Kelas Filsafat LSF Cogito


Daftar Peminat Lolos Seleksi

Selamat bagi para peminat lolos seleksi. Kami nantikan kehadiran Anda sekalian di kelas. Mari Berdiskusi, bersenang-senang karena filsafat.

Abd. Salam
Alti Howan
Anita Munafia
Aranggi Josef
Avrita Lianna
Azhar Zein Amrullah
Carolus Bregas Pranoto
Denny Alfani
Devananta Rafiq
Dian Kukuh Purnadi
Dzikri Rahmanda
Fachri Sakti Nugroho
Fadel Yasrawi
Firman Siregar
Galang Bagus Satria
Gema Maulana
Hadna Trie
Hafizh Nurul Faizah
Hananradiana Rasy
Imanuel Yonatan
Jovial Elshadai Lalenoh
Labud Najib
M. Iqbal Jatmiko
Mahfud Syaifullah
Maria Syila
Mariando Label
Michael Anggi Gilang Angkasa
Muhammad Aufa Ramadhan
Muhammad Nafizul Haq
Noor Adha Satrio
Nurlianti Muzni
Ridwanul Hakim
Sarrotama Nugraha
Siti Fatimah
Sosiawan Permadi
Stephanus Effendi
Teguh Hindarto
Wida Ayu Puspitosari

Kami LSF Cogito mengucapkan banyak terima kasih kepada antusiasme Anda sekalian dalam menyambut Kelas Filsafat Cogito Mind-Independent-World Problem. Kami merekomendasikan anda untuk meninjau dan memerhatikan ketentuan administratif yang diperlukan. Terima kasih.


Lingkar Studi Filsafat Cogito Mengundang masyarakat luas untuk bergabung di dalam kelas Filsafat Cogito dengan tema besar mind-independent world. Adapun Tema besar ini, dibagi ke dalam 4 subtema pokok yakni : 1) Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Ketuhanan, 2) Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Sains, 3) Problem Kemandirian Dunia dan Ontologi Politik, 4) Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Bahasa. Berikut informasi lebih rinci mengenai kelas Filsafat Cogito:

Deskripsi

Latar Belakang

Pokok soal penting dalam debat mutakhir filsafat Kontemporer adalah soal kemandirian dunia dari pikiran (mind-independent-world problem). Pokok soal ini, dari saking fundamentalnya, mampu membelah trakjektori filsafat secara umum ke dalam dua cabang. Pada cabang pertama terdapat sekelompok filsuf yang melintasi lajur untuk mengafirmasi keberadaan dunia eksternal yang mandiri dari pikiran. Pada cabang yang kedua, sebaliknya, terdapat varian pemikiran filosofis yang menyangkal adanya dunia yang tak terkait dengan pikiran. Jika cabang pertama disebut realisme, maka cabang kedua disebut antirealisme.

Klaim awal dua posisi yang berlawanan tersebut adalah klaim ontologis terkait ada/tidak ada-nya dunia eksternal yang mandiri dari pikiran. Klaim ontologis itu kemudian memiliki implikasi epistemologis. Jika realisme memungkinkan adanya pengetahuan objektif dan absolut tentang dunia eksternal, maka antirealisme menolak varian klaim pengetahuan apa pun tentang dunia yang mandiri dari pikiran—dan, karenanya, pengetahuan yang dimungkinkan bukanlah pengetahuan tentang dunia yang sebenarnya, melainkan pengetahuan tentang relasi-mediasi yang melaluinya dunia menampak kepada manusia.

Posisi kedua tersebut memiliki akar sangat kuat dalam filsafat Kontinental—setidaknya dari Immanuel Kant. Meskipun mengkritik posisi idealisme klasik yang berkeyakinan bahwa segala yang eksis hanya variasi dari pikiran, Kant beserta para pengikutnya—yang oleh Quentin Meillassoux disebut “korelasionisme”—jatuh ke lubang yang nyaris sama, yaitu tak mampu berbicara tentang dunia eksternal dalam artian yang semurni-murninya. Perdebatan menjadi semakin panas ketika muncul segerombolan filsuf yang berusaha mengambil posisi diametral dengan posisi tersebut. Posisi ini mengenalkan trajektori filsafatnya sebagai “speculative turn” (pembalikan spekulatif) yang—menyatakan bahwa ada dunia eksternal yang absolut dan manusia mampu menjangkau yang absolut itu—kemudian menemukan momentumnya, salah satunya, lewat buku After Finitude karya Quentin Meillassoux.

