PK Film (sumber:https://moviemahal.net/2015/01/25/pk-rajkumar-hirani-2014-india-100-million-and-counting/)

 

You all say that it is only one god. I say, no… There are two gods. One is the one who created us all. The other one is the one created by people like you.”

Eksistensi agama di dunia saat ini terasa bagaikan sekeping koin yang memiliki dua mata sisi berbeda. Di satu sisi, agama adalah sebuah pegangan iman kepada Dia yang absolut sehingga orang memiliki harapan dalam menjalani kehidupannya. Di lain sisi, saat ini agama kerap dikaitkan dengan sikap fundamentalisme dan radikalisme. Agama hanya dijadikan atribut dan simbol, sementara sikap hidup harian sama sekali berlainan dengan ajaran agama yang pada dasarnya baik. Salah satu film bagus yang terkait dengan praktik kehidupan beragama adalah film berjudul “PK” (sekaligus nama tokoh). Film yang dibuat tahun 2014 ini memberikan kritiknya yang tajam dan dalam bagi kehidupan beragama. Bagaimana cara PK mengajak seluruh umat manusia menyadari makna sejati agama? Tulisan berikut secara garis besar akan dibagi ke dalam empat (4) bagian, yakni pesan pokok yang disampaikan oleh film “PK”, gejala-gejala sosial yang ada dalam film, perspektif teori sosiologi agama yang terkait, dan relevansi antara teori sosiologi agama dengan gejala sosial yang ada dalam film. 

Pesan Pokok yang Disampaikan Film “PK”

Paling tidak, ada tiga (3) pesan pokok yang disampaikan dalam film. Pesan pertama adalah kritik terhadap agama-agama dan praktik-praktik keagamaannya. Hal ini tampak jelas ketika PK berkata, “Who is the right One?”. Pertanyaan ini muncul setelah ia mengenal berbagai macam agama dan praktik keagamaannya. Ada agama yang menyembah Tuhan ketika hari Minggu. Agama yang lain menyembah Tuhan di hari Selasa atau Jumat. Ada agama yang berdoa dengan menggunakan pengeras suara. Agama yang lain berdoa dengan cara menyesah diri. Ada agama yang meminum anggur saat berdoa dan agama lain yang mengharamkan anggur.

Keberagaman tradisi praksis keagamaan ini lantas mengantar PK pada pertanyaan tadi. Dari sekian banyak agama dan tradisi keagamaan, yang manakah yang benar? Agama dan tradisi keagamaan mana yang dapat membawa seseorang menuju kepada Tuhan? Agama dan tradisi keagamaan hendaknya dimaknai sebagai sarana atau jalan untuk mencapai Tuhan sebagai tujuan. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa meskipun sarana atau jalan yang ditempuh berbeda, namun orang tetap bisa menghargai perbedaan satu sama lain sebab sadar bahwa Dia yang dituju adalah sama.

Permasalahan terjadi ketika orang mulai memutlakkan agama dan tradisi keagamaannya sendiri-sendiri. PK menekankan masalah ini dalam dialognya demikian,

“Who is Hindu, who is Muslim… [S]how me where is the stamp… [Y]ou guys have made this difference and not god[A]nd this is the most dangerous wrong number of this planet

Sadar atau tidak sadar, manusialah yang membuat perbedaan agama. Sarana digeser menjadi tujuan dan tujuan digeser menjadi sarana. Apabila hal demikian terjadi, maka fundamentalisme dan radikalisme agama tidak dapat dipungkiri dapat terjadi. Salah satu adegan inspiratif dalam film tentang hal ini adalah ketika ia mengkritisi sebuah praktek keagamaan dalam bentuk penuangan susu ke atas patung dewa tertentu. “Apabila Tuhan itu memang merupakan Kebaikan Mutlak, kita tidak perlu menuang susu ke atas-Nya. Susu itu justru dapat diberikan kepada anak-anak yang kekurangan gizi,” pikir PK.

