Sumber: Salihara

Goenawan Mohamad (GM) gak pernah kapok. Berkali-kali diingatkan, bahkan sampai “dihajar”, oleh Martin Suryajaya dan juga Muhammad Al-Fayyadl, namun ia tetaplah GM yang selalu alpa dalam banyak hal. Apa istilah yang tepat untuk itu? Tak ada, selain: pikun!

Ya, barangkali GM memang sudah pikun. Ia sudah tua—setua Taufik Ismail yang, karena sama-sama pikunnya, menganggap sesat lagu “Bagimu Negeri”. Bedanya: Taufik Ismail menganggap PKI yang komunis itu masih ada dan sering mengadakan rapat rahasia di istana negara; sedangkan GM menganggap komunisme, dengan berbagai variannya, telah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Taufik Ismail terkena paranoia terkait PKI karena dendam masa lalu yang dibawa hingga tua, sementara GM mengalami kepikunan akut karena kebanyakan makan duit Amrik. Dua-duanya, karena sama-sama pikunnya, sebenarnya sudah tidak layak lagi didengar omongannya. Hanya saja dua orang itu sering muncul di media, sehingga jari-jari saya seketika gatal jika tidak menulis apa-apa.

Saya tidak ingin lagi mengorek-ngorek asumsi teoretik GM yang abu-abu itu terkait ide komunisme. Itu akan jadi perkerjaan yang sia-sia, sebab sudah selesai dikerjakan Martin Suryajaya dengan kemenangan yang nyaris sempurna. Hanya saja GM sampai kini belum menyadarinya.

Saya hanya akan mengomentari satu hal yang sangat sederhana yang—sayang sekali, entah karena kepikunannya—GM justru alpa. Yaitu: anggapannya bahwa ide komunisme sudah gagal dan, karenanya, tidak mungkin lagi diwujudkan. Beberapa kali ia “berkicau” di akun Twitter-nya:

“Komunisme sudah gugur di Rusia, berubah di RRT, jadi gila di Korea, guncang di Kuba. Yang anggap PKI masih ancaman hanya berdusta.”

“Komunisme tak mampu kalahkan musuhnya—terbukti sudah. Juga tak berdaya mengubah manusia di bawah kekuasaan Partai-partai Komunis di manapun.”

GM juga pernah mengutip pernyataan sastrawan Rusia, Aleksandr Solzhenitsyn, yang menganggap komunisme seperti anjing yang mati: tak berdaya lagi. Selain itu, GM juga selalu mengidentikkan komunisme dengan totalitarianisme—dan bahkan juga sempat menyamakannya dengan gerakan fundamentalisme agama seperti IS.

“Kesalahan mendasar komunisme: yakin bisa mengendalikan penuh pikiran manusia dan menggerakkan revolusi di seluruh dunia. Mirip IS.”

Penyamaan komunisme dengan fundamentalisme agama itu, oleh GM, semakin dipertegas ketika ia menulis Catatan Pinggir edisi 29 Januari 2017 di Majalah Tempo dengan judul “Pil”. Siapa yang tidak terpukau dengan kelihaian GM bermain kata-kata dalam esai-esainya? Tapi ingat, dalam kata-kata yang tampak memesona itu, terdapat kesumiran pikiran yang amat rapuh.

Seperti kebiasaan GM menulis esai, “Pil” dibuka dengan sebuah cerita yang diambil dari beberapa karya sastra. Kali ini dari novel The Captive Mind karya seorang sastrawan anti-komunis Czeslaw Milosz. Ia bercerita tentang seorang filsuf dari Mongol yang berhasil membuat ‘filsafat hidup’. Semacam ajaran penenang pikiran, tetapi dipadatkan menjadi semacam pil yang kemudian diberi nama pil Murti-Bing. Setiap orang yang menelan pil itu akan kehilangan kemampuan berpikir. Itulah alegori untuk komunisme, kata GM.

