Funeral Back in The Day. Sumber: www.gentlemansgazette.com

Pada 22 Februari 1788 di Danzig, Polandia, seorang ibu melahirkan, dan kemudian menamai anak yang dilahirkannya Arthur Schopenhauer. Anak yang hidup di era ‘idealisme Hegelian’ ini nantinya bakal dikenal sebagai seorang filsuf yang pesimistik. Mengapa demikian? Karena bagi anak tersebut, kehidupan tak lain adalah suatu bentuk penyiksaan diri, hasrat yang membelenggu dan tak pernah terpuaskan. Menurutnya, manusia akan terus-menerus mengikat dirinya pada keduniawian yang menurut mereka adalah kebahagiaan, padahal apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan tersebut tak lebih dari sekadar ilusi semata. Atas dasar inilah kiranya mereka mengembel-embeli filsuf satu ini dengan sebutan pesimistis.

Terlepas dari segala penilaian terhadapnya, Schopenhauer sejatinya mempunyai pemikiran yang menarik dan patut ditelaah lebih lanjut. Terlebih, ia juga dikenal sebagai rival Hegel yang mempunyai hegemoni kuat pada zamannya. Kendati Schopenhauer semasa hidupnya kalah saing dari rivalnya tersebut, setidaknya, pemikirannya berpengaruh kuat pada muridnya, Nietzsche, seorang yang dalam sejarah filsafat barat mempunyai pengaruh kuat pada pemikir-pemikir setelahnya. Bahkan Nietzsche dianggap sebagai pembuka jalan dari zaman modern ke zaman post-modern. Dengan demikian, secara tidak langsung, Schopenhauer mempunyai peran signifikan dalam atmosfer pemikiran postmodern lewat ‘muridnya’ tersebut.

Selain Nietzsche, ada nama-nama lain yang cukup kuat terpengaruh oleh Schopenhauer, seperti Richard Wagner, Thomas Manndan Herman Hesse. Kendati ketiga nama tersebut bukan termasuk dalam jajaran nama filsuf, setidaknya, Schopenhauer berhasil memberikan warisan pemikiran tidak hanya pada bidang filsafat saja, melainkan merambah ke bidang sastra dan musik.  Bahkan dua nama yang terakhir disebut berhasil menggondol penghargaan bergengsi di bidang sastra, yaitu nobel.

/1/

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai kematian dalam pemikiran Schopenhauer, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita memahami bagaimana ia memandang realitas. Karena dalam pergumulan filosofis, bagaimana seorang filsuf memandang realitas menjadi hal yang fundamental, atau dalam istilah filosofis, ontologis. Maka dari itu, tulisan ini akan sedikit memaparkan bagaimana pijakan ontologis Schopenhauer.

Kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

/2/

Schopenhauer, bukanlah seorang pemikir yang independen, artinya ia juga terpengaruh oleh pemikir-pemikir yang mendahuluinya, yaitu Immnanuel Kant, Plato, dan Buddha. Pemikiran ketiga tokoh tersebut berhasil dielaborasikan dengan apik oleh Schopenhauer. Nampak pemikiran Kant begitu mencolok pada pandangan metafisis Schopenhauer, Pemikiran Plato terlihat pada pandangannya perihal seni, sedangkan pemikiran a la buddhisme nampak pada bagaimana ia menanggapi kehidupan (baca: moralitas).

Kant, pemikir kondang yang berhasil membuat revolusi tanpa tumpasan darah, mempunyai gagasan bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama ia sebut dengan fenomena (appereance thing), tataran yang sanggup dijangkau oleh rasio manusia. Sedangkan yang kedua ialah noumena (the thing-in-itself), pada tataran ini rasio manusia tidak sanggup untuk menjangkau. Kant berpendapat bahwa sesuatu yang dapat dijangkau oleh rasio manusia (fenomena) hanyalah apa yang ada dalam ruang dan waktu, sesuatu yang bersifat experiencible, atau apa yang dapat dipersepsi langsung melalui indra.

Bagaimana dengan Schopenhauer? ia mengadopsi gagasan Kant perihal dua bagian itu dengan sedikit modifikasi. Polanya tetap sama antara noumena dan fenomena. Pada tataran fenomena, Schopenhauer menyetujui, seperti halnya Kant, bahwasanya keberadaan objek material bertopang pada ruang dan waktu. Dalam ruang waktu juga terdapat kausalitas. Akan tetapi, Schopenhauer tidak memandang seperti halnya para realis pada tataran ini, ia justru beranggapan bahwa objek material tidak akan eksis sejauh tidak ada interaksi antara subjek dan objek—hal ini sangat bertentangan dengan kaum realis.

Lalu jika eksistensi suatu objek material diukur dari adanya subjek yang menginteraksi, bagaimana jika ada seseorang—katakanlah Si A dengan Si B—Jika Si A melihat meja di dalam ruangan berbentuk kotak sedangkan Si B tidak pernah melihat meja berbentuk kotak melainkan bundar, bukankah ini menjadi problematis? Ternyata Schopenhauer sudah memikirkan hal ini di dalam disertasinya yang berjudul The Fourfold Root. Perihal problematika antara Si A dan Si B, Schopenhauer menjawabnya dengan argument ‘prinsip individuasi’ (principium individuationis). Prinsip ini memandang problematika yang dialami antara Si A dan Si B hanyalah permasalahan bagian ruang dan waktu. Di mana Si A dan Si B sejatinya tidaklah keliru, hanya saja pengalaman mereka yang terbatas. Artinya, Si A dan Si B terrestriksi oleh ruang dan waktu, misal Si A melihat meja kotak dalam ruangan di Kota X dan Si B melihatnya di Kota Y.