Kecintaan kita kepada agama dan tradisi keagamaan yang kita anut dengan demikian hendaknya tidak membutakan rasio yang kita miliki. Agama seharusnya menjadi tuntutan orang untuk bertindak baik secara moral, bukannya menjadi slogan kosong belaka. Jangan sampai manusia terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri sehingga tidak lagi merasakan bahwa ada saudara-saudari yang kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi. Kalau agama menjadikan manusia egois, kehadiran orang miskin lama-kelamaan dapat dirasakan sebagai gangguan. Orang-orang lebih suka memberikan makanan dan minuman kepada patung daripada memberikan kepada saudara-saudari yang membutuhkan.

Dalam terminologi PK, penyelewengan peran pemimpin agama akan menyebabkan wrong number” atau “salah sambung”. “Salah sambung” ini dapat terjadi, karena orang tidak diarahkan menuju kepada Tuhan yang sejati.

Pesan kedua sedikit banyak masih terkait dengan pesan pertama. Film “PK” secara implisit mau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, tetapi kemanusiaanlah yang perlu dibela.[i] Pesan ini amat sangat relevan dengan situasi beragama baik secara lokal maupun global. Kasus terorisme atas nama agama semakin menjamur di dunia sekarang. Semua itu berlindung di bawah legitimasi teologis untuk membela Tuhan dan memurnikan doktrin agama. Penganut agama dengan percaya diri membunuh sesamanya hanya karena itu dianggap berkenan di mata Tuhannya, entah Tuhan yang mana. Agama sekarang menjadi begitu doktriner.

Kiranya jelas bahwa yang ingin disampaikan dalam film ini adalah agama hendaknya menjadi urusan pribadi seseorang, bukan malah menjadi sarana pertengkaran.[ii] Agama juga harus menjalankan fungsinya sebagai pengontrol moral para penganutnya. Tentu, yang menjadi penggerak utamanya adalah para pemimpin atau tokoh agama, namun para  pemimpin agama juga tidak serta-merta memanfaatkan agama sebagai ladang pekerjaan baru untuk mengais keuntungan materi. Agama tidak boleh diperdagangankan atau dijadikan lahan bisnis. Hal terakhir inilah yang kiranya secara khusus menjadi pesan ketiga dalam film “PK”.

Pesan ketiga adalah kritik yang ditujukan bagi para pemimpin agama. Karakter “Maharaj Tapaswi” dalam film “PK” menampilkan sosok pemimpin agama yang menikmati kekuasaan yang ada di dalam genggaman tangannya. Di tangannya, agama beralih fungsi menjadi sebuah komoditas ekonomi dan pelanggengan kekuasaan dan kehormatan. Tapaswi mengeksploitasi ketakutan yang ada di dalam diri manusia untuk kepentingan diri dan kelompoknya semata. Penyalahgunaan peran sebagai pemimpin agama, entah untuk pemuliaan dirinya sendiri ataupun untuk kepentingan kelompok tertentu jelas merupakan sebuah penyelewengan.

Dalam terminologi PK, penyelewengan peran pemimpin agama akan menyebabkan sebuah “wrong number” atau “salah sambung”. “Salah sambung” ini dapat terjadi, karena orang tidak diarahkan menuju kepada Tuhan yang sejati. Jawaban yang diberikan merupakan jawaban yang subjektif, tumpul, dan bahkan boleh dikatakan begitu sarat akan kepentingan pribadi pemimpin agama tersebut. Orang yang mencari dan hendak menemukan Tuhan tidak diarahkan kepada Sang Tujuan yang Utama. Terkait kritik ini, ia mengungkapkan bahwa sekarang ini ada dua Tuhan yang bereksistensi dalam dunia manusia, yakni Tuhan yang sebenarnya (the real God) dan Tuhan yang palsu (pretend to act as God). Tuhan yang sebenarnya merupakan Dia yang menaruh iman dan pengharapan dalam diri manusia, sedangkan mereka yang berpura-pura sebagai Tuhan menghancurkan iman dan pengharapan itu. Mereka mengeksploitasi dan memanfaatkan ketakutan manusia bagi kepentingan diri dan kelompoknya, sehingga iman dan pengharapan menjadi mati.

