Alcoholic (Sumber: wisegeek.com)

Kereta Gairah

Seks layaknya kereta, selalu berjalan mengikuti rel yang telah ditentukan. Perjalanan kereta selalu bergantung pada sang lokomotif sebagai mesin penggerak. Sang lokomotif bernama libido, gerbong-gerbong berisikan seks, seksual, seksualitas, persiapan orgasme, dan aktivitas lainnya. Rentetan roda-roda besi bergerak untuk suatu tujuan, tetapi tak semuanya berhasil. Terkadang ada yang kandas, anjlok, maupun hancur sekaligus.

Realitas manusia tak bisa dilepaskan dari kata “seksual”. Agama, ilmu, sains bahkan filsafat sudah sejak lama masuk arena tinju, bertarung tafsiran dan pemikiran mengenai ritual erotis nan sensual ini. Hasil pertandingan tersebut dapat dilihat pada tokoh-tokoh masa kini. Siapa lagi jika bukan dr. Boyke ahli seksologi, yang acap kali mendapat tanggapan miring dari kaum agamawan. Contoh saja, pada tahun 2010, ia menyatakan masturbasi normal 2 kali seminggu, tidak butuh waktu lama keluarlah ayat-ayat seraya mengurapi masyarakat untuk terhindar dari godaan-godaan yang katanya, nafsu duniawi.

Terlepas dari sifat relatif atas kebenaran orientasi seks, seksual, seksualitas, orgasme yang oleh masing-masing ideologi, ada hal yang ingin ditegaskan hedonisme, yakni kenikmatan (seks) juga bagian dari kesenangan dan kebahagiaan! Memang benar hanya individu yang dapat merasakan nikmatnya suatu kenikmatan, tetapi jika kenikmatan tersebut telah merugikan diri sendiri maupun orang lain, etika ini sangat menentang dengan keras. Tak ada kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, tak ada kebahagiaan jika merugikan diri sendiri. Itu hanya penderitaan yang tertutupi oleh selubung-selubung biasnya kenikmatan.

Tulisan ini saya susun atas pertimbangan kerugian oleh permainan intuitif yang buta dan ilusi kebahagiaan oleh pertimbangan tak mendalam terhadap objek-objek yang disangka kebahagiaan maupun kesenangan. Manusia hidup dan ada bertujuan mengejar suatu dambaan kebahagiaan. Termasuk seks yang dikaitkan dengan kenikmatan dan kepuasan yang terikat dalam kemasan hedone. Etika ini tidak untuk memaksa persoalan seks menjadi ranah hedonisme. Ia mengutamakan pada kritik diri untuk memahami sekaligus mengetahui dirinya lebih dalam, khususnya sistem neuronal, tubuh, dan kehidupan yang ideal. Tulisan ini tidak berpihak terhadap pria dan wanita secara utuh, atau bahkan dikaitkan feminisme. A Hedonist Manifesto!

Sistem Limbik dan “Nuclie Septum” Sang Pengendali

Sistem neuronal merupakan mesin utama dalam proses menjalankan kehidupan manusia. Segala muasal terkait individu seperti kebiasaan, sikap atas hal baru, bahkan etika sekalipun diolah, diseleksi, dan diputar kembali layaknya kaset-kaset. Begitu pun dengan olahan, pikiran, atau hal praktis terhadap seks yang tidak dapat dilepaskan dari sang pemicu awal yakni, libido (gairah seks) hasil olahan sistem-sistem neuron pada sistem limbik.

Hedonisme tak bisa dilepaskan dari kata kenikmatan dan kepuasan. Banyak yang salah kaprah mengenai etika ini berdalih pada pernyataan harus mencari objek kebahagiaan lain, jika dirasa sudah merugikan diri sendiri, termasuk pada ranah seks.