Sedangkan mengenai noumena, jika Kant mengatakan bahwa Tuhan, jiwa, dan substansi yang ada pada tataran ini,—atau dalam istilah Kant, ‘sesuatu yang ada pada dirinya sendiri’, ada juga yang mengatakan kalau Kant juga menyebutnya dengan x, atau sesuatu yang tidak diketahui—Schopenhauer  menyebutnya sebagai kehendak. Kehendak ini yang dinamakan oleh Schopenhauer sebagai apa-yang-ada-dalam-dirinya (The Thing in-itself). Kendati konsep kehendak ini sukar untuk dipahami, bukan berarti tidak dapat dijelaskan sama sekali. Kehendak dapat memanifestasikan dirinya dalam fenomena lewat simtom-simtom. Melalui pendekatan terhadap manifestasinya tersebutlah kehendak dapat sedikit terjelaskan. Schopenhauer menyebutnya dengan sebutan manifestasi kehendak untuk hidup (The Will to-live). Disinilah dasar argumentasi Schopenhauer mengenai penderitaan. Schopenhauer mengatakan bahwa penderitaan berasal dari adanya interaksi antara kehendak (subjek) dengan objek material dalam ruang dan waktu.

Lebih lanjut, pembahasan kehendak tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai relasi jiwa-tubuh. Hal itu dikarenakan Schopenhauer tidak memandang relasi jiwa-tubuh dengan membedakan keduanya, melainkan keduanya sama. Jika Descartes beranggapan bahwa jiwa dan tubuh itu dua subtansi yang berbeda, lain halnya dengan Schopenhauer, ia memandang keduanya sebagai kesatuan. Atau dengan kata lain Schopenhauer menolak dualitas jiwa-tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh sebagai kehendak. Jadi, ketika tubuh melakukan suatu pergerakan, itu tak lain adalah manifestasi dari kehendak untuk hidup.

Jika Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap: kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke keadaan asalinya (true nature). Dalam keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).

Lalu apa kaitannya semua itu dengan kematian? Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa kehendak untuk hidup itulah yang menyebabkan lahirnya penderitaan menurut Schopenhauer. Atas dasar itu, ia menawarkan dua pilihan, yakni mengafirmasi kehendak atau menegasikannya. Bila memilih afirmasi kehendak, maka kita akan (semakin) menderita. Lalu apakah kalau memilih menegasikan kehendak kita tidak akan menderita? setidaknya, jika kita memilih menegasikan kehendak, kita bisa meminimalisir penderitaan—menimalisir di sini bukan berarti meniadakan penderitaan. Dari situ, muncullah pertanyaan: apakah tidak ada jalan untuk mengakhiri penderitaan? secara singkat Schopenhauer menjawabnya ‘ada’, yaitu kematian. Jika kematian menjadi akhir dari penderitaan yang mengungkung manusia selama ini, mengapa tidak bunuh diri saja? bukankah bunuh diri merupakan suatu jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan?

/3/

Dalam esainya yang berjudul on the doctrine of the indestructibility of our true nature, Schopenhauer menjawab pertanyaan di atas. Bertolak dari pemikiran Epicurus, yang mengatakan bahwa hidup tak lain hanya numpang eksis semata di dalam ruang dan waktu, Schopenhauer membombardir konsepsi yang demikian (bunuh diri sebagai jalan pintas). Menurutnya, kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

Lebih lanjut, kematian menjadi pembebas manusia dari belenggu fenomena karena seseorang hidup di dalam ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat kausalitas. Kausalitas inilah yang menyebabkan kehendak untuk hidup terus-menerus memaksa memanifestasikan diri—di paragraf-paragraf sebelumnya sudah dijelaskan bahwasanya kehendak yang menginteraksi objek material melahirkan penderitaan. Sejauh objek material hanya berada di dalam ruang dan waktu, maka ketika seseorang mati, disitulah penderitaan berakhir, kehendak sudah tidak bisa lagi menginteraksi objek material.

Bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Tak hanya itu, jika Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap: kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke keadaan asalinya (true nature). Dalam keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).

Sedangkan perihal bunuh diri, pernah ada seorang sastrawan Jepang bernama Akutagawa menyindir Schopenhauer dengan mengatakan: “hanya Schopenhauer di antara kaum pesimistis yang tidak melakukan bunuh diri, malahan ia sibuk dengan gerakan spiritual yang ia bangun”. Ucapan itu ada benarnya, karena Schopenhauer tidak pernah menawarkan bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan. Karena menurutnya, bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Kesimpulan

Kematian adalah akhir dari penderitaan manusia. Dengan terputusnya hubungan yang terjalin antara kehendak dan objek material yang berada dalam ruang dan waktu, maka terputuslah penderitaan. Akan tetapi, bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri penderitaan, karena bunuh diri adalah suatu ketertundukkan kepada kehendak, bukan sebaliknya menundukkan kehendak.


Referensi Bacaan

Janaway, C. (2002). Schopenhauer: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.

Schopenhauer, A. (1949). Philosophy of Arthur Schopenhauer. New York: Tudor Publishing CO.

LEAVE A REPLY