Gejala Sosial yang Tampak dalam Film “PK”

Di dalam film “PK” ini setidaknya ada lima gejala sosial yang dapat dibaca. Pertama, orang mencari Tuhan (atau suatu Daya yang jauh lebih besar daripada daya manusia) ketika menemukan bahwa daya manusiawinya terbatas. Tokoh PK dikisahkan mulai mencari Tuhan (atau Bhagavad) ketika orang-orang yang ditanyainya terkait remote control miliknya sama sekali tidak dapat membantu. Mereka selalu menyuruh PK untuk langsung bertanya pada Tuhan, sebab menurut mereka, hanya Tuhanlah yang dapat membantu. Sebagai orang yang polos dan lugu (sebagai makhluk asing di bumi), dirinya langsung saja berusaha mencari Tuhan yang dikiranya berwujud sama seperti manusia biasa.

Kedua, adanya komunitas-komunitas keagamaan tertentu sebagai gejala sosial. Dalam proses pencarian Tuhan, PK kemudian menyadari adanya berbagai macam komunitas keagamaan yang menyembah Tuhan. Komunitas-komunitas ini terdiri dari sekelompok orang yang berkomitmen untuk berkumpul bersama sebagai satu komunitas, menjalankan praktik keagamaan/ritual bersama, dan taat terhadap peraturan komunitas. Pertanyaan kritis yang lantas dapat diajukan terkait gejala sosial ini adalah: Apa sebenarnya motivasi orang untuk berkomitmen mengikuti suatu agama dan ritual/tradisi keagamaannya?

Jawaban dari pertanyaan di atas tentu tidak dapat di-generalisir atau bersifat sederhana. Jawabannya sungguh kompleks. Ada berbagai macam motivasi orang untuk beragama dan mengikuti ritual keagamaannya (meski kadang-kadang ada yang tidak mengerti betul apa makna yang ada di balik ritual yang diikutinya). Ada orang yang beragama, karena merasa butuh pegangan dalam hidupnya. Ada orang yang datang ke ritual keagamaan hanya karena takut dianggap tidak sesuai dengan mainstream, ia takut dianggap “berbeda”. Yang lain lagi menjalankan ritual keagamaan karena kewajiban dan bahkan mungkin tidak sadar bahwa kewajiban itu membuatnya “buta” akan hal yang benar.

Sebagai kritik, film “PK” ini tentu mau menegaskan bahwa jangan sampai Tuhan yang sejati itu tergantikan oleh simbol dan tradisi/praktik/ritual keagamaan. Simbol dan tradisi adalah jalan menuju Dia yang sejati.

Salah satu fenomena sosial terkait dengan motivasi beragama dan mengikuti ritual keagamaan dapat dilihat dalam sosok ayah Jaggu. Ayah Jaggu adalah seseorang yang taat menjalankan kewajiban agamanya. Dalam setiap kegiatannya, ia selalu menyertakan dewa-dewa tertentu. Sayangnya, praktik keagamaan yang dijalani tampak “membutakan” matanya untuk melihat kebenaran yang objektif. Ia dikungkung oleh ketakutan oleh kewajiban keagamaan untuk taat pada Maharaj Tapaswi sebagai pemimpin agama. Praksis keagamaannya tereduksi sampai pada sekadar sebuah kewajiban.

