"The Laughter form Younger Daughter’s Bedroom" by Zou Li

Saya suka lagu Blur. Band indie dari United Kingdom itu. Liriknya simpel, bicara tentang dunia yang apa adanya. Good Song dalam album Think Thank, track yang paling syahdu, tapi juga kesepian. Di kota yang ramai, tidak ada celah bersembunyi, hingar bingar. Kota memegang jiwa, meregang pikiran. Ada yang mengejutkan di situ. Mungkin  karena terlalu banal, dari situlah ramai tapi sepi dapat disebut sesuatu yang indah. Begitulah Good Song.

Biarkan segalanya terus berputar, berputar, dan berputar… frasa ini tidak berlangsung lama. Good Song meminta kita mengalami putaran itu di luar angan. Meresapinya sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Karena hidup tak sekelumit beberapa ketukan bass drum dan chord mayor-minor. We’re all are just rolling rolling, and rolling along

Tak hanya kepikukan di London. Di Indonesia menggemakan hal yang tak jauh berbeda. Dan pada dasarnya di mana-mana. Iwan Fals, dalam lagu bertajuk “Suhu” melantunkan nada seperti seorang pesimis. Tapi kita tahu musisi suka berbohong. Mencoba seperti Sokrates, namun kalah licik. Kata Bung Iwan, wajar itu kosong. Memang kita selalu bersandar dan memaklumi segala kekusutan dunia dengan klaim kewajaran. Lalu apa selanjutnya? Tentu saja sebuah kontradiksi. Di atas kewajaran yang kosong terdapat isi yang bergulir.

Membentur dapat diukur

Menempel sukar dikira

Mundur satu langkah maju ke delapan penjuru

Kosong dan isi bergantian

Menuruti keadaan

Blur dan Iwan Fals ambisius untuk mengajak mahasiswa pemurung melihat-menikmati dunia. Ketika lagu keduanya diputar di Windows bajakan, kita seolah mengerti dan memposisikan diri di sisi lain lagu: kadang di dalam, kadang membayangkan menjadi figur di video klipnya, kadang memilih bosan. Atau begini… kita sudah lupa membuka jendela yang menempel di tembok kamar. Kadang kita takut melangkahi pintu. Pergi ke jalan membeli sepotong roti. Mengucap salam pada tetangga yang berisik. Menyapa pemuda seumuran. Mendengar suara knalpot berisik dari seorang yang nampak seperti preman. Mendengar berita di televisi. Kita lupa dan takut.

Seperti saya yang takut dan cemas. Harus memakai subjek apa dalam sebuah tulisan guna untuk diperdengarkan. Saya risau memakai kata ganti ‘saya’ yang menunjuk ke diri saya, ataukah harus dilemparkan ke kata ganti ‘kita’ biar seolah ada komunikasi dan dialog. Terdengar seperti ajakan. Apakah manusia pemurung sesosial itu? Seringkali tuduhan egois memang menyakitkan. Tapi saya tidak sedang menulis prosa yang melankoli.

Semua olah apapun dari manusia, ada yang luput. Tidak pernah komplit. Dalam hal ini yang luruh dari genggaman adalah soal tertawa. Tertawa, jarang kita perhitungkan dalam diskursus tentang keseharian dan kebijaksanaan menjalani hidup. Tertawa selalu luput. Blur dan Bung Iwan juga tak memotretnya. Karena tertawa selalu dianggap di luar kesadaran dan rasionalitas. Dari sini kita perlu menggarisbawahi satu hal, bahwa kita sebagai manusia terlalu serius!

Ada sebuah cerita tentang seorang politikus melakukan kampanya di desa.

Calon presiden datang ke sebuah daerah miskin di pulau kecil. Di hadapan sekitar 700 penghuni, sang calon berpidato.

“Saudara-saudara,” katanya,  “akan saya bangun instalasi air bersih untuk desa ini!”

Penduduk mula-mula diam. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Hoya!”

Segera semua warga juga berseru. “Hoya! Hoya!”

Pak Calon tak tahu apa arti kata yang diceritakan dalam bahasa lokal itu, tapi ia lihat orang pada tersenyum. Ia pun kembali bergelora.

“Kelak jika saya menang,” katanya lagi keras,”akan saya keluarkan keputusan bahwa rakyat pulau ini tak perlu bayar pajak!”

“Hoya! Hoya!”