Pada ranah neurosains, fungsi sistem Limbik erat kaitannya dengan emosi, motivasi, mediasi memori, bermimpi, termasuk gairah akan seks. Sistem ini terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi-fungsi tersendiri. Seperti Talamus untuk berpikir maupun gerakan, Hipotalamus untuk pengendalian hormon, Girus Singulata untuk menghantarkan pesan (berupa cairan kimia) antar-bagian dalam dan luar Limbik,  Amygdala untuk ranah emosional dan gairah generatif, Hippocampus yang menempatkan kenangan jangka pendek menuju jangka panjang, Nuclie Septum evolusi dari Hippocampus (hanya ditemukan pada homo sapiens),  serta Ganglia Basalis untuk mengkoordinasikan otot-otot pada tubuh.

Jika berbicara mengenai seks, sistem ini lah yang memicu gairah seks atau biasa disebut libido. Hipotalamus sang pengendali hormon yang juga mengatur Homeostasis, bisa memicu perilaku seksual yang belum sempurna (berkaitan dengan hormon)  atau penghasil rasa marah yang ekstrem atau pun kesenangan. Setelah proses ini, Amygdala bertugas mencari lampiran-lampiran (objek) atas proses Hippotalamus. Seperti menanggapi tatapan mata seseorang, mengingat kenangan atas sebuah objek, dan ekstasi intuitif lainnya. Proses selanjutnya ialah pada ranah Hippocampus, yang mengotak-atik hasil proses Amygdala menjadi sebuah memori jangka pendek. Akan tetapi ada hal penting yang dilakukan oleh Nuclie Septum (evolusi Hippocampus), yakni ia menghubungkan Hippocampus dengan Hippotalamus maupun batang otak. Interkoneksi ini juga memberikan Hippocampus sebuah panduan Modulatory (penghambat dan pengaktif) dalam hal fungsi memori dan gairah. Inti septum ini salah satu fungsinya ialah menyeimbangkan (counterbalancing) segala proses  dengan Amygdala (ranah emosional). Karena, emosi di Amygdala dimungkinkan mendominasi suatu proses. Contoh saja aktivitas seks dengan ekstrem, menyakiti individu lain, kemarahan septal, dan hal lainnya merupakan akibat dari dominasi Amygdala yang masuk dan menyelimuti Neokorteks (penutup lobus-lobus otak). Jika dibahasakan secara umum, dapat dikatakan bahwa Amygdala mencari dan mempromosikan kontak lampiran-lampiran (objek) secara liar atau tidak teratur, bahkan kemungkinan aktivitas seksual “promiscous” , lalu inti septum inilah yang menghambat kecenderungan tersebut sehingga membantu dalam pembentukan emosional yang selektif serta kekal.

Erotisme bertindak sebagai obat penawar seksualitas terbaik.6 Saat seks berbicara, ia mengungkapkan naluri otak reptil yang paling brutal; Begitu seks memanifestasikan dirinya dalam artifisial, ini akan menjadi aspek terbaik dari hasil sebuah peradaban.7

Dari paparan sistem neuronal khususnya Limbik, hasrat seks atau gairah seks memang sudah alamiah bersemayam di tubuh manusia. Walaupun para pakar neurosains menjelaskan secara detail mengenai fungsi serta mekanisme kerja bagian-bagian sistem Limbik, lalu menemukan mekanika material baru bernama Nuclie Septum yang berfungsi menjadi penyeimbang antara Amygdala dengan Hippocampus dan Hippotalamus dalam menghambat kemungkinan pencarian kontak seks secara liar atau tidak teratur, tetap saja kesengsaraan seksual masih terjadi. Pada A Hedonist Manifesto, secara khusus kesengsaraan seksual dikonotasikan sebagai tindakan seksual yang tidak memiliki timbal balik kenikmatan, kepuasaan bersama, atau pun kenikmatan dan kepuasan yang egois.

Akhirnya mesin libido itu hanya butuh waktu meledaknya saja hingga akhirnya menjadi sebuah aktivitas seks. Ia akan terus berjalan di otak manusia, layaknya sebuah mesin. Siapa yang tak ingin merasakan kepuasan, kenikmatan, kebahagiaan atas hasil proses-proses tersebut? Akan tetapi, bagaimana jika seseorang mendapatkan kenikmatan seperti Zoophilia, Necrophilia, Pedophilia dan benda mati lainnya serta pemerkosaan, perselingkuhan, dan keterpaksaan seks?