Ketiga, terkait dengan gejala sosial yang kedua, ingin ditekankan pula adanya gejala praktik-praktik atau ritual keagamaan yang dilakukan oleh para penganut agama dalam komunitas-komunitas keagamaannya masing-masing. Beragam dan berbedanya praktik keagamaan ini yang lantas memunculkan kebingungan dalam dirinya sebab ia tidak kunjung menemukan Tuhan dalam beragamnya tradisi/ritual keagamaan tersebut. Ia sudah menjalani dan mencoba semua ritual keagamaan, namun Tuhan tidak segera membantunya menemukan remote control yang dapat membawanya pulang.

Selain itu, dalam film ini tampak pula bahwa ritual atau tradisi keagamaan dapat juga disalahgunakan demi kepentingan pribadi. Hal ini tentu ditujukan bagi tokoh Maharaj Tapaswi. Ia memanfaatkan ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak orang sebagai umatnya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, seperti ketenaran, kemewahan hidup, dan kehormatan sebagai pemimpin agama.

Keempat, masih berkaitan dengan agama dan praktik keagamaan. Ternyata, ada simbol-simbol keagamaan yang dipakai. Para penganut agama membutuhkan simbol dalam ritual keagamaan mereka. Ada banyak simbol yang dipakai dalam tradisi keagamaan. Umat Katolik menggunakan simbol anggur dalam perayaan keagamaannya. Dalam agama Hindu, seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya akan berpakaian sari berwarna putih. Para wanita yang menganut agama Islam memakai pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Dalam tradisi lain, pakaian hitam menjadi lambang berkabung atau duka karena ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Sungguh, di dunia ini terdapat berbagai macam simbol yang ada dalam berbagai perayaan keagamaan.

Sebagai kritik, film “PK” ini tentu mau menegaskan bahwa jangan sampai Tuhan yang sejati itu tergantikan oleh simbol dan tradisi/praktik/ritual keagamaan. Simbol dan tradisi adalah jalan menuju Dia yang sejati. Simbol dan tradisi suatu agama bukanlah jalan yang wajib diikuti dan dimutlakkan, sebab ada banyak macam jalan menuju Dia yang sejati itu.

Kelima, agama yang dijadikan “peluang bisnis”. Dikisahkan dalam film, di dalam salah satu agama, salah satu syarat agar permohonan seseorang dapat dikabulkan adalah dengan menyumbang uang kepada Tuhan. Ketika PK berada di halaman Pura, di sana terdapat sebuah kotak yang mana biasa dipakai oleh umat untuk menyumbang uang kepada Tuhan. Hal inilah juga yang dirasa menjadi bagian penting dalam film “PK” terkait fenomenologi agama, bahkan sampai saat ini. Melihat konteks masyarakat sekitar Pura, di sana tampak banyak pengemis yang sedang meminta belas kasihan dari orang-orang yang mengunjungi Pura, namun hanya sedikit yang mempedulikan kehadiran mereka. Pemberian uang kepada Tuhan melalui kotak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang miris, mengingat masih adanya golongan menengah ke bawah yang menderita. Agama terkesan tidak mempedulikan keadaan ekonomi masyarakatnya sebab memberi persembahan kepada Tuhan merupakan salah satu syarat. Hal inilah yang membuat PK menyadari bahwa memberi uang kepada agama dapat dijadikan peluang bisnis untuk menghasilkan banyak uang. Ia memberikan contoh dengan mengajak Jaggu dan ayahnya pergi ke kampus. Di sana ia menempatkan sebuah batu di bawah pohon, lalu memberikan warna merah pada batu itu agar terkesan bernuansa magis dan kemudian menaruh beberapa lembar uang disekitar batu itu. Kehadiran batu itu memberikan pandangan yang berbeda bagi orang yang berada di sekitar tempat itu, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, orang-orang datang lalu menyembah batu itu, memanjatkan permohonan mereka, dan akhirnya memberikan uang di sekitar batu tersebut. Dari pengalaman ini, tampaklah bahwa Tuhan seakan-akan membutuhkan uang manusia dan tidak peduli dengan keadaan ekonomi manusia. Tentu saja, hal ini terkesan aneh karena Tuhan dipercaya sebagai sosok yang memiliki cinta kasih yang sangat besar dan tentu saja tidak dapat direduksi menjadi uang belaka. 

