sumber: www.marketcalls.in

001016-2

Judul Platon: Xarmides-Keugaharian
Pengarang A. Setyo Wibowo
Penerbit Kanisius
Tahun Terbit 10-01-2015
Tebal Halaman 230 halaman
ISBN 978-979-21-4161-0

Abad ke-20 disebut sebagai abad anti-platonisme oleh Alain Badiou (1989). Pada abad itu, ada banyak para pemikir dan filsuf yang mengkritik pemikiran Platon. Nietzsche menyebut Platon sebagai filsuf yang anti ke-menjadi-an (becoming), karena mendakwahkan adanya dunia ide sebagai sesuatu yang tetap dan kekal.

Para filsuf analitis, seperti Russell dan Wittgenstein, menuduh Platon sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas lahirnya cara berpikir dualistik yang begitu naif. Sementara Heidegger, salah seorang filsuf eksistensialis, menuduh Platon sebagai filsuf yang memulai tradisi (ber)filsafat yang “melupakan Ada”.

Di tengah derasnya hujan kritik itulah, A. Setyo Wibowo mencoba membaca kembali teks-teks Platon yang mungkin sudah hampir lusuh. Buku yang berjudul Platon: Xarmides-Keugaharian ini adalah terjemahan sekaligus tafsiran dari Romo Setyo (panggilan akrab A. Setyo Wibowo) atas teks Platon yang berjudul Xarmides.

Dalam teks yang berjudul Xarmides ini, Platon–melalui sosok Sokrates dan lawan wicaranya–membahas tentang sophrosune. Apa itu yang dimaksud sophrosune? Itulah yang menjadi perbincangan panjang antara sosok Sokrates dan dua lawan wicaranya dalam teks ini.

Dalam bahasa Indonesia, Romo Setyo menerjemahkan kata “sophrosune” dengan “keugaharian”. Namun, tidak sesederhana itu pengertian sophrosune. Sepanjang dialog Sokrates dengan dua lawan wicaranya, Xarmides dan Kritias, ada enam macam definisi yang ditemukan untuk kata sophrosune.

Dari keenam definisi itu, ada satu definisi yang menurut banyak penafsir dianggap sebagai definisi yang mewakili pemikiran Sokrates. Definisi itu terdapat dalam dialog 167a yang berbunyi: “Orang ugahari (sophron) dengan demikian adalah satu-satunya orang yang akan mengetahui dirinya sendiri dan mampu memeriksa apa yang ia ketahui dan apa yang ia tidak ketahui” (hlm. 105).

Orang yang sudah banyak membaca tentang Sokrates pasti akan tahu bahwa definisi itu memang khas Sokrates. Sokrates selalu mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa, kecuali bahwa ia tidak tahu apa-apa. Dengan demikian Sokrates lalu mendefiniskan keugaharian (sophrosune) sebagai sebuah pengetahuan/pengenalan atas diri sendiri (164d-166c).

Dengan pengetahuan/pengenalan atas diri sendiri ini, orang yang ugahari akan tahu pada batas-batas diri, sehingga ia juga akan tahu di mana harus mengambil posisi. Seturut dengan definisi itu, maka keugaharian (sophrosune) sering juga disejajarkan dengan apa yang disebut “egrateia” atau pengendalian diri. Artinya, orang yang ugahari pasti juga akan mampu untuk melakukan pengendalian diri di hadapan kenikmatan-kenikmatan duniawi (epithumia).

Dalam konsepsi seperti itu, Platon menganggap keugaharian (sophrosune) wajib dimiliki oleh setiap warga negara, terutama oleh para pemimpinnya (hlm. 157). Sebab, bila pejabat atau pemimpin negara tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri di hadapan kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka ia pasti akan korupsi. Dan itu ternyata sudah terbukti.

Lihat saja birokrasi pemerintahan di negeri ini. Ada banyak pejabat dan politisi yang ditangkap karena terbukti korupsi. Itu terjadi karena mereka tidak ugahari, tidak mampu mengendalikan diri di hadapan kenikmatan-kenikmatan duniawi.

Jadi, benar memang bahwa ajaran keugaharian (sophrosune) ini dihadirkan untuk menjadi penawar atas keseharian yang banal. Kini, keseharian kita hampir tidak ada yang tanpa huru-hara. Semua seakan sudah menjadi tempat mengumbar nafsu dan amarah. Tidak hanya dalam ranah politik, malainkan juga dalam kehidupan beragama.

Kita lihat saja, betapa banyak peristiwa kekerasan dan penganiayaan yang mengatasnamakan agama. Padahal kita semua tahu, bahwa agama tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Lalu, dari mana praktik kekerasan dan penganiyaan itu muncul? Ada banyak faktor sebenarnya. Namun, faktor yang paling dominan adalah adanya dogmatisme agama yang kemudian melahirkan klaim kebenaran satu-satunya.

Jika dogmatisme dan klaim kebenaran satu-satunya ini dibiarkan sungguh berbahaya. Orang seringkali menganggap dirinya paling benar dan mengetahui segala hal. Sehingga, orang lain yang berbeda dengan dirinya dianggap sudah pasti salah dan menyimpang. Dan orang lain itu juga sudah pantas untuk disingkirkan, bahkan dengan cara yang paling kejam.

Orang seperti itu sebenarnya menunjukkan bahwa dirinya tidak ugahari, tidak mengenal dirinya sendiri. Ia sok tahu, padahal belum tentu dirinya benar-benar tahu. Ia merasa paling benar, padahal belum tentu ia benar. Karena itu, Platon dengan dialog-dialog Sokrates sebenarnya juga hendak menghilangkan borok dogmatisme dalam diri manusia.

sumber: www.marketcalls.in
sumber: www.marketcalls.in

Sejak awal, pada 159b, Sokrates sudah mengatakan kepada lawan wicaranya, Xarmides: “Tentu saja, Xarmides, seperti yang dikatakan banyak kalangan, orang yang tenang adalah orang yang ugahari (sophron). Marilah kita lihat apakah pernyataan ini ada nilainya” (hlm. 84). Di situ, Sokrates mengajak Xarmides untuk menguji pendapat yang diyakini secara dogmatis oleh banyak kalangan, melalui jalan dialog dan penyanggahan (elegkhos).

Itulah cara yang ditawarkan oleh Platon untuk membongkar dogmatisme. Buku ini dengan strategi literer yang sangat memukau hendak mengajak kita untuk memikirkan ulang segala hal yang mulanya dianggap paling benar, sehingga kita tidak mudah untuk menganggap orang lain salah dan menyimpang.

Terakhir, salut untuk Romo Setyo. Buku ini adalah lanjutan dari dua buku sebelumnya yang merupakan seri terjemahan dan tafsiran atas teks-teks Platon. Dua buku itu berjudul Lysis: Tentang Persahabatan (2009) dan Lakhes: Tentang Keberanian (2011). Itu semua semakin menegaskan bahwa Romo Setyo adalah penafsir Platon yang cukup otoritatif dan patut diperhitungkan. (Taufiqurrahman, Mahasiswa Filsafat UGM 14′, Anggota Redaksi LSF Cogito)

*) Dimuat di Jawa Pos edisi 1 Februari 2015