Tapi barangkali GM lah yang telah kehilangan kemampuan berpikir. Bukan karena telah menelan pil Murti-Bing, melainkan karena terlampau anti terhadap komunisme. Kita lihat juga kesumiran pikiran GM dalam Catatan Pinggir berjudul “Komunisme” yang terbit di tempo.co tanggal 30 Januari 2017:

“Komunisme adalah Velutha. […] Ia seorang paria, manusia tanpa kasta yang dianggap begitu rendah hingga diharamkan agama jika disentuh. […] Velutha memang bukan paria biasa. […] Ia membekas dalam hidup Ammu sebagai ‘dewa hal-hal kecil’ yang dulu ditemuinya dalam mimpi. […] Bukan Hal-Hal Besar, bukan cita-cita perubahan sosial yang gemuruh—yang selamanya tersembunyi di dalam, tak tampak, tak terjangkau. […] Sejarah membuktikan ‘Hal Besar’ itu malah berujung pada patah harapan. […] Sang Dewa  menawarkan, misalnya, Revolusi Semesta dengan program yang serba mencakup. Terasa perkasa, tapi jauh. […] Dengan kata lain, gagasan Marx, Lenin, dan Mao—yang ‘meraung bagai angin panas dan menuntut kepatuhan’—tak meyakinkan lagi.”

Pertama, kita perlu akui, bahwa GM sungguh sempurna membuat kata-kata jadi tampak memesona. Tapi sayang, ia gagal berpikir dengan cara logis. Tesis pertamanya tegas—bahkan oleh GM dimunculkan sebagai kalimat pembuka esai tersebut: “Komunisme adalah Velutha”.

Siapakah Velutha? Lagi-lagi, nama ini diambil GM dari novel pertama seorang penulis India, Arundhati Roy, yang berjudul The God of Small Things (1997). Velutha adalah seorang aktivis Marxis di India yang sempat menjalin hubungan asmara (affair) dengan Ammu. GM menyebut Velutha “membekas dalam hidup Ammu sebagai ‘dewa hal-hal kecil’ yang dulu ditemuinya dalam mimpi.”

Di situ GM sekilas tampak ingin menurunkan marwah komunisme. Sebab jika mengikuti alur berpikirnya, kita akan dapati pola panalaran berikut: “Komunisme adalah Velutha”; “Velutha adalah dewa hal-hal kecil”; maka “Komunisme adalah dewa hal-hal kecil”—yang berarti: “mainan yang dibuat Velutha untuk Ammu ketika mereka masih kanak-kanak” dan “harapan yang tak berlebihan di antara mereka berdua.” Singkatnya, bagi GM, komunisme bukanlah ide progresif-revolusioner untuk mengubah secara total tatanan masyarakat kapitalis yang menindas, melainkan hanya upaya menyenangkan anak-anak dengan mainan—yang tak peduli penindasan di sekitarnya terstruktur secara massif.

Tapi ternyata bukan itu yang dimaksud GM. Kesalahannya memahami komunisme itu disangkal sendiri dengan sesat pikir berikutnya. Kali ini ia justru menolak tesis pertamanya, “komunisme adalah Velutha”, dengan menyatakan bahwa Velutha “bukan Hal-Hal Besar, bukan cita-cita perubahan sosial yang gemuruh—yang selamanya tersembunyi di dalam, tak tampak, tak terjangkau.” Frasa “Hal-Hal Besar” itu merujuk pada komunisme. Hanya orang tua pikun yang bisa berpikir bahwa “komunisme adalah Velutha”, sementara “Velutha adalah dewa hal-hal kecil”, dan lalu kesimpulannya bukan “komunisme adalah hal-hal kecil”, melainkan “komunisme adalah ‘Dewa Besar yang meraung bagai angin panas dan menuntut kepatuhan.’”

Kesumiran pikiran GM berikutnya tampak, secara berkali-kali, baik dalam “kicau”-nya di Twitter maupun dalam esainya di Catatan Pinggir, ketika menyatakan dengan tegas bahwa komunisme telah gagal. Di antara “kicau”-nya sudah saya kutip di atas. Pernyataan dalam esainya, salah satunya, tampak dalam satu kalimat yang juga sudah saya kutip di atas: “Dengan kata lain, gagasan Marx, Lenin, dan Mao—yang ‘meraung bagai angin panas dan menuntut kepatuhan’—tak meyakinkan lagi.”

Apa dasar GM menyatakan “komunisme telah gagal dan tak meyakinkan lagi”? Mungkin dia akan menjawab, seperti yang sudah-sudah, bahwa sejarah telah membuktikannya. Tapi, tepat di situlah justru kepikunan GM demikian nyata. Saya ingin menyebut kepikunan semacam itu sebagai “kepikunan Popperian”.