Perspektif Sosiologis yang Terkait

Setelah melihat gejala-gejala sosial yang ada dalam film, ada tiga (3) perspektif sosiologi agama yang kiranya terkait dengan gejala sosial yang dikupas. Pertama, perspektif agama yang berguna sebagai jalan menuju Tuhan/Yang Ilahi yang daya-Nya jauh melampaui manusia dan sebagai pemberi penjelasan mengenai situasi batas yang dihadapi oleh manusia di dalam kehidupannya. Ketika berada dalam situasi batas kemampuan dirinya, manusia membutuhkan sesuatu yang lain di luar dirinya, sesuatu yang lebih besar dan dapat dijadikan “pegangan”. Dalam hal inilah, agama mengisi kebutuhan manusia untuk berjumpa dengan sesuatu yang lebih besar itu. Manusia dimampukan untuk menemukan interpretasi dan penjelasan atas pengalaman-pengalaman ketidakberdayaan mereka.[iii] Terkait dengan penemuan makna ini, Emile Durkheim menambahkan demikian,

Religious beliefs offer the comforting sense that the vulnerable human condition serves some greater purpose. Strengthened by such convictions, people are less likely to collapse in despair when confronted by life’s calamities.”[iv]

Kedua, praktek/ritual keagamaan memunculkan kesadaran bersama sebagai satu “komunitas moral”. Hal ini sesuai dengan perspektif teori Emile Durkheim tentang agama, secara khusus collective consciousness. Kesadaran kolektif muncul di dalam komunitas yang didayai oleh rasa-perasaan solidaritas religius sosial (religious emotional). Apalagi, rasa-perasaan solidaritas sebagai satu komunitas itu muncul dalam ritual-ritual yang dijalani bersama.

Terkait dengan “komunitas moral” di atas, dalam teorinya, sebenarnya Emile Durkheim menggunakan kata gereja (church) dalam suatu arti yang tidak lazim. Kata “gereja” merujuk pada setiap “komunitas moral” yang berpusat pada kepercayaan dan praktek terhadap hal yang sakral. Menurut Durkheim, “gereja” merujuk pada kepercayaan dan praktek terhadap hal yang sakral. Menurut Durkheim, kata “gereja” merujuk pada orang Buddha yang beribadah di vihara, orang Hindu yang masuk ke dalam sungai Gangga, dan orang Kong Hu Cu yang mempersembahkan makanan kepada nenek moyang mereka. Demikian pula, istilah “komunitas moral” tidak merujuk pada moralitas yang umumnya kita pahami. Suatu komunitas moral adalah orang yang dipersatukan oleh praktik keagamaan mereka.[v]

Ketiga, penggunaan simbol-simbol dalam ritual keagamaan (meski perlu ditekankan bahwa ritual itu sendiri juga merupakan simbol keagamaan yang membantu mempersatukan orang ke dalam suatu komunitas moral).[vi] Simbol-simbol keagamaan memiliki kemampuan untuk membawa pesan perubahan dalam komunitas keagamaan. Sebuah simbol merupakan suatu bentuk komunikasi yang padat.[vii] Pada dasarnya, agama merupakan sebuah pemahaman transendental yang kadang misterius, maka simbol-simbol dalam agama menjadi sebuah “intermediary” atau “signal” yang dapat mengkomunikasikan pesan atau visi serta idealisme apa yang harus dilakukan oleh pemeluk-pemeluk agama tersebut. Edwyn Bevan, dalam karyanya yang berjudul “Symbolism and Belief”, menerangkan bahwa simbol mempersatukan suatu sistem manusia seperti misalnya pengalaman manusia. Simbol dapat berupa kata, bahasa, tindakan, benda, dll. Simbol dapat menghubungkan usaha pencarian manusia dengan realitas yang lebih besar, bahkan yang tertinggi (terakhir).[viii]

Semua agama menggunakan simbol untuk memberikan identitas dan solidaritas bagi para anggotanya. Beberapa contoh yang dapat diberikan misalnya orang Muslim menggunakan simbol bulan sabit dan bintang, orang Yahudi menggunakan simbol Bintang Daud, dan orang Kristen menggunakan simbol salib. Bagi para anggotanya, ini bukan sekadar simbol biasa, melainkan sebuah lambang suci yang memunculkan rasa kagum dan hormat.

