Banyak orang-orang di masa kini, selalu terjebak dalam romantisme masa lalu. Bahkan orang yang hidup pada masa tertentu, mengidamkan bisa hidup di masa sebelumnya. Masa sebelumnya, menunjuk pada apa yang disebut ‘zaman keemasan’. Barangkali, sikap seperti ini hanya sebuah pelarian.

Misalkan begini, kawan-kawan mahasiswa yang aktif dalam gerakan intelektual, baik dalam bentuk pergerakan saja atau tulis menulis, sedikit banyak mengeluh. Terdengar seperti ini, ‘‘Dulu, zaman reformasi pada aktif, banyak pemuda yang berkoar-koar. Menulis, demo dan sebagainya. Sekarang semua pada mlempem, lebih baik memang zaman dulu itu.’’

Zaman reformasi dan pasca-reformasi bagaimana pun dua masa yang berbeda. Tidak bisa dikatakan lebih baik mana. Dua zaman itu, bisa dikata akibat reaksi-reaksi politik maupun budaya, yang melatar-belakangi, memberi background dan kekhasan masing-masing. Dan kita memahami ini pun selalu diikuti pengertian atas ruang dan waktu. Padahal, ruang dan waktu itu jelas lain dengan masa kini.

sumber: fineartamerica.com
sumber: fineartamerica.com

Memang jika terlanjur terjebak, susah untuk membebaskan diri. Bayang-bayang masa lalu itu fatamorgana. Tak bisa dipegang, apalagi dipercayai. Konsekuensi logis romantisme ini, mungkin bisa menghambat energi kreatif pada indivdu-individu. Dia mandek. Pemahaman atas realitas ibarat diambil dengan kamera saja, menjadi sebuah gambar diam. Padahal zaman, memiliki ciri kebudayaan sendiri, ia bergerak, dan dinamis.

Seperti Gil Pender dalam fim Midnight in Paris. Pender, si penulis pemula, menjalani hidup tahun 2010 tersesat di era 1920-an. Ia bertemu dengan banyak tokoh hebat pada masa itu, para seniman. Ia sangat berbunga, raut mukanya merekah sampai sulit berkata-kata. Pender berhadapan dengan Hemingway, Scott Fitzgerald, Zelda Fitzgerald dsb.

Pender benar-benar terkesima pada kehidupan mereka. Seniman, dan paris di kala hujan. Hingga pada suatu kesempatan, ia bertemu Adriana (kekasih Pablo Picasso), saling suka dan tersesat di era keemasan Prancis. Sebuah era yang didambakan wanita cantik ini. Mereka bertemu Lautrec, Mr. Gaugin dan Mr. Degas. “Generasi sekarang ini kosong, dan tak punya imaginasi. Lebih baik pada La Renessaince,” kata Gaugin. Adriana jatuh hati pada masa ini. Tapi, pender condong di era 20-an.

“Inilah awal La Belle Epoque (keemasan Perancis pada 1890-an). Inilah era terbesar, era tercantik yang pernah dimiliki Prancis,” Kata Adriana.

Pender tak bisa berpaling dari 20-an. Bagi pender itulah yang terbaik dan menakjubkan. Di mana para seniman hebat pernah hidup. Adriana menolak kembali. Bagi Adriana 20-an sudah membosankan. Kedua orang ini sama-sama terjebak.
“Aku mencoba lari dari masa kiniku, seperti kau mencoba lari dari masa kinimu, menuju zaman keemasan,” kata Pender. “Dan lihat orang itu, menurut mereka, era keemasanya adalah era ‘Renaissance’. Mereka rela membayar ‘era keemasan’ untuk bisa melukis bersama Titian dan Michelangelo.” Karena egoisme dan kekaguman masing-masing, akhirnya mereka berpisah.

Bagi kita, orang kini yang mengagumi masa lalu, kebaikan dan keindahan ada di sana. Sehingga, kita susah merengkuh dunia di mana kita tinggal sekarang. Lalu saling merendahkan segala sesuatunya, di sini dan sekarang. Padahal, masa lalu, atau yang biasa disebut masanya ‘orang tua’, mereka berkata, kita (orang muda) adalah generation perdue.

Seperti kata Getrude Stein kepada Ernest Hemingway, dalam A Moveable Feast, “Seperti itulah kau. Seperti itulah kau.” Miss Stein melanjutkan, “kalian semua orang-orang muda yang ikut berperang. Kalian adalah generation perdue, generasi yang hilang.” Miss Stein, berkata dari apa yang ia lihat di sebuah bengkel. Seorang bos memaki montirnya –pemuda bekas serdadu- yang tidak serius bekerja.

Kemudian Miss Stein menambahi, “kau tidak menghargai dan menghormati apapun. Kau hanya minum minuman keras sampai mampus.” Tentu membuat Hemingway berefleksi, egoisme dan kemalasan mental versus disiplin. Lalu, siapa menyebut siapa tentang generasi yang hilang itu? ini kritik baginya dan pemuda-pemuda sejamannya. “Aku berpikir bahwa semua generasi memang dihilangkan oleh sesuatu dan akan hilang,” ungkapnya.

Kedua keadaan ini, masa lalu dan masa kini, orang tua dan pemuda dengan sikapnya sendiri. Sikap masa kini lebih menginginkan kejayaan seperti masa lalu. Dan mencoba lari dari keadaan yang kaotik, serba salah, tapi tidak mencoba membongkar dan memberi perhatian habis-habisan di masa di mana ia hidup. Sedangkan masa lalu, kadang bersikap pesimistik. Bisa jadi akibat respon orang masa kini, meski terpukau masa lalu, tetapi tidak pernah menghargai apa-apa yang telah dicapai. Sebatas apresiasi murahan, sebab tertutupi keterpukauannya tadi.

Masa kini, waktu di mana ‘yang baru’ dan ‘yang muda’ tinggal, bukan barang mati. Ia terus memproduksi masalah-masalah. Sehingga, membuatnya tidak kosong, walaupun ia chaos. Tugas kita sebenarnya bukan membuat cosmos, karena itu tidak mungkin. Yang ada ‘sekarang’ bersana sifat kaotiknya, harus diberi perhatian terus menerus. Tanpa kenal lelah. Men-tragedi-kan kehidupan secara habis-habisan dan total itu penting.

Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.