sumber gambar: https://www.idntimes.com/life/education/dewa-putu-ardita/fakta-potret-pendidikan-indonesia

Segala hal berbau teknologi menjadi senjata bagi–katakanlah revolusi industri 4.0, bagaimana tidak, revolusi tersebut mengasumsikan adanya perubahan cara mengada manusia yang tradisional menuju modern. Modern yang dimaksud di sini tentu saja berkelindannya antara artificial intelegence, teknologi, dan data raya (big data). Singkatnya, segala sesuatu yang kita kerjakan saat ini sangat bergantung dengan teknologi dan algoritmanya masing-masing. Kecanggihan teknologi saat ini dalam aplikasinya pada hampir segala lini kehidupan telah mampu merekomendasikan hampir seluruh keinginan kita lewat kebiasaan-kebiasaan yang terekam secara algoritmis ke dalam data raya melalui layar gawai tanpa kita sadari.

***

Semua orang dituntut untuk dapat mahir menggunakan teknologi. Namun sayangnya, anjuran tersebut berdampak dan mempunyai kecenderungan agak masokis: mempelajari dengan susah payah soal penggunaannya kemudian menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada teknologi itu sendiri. Banyak orang mengasumsikan diri mereka sudah menghidupi revolusi industri 4.0 hanya karena mereka menggunakan medsos, video live streaming, surel, serta aplikasi pendukung lainnya. Padahal, menggunakan saja belum cukup. Sebab ada yang kita lupakan: diri kita sendiri. Apa maksudnya? Ketika kita menggunakan segala bentuk aplikasi tersebut, kita menyerahkan data pribadi kita ke dalam jaringan, dan terekam dengan jelas. Sehingga lewat algoritma tertentu, mesin akan mampu mengklasifikasikan dan akhirnya merekomendasikan kepada kita di kemudian hari apa keinginan kita, mulai dari musik yang ingin diputar, makanan yang ingin dipesan, hingga artis yang ingin kita tonton. 

Siapa kita, terekam jelas dalam data raya. Inilah yang dinamakan kematian privasi, dan persis disinilah krisis identitas sebagai manusia seutuhnya berasal. Identitas manusia seutuhnya terpecah belah oleh teknologi digital yang mencengkeram kuat hidup kita dan menariknya ke dunianya dimana kita tak dapat kembali begitu saja seperti sedia kala. Tidak berhenti sampai disitu, kebiasaan-kebiasaan memposting segala hal turut pula membentuk identitas budaya digital. Identitas budaya digital tak lain adalah identitas manusia tanpa identitas: Mesin lebih mengenal diri kita ketimbang diri kita sendiri.

Kita terhisap oleh budaya digital yang meninabobokan kita dan akhirnya membelenggu diri kita. Kita menjadi pribadi yang sama sekali lain dari kenyataan. Kita menginginkan identitas yang sama sekali lain dari diri kita sendiri. Pada akhirnya kita masuk ke dalam era pasca-kebenaran, dan kita menghidupinya.

Di dalam proses mendidik harus ada interaksi langsung yang memungkinkan seseorang ditegur atau dipuji secara objektif sehingga memunculkan semangat baru untuk berkembang menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Sebab, tanpa adanya interaksi langsung, tanpa adanya “sentuhan langsung”, rasanya sulit bagi seorang pendidik untuk dapat melihat perkembangan anak didiknya secara komprehensif. 

Pasca-Kebenaran

Apa yang dimaksud dengan pasca-kebenaran (post-truth)? Sesuai dengan istilahnya, pasca-kebenaran berarti sebuah kondisi setelah kebenaran. Mengapa dikatakan setelah? Hal ini dikarenakan faktor utama yang membedakan pasca-kebenaran dengan kebenaran biasa adalah mengenai “kepemilikan kebenaran” (ownership of truth). Pada periode truth, klaim kebenaran atas suatu narasi dipegang oleh satu pihak yang berkuasa. Kondisi monopoli kebenaran ini kemudian berubah pada beberapa tahun belakangan, terutama karena perkembangan teknologi yang pesat. 