Pada dasarnya, Durkheim berpendapat bahwa suatu benda atau simbol menjadi suci bukan karena suatu hal intrinsik yang terdapat dalam benda tersebut. Suatu benda dianggap suci berdasarkan konvensi dari suatu kelompok tertentu atau dengan kata lain kesuciannya terjadi ketika komunitas menganggap benda tersebut suci. Lebih lanjut lagi, dalam bukunya yang berjudul “Agama dalam Perspektif Sosiologi”, Bernard Raho bahkan berpendapat bahwa memiliki simbol-simbol yang sama merupakan sebuah cara yang efektif dan efisien untuk menumbuhkan rasa solidaritas dalam sebuah kelompok.[ix]

Relevansi antara Perspektif Teoretis Sosiologi Agama dengan Gejala Sosial dalam Film

Pertanyaan yang dapat mengaitkan antara gejala sosial dan teori adalah: Lantas, apa relevansi antara perspektif teori dan gejala sosial yang ada dalam film “PK”? Setidaknya, ada empat (4) relevansi antara dua hal tersebut.

Pertama, tentang agama sebagai jalan menuju Dia yang kekuatan-Nya melampaui kekuatan manusia. Ketika manusia tidak mampu menggunakan kekuatannya sendiri, ia lantas bergerak untuk meminta bantuan pada Dia yang kekuatan-Nya jauh lebih besar daripada kekuatan manusia. Jalan untuk meminta bantuan itulah yang direpresentasikan oleh agama dan praktik-praktiknya. Di dalam film “PK”, tokoh utama, PK, kehilangan remote control miliknya. Ia bertanya kepada semua orang yang dijumpai. Nyatanya, semua orang tidak dapat membantunya. Mereka malah menunjukkan bahwa Tuhan (Bhagavad)-lah yang dapat menolongnya.

PK lantas berusaha mencari Tuhan melalui berbagai macam agama yang nantinya malah memunculkan kebingungan tersendiri dalam hatinya. Agama mana yang benar? Meski demikian, kelompok menemukan kebenaran dalam film bahwa manusia selalu bergerak menuju daya yang lebih besar ketika menemukan bahwa daya manusiawinya terbatas. Jalan untuk menemukan Tuhan itulah yang disebut dengan agama. Orang-orang yang “merekomendasikan” Bhagavad pada PK jelas telah merasakan apa yang disebut Durkheim, “Religious beliefs offer the comforting sense … people are likely less to collapse”.

Kedua, terkait simbol-simbol dan praktik keagamaan. Simbol-simbol keagamaan dalam film PK ini ditunjukkan hampir di seluruh bagian filmnya. Memang, dalam masyarakat India, simbol-simbol keagamaan itu tampak kuat, bahkan menjadi ciri khas masyarakat di India. Dalam film “PK” ini, ada banyak patung-patung dan gambar-gambar serta ritual-ritual yang digunakan oleh para penganut di masyarakat India. Simbol-simbol tersebut memiliki posisi terhormat khususnya bagi para penganutnya. Misalnya, ketika ia akan dipukul oleh petugas dan pendeta agama. Ketika mereka melihat gambar/stiker di pipinya, mereka tidak berani memukulnya karena gambar tersebut adalah gambar dari Deva Shiva yang mereka sembah. Sebagai orang asing, ia telah belajar dengan baik tentang makna sebuah simbol. PK mengatakan demikian,

Just like you apply the photo of god on the walls, so that no one urinates there… [J]ust like that I put it on here (on my cheeks), so that no one hits me.”