“Meskipun begitu, saudara-saudara, sekolah akan tetap dibangun!”

“Hoya! Hoya!”

Pidato kampanye pun selesai. Sang Calon berkeliling melihat rumah-rumah kumuh dan ladang kering di dusun yang miskin dan kotor itu. Di sebuah sudut ia nyaris terperosok. Seorang desa berkata, “Awas, Pak, jangan sampai menginjak Hoya…”—dan ditunjuknya seonggok tahi.

Image Calon Presiden itu seketika ambyar. Yang cerdik pandai, yang berpendidikan, digulirkan oleh sesuatu yang tak terduga, oleh warga desa yang disebut sebagai terbelakang. Humor menimbulkan tertawa. Seringkali juga dipahami sebagai agresi. Thomas Hobbes, yang memandang manusia dengan muram, mengatakan humor menunjukkan rasa superior kita terhadap kecacatan orang lain (dalam Leviathan). Humor, kenapa sering kali disepelekan dan dilawankan dengan kepandaian yang perlente, karena adanya anggapan agresi seperti itu. Humor terlihat licik dan individual.

Tapi kita melihat dalam kasus humor penduduk desa kepada calon presiden terdapat signifikansi sosial. Humor memiliki fungsi sosial, sebagai kritik dan koreksi terhadap yang lain di lingkungan bersama. Bergson, penulis teori humor, menyadari hal itu dalam Le Rire, dalam versi Inggris Laughter. Banyak orang memperhitungkan gagasannya.

Bergson menganggap bahwa akar dari sesuatu yang lucu ialah tingkah laku inelastis, kaku atau rigid. Seperti seseorang berjalan lalu terpeleset, ia terjatuh dan nampak linglung. Kejadian itu mendemonstrasikan kekurangan keluesan atau elastisitas. Walaupun keseluruhan gagasannya berbicara perihal komedi yang bersifat teatrikal, Bergson juga bilang bahwa inti komedi (umum) terletak di dalam rigiditas. Bergson menjelaskan inti tersebut dalam beberapa prinsip umum; “tindak tanduk, gestur, dan gerak tubuh manusia ialah sesuatu yang menggelikan, mengingatkan kita pada mesin belaka”; “kelucuan ialah sesuatu yang bersifat mekanis menyelubungi yang hidup”; dan “kita tertawa setiap saat pada seseorang yang memberi kita kesan bahwa ia seperti benda”. Bergson menyebut bahwa proposisi-proposisi itu merupakan sebuah hukum baru dalam teori komedi.

Kita tertawa terhadap kekakuan. Sesuatu yang nampak mekanis. Yang kaku menyelubungi tubuh hidup. Kita tertawa terhadap seorang doktor filsafat, ia mengajar dengan nada tinggi, rambut klimis berminyak dan bagai seorang komandan militer di mana mahasiswa harus patuh terhadap komandonya. Kita tertawa pada seseorang yang terpeleset di selasar, lalu dia begitu linglung. Kita semakin terbahak. Seringkali tanpa takut dibedil oleh undang-undang larangan ejek presiden, orang-orang masih menertawakan mimik muka Jokowi saat berpidato di depan awak media, atau sedang wawancara eksklusif dengan wartawan asing menggunakan bahasa Inggris terbata dan terpeleset-peleset menggunakan setiap kata kerjanya, lalu berdalih, “Saya ingin menguji menteri saya. Pak Menteri silakan jawab pertanyaan bule tadi”. Semua orang hanya tertawa pada kekakuan Jokowi itu. Barangkali Obama juga tertawa di balik meja kerjanya, di sela membincangkan infansi ke Suriah sana.

Humor sekilas nampak seperti menghina. Tapi ia selalu berlaku pada kelompok sosial tertentu. Ia mempunyai fungsi, sebagai koreksi sosial. Sebuah  fungsi kritik. Humor bukanlah cuap-cuap tak berdasar, humor menggunakan rasionalitas seorang individu sebagai sebuah ekspresi. Kata Peter L. Berger, humor sebagai senjata!

Tetapi sering kali kita tidak menyadari. Humor sebatas saling ejek diri sendiri dan kekurangan orang lain. Kita mesti membungkus humor dengan rapi. Untuk menyampaikan kritik atau gagasan ke orang sekitar. Supaya menguak selubung mekanis yang melekat pada diri.[]

Facebook Comments
Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.