Mengingat sentralnya tema tersebut dalam diskursus filsafat Kontemporer, maka Lingkar Studi Filsafat (LSF) Cogito sebagai lembaga studi filsafat bermaksud mengadakan kelas filsafat dengan tema besar “mind-independent-world”. Kelas filsafat yang dimaksud akan dibagi ke dalam empat sesi dengan topik masing-masing terkait implikasi dari problem “mind-independent-world”. Dari tema besar tersebut, kami menurunkan empat problem pokok, mulai dari soal ketuhanan, sains, politik, dan bahasa.

Pertama, problem kemandirian dunia dan diskursus ketuhanan. Masalah ketuhanan sangat dominan dalam filsafat pada periode abad pertengahan. Pada sesi ini, kelas kita akan mengkaji implikasi-implikasi teoretik yang mungkin muncul ketika pengandaian-pengandaian problem kemandirian dunia ini masuk ke dalam ranah diskursus ketuhanan. Bagaimana posisi realis memandang Tuhan? Apakah Tuhan, sebagaimana yang absolut, merupakan sesuatu yang eksternal dari manusia tetapi manusia bisa punya pengetahuan positif tentangnya? Atau bagaimana Tuhan di mata kaum antirealis? Apakah ketika kaum antirealis menegasikan adanya dunia yang mandiri dari pikiran juga akan menegasikan Tuhan? Ataukah mereka, sebagaimana Kant, mengakui adanya dunia yang mandiri dari pikiran, das Ding an sich, yang dalam posisi tertentu serupa Tuhan, tetapi menutup akses pengetahuan terhadapnya, sehingga pengetahuan tentang Tuhan akan selalu negatif, tidak pernah positif, sebagaimana dalam pandangan teologi negatif?

Kedua, problem kemandirian dunia dan diskursus sains. Sains dilihat sebagai subjek dari kemajuan cara berpikir manusia yang paling fenomenal, mampu merekonstruksi batas-batas keilmuan, dualitas antara realitas yang  metafisis a priori dengan realitas yang faktual aposteriori. Kecenderungan demarkasi ontologis yang begitu ketat, realitas metafisis dan realitas faktual, memiliki implikasi teoretis terhadap corak epistemologis yang cenderung positivistik, sehingga turur ikut mereduksi  bagian realitas yang dianggap melampauis pengalaman manusia, realitas yang hadir dengan cara metifisis. Pada posisi tersebut, kelas filsafat mencoba kembali memikirkan implikasi teoretik ketika problem kemandirian dunia dari pikiran dihadapkan dengan diskursus sains. Bagaimana posisi teoretis sains melihat dunia eksternal? Apakah realitas yang melampaui pengalaman manusia hanya merupakan pengandaian semu dari pikiran? Ataukah sebaliknya, bagaimana mungkin mengandaikan sesuatu yang absolut ada, tanpa ada pengetahuan positif tentangnya? Apakah dunia yang mandiri dari pikiran hanya seperti sebuah variabel unari, negasi terhadap yang melampaui ada, otomatis semata  membatalkan sesuatu di luar dari sesuatu yang ada-faktual?

Ketiga, problem kemandirian dunia dan ontologi politik. Dalam diskursus ilmu politik ataupun filsafat politik, politik selalu dikaji berdasarkan dimensi praksisnya ataupun normativitasnya. Pendekatan semacam itu sering kali melewatkan diskursus ontologi politik yang kepadanya seluruh praksis dan normativitas politik itu didasarkan. Diskursus politik yang diwacanakan, oleh karena itu, tampak banal. Dengan demikian, pada sesi ini kami mencoba mengakrabi diskursus ontologi politik dengan sudut pandang problem mind-independent-world. Artinya, dengan mendasarkan diri pada ontologi politik yang diimplikasikan oleh problem mind-independent-world ini, praksis politik seperti apa saja yang mungkin ada? Di ranah spekulasi kemungkinan itulah kita bisa memikirkan bagaimana bentuk aktivitas dan diskursivitas politik yang paling mungkin di masa-masa mendatang?