“Ia sungguh-sungguh “masuk” dalam agama Hindu melalui simbol Deva Shiva. Dalam pandangan sosiologi, simbol-simbol sungguh merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan beragama.[x] Simbol-simbol merupakan kekuatan yang sangat mempengaruhi pemeluk agama dan juga sekaligus membangkitkan perasan keterikatan kesatuan pada anggota-anggota penganut agama yang sama.

Ketiga, tentang menyikapi beragamnya simbol dan praktik keagamaan. Tokoh PK tentu bingung ketika menemukan fakta bahwa jalan (simbol dan praktik keagamaan) menuju Tuhan itu beragam. Lantas, apa yang harus dilakukan? Film “PK” memberikan kesadaran yang sebenarnya tidak baru namun sangat relevan dengan situasi kehidupan beragama saat ini. Kita semua diajak untuk menghayati agama dan praktik keagamaan sebagai sebuah jalan menuju pada tujuan yang satu, yakni Tuhan sendiri. Setiap jalan memiliki lika-likunya masing-masing yang tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, kita semua disatukan oleh satu tujuan yang sama. Dengan kesadaran demikian, kita diajak untuk melakukan sikap toleransi yang positif dalam kehidupan beragama.

Menurut Magnis Suseno, toleransi positif berarti bukan dalam arti asal membiarkan saja, melainkan sebagai penerimaan tulus terhadap saudara lain dalam kekhasannya, bahkan dalam kelainannya. Kita tidak beriman sama dan tidak meyakini hal-hal yang khas diyakini orang lain, tetapi kita menghormati mereka. Kita menerima bahwa mereka dengan jujur meyakini sesuatu yang tidak mungkin kita yakini.

Secara teoretis kita mengetahui dari Emile Durkheim bahwa tradisi/ritual adalah momentum terjadinya collective effervescence. Artinya, ada sebuah rasa keterikatan tersendiri yang dialami orang-orang yang menjalani ritual secara bersama-sama tersebut.

Selain itu, dengan segala cara apapun kita diajak untuk menghindari segala bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama. Fundamentalisme dan radikalisme agama terjadi ketika orang menganggap agama yang dianutnya lebih superior dibandingkan dengan agama yang lain. Mereka menganggap rendah agama yang lain. Fenomena ini menjadi contoh di mana agama dipertahankan tetapi perbuatannya jauh dari ajaran agama. Kebenaran agama memang diakui dan diaminkan tetapi masyarakat acapkali tidak mempersoalkan kebenaran tindakannya. Hal ini tentu bertentangan dengan logika bahwa agama adalah jalan. Jalannya memang berbeda, namun jalan-jalan itu setara sebab memiliki tujuan yang sama.

Menghayati kebenaran agama yang dianut merupakan hal yang tidak salah. Hal tersebut merupakan hak asasi setiap manusia, yang tidak mungkin dapat dipaksakan oleh orang lain atau hukum sekalipun. Penghayatan kebenaran agama tidak dapat dipaksakan, sebab menyangkut batin dan sisi terdalam kemanusiaan setiap orang. Akan tetapi, suatu keyakinan tersebut menjadi masalah apabila dipaksakan kepada orang lain atau dipakai sebagai pembenaran tindakan yang membatasi, merendahkan, dan mencederai orang lain. Penghayatan pluralisme sungguh merupakan syarat mutlak agar dunia yang begitu majemuk dapat tetap bersatu. Saling menghormati dan menghargai dalam identitasnya dan juga dalam perbedaannya harus menjadi pola hidup manusia. Manusia dalam dirinya sendiri pada dasarnya mempunyai nilai-nilai yang sama. Semua manusia tahu baik, buruk, dan merindukan kejujuran, keadilan, kebesaran, dan kebaikan hati untuk memaafkan dan berbelas kasih.[xi] Pemakaian kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan berbagama harus ditolak.