Karl Popper secara umum dikenal sebagai filsuf ilmu yang punya pengaruh besar di abad ke-20. Sementara dalam diskursus politik, Popper dikenal sebagai pembela demokrasi liberal dan penentang keras Marxisme. Bukunya yang terkenal, dalam wacana politik, adalah The Open Society and Its Enemies (1945). Tapi secara populer Popper sebenarnya lebih dikenal dengan teorinya yang disebut “Falsifikasionisme”.

Dengan falsifikasionisme, Popper memandang bahwa ilmu pengetahuan berkembang dengan penolakan terus-menerus terhadap sebuah hipotesis atau teori. Maka demi perkembangan ilmu pengetahuan, menurut Popper, ilmuwan harus merumuskan hipotesis ataupun teorinya dalam bentuk yang bisa difalsifikasi (falsifiable). Sekali muncul hasil observasi yang bertentangan dengan sebuah hipotesis atau teori, maka hipotesis atau teori tersebut seketika itu pula akan dianggap gugur. Ilmuwan mesti membuang jauh-jauh hipotesis atau teori tersebut dan harus membuat hipotesis atau teori baru yang lebih andal. Begitu seterusnya.

Di situlah letak kesamaan GM yang menyebut komunisme telah gagal hanya berdasar bukti historis dengan Popper yang buru-buru membuang sebuah hipotesis karena beberapa hasil observasi yang negatif. Keduanya sama-sama salah memahami peristiwa sejarah yang fragmentaris. Popper, yang terburu-buru menyalahkan sebuah hipotesis ketika menemukan hasil observasi yang bertentangan dengan hipotesis tersebut, tidak melihat kemungkinan bahwa keterangan observasi juga dapat salah (falsifiable). Ia tidak melihat sejauh mana eksperimen ataupun observasi itu dilakukan untuk membuktikan hipotesisnya. Jangan-jangan eksperimennya yang salah.

Demikian juga GM dalam menganggap komunisme telah gagal. Ia tidak tahu atau mungkin lupa bahwa komunisme di Rusia, RRT, Korea, dan Kuba adalah eksperimen tertentu dari komunisme. Kegagalan dari sebuah eksperimen tidak dengan serta-merta membuktikan bahwa sebuah hipotesis itu salah. Artinya, kegagalan eksperimen tertentu dari ide komunisme seperti di Rusia dan China tidak bisa dengan serta-merta membuktikan bahwa ide komunisme itu salah.

Hal itu sudah ditengarai oleh Alain Badiou dalam pendahuluan The Communist Hypothesis (2010). Ia dengan jernih menjelaskan apa yang kita maksud “kegagalan” ketika kita menyebut “komunisme telah gagal”. Kegagalan komunisme di Soviet dan China, bagi Badiou, hanyalah kegagalan yang eksternal dari hipotesis komunis. Dengan kata lain, yang gagal bukan hipotesis komunisnya, melainkan eksperimen tertentu atas hipotesis komunis.

Oleh karenanya, dalam The Communist Hypothesis itu Badiou menyatakan: “failure is nothing more than the history of the proof of the hypothesis, provided that the hypothesis is not abandoned. Kegagalan tidak lebih dari sekadar sejarah pembuktian hipotesis, jika hipotesis itu tidak segera ditinggalkan,” (Badiou, 2010: 7). Artinya, kita tidak bisa dengan semena-mena menyatakan hipotesis komunisme telah gagal dan harus ditinggalkan. Kegagalan komunisme di masa lalu hanya menunjukkan kegagalan satu uji coba dalam mewujudkan ide komunis.

Ide komunisme sendiri belum terbuktikan gagal, sebab ia masih bisa diwujudkan dengan beragam cara yang mungkin di masa-masa mendatang. Tapi GM yang pikun itu keburu mewartakannya telah gagal. Mungkin ia belum membaca Badiou atau mungkin ia lupa bahwa Badiou pernah berkata seperti itu.

Tapi yang jelas, dari beberapa tulisan-tulisannya akhir-akhir ini, GM memang tampak makin susah untuk berpikir logis. Ia sudah tua. Atau jangan-jangan dari dulu GM memang tidak pernah logis? Kita patut curiga![]

Yogyakarta, 31 Januari 2017

LEAVE A REPLY