Apa yang benar-benar mengubah “kepemilikan kebenaran” adalah revolusi teknologi informasi, terutama yang terkait dengan perkembangan media sosial dan gawai personal (personal gadget). Apa yang dibawa oleh revolusi teknologi informasi adalah “individualisasi sumber informasi”. Apabila sebelumnya kita hanya bisa memilih jumlah sumber informasi yang terbatas seperti televisi maupun koran, sekarang kita bisa memilih informasi apa berdasarkan keyakinan. Dengan kata lain, kebenaran sudah tidak lagi bersifat monolitik; setiap dari kita, dapat memilih kebenarannya masing-masing tanpa harus mengetahui sejauh mana objektivitas kebenarannya. Selain memperluas sumber kebenaran, kondisi pasca-kebenaran juga meningkatkan intensitas dari kebenaran kepada orang-orang yang mempercayainya. Seseorang dapat mengakses narasi kebenaran berdasarkan keyakinannya secara real time dan terus-menerus tanpa sempat menerima narasi tandingan yang ada. Dengan kata lain, kita sudah tidak lagi menjadi konsumen pasif atas suatu narasi kebenaran, namun sudah menjadi konsumen aktif yang dapat memilah dan memilih mana narasi kebenaran yang ingin kita yakini. 

Pendidikan di Era Pasca-Kebenaran

Revolusi industri 4.0 telah menjadi bahan bakar yang mutakhir bagi percepatan peradaban pasca-kebenaran. Dampak paling besar dapat kita rasakan di ranah pendidikan. Teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat ditambah dengan maraknya program digitalisasi berbagai macam aspek kehidupan pada kenyataannya (cenderung) memudahkan pendidik serta peserta didik menemukan sumber-sumber kebenaran yang dapat dipercaya. Namun rupanya, kemudahan yang ada belum berbanding lurus dengan mental pendidik dan peserta didik yang ada di negara ini. Tengoklah tabiat beberapa oknum pendidik dan peserta didik kita di tengah pandemi Covid-19. Pembelajaran jarak jauh dijadikan alasan untuk tidak mengajar dan belajar. Mulai dari alasan kuota internet habis, signal jelek, dan lain sebagainya. 

Bagi pendidik, proses pembelajaran yang ideal adalah tatap muka secara langsung di kelas. Tetapi dalam konteks masa pandemi, kita harus melakukan proses pembelajaran secara daring. Akibatnya adalah peserta didik tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Kalau pertemuan langsung di kelas saja yang dapat dicerna hanya–katakanlah 70%, bagaimana dengan hanya mengandalkan layar beberapa inci saja. Dalam kasus tertentu, bahkan ada pendidik yang hanya memberikan dokumen presentasi dan sekadar memberikan tugas tanpa penjelasan sedikitpun. 

***

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, tidak dapat digantikan dengan mesin-mesin digital, karena tentu saja hasilnya akan berbeda. Mendidik adalah membentuk karakter seseorang, bukan hanya sebatas menyampaikan materi. Di dalam proses mendidik harus ada interaksi langsung yang memungkinkan seseorang ditegur atau dipuji secara objektif sehingga memunculkan semangat baru untuk berkembang menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Sebab, tanpa adanya interaksi langsung, tanpa adanya “sentuhan langsung”, rasanya sulit bagi seorang pendidik untuk dapat melihat perkembangan anak didiknya secara komprehensif. 

Perlu diingat pula bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menyempurnakan kemanusiaan. Tujuan itu harus dicapai lewat proses yang manusiawi, bukan lewat proses kapitalisasi sarana pembelajaran. Memang, saat ini kita sangat mengagung-agungkan kecepatan transmisi, sebagaimana telah diungkapkan Paul Virilio (Virilio, 2001). Ketika masyarakat menggunakan mekanisme untuk mentransmisikan pesan lebih cepat, perkembangan manusia pun juga meningkat secara drastis. Pada era kontemporer, pesan bahkan tidak lagi memakan waktu yang lama untuk dapat ditransmisikan, mengingat pesan sudah bisa diterima secara instan melalui mekanisme digital dan daring. Hal ini hendaknya jangan dibaca secara terbalik dalam konteks pendidikan. Yang harus ditekankan adalah teknologi digital tersebut adalah sarana untuk menunjang sumber-sumber pembelajaran. Bukan untuk menggantikan posisi pengajar. 