Keempat, di dalam film terdapat penyelewengan tradisi keagamaan. Tradisi keagamaan disalahgunakan oleh seseorang atau sebagian orang untuk meraup keuntungan pribadi atau kelompok. Agama dan tradisinya dijadikan sebuah komoditas ekonomi. Secara teoretis kita mengetahui dari Emile Durkheim bahwa tradisi/ritual adalah momentum terjadinya collective effervescence. Artinya, ada sebuah rasa keterikatan tersendiri yang dialami orang-orang yang menjalani ritual secara bersama-sama tersebut. Pemimpin agama yang picik akan memanfaatkan momentum ini demi kepentingannya sendiri. Ia tahu bahwa ritual akan diikuti oleh orang banyak yang dalam titik tertentu sungguh mengalami collective effervescence. Persis di sanalah pemimpin agama yang picik membelokkan tujuannya ke arah egoisme pribadi.


 

Catatan Akhir:

[i] Dalam buku Walking in the Spirit sebuah kata latin “Militare Deo” dapat berarti berperang untuk Tuhan. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian arti kata itu berubah menjadi “Melayani Tuhan”. Sebenarnya, Tuhan tidak perlu pelayanan dari manusia. Ia hanya ingin manusia saling melayani satu sama lain. Bdk. Conwell, Walking in the Spirit (US: The Institute of Jesuit Sources St. Louis, 2003), 101.

[ii] Bdk. D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1983), 111.

[iii] Bdk. M. Sastrapratedja, Agama dan Tantangan Masa Kini (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2002), 2.

[iv] John J. Macionis and Ken Plummer, Sociology: a Global Introduction 3rd Edition (New York: Prentice Hall, 2005), 489.

[v] Bdk. James M. Henslin. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Edisi 6 Jilid 2 (Jakarta: Erlangga, 2007), 164.

[vi] Bdk. James M. Henslin. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, 168.

[vii] Bdk. James M. Henslin. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, 167.

[viii] Bdk. F.W. Dillistone. Daya Kekuatan Simbol (The Power of Simbols) (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 28.

[ix] Bdk. Bernard Raho, Agama dalam Perspektif Sosiologi (Jakarta: OBOR, 2013), 15.

[x]Bdk. Bernard Raho, Agama dalam Perspektif Sosiologi, 14.

[xi] Magnis-Suseno, Etika kebangsaan Etika Kemanusiaan (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 28.

Daftar Pustaka:

Conwell. Walking in the Spirit. US: The Institute of Jesuit Sources St. Louis, 2003.

Cuff, E.C., W.W. Sharrock, and D.W. Francis. Perspectives in Sociology 4th Edition. London and New York: Routledge, 1998.

Dillistone, F.W. Daya Kekuatan Simbol (The Power of Simbols).Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Hendropuspito, D. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Henslin, James M. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Edisi 6 Jilid 2. Diterjemahkan oleh Kamanto Sunarto. Jakarta: Erlangga, 2007.

Hirani, Rajkumar. The Quotes of P.K. http://www.filmyquotes.com/movies/1000. Diakses tanggal 26 Mei 2016, pukul 8.20 WIB.

Macionis, John and Ken Plummer. Sociology: a Global Introduction 3rd Edition. New York: Prentice Hall, 2005.

Magnis-Suseno, Franz. Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk. Jakarta: OBOR, 2004.

Magnis-Suseno, Franz. Etika Kebangsaan Etika Kemanusiaan. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Notingham, Elizabeth K. Agama dan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Rajawali, 1985.

Raho, Bernard. Agama dalam Perspektif Sosiologi. Jakarta: OBOR, 2013.

Sastrapratedja, M. Agama dan Tantangan Masa Kini. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2002.

Facebook Comments
Paulus Bagus Sugiyono
Penulis merupakan mahasiswa sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Penulis memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menonton film.