sumber gambar; movieclips.com

Sebuah resume singkat selepas membaca bagian The Woman in Love oleh Simone de Beauvoir dalam kumpulan essai A. M. Krich, The Anatomy of Love. Untuk esai lengkapnya silakan baca di sini: archive.or

Simone de Beauvoir says. Without love the woman is nonexistent. The man in love possesses and integrates the beloved woman into his existence; while she finds her destiny in abdication.

Atau, Cécile Sauvage sempat menuliskan seperti ini,

To walk by your side, to step forward with my little feet that you love, to feel them so tiny in their high heeled shoes with felt tops, makes me love all the love you throw around me. The least movements of my hands in my muff, of my arms, of my face, the tones of my voice, fill me with happiness.

Keberadaan perempuan dianggap tidak eksis, tatkala ia tidak memiliki cinta. Sedang pria yang tengah jatuh cinta dapat membuat perempuan yang dicintainya masuk dan menjadi bagian dari eksistensinya. Dengan demikian sang perempuan pun menjalani takdirnya untuk mengabdi kepada pria yang dicintainya.

The pyschoanalysts are wont to assert that woman seeks the father image in her lover; but it is because he is a man, not because he is a father, that he dazzles the girl child, and every man shares in this magical power.

Pembukaan yang luar biasa bukan?

Tidak berhenti sampai di situ, Beauvoir menambahkan, tentu perempuan itu tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja, tetapi bila ia sudah mantap dalam keyakinannya bahwa sang pria adalah her true love―sosok yang benar-benar ia cintai. Sebab, kasih sayang dan rasa kagum dari pria tersebut tentu lah mampu mengikis, bahkan menyelenyapkan segala perasaan direndahkan bahwa sebetulnya ia tidak mampu lepas―merasa bergantung―dari sang pria.

But a woman will not fully yield unless she believes she is deeply loved. The esteem, affection and admiration of the man eliminates the sense of abasement by offering the woman a way toward transcendence of her essential dependence.

Dalam buku itu disebutkan bahwa dalam pemaknaan mengenai cinta antara pria dan perempuan memiliki perbedaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Byron Well “Man’s love is of man’s life a thing apart; ‘Tis woman’s whole existence“, bahwa cinta dan kehidupan seorang pria tentu dua hal yang berbeda, sedang bagi perempuan cinta adalah segala dari kehidupannya.

Pernyataan itu menjelaskan, bahwa meski seorang pria menyatakan betul bahwa cintanya hanya miliki untuk satu perempuan dan memintanya untuk membangun hidup bersama, tapi tetap saja ia tidak bermaksud benar-benar menyerahkan segala waktunya untuk sang terkasih. Sedang perempuan sebaliknya, dengan mencintai berarti ia menyerahkan segalanya kepada sang terkasih.

Pun, perkataan Byron Well ini kembali dipertegas oleh Cécile Sauvage, bahwa “Woman must forget her own personalitiy when she is in love. It is a law of nature. A woman is nonexistent without master. Whithout master, she is a scattered bouquet“―ketika tengah jatuh cinta, seorang perempuan tentu harus melupakan kepribadiaannya, dan ini sudah menjadi hukum alam. Sebab seorang perempuan tidaklah eksis tanpa adanya seorang tuan (pria terkasih), dan keberadaannya diibaratkan seperti bunga yang berserakkan.

Sebagaimana kita ketahui, kehidupan perempuan sangatlah singkat dan terbatas, tidak seperti pria, di mana mereka bebas untuk berkenala dan memiliki hak atas hidupnya. Sedang wanita tidak. Tatkala ia sudah ranum dan siap untuk dipetik, maka hilanglah hak atas hidupnya. Semua berubah menjadi kepemilikan sang pria (suami). Bahkan jika harus jujur, seorang perempuan tidak memiliki hak atas hidupnya sama sekali, sebab sedari ia terlahirkan di dunia, ia telah dikekang oleh segala peraturan keluarga, dan peraturan keluarga ini dipegang oleh sang Ayah.

Setiap inchi kehidupan sang anak perempuan tentu harus selalu diatur sedemikian rupa oleh sang Ayah, bahwa perempuan harus berperilaku seperti ini, berpakaian seperti itu, dan sebagainya. Kemudian ketika ia siap untuk dipinang, maka rantai yang mengekang itu sebenarnya tidaklah terputus, melainkan memanjang kepada sang suami. Takdir mau-tidak mau memaksa perempuan untuk hidup terus dalam kekangan pria. Tak ayal, bila diibaratkan cinta bagi perempuan adalah sebuah agama.

She chooses to desire her enslavement so ardently that it will seem to her the expression of her liberty; she will try to rise above her situation as inessential object fully accepting it; trough her flesh, her feelings, her behavior, she will enthrone him as sumpreme value and reality: she will humble herself to nothingness before him. Love becomes for her a religion.