Pemikiran Virilio mengenai kecepatan juga merupakan contoh jelas yang memungkinkan kondisi hiperealitas. Hiperealitas adalah suatu kondisi di mana kondisi nyata dan kondisi tidak nyata menjadi sulit untuk dibedakan (Baudrillard, 1994: 9-15). Kecepatan teknologi informasi yang menghilangkan waktu penerimaan narasi menyebabkan seseorang terjebak dalam hiperealitas tanpa kemauan atau kemampuan untuk melihat kepada narasi kebenaran lain. Dengan demikian, kemajuan teknologi yang meningkatkan kecepatan informasi dan pada awalnya diharapkan untuk memperluas pemahaman seseorang justru membawa dampak sebaliknya, yaitu kita hanya menerima satu isu yang diinginkan. Dan inilah Pasca-kebenaran. Oleh karena itu, ada empat aspek dalam pendidikan yang harus diperhatikan baik oleh pendidik maupun peserta didik agar karakter yang diidam-idamkan tidak lenyap dimakan zaman. Aspek tersebut antara lain:

  1. Mendidik adalah suatu tindakan yang fundamental, yang bukan perbuatan dangkal. Maka perbuatan itu didasari oleh kehendak, yang melahirkan cinta dari pendidik kepada “subjek-yang-sedang menjadi”.
  2. Pendidikan harus bersifat dialogis, suatu relasi antara subjek dengan subjek. Pendidikan adalah relasi subjek dengan subjek yang bersama-sama menangani dunia dan menamai dunia. “Menangani dunia” artinya mengolah dan merawat dunia; “menamai dunia” artinya memberi arti-arti pada dunianya dan mengintegrasikannya dengan dirinya.
  3. Pendidikan mencakup pendidikan nilai. “Mendidik berarti memasukkan anak ke dalam alam nilai-nilai, atau juga memasukkan dunia nilai-nilai ke dalam jiwa anak.” (Karya Lengkap: 408). Oleh karena itu pendidikan tidak pernah netral. 
  4. Pendidikan mencakup pendidikan politik. Agar tercipta suatu kehidupan politik yang manusiawi, maka pendidikan harus mencakup pendidikan politik. Pendidikan politik pada dasarnya bertujuan memberdayakan (empowering) warganegara agar mampu berpartisipasi secara konstruktif dalam membangun kehidupan bernegara dan berbangsa. 

Pada akhirnya, Selamat hari Pendidikan Nasional. Semoga dunia pendidikan kita semakin dikuatkan untuk tidak melulu jatuh pada sikap yang deterministik dan mendewakan output dan intake belaka. Tetapi lebih daripada itu, dapat semakin memanusiakan manusia yang utuh dan kompleks.


Referensi

Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. diterjemahkan oleh Sheila Faria Glaser. Michigan: University of Michigan Press. 1994.

Driyarkara, N., Karya Lengkap Driyarkara. Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Penyunting: A. Sudiarja, G. Budi Subanar, St. Sunardi, T. Sarkim. Jakarta: Gramedia, 2006.

Virilio, Paul. “My Kingdom for a Horse: The Revolutions of Speed”. Wawancara oleh Jean De Loisy dan Patrick Javault. Queens Quarterly. 2001. hlm.329-338.

 

Facebook Comments
Pranowo Yogie
Lahir di Jakarta pada tanggal 8 Juli 1989. Menyelesaikan studi magister Filsafat di STF Driyarkara tahun 2017. Buku yang sudah terbit antara lain: Perempuan, Moralitas, dan Seni (Ellunar Publisher, 2018), dan Peran Imajinasi dalam Karya Seni (Rua Aksara, 2018). Saat ini aktif menjadi sutradara teater, dan mengajar di beberapa kampus swasta, serta menjadi peneliti di Yayasan Pendidikan Santo Yakobus, Jakarta.