011068-2

Judul Hans-Georg Gadamer: Penggagas Filsafat Hermeneutik Modern yang Mengagungkan Tradisi
ISBN 978-979-21-3436-0
Pengarang Martinho G. da Silva Gusmao
Terbit 21-01-2013
Halaman 284
Berat 390.00
Dimensi (mm) 155×230

Hermeneutika menjadi tema menarik selama sekitar dua dekade terakhir ini. Secara garis besar, perbincangan tentang hermeneutika itu dimulai oleh F.D.E. Schleiermacher pada awal abad XIX. Lalu, mencapai puncak kematangannya di tangan Hans-Georg Gadamer pada abad XX setelah sebelumnya melewati catatan sejarahnya melalui Wilhem Dilthey dan Martin Heidegger.

Oleh karena itu, berbicara masalah hermeneutika maka wajib membaca Gadamer, selain juga tiga tokoh sebelumnya, Schleiermacher, Dilthey, dan Heidegger. Buku berjudul Hans-Georg Gadamer: Penggagas Filsafat Hermeneutik Modern yang Mengagungkan Tradisi yang ditulis oleh Martinho G. da Silva Gusmão ini adalah buku yang berusaha untuk menemukan kekhasan konsepsi hermeneutika Gadamer dibanding tiga pendahulunya, Schleiermacher, Dilthey, dan Heidegger.

Sebelum mengantar kita pada pembicaraan lebih lanjut mengenai kekhasan hermeneutika Gadamer, Gusmão mencoba menyajikan terlebih dahulu benih-benih pemikiran hermeneutik yang terserak dalam tokoh-tokoh sebelum Gadamer, yang akhirnya juga memberikan pengaruh besar terhadap bangunan konsepsi hermeneutika Gadamer itu sendiri.

Hermeneutika Sebelum Gadamer

Sebelum perbincangan mengenai hermeneutika menjulang tinggi, istilah hermeneutika sudah mengakar dalam tradisi Yunani. Dalam bahasa Yunani, hermeneutika berasal dari kata hermêneuen dan hermêneia yang berarti menafsir dan penafsiran. Kata-kata itu merujuk pada tokoh Hermes dalam mitologi Yunani.

Hermes adalah sosok pengantara atau pembawa pesan ilahi (hermenes tôn theôn) kepada manusia agar bisa dipahami. Oleh karena itu, ia dikarunia kemampuan untuk membahasakan (to say), menerangkan (to explain), dan menerjemahkan (to translate) secara tepat pesan-pesan tersebut. Dari mitologi itu, hermeneutika kemudian dipetakan menjadi tiga aspek, yaitu subtilitas intellegendi–cara memahami (das Verstehen), subtilitas explicandi–cara menerangkan (dem Auslegen), dan subtilitas applicandi–cara menerapkan (das Anwenden) (hlm. 22).

Dua tokoh sebelum Gadamer, yakni Schleiermacher dan Dilthey, menekankan salah satu aspek dari ketiga aspek tersebut. Schleiermacher menekankan pada aspek subtilitas intellegendi, sementara Dilthey menekankan pada aspek subtilitas explicandi. Demikian juga Gadamer. Ia melihat hermeneutika sebagai teori penerapan (theory of application) atau subtilitas applicandi. Mari kita lihat satu persatu pokok pemikiran hermeneutik dari tiga tokoh sebelum Gadamer, yakni mulai dari Schleiermacher, Dilthey, hingga Heidegger.

Schleiermacher adalah seorang teolog yang banyak bergumul dengan penafsiran kitab suci. Jadi, sedikit banyak konspesi hermeneutika yang dibangun oleh Schleiermacher ini dipengaruhi oleh tradisi penafsiran teks kitab suci. Tugas hermeneutika, menurutnya, adalah untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan teks kitab suci. Oleh karena itu, dalam hermeneutika diperlukan cara untuk memahami atau subtilitas intellegendi.

Cara untuk memahami sebuah teks, menurut Schleiermacher, adalah dengan cara melihat konteks di mana teks itu dilahirkan serta kondisi sosial-kultural yang melingkupi penulis teks itu. Secara tegas Schleiermacher mengatakan bahwa makna sebuah kata yang tertera di suatu teks hanya bisa dipahami dalam koeksistensinya dengan apa yang mengelilinginya: hal-hal khusus, suasana tertentu, warna dan nuansa (hlm. 24). Schleiermacher berkata demikian karena ia melihat jarak waktu yang terbentang lebar antara penulis teks dan penafsir.

Dari pemaparan di atas kita tahu, bahwa hermeneutika yang dikembangkan oleh Schleiermacher bukan sebagai filsafat, melainkan sebagai teknik penafsiran untuk mengindari kesalahpahaman. Ketika sudah sampai di Dilthey, hermeneutika yang mulanya sebagai metode penafsiran teks kitab suci menjadi lebih luas lagi cakupannya. Dilthey melihat hermeneutika bisa menjadi fondasi Geisteswissenschaften atau ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Implikasi dari pandangan ini, hermeneutika tidak hanya terbatas pada penafsiran teks kiab suci, tetapi juga bisa menjadi metode untuk menafsirkan ekspresi-ekspresi kehidupan batin manusia, seperti perilaku historis, kodifikasi hukum, karya seni, atau sastra.