Erotisme dan Pembenaran Konsep tentang Keinginan

Hedonisme tak bisa dilepaskan dari kata kenikmatan dan kepuasan. Banyak yang salah kaprah mengenai etika ini berdalih pada pernyataan harus mencari objek kebahagiaan lain, jika dirasa sudah merugikan diri sendiri, termasuk pada ranah seks. Contoh saja pertimbangan bodoh oleh ketidakpuasan seks yang dirasa sudah merugikan diri. Pernyataan seperti itu yang menyebabkan para hedonis terdahulu mencari kebahagiaan lain terus menerus, sehingga nikmat dan berlebih-lebihan (fanatik akan seks dan sakit) menjadi bias atau tersamarkan oleh intuitif hingga akhirnya selalu merasa kekurangan. Apa yang harus dipahami dan diperbaiki? Erotisme dan konsep keinginan!

Semua ini berawal dari mitos Plato! Plato telah membuat orang kristen Eropa menderita skizofrenia.1 Ini membuat mereka benci pada dirinya sendiri, dan ini membuat fiksi yang luar biasa  oleh jiwa yang immaterial dan abadi.2  Ini merupakan kenikmatan dalam memori tentang kematian yang dikembangkan oleh ideologi yang dominan.3 Akibat itu semua, banyak yang enggan untuk paham akan organ dan tubuh mereka. Tujuan mereka hanyalah dunia penuh fantasi yang abadi, dan melewatkan hal-hal yang krusial sepanjang hidupnya.

Keinginan bukanlah sebuah kekurangan!11 Ini adalah kelebihan yang di ambang peledakan.12 Konsep ini harus diubah individu khususnya kaum hedonis dalam pencarian kenikmatan. Jika seorang hedonis berasumsi bahwa keinginan untuk kenikmatan seks adalah sebuah kekurangan dari kesempurnaan yang harus dicari, maka ia akan selalu berlari mencari yang tidak ada, selalu muncul keinginan baru, kemungkinan liar, dan tak akan sekalipun menyentuh sebuah kesempurnaan. Ia hanya tidak puas, gelisah dan tidak tenang yang disebabkan imajiner fiktif tentang kelengkapan dan kesempurnaan. Apa yang mesti dilakukan?

Bila seksologi dapat berbicara secara terang-terangan di mana saja dan kapan saja, kita akan paham mengenai penggunaan organ dan tubuh, arah jalur libido, untuk menghindari kesengsaraan seksual seperti Zoophilia (hewan), Necrophilia (mayat), bahkan Pedophilia (anak kecil). Semua ini menunjukkan kecenderungan manusia yang malang untuk menikmati benda pasif (termasuk kematangan reproduksi dan hormon seks yang berbeda maupun tidak setara) yang bisa didominasi kekerasan.4 Pasangan tipe heteroseksual, yang spesifik, juga dikenai brutalitas.5 Ini akibat kenikmatan yang semata-mata hanya memuaskan diri sendiri, dan kemungkinan kemungkinan aktivitas seks yang kejam, kasar, dan aneh. Semua ini diakibatkan  karena tidak pahamnya individu akan tubuh mereka sendiri dan lawan jenis. Ia hanya menyalurkan biasnya ego kenikmatan seiring dengan ketidakpahamannya akan tubuh.

