXV: 49-55, 125-130.

[26] Lemon, Philosophy of History, 103.

[27] Machiavelli, The Prince, XXV: 130-138.

[28] Miguel E. Vatter, Between Form and Event: Machiavelli’s Theory of Political Freedom (Dordrecht: Springer, 2000), 157.

[29] Adrianus Suyadi, “Peran Agama Hadapi Covid-19,” KOMPAS, 26 Maret 2020, Opini, 6.

[30] A. Bagus Laksana, “Krisis Kepemimpinan”, Rohani No. 4 (April 2020), 3.

[31] F. Budi Hardiman, “Melalui Pandemi Covid-19,” KOMPAS, 26 Maret 2020, Opini, 6.

[32] Lemon, Philosophy of History, 102.

Daftar Pustaka

Atkinson, James B. Introduction to The Prince by Niccolò Machiavelli, 1-90. New York, NY: Macmillan Publishing Company, 1986.

Avis, Paul. Foundations of Modern Historical Thought: From Machiavelli to Vico. New York, NY: Routledge, 2006.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietszche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

_______. “Melalui Pandemi Covid-19.” KOMPAS, 27 Maret 2020, Opini.

Laksana, A. Bagus. “Krisis Kepemimpinan.” Rohani. April 2020.

Lemon, M. C. Philosophy of History: A Guide for Students. New York: Routledge, 2003.

Machiavelli, Niccolò. The Prince. Edited and translated by James B. Atkinson. New York, NY: Macmillan Publishing Company, 1986.

Miano, Daniele. Fortuna: Deity and Concept in Archaic and Republican Italy.Oxford: Oxford University Press, 2018.

Scott, John T. The Routledge Guidebook to Machiavelli’s The Prince. New York, NY: Routledge, 2016.

Skinner, Quentin. Machiavelli: A Very Short Introduction.New York, NY: Oxford University Press, 2000.

Strathern, Paul. 90 Menit Bersama Machiavelli. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2001.

Suyadi, Adrianus. “Peran Agama Hadapi Covid-19.” KOMPAS, 26 Maret 2020, Opini.

Vatter, Miguel E. Between Form and Event: Machiavelli’s Theory of Political Freedom. Dordrecht: Springer, 2000.

Facebook Comments