Selain dua tokoh yang telah dipaparkan sedikit pokok pemikirannya di atas, ada satu tokoh lagi yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap Gadamer, yaitu Heidegger. Jika pada dua tokoh sebelumnya hermeneutika hanya dipahami sebagai metode penafsiran, maka dalam pandangan Heidegger hermeneutika sudah bergerak ke arah filsafat pemahaman (hlm. 28). Dengan pandangan ini, Heidegger berusaha membawa hermeneutika ke dalam dunia kehidupan (life world) Dasein (manusia).

Jadi, bila sebelumnya hermeneutika hanya terbatas pada penafsiran teks, maka dalam pemahaman Heidegger hermeneutika menjadi sebuah jalan untuk menafsirkan pengalaman keseharian Dasein. Sebab, kata Heidegger, Dasein sudah memiliki kemampuan dasar untuk menafsir dan memahami dunia kehidupannya. Dalam pemahaman ini, hermeneutika tidak lagi sebagai metodologi, melainkan sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan Dasein dalam kehidupannya sehari-hari. Hermeneutika menjadi semacam pencarian filosofis Dasein untuk menemukan makna keberadaannya sendiri.

Keistimewaan Hermeneutika Gadamerian

Judul buku ini menyebut Gadamer sebagai penggagas filsafat hermeneutik modern yang mengagungkan tradisi. Dari penyebutan ini, Gusmão hendak menegaskan kekhasan hermeneutika Gadamerian. Jadi, kata kunci dari hermeneutika Gadamerian adalah “tradisi”. Untuk memahami hal ini, kita perlu tahu titik tolak tradisi itu masuk ke dalam wilayah hermeneutika Gadamerian.

Gadamer memberikan tempat yang istimewa bagi tradisi di dalam konsep hermeneutikanya karena berangkat dari alam pemikiran gurunya, yakni Heidegger. Oleh karena itu, sebelum memahami konsep tradisi di dalam hermeneutika Gadamerian, kita perlu membuka lembaran-lembaran pemikiran Heidegger yang ada di salah satu karya terbesarnya, Being and Time.

Di dalam Being and Time, Heidegger menulis begini, “The interpretation of something as something is essentially grounded in fore-having, fore-sight, and fore-conception. Interpretation is never a presuppositionless grasping of something previously given” (1996: 141).

Artinya, interpretasi, menurut Heidegger, selalu didasarkan pada tiga hal, yakni fore-having (pra-pemahaman), fore-sight (pra-penglihatan), dan fore-conception (pra-konsepsi). Ketiga hal tersebut, oleh Heidegger, disebut sebagai “pra-struktur pemahaman”. Sebelum kita menafsiri sesuatu, ketiga hal tersebut sudah ada sebagai basis penafsiran kita yang nantinya akan membentuk pemahaman kita tentang sesuatu itu sendiri. Oleh karena itu, Heidegger kemudian mengatakan, bahwa interpretasi tidak mungkin tanpa adanya presuposisi.

Butir-butir pemikiran Heidegger itulah yang kemudian digunakan oleh Gadamer untuk mengembangkan gagasannya tentang tradisi. Sejak zaman pencerahan, tradisi yang dipenuhi oleh prasangka senantiasa dicampakkan. Namun. Gadamer kemudian hadir dengan memaklumkan bahwa tradisilah yang menjadi titik berangkat (point of departure) dari proses terbentuknya pemahaman kita. Sebab, sebelum menafsiri dan memahami sesuatu, kita tentu sudah dan sedang berada dalam sebuah lingkungan yang memiliki tradisi tertentu yang nantinya punya andil besar dalam membentuk pemahaman kita.

Berangkat dari pemahamannya tentang tradisi sebagai pembentuk pemahaman manusia, Gadamer lalu membentuk satu konsep baru, yakni “Wirkungsgeschicte” atau “Efek Sejarah”. Dengan konsep “Wirkungsgeschicte” ini, Gadamer hendak menekankan peristiwa yang sambung menyambung dalam membentuk pengetahuan sejarah secara utuh dan padu. Waktu dulu adalah efek dari apa yang sudah terjadi. Waktu sekarang merupakan efek dari yang sudah dan sedang terjadi, dan berefek ke depan (hlm. 109-110).

Dalam konsep “Wirkungsgeschicte”, seorang peneliti diandaikan sudah selalu berada dalam sejarah masa lalunya ketika melihat suatu hal yang ditelitinya. Dan sejarah itulah yang nanti akan memberi efek terhadap pembentukan pemahamannya tentang sesuatu yang ditelitinya. Oleh karena itu, seorang peneliti harusnya mempunyai kesadaran sebagai diri yang menyejarah, yang sudah selalu dan akan senantiasa berada dalam sejarah. Dan dengan begitu, tradisi yang diwariskan oleh sejarah tidak akan lagi dianggap sampah.

Penutup

Barangkali memang tak ada yang baru dalam buku ini. Tetapi, Gusmão dengan buku ini telah berhasil memberi menampilkan sosok Gadamer sebagai pengagung tradisi. Tradisi yang sejak zaman pencerahan selalu tercampakkan oleh semangat pengetahuan tanpa praduga, kini Gadamer mengangkatnya kembali dalam altar terbentuknya pemahaman manusia. Dan sebab inilah hermeneutika kemudian menjadi wacana yang suaranya terus menggema. (Taufiqurrahman, Mahasiswa Filsafat UGM 14′, Anggota Redaksi LSF Cogito)