Untuk itu, individu harus memahami secara spesifik tentang tubuh mereka khususnya erotisme. Ia harus mampu untuk mengalami dan menyadari hasrat dan dorongan seksual mereka, orgasme, dan hal menyenangkan dari aktivitas-aktivitas akan seks. Erotisme bertindak sebagai obat penawar seksualitas terbaik.6 Saat seks berbicara, ia mengungkapkan naluri otak reptil yang paling brutal; Begitu seks memanifestasikan dirinya dalam artifisial, ini akan menjadi aspek terbaik dari hasil sebuah peradaban.7 Islam, Kristen, Katolik, dan Yahudi tidak memiliki erotisme seperti Roma, Jepang, India, maupun Yunani. Jika kita melantangkan erotisme, tetap saja mereka menolak paham erotik mengenai organ tubuh, kesenangan, kenikmatan, kepuasan, pria dan wanita dengan alasan dalil-dalil kuno itu. Hasil dari penolakan  tersebut dapat terlihat melalui konsep mengenai keperawanan, kesucian, kedudukan ibu dan istri sekaligus wanita penghuni neraka, dsb.

Untuk membangun logika inferioritas seksual ini, Barat menciptakan mitos keinginan sebagai rasa kekurangan.8 Dimulai dengan wacana konsep androgini yang diselenggarakan Aristophanes di Simposium Plato, melalui korpus Pauline, dan ekrit-ekrit Jacques Lacan, fiksi ini masih ada dan bertahan.9 Apa yang dikatakan? Secara khusus, bahwa laki-laki dan perempuan melanjutkan persatuan primitif yang dipecah-belah oleh para dewa sebagai hukuman atas kesenangan mereka yang tidak sempurna dari totalitas kesempurnaan.10 Dari sinilah awal konsep kesenangan didefinisikan sebagai kelengkapan atau layaknya kesempurnaan  seperti spherical (bulat). Seperti mencari pria tampan dan wanita setara  yang sebenarnya tidak sesuai idealisme individu. Fiksi-fiksi seperti ini sangat berbahaya jika terus dipertahankan oleh manusia. Ia selalu mencari yang tidak ada, hingga akhirnya hanya mendapatkan frustasi dan depresi yang dapat menyebabkan ketidaktenangan jiwa (un-ataraxia). Mereka hanya berlarut-larut dalam kesedihan ketidaklengkapan oleh fiksi kesempurnaan. Maka dari itu, kita harus berhenti membodohi diri sendiri dengan imajiner fiktif hasil moralitas dominan yang didorong oleh ideologi, politik, agama, iklan, maupun film.

Keinginan bukanlah sebuah kekurangan!11 Ini adalah kelebihan yang di ambang peledakan.12 Konsep ini harus diubah individu khususnya kaum hedonis dalam pencarian kenikmatan. Jika seorang hedonis berasumsi bahwa keinginan untuk kenikmatan seks adalah sebuah kekurangan dari kesempurnaan yang harus dicari, maka ia akan selalu berlari mencari yang tidak ada, selalu muncul keinginan baru, kemungkinan liar, dan tak akan sekalipun menyentuh sebuah kesempurnaan. Ia hanya tidak puas, gelisah dan tidak tenang yang disebabkan imajiner fiktif tentang kelengkapan dan kesempurnaan. Apa yang mesti dilakukan? Mereka harus mengubah konsep bahwa keinginan ialah kelebihan, yang tentunya berbahaya! Saat individu berasumsi keinginan dirinya adalah sebuah kelebihan, ia akan bangga pada tubuh disertai pemahaman akan mekanisme neuron serta biologisnya, percaya diri, dan memiliki rencana maupun pertimbangan untuk tempat pertemuan juga persemayaman kelebihan dirinya ini. Ia akan mencari tempat terbaik untuk tubuhnya agar menjadi paket kenikmatan yang berkualitas. Tetapi, kelebihan ini juga berbahaya. Kelebihan ini harus diajari oleh guru terbaik yang paham akan itu, yakni erotisme. Tidak boleh jatuh pada insting liar, imajinasi fiktif, pemahaman tersendiri akan seks, maupun ideologi cacat yang dapat menyebabkan perilaku hewani yang barbar atau kenikmatan yang egois. Pertimbangan-pertimbangan oleh erotisme akan menyusun hal-hal mengenai kelebihan diri untuk kenikmatan yang layak dan ideal dalam menghindari kecenderungan manusia pada kesengsaraan seksual.

