Sumber: journey2kona2019.wordpress.com
Sumber: journey2kona2019.wordpress.com
Sumber: journey2kona2019.wordpress.com

Sebuah tanggapan atas tulisan Danang Tp. ‘Siapakah Kita di antara Pengungsi Rohingya?’

Semoga saya tak lantas menjadi Tuhan seketika, saat menertawakan ke‘latah’an manusia-manusia dekaden yang berteriak ataupun menangis sendu membisikkan kata ‘kemanusiaan’. Padahal ‘kemanusiaan’ sudah lama mati bersama Tuhan di ujung pena orang Jerman yang anti Jerman. Bukankah sudah terlalu bising gendang telinga kita dengan suara-suara tangisan manusia seperti itu? Barangkali adalah hal yang wajar bagi seorang anak kecil yang menangis dan berharap seseorang memberinya sesuatu agar ia berhenti dari berisik tangisnya. Dan untuk sementara ini anggaplah hal itu memang sebagai kewajaran.

Baiklah, lupakan ‘rengek’-an anak kecil itu. Ia tidak pernah tahu bagaimana caranya memperoleh ‘manisan’ selain hanya dengan menangis.

Pada awalnya, kosmopolitanisme hanyalah bangkai yang telah membusuk oleh tumpukan sejarah. Hingga kemudian beramai-ramai ditemukan oleh masyarakat yang –katanya– ber’peradaban’ (civilized society) sebagai bentuk ‘atavisme’ rendahan. Tentu kita masih ingat pada kisah yang terceritakan di setiap buku para sejarah-wan, bahwa kehidupan nomaden sungguh-sungguh pernah ada. Kosmopolitanisme –kalau boleh saya katakan– hanyalah bentuk baru dari kehidupan seperti itu. Kita tahu bahwa dalam kehidupan nomaden, semua orang memiliki hak yang sama atas kehidupan, akan tetapi lagi-lagi tidak ada sebuah jaminan bahwa hak yang satu akan aman dari ancaman hak yang lain. Hingga pada akhirnya mereka mulai berpikir untuk mencoba merumuskan sebuah social contract yang tidak lain hanyalah bentuk ketakutan mereka akan hak yang boleh jadi kapan saja dapat diambil oleh yang lain.

Secara singkat, simpulkan saja bahwa gagasan kosmopolitanisme tak lebih hanya perulangan sejarah purba manusia nomaden, hanya saja mereka tak mengenal istilah ‘tuan rumah’. Dengan demikian keramahtamahan boleh jadi hanyalah sebuah ‘syarat’ dalam kesaling-asingan untuk tetap dapat bertahan dari berbagai ancaman.

Maaf untuk ‘baiklah’ yang kedua. Lupakan Rohingya! Sepertinya selera sejarah kita terlalu rendah untuk memperbincangkan ‘exodus’ modern tersebut.

Entah benar atau tidak apa yang ditulis oleh sejarah tentang bangsa Israel yang terusir dari Mesir. Seandainya sejarah tersebut adalah palsu, maka marilah bersiap untuk mengemas barang-barang kita dan meninggalkan ‘kampung’ agama-agama yang berkisah tentang peristiwa itu. Akan tetapi jika memang kita telah bersepakat bahwa peristiwa itu adalah benar, maka terimalah argumen saya ini:

Apa yang ada pada benak kita tentang orang Yahudi Israel? Baiklah, jika pertanyaan tersebut terlalu sulit dijawab, asumsikan bahwa kesulitan tersebut adalah karena masing-masing dari benak kita tidak selalu sama. Akan tetapi asumsikan kembali bahwa seandainya memang benar ‘kemanusiaan’ merupakan ‘solidaritas tanpa syarat’, seharusnya semua dari kita tahu apa yang dirasakan oleh orang-orang Israel yang terbuang dari Mesir, hingga pada tengah jalan perjuangan mereka di terima oleh negara-negara Eropa, mereka berkali-kali terusir kembali dengan satu tuduhan yang tak lain hanyalah berlatarbelakang ‘keterancaman’.

Terlepas dari benar atau tidak tentang apa yang melatarbelakangi penyerangan Israel terhadap Palestina saat ini; bahwa mereka mencoba merebut kembali tanah Sion yang dijanjikan Abraham dalam bible sebagai tanah warisan bagi mereka, sebagian besar dari kita tentu tidak menerima alasan tersebut sebagai hal yang sah untuk menghapus ‘kemanusiaan’. Dan pada akhirnya kita menghapus ‘kemanusiaan’ kita hanya untuk membela ‘kemanusiaan’ yang lain.

Maaf, untuk ‘baiklah’ yang ketiga. Lupakan sejarah itu! Karena barangkali sebagian besar dari kita sepakat bahwa ‘sejarah selalu ditulis pemenang’.