Keempat, problem kemandirian dunia dan diskursus bahasa. Dalam perkembangannya bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk merepresentasikan realitas, lebih dari itu, bahasa berarti batas dari realitas itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa menjadi modal utama untuk mengejewantahkan realitas sebagaimana mestinya. Berangkat dari proposisi tersebut, kelas filsafat sesi ini berusaha memahami bagaimana problem mind-independent-world dalam diskursus bahasa? Apakah ada dunia yang independen dari varian bahasa? Ataukah sebaliknya: dunia itu ada sejauh dikonstruksi oleh wacana, budaya, keyakinan, dan tradisi, yang semuanya beroperasi melalui bahasa? Dan apakah ada batas antara dunia yang dapat diwadahi oleh bahasa dengan dunia yang diandaikan ada secara mandiri dari korelat bahasa manusia? Dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya kita diharapkan untuk mampu memahami bagaimana status ontologis dunia di hadapan bahasa serta bagaimana sebenarnya posisi bahasa di dalam dunia.

Tujuan

Kegiatan ini, bertujuan untuk memperkaya wacana filsafat di Indonesia, serta untuk mengenalkan akar problematik dari diskursus filsafat yang ramai diperdebatkan saat ini. Lebih dari itu, kelas ini juga bermaksud untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dari posisi teoretik tertentu yang bisa dikembangkan dalam ranah perdebatan yang lain (ketuhanan, sains, politik dan bahasa).

Detail Acara

Pelatihan ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Agustus, 2, 9, 16 September 2017 di Ruang A403 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Acara diisi dengan materi bahasan dan narasumber pengampu. Narasumber yang direncanakan untuk hadir dalam Kelas Filsafat Lingkar Studi Filsafat Cogito adalah sebagai berikut beserta materi yang akan dibawakan:

  • Franz-Magnis Suseno · Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Ketuhanan;
  • Karlina Supelli · Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Sains;
  • Muhammad Al-Fayyadl · Problem Kemandirian Dunia dan Ontologi Politik;
  • Setyo Wibowo · Problem Kemandirian Dunia dan Diskursus Bahasa.

Ketentuan dan Mekanisme Registrasi

Diperbarui tanggal 30 Juli 2017
  • Peminat diperlukan untuk menulis sebuah tulisan pendek (250-300 kata) mengenai tema besar Kelas Filsafat Cogito yakni “Mind-Independent-World”.
  • Peminat mengirimkan berkas tulisan ke surelcogito@gmail.com dengan melampirkan identitas diri untuk keperluan administrasi dan kontak. Surel dikirimkan dengan format subjek MIW_KFC _ nama peserta_ Mahasiswa/Umum.
  • Tenggat pengumpulan tulisan peminat hingga 12 Agustus 2017, 23.59 WIB.
  • Peserta yang dinyatakan lolos seleksi, selanjutnya diwajibkan membayar biaya pendaftaran sesuai dengan ketentuan. Biaya pendaftaran dikirimkan kepada: BRI 0029 01 018672 53 0 a.n. Andika Wahyu Putra dengan nominal pendaftaran: Rp. 150.000 (mahasiswa) · Rp 200.000 (umum) (fasilitas: pemateri ahli; kit kelas; snack).

Linimasa Kegiatan

Diperbarui tanggal 30 Juli 2017

30 Juni–12 Agustus 2017 · Periode pendaftaran peminat
14 Agustus 2017 · Periode pengumuman peminat lolos seleksi
15–20 Agustus 2017 · Periode pembayaran peminat lolos seleksi
22 Agustus 2017 · Pengumuman peminat lolos administrasi akhir

Acara inti dilaksanakan setiap hari Sabtu setiap minggu dari 26 Agustus–16 September 2017.

26 Agustus 2017 · Kelas I
2 September 2017 · Kelas II
9 September 2017 · Kelas III
16 September 2017 · Kelas IV

Narahubung

Diko       : 082231015855
Diska     : 081297226034
LINE       : @lln9629h
Twitter : @jurnal_cogito
FB.           : LSF Cogito
IG           : @lsfcogito