Pencerahan Eros dan Pengendalian Libido yang Liar

Dalam upaya mengakhiri kesengsaraan seksual, individu harus mengakhiri logika sesat mengenai kenikmatan yang egois, termasuk konsep keinginan sebagai kekurangan. Kita harus merasakan eros hati yang penuh keindahan dalam mencintai. Kultur kita saat ini ialah menghendaki pasangan fusional, yakni laki-laki dan wanita. Memang secara metafisik kita tak dapat hidup sendiri, kita akan selalu mencari kawanan untuk hidup. Tentu ini merupakan orientasi kesenangan bagi masyarakat tertentu dalam mengunci libido menjadi sebuah konsesi; memuliakan pasangan yang setia dan konsep anak sebagai hasil cinta orang tua.

Moralitas agama sangat membingungkan terhadap konsep ini.13 Ia hanya memperbolehkan individu untuk mencintai dengan tindakan seksual, yang bertujuan menciptakan anak atau prokreasi.14 Agama menginginkan sebuah keabadian hubungan yang sah, tentu melalui kontrak yang ideal; pernikahan. Tetapi, moralitas ini memiliki kekurangan yakni kekakuan, kurangnya kreatifitas, bahkan imobilitas. Ini menyebabkan rasa kebosanan utama dalam pasangan fusional agama, ditambah lagi jika prokreasi berhasil diwujudkan. Pria akan berpetualang dengan sibuk berkerja, wanita sibuk dengan dapur, menggendong bayi, sebagai kedudukan yang diberikan yakni ibu. Perlahan-lahan eros kasih sayang akan terkikis sedikit demi sedikit, melalui pembagian waktu kasih sayang antara anak dan pasangan serta kesibukkan berkerja. Tentunya ini adalah masalah tersendiri di antara mereka.

Sebagai hedonis, kita harus melewati kekunoan itu dengan eros yang ringan. Untuk memulainya, kita harus memisahkan cinta, seksualitas, dan prokreasi.15  Pemisahan seks dari cinta, tidak memungkiri adanya perasaan, kasih sayang, dan kelembutan.16 Libido itu bergerak bebas. Dalam hal ini, sains benar-benar telah memberikan kontribusi besar terhadap penguasaan reproduksi atas hasil libido—alat kontrasepsi. Ini sangat berfungsi sebagai penangkalan seks sebagai eros dalam ketidaksepakatan prokreasi sekaligus pertimbangan akan penguasaan aspek kesehatan reproduksi. Dalam dekapan eros cinta atau kasih sayang kita tidak perlu memikirkan hubungan romantis yang layak untuk efek masa depan. Fenomena tersebut sering kali menjadi promosi terbaik oleh propaganda film, novel, dongeng, dan iklan-iklan. Itu hanya menyebabkan kegelisahan dan ketidaktenangan akan imajinasi pengingkaran harapan tersebut. Kita bisa sepenuhnya menikmati masa kini, menikmati tata letak tubuh yang dilakukan, dinamika permainan, dan melelahkan diri bersama untuk mewujudkan seni mencintai, eros.

Kita cukup untuk saling memahami antara tubuh diri dan pasangan dalam menemukan jalur-jalur gairah, selubung-selubung kenikmatan, tata letak tubuh, dan dinamika permainan menuju saling menyenangkan dan memuaskan antar tubuh. Tentunya semua harus dilakukan dengan eros kasih sayang.