Lantas yang pasti menjadi pertanyaan Anda kemudian adalah apa kaitan antara orang Israel dan Rohingya? Terlepas dari isu keagamaan yang selalu ditampilkan di depan setiap peristiwa –sebagai tameng SARA agar kebal dari berbagai serangan yang lebih masuk akal–, Israel sudah cukup menjadi contoh sejarah di mana ‘kemanusiaan’ hanyalah permainan bahasa atas pembacaan yang selalu berubah dalam setiap ‘tarik-ulur’ kehendak atas keadaan.

Rohingya boleh jadi adalah kasus yang sama. Kita yang mengaku berperi’kemanusiaan’ akan selalu ‘latah’ di dalam penglihatan kita atas realitas kehidupan yang bagi kita sangat menyedihkan. Boleh jadi saat ini kita sangat ‘meng-kasihi’ mereka, akan tetapi di kemudian hari saat kita merasa keberadaan mereka mengancam kita, seketika kita akan beramai-ramai menjadi sekumpulan manusia ‘amnesia’ yang lupa akan hal yang pernah kita lakukan sebelumnya. Tentu ‘amnesia’ hanyalah pembahasaan yang lebih ‘santun’ dari rasa ‘ke-maluan’ atas diri kita yang tidak konsisten.

Sumber: www.rvisiontv.com
Sumber: www.rvisiontv.com

Solidaritas: Sebuah Fiksi Dekaden?

Pengandaian bahwa setiap orang adalah ‘mungkin’ –sebuah kata kepengecutan–mengafirmasi rasa sepenanggungan hanyalah sebuah fiksi. Atau baiklah, asumsikan bahwa rasa sepenanggungan itu adalah sangat mungkin untuk terafirmasi dalam solidaritas, akan tetapi bagaimana kita dapat mengetahui rasa sepenanggungan tersebut? Adalah argumen yang sangat lemah ketika hanya mengandaikan bahwa kita memang berbeda secara aksidensi, akan tetapi secara substansi kita adalah sama: manusia. Apa yang menjadi dasar logis bahwa hanya dengan mengandaikan kita adalah sama-sama manusia dapat memunculkan rasa sepenanggungan?

Baiklah, barangkali kita dapat menggunakan satu jalan imajiner untuk membayangkan posisi kita sebagai yang lain. Akan tetapi, tidakkah semua dari kita telah cukup paham bahwa setiap pengalaman hidup seseorang adalah berbeda. Bagaimana caranya seseorang dapat mengandaikan sebuah keadaan yang tidak pernah dialami sebelumnya? Dengan demikian, ‘sudut sepi kemanusiaan’ hanyalah fiksional yang kita limpahkan pada setiap orang dengan anggapan bahwa pengalaman kita akan kegetiran hidup adalah sama.

Saya menaruh curiga bahwa apa yang kita sebut sebagai ‘kemanusiaan’ dan ‘solidaritas’ hanyalah simtom-simtom yang menyembunyikan kehendak dari diri kita yang cacat. Seolah-olah kita memiliki ‘kebutuhan untuk percaya’ pada sesuatu yang lain hanya karena kita tidak mampu mengatasi persoalan kita sendiri. Sehingga pada akhirnya kita mencari satu hal yang mampu memberi kita jaminan akan hidup yang nyaman. Jaminan tersebut dapat berupa keyakinan kita akan adanya Tuhan atau barangkali jika kita lebih percaya tentang kematiannya, kita beralih pada Tuhan lain yang kita sebut sebagai ‘kemanusiaan’.

Kita adalah yang lain di antara yang lain. Solidaritas hanya mungkin ketika apa yang kita rasakan atas penderitaan orang lain adalah sama. Seharusnya kita tidak berpungkir diri bahwa kita hanyalah yang lain di antara yang lain. Kita benar-benar sekumpulan manusia saling-asing yang mencoba menjembataninya melalui bahasa. Tidak ada yang sungguh-sungguh kita pahami tentang posisi orang lain kecuali hanya bahasa-bahasa yang kita saling terjemahkan.

Kita –orang-orang yang mengaku berperi’kemanusiaan– semoga saja tidak terlalu cengeng menangisi akan hal yang jauh, dan tertawa keras akan hal yang dekat tetapi tak pernah kita coba untuk melihat. Barangkali hanya satu dari kesimpulan saya: Kita adalah kebebasan. Terserah apa yang hendak kita perbuat, tetapi jangan pernah sekalipun menangis di hadapan realitas. Bagi mereka yang terlanjur menangis seperti halnya Karlina Supelli, semoga sebuah bait berikut dapat menghapus air mata mereka yang berputus-asa atas kematian Tuhannya:

Apa yang sesungguhnya kita tunggu?

Bukankah untuk kegaduhan besar atas bentara-bentara dan terompet-terompet?

Seolah ada yang menahan kita untuk menunggu:

Kita telah mendengar banyak terlalu lama.[]

Risalatul Hukmi
Alumnus Fakultas Filsafat UGM, sedang menulis pemikiran Nietzsche dan kekerasan agama. Novel pertamanya terbit dengan judul "Alenia".

LEAVE A REPLY