Bahkan para psikoanalis tidak memungkiri bahwa seorang perempuan berusaha mencari kembali sosok sang Ayah dalam diri kekasihnya. Ini bukan berarti sang perempuan membutuhkan benar-benar sosok seperti Ayahnya, melainkan karena sang terkasih (pria yang dicintainya) dan Ayahnya adalah sama-sama pria. Kedua sosok tersebut dirasa oleh sang perempuan mampu melindunginya dari ketakutan-ketakutannya. Mungkin, bisa dibilang seperti ini: Dia (pria) yang mewakili hukum dan kebenaran. Dia (pria) yang membawaku (perempuan) ke bumi yang lebih layak. Dia (pria) yang menjadikanku (perempuan) harta yang tak ternilai harganya.

The pyschoanalysts are wont to assert that woman seeks the father image in her lover; but it is because he is a man, not because he is a father, that he dazzles the girl child, and every man shares in this magical power. Woman does not long to reincarnate one individual to another, but to reconstruct a situation: that which she experinced as a little girl, under adult protection.

Tidak hanya Ayah, dalam cinta, perempuan cenderung berusaha untuk mengembalikan sosok ibu, bahkan masa kecilnya. Semakin beranjak dewasa, seorang perempuan akan menderita dan menginginkan masa kanak-kanaknya, seperti rindu dalam berpakaian dengan gamblangnya, hingga mengesampingkan tatakrama. Maka tidak ayal sewaktu membaca surat cinta seseorang kita dapat menemukan sang perempuan yang memanggil dirinya dengan sebutan “gadis kecilmu” dan lainnya. Sebab, untuk kembali ke masa kanak-kanaknya bagi perempuan itu adalah hal yang sangat membahagiakan.

Dari penjabaran yang telah diungkapkan di atas, dapat disimpulkan, cinta tentu bisa membuat seorang perempuan tidak menjadi dirinya sendiri, ia merasa sendiri dan terasing dari dunianya. Sebab, ketika seorang perempuan menerima cinta sejatinya, ia hanya bisa pasrah dan tunduk secara utuh kepada dia sang terkasih. Bahkan kadang ombak membawanya pergi menjelajahi luasnya samudera begitu saja, tanpa pernah sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Kemudian sewaktu-waktu dilabuhkannya lagi ia di bibir pantai, tanpa mengerti kenapa atau mengapa. Lantas perempuan itu akan kembali duduk, menunggu ombak pasang berikutnya, menanti dirinya untuk tertarik dan menari di laut lepas. Entah kapan itu akan terjadi, tak pernah ia pusingkan.

Meski cahaya ditelan gelap, kemudian gelap memuntahkan kembali cahaya, dan begitu seterusnya, perempuan itu masih menunggu. Sebab perasaan seorang perempuan tidak lekang oleh waktu, tidak terkikis pada godaan, tidak gontai diterpa harap, dan tidak pernah sekalipun sebuah penyesalan terbesit dalam benaknya. Kini, masih bibir pantai yang sama, dengan keberadaan diri yang hampir tiada, sang perempuan menatap dengan mata yang agung ke arah laut. Masih menanti dengan hati yang teramat bijaksana menunggu laut datang menjemput. Duh, cinta, entah kapan kita akan kembali bersua.


Pertama kali diupload di https://fndslc.wordpress.com dengan judul yang sama.

4 COMMENTS

  1. Mungkin Simone membuat ini saat lagi baper sama Sartre… Gak sepicik itu juga lah…
    Saya masih berkeyakinan, perempuan-perempuan yang hanya memikirkan cinta hanyalah perempuan-perempuan terbelakang. Dia susah maju. Kesadarannya tak lebih dari jeritan atas lelaki (memalukan). Susah menjadi otentik. Tak lebih dari semacam fans fiksi ala Jenkins. Di luar sana masih banyak yang bisa diurus perempuan yang tak sebatas menyoal cinta.

  2. bagi para perempuan yang belum menikah, cinta yang berserah ini sangat mungkin. Para wanita masih mempercayai kekasih-kekasih mereka. Para wanita belum bergumul dengan toleransi. Para kekasih masih menyembunyikan wajah di balik cinta, romantisme, dan ucapan bibir yang mendayu-dayu. Tetapi bagi para perempuan yang sudah menikah, cinta bukan lagi seperti itu. Terbukalah bagi para wanita bahwa pujaan hatinya itu sebenarnya adalah makhluk lemah dan hina-dina, di mana makhluk itu tidak akan dapat mengenyam dua eksistensi (dirinya sendiri dan isterinya) di dalam eksistensinya sendiri, yang lebih lambat berkembang kedewasaannya. Di dalam pernikahan, para wanita akan belajar mengenai cinta yang realistis, yaitu mempertahankan pernikahan itu dan menoleransi semua kelemahan pasangannya. Kadang, cinta yang sifatnya tulus dan romantis akan pupus dalam pernikahan. Dan memang harus pupus, dalam perjuangan mempertahankan “hidup bersama” itu sendiri.

LEAVE A REPLY