Dalam hadirnya eros, ada hal penting tertinggi dalam proses penguncian libido seorang hedonis yakni sebuah komitmen akan cinta atau kasih sayang. Ini merupakan cara ampuh untuk mengikat aktivitas hasil eros cinta dalam sebuah hubungan dalam memadamkan libido yang liar. Kombinasi antara pengurangan imajiner fiktif, konsep keinginan sebagai kelebihan yang harus dipertimbangkan, serta komitmen akan eros cinta merupakan salah satu aspek yang harus dijalankan untuk tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Komitmen sebagai salah satu cara pengendalian libido, telah dijelaskan dalam oleh Annisa Widya Pangestika yang disusun dengan analisis-analisis hasil penelitian. Skripsi yang berjudul “Dinamika Pengendalian Diri Terhadap Hasrat Seksual Rohaniwan Agama Katolik Roma Yang Selibat” berkesimpulan bahwa rohaniwan agama Katolik Roma dapat mengendalikan hasrat seksualnya karena memiliki komitmen penuh dalam diri serta adanya pertimbangan kontrol sosial (merujuk pada cibiran atas pengkhianatan komitmen)  dan aspek hubungan interpersonal. Pengendalian tersebut juga dipengaruhi oleh dampak psikologis seperti mekanisme pertahanan ego berupa rasionalisasi maupun sublimasi, serta dampak spiritual—kecerdasan jiwa dalam mengembangkan diri untuk menerapkan nilai positif.

Erotisme Sebagai Konsep Neuronal Hedonis

Laki-laki belajar dengan cepat dari pengalaman, dan dalam urusan seksualitas, dia hanya mengikuti hukum alam.17 Kesenangan wanita bercampur-aduk dengan barbarisme alamiahnya, karena ia menuntut tipu muslihat, erotisme, teknik tubuh dan bisikan, menguasai perubahan, kontrol, serta tata letak tubuh.18 Jika seseorang mengikuti hukum alamnya, (seksualitas), ini akan membuat dirinya tidak dapat diketahui dan tidak ada habisnya. Laki-laki akan selalu menyenangkan dirinya melalui jalur-jalur libido hasil ciptaan pengalaman dan keinginan sendiri. Saat ia dihadapkan pada rasa tanggung jawab akan kenikmatan seks bersama (wanita), ia akan membenci pasangannya ketika tetap berada di ambang kenikmatan. Hal ini terjadi bukan karena laki-laki peduli pada wanita untuk tidak berlebih-lebihan akan kenikmatan. Justru sebaliknya, ia sebenarnya tidak lengkap, tidak layak, tidak setara, bahkan merasa impoten yang terselimuti oleh awan kesombongan dan keangkuhan. Pada fase ini, wanita telah  melukai keperkasaan dan kebanggaan laki-laki. Lalu wanita berusaha mengelabui dan menyembunyikan selubung-selubung tuntutan erotisnya, dengan mengurangi kesenangan dan kenikmatan femininnya dengan seminimal mungkin.

Islam, Yahudi, Kristen dan Katolik menang telak akan hal itu. Tidak ada penyetaraan akan aktivitas seks secara spesifik antara laki-laki dan perempuan dalam ideologi dominan tersebut. Kecenderungan laki-laki sebagai sang dominan terlihat pada kultur yang dipertahankan agama, seperti laki-laki sebagai kepala segala hal khususnya aktivitas seks. Termasuk Islam yang sangat kuat mengendalikan ranah seksual dengan memberikan wewenang utama erotis pada laki-laki, seperti hukuman tuhan jika istri menolak keinginan intim suami, poligami yang mengatasnamakan kenikmatan oleh proses yang yang dianjurkan. Laki-laki sebenarnya takut pada pengebirian, dan masyarakat berperang melawan ketakutan itu.15 Dengan demikian, laki-laki sebagai pembangun konvensional dari kota, bangsa, agama, dan kerajaan, membuat aturan seks sendiri.19 Aturan untuk perilaku seks wanita dikodifikasi tidak melalui otoritas lain selain arbiter laki-laki.20 Semua hal ini terjadi karena laki-laki takut akan pengebirian dan bergerak oleh kekuatan phallosentris atau saya bahasakan seperti kemenangan yang didorong ketakutan akan kekecewaan, ditambah lagi dengan mayoritas pendukungnya, yakni agama.

Untuk itu semua kita harus melakukan framing neuronal! Pada ranah sistem Limbik di otak, kita tahu bahwa Amygdala berfungsi mencari lampiran-lampiran awal kesenangan hasil Hippotalamus. Dan Amygdala cenderung mencari kontak secara sembarangan dan liar. Di sini lah erotisme harus berkerja! Neuron-neuron memori, ingatan, kebiasaan baik dan buruk, hal baik dan buruk yang sesuai, pertimbangan, dan emosi akan saling bekerja mengirimkan neotransmitter sebagai interkoneksi bagian-bagian otak untuk mencapai kenikmatan yang layak dan tentunya proses ini dibantu dengan “Nuclie Septum”. Sebagai seorang yang hedonis, kita harus benar-benar dan secara utuh membangun konsep neuronal tentang kenikmatan akan tubuh ini, salah satunya ialah mengubah konsep keinginan sebagai kekurangan. Bangunlah konsep keinginan ini sebagai kelebihan yang berbahaya. Bingkailah neuronal kita dengan merekam rasa bangga pada diri, keharusan untuk memahami mekanisme neuron dan biologis tubuh, menemukan guru terbaik yang teruji secara kuantitas. Misalnya dengan mempelajari biologi maupun erotisme (seksologi) untuk tujuan tubuh yakni menemukan tempat persemayaman kenikmatan dan kepuasaan yang layak. Hal ini sangat bergantung pada pertimbangan-pertimbangan etis yang  dihasilkan diri kita. Seperti pertimbangan kesiapan diri untuk berhubungan (hormon, kematangan reproduksi), pemahaman akan tata letak tubuh yang memuaskan, kesetiaan, kasih sayang, termasuk kesehatan.

Untuk menciptakan kenikmatan yang layak dan ketenangan hidup, maka hal ini sangat dibutuhkan sebagai jalan tengah antara laki-laki dan perempuan dalam menghindari kehendak liar yang bersemayam pada tubuh mereka. Kecenderungan akan kenikmatan yang egois, ketidakpuasan yang tak ada habisnya, serta imajiner fiktif semua itu hanya menyebabkan kesengsaraan. Kita tak butuh gerakan massa laki-laki maupun perempuan untuk semua ini. Itu hanya menunjukkan barbarisme bodoh dalam mencapai kemerdekaan golongan (keegoisan). Kita cukup untuk saling memahami antara tubuh diri dan pasangan dalam menemukan jalur-jalur gairah, selubung-selubung kenikmatan, tata letak tubuh, dan dinamika permainan menuju saling menyenangkan dan memuaskan antar tubuh. Tentunya semua harus dilakukan dengan eros kasih sayang.


Catatan Akhir:

  1. Michel Onfray, A Hedonist Manifeso : The Power to Exist (New York : Columbia University Press, 2006), hlm 79.

2.Ibid,.

3 Ibid.,

4.Ibid.,

5.Ibid.,

6.Ibid.,

7.Ibid.,

8.Ibid.,

9.Ibid.,

10.Ibid.,

11.Ibid., hlm 80.

12.Ibid.,

13.Ibid., hlm 83.

14.Ibid.,

15.Ibid.,

16.Ibid.,

17.Ibid., hlm 81.

18.Ibid.,

19.Ibid. , hlm 82

20.Ibid.,

Daftar Pustaka :

Onfray, Michael. 2006. A Hedonis Manifesto : The Power to Exist. New York : Columbia University Press.

Rawn, Joseph. 2000. Neuroscience, Neuropsychology, Neuropsychiatry. New York : Academic Press.

R.G, Heath. 1963. American Journal of  Psychiatry.

Ega, 2014. Hubungan Seks Dengan Otak. [online], (http://hai.grid.id/Self-Improvement/Sex/Hubungan-Seks-Dengan-Otak, 1 Juli 2017).

Widya Pangestika, Annisa. 2016. Dinamika Pengendalian Diri Terhadap Hasrat Seksual Pada Rohaniwan Agama Katolik Roma Yang Selibat. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Azhar Jo
Jo adalah Mahasiswa Filsafat UGM 2016, telah dilantik menjadi cucu Mbah Roso. Jo tertarik mendalami bidang Etika--Kebahagiaan. Selain itu, baginya Sekre ialah Candu! "Ku tak bahagia bila tak bersamamu sayang".

LEAVE A REPLY