John Searle (Sumber: www.buzzfeed.com)

Masih menjadi perdebatan: apakah beberapa strategi yang diuji di sini—khususnya argumen praanggapan ontologis, seperti berbagai bentuk klaim identitas—lebih baik dilihat sebagai bentuk-bentuk fisikalisme reduktif atau non-reduktif? Setidaknya, ada dua bentuk implikasi epistemik apabila penjelasan fisikalisme reduktif atau non-reduktif diterima begitu saja. Pertama, menerima penjelasan reduktif yang berarti mengambil pandangan bahwa sifat pokok penjelasan reduktif ialah transparansi epistemiknya berdasarkan praanggapan ontologis. Untuk yang pertama, dikatakan transparan secara epistemik sebab mengakui setiap peristiwa pasti berangkat dari suatu sebab atau keterkaitan sebab-akibat (the causal connections) yang lain. Kedua, menerima kebenaran penjelasan non-reduktif berarti mengambil pandangan yang mengaitkan jurang-jurang penjelasan pada level dasar yang buram secara epistemik. Untuk yang kedua, dikatakan buram secara epistemik sebab mengakui keniscayaan metafisik dari setiap relasi determinan yang tidak seluruhnya tereduksi.

Problem hubungan de facto yang cenderung menitikberatkan pada akses ontologis maupun pada kategorisasi epistemologis dapat dibagi menjadi dua kecenderungan yang secara adekuat mewakili masing-masing motif dalam menjelaskan realitas, yaitu realisme-alethic dan seterunya, antirealisme.

Keduanya sekilas saling berkonfrontasi dalam menjelaskan realitas: di satu sisi klaim reduktif berafiliasi pada praanggapan dasar ontologis, dan di sisi yang lain klaim non-reduktif adekuat pada level pendasaran epistemologis. Akan tetapi, dari keduanya pun kita juga melihat adanya tendensi yang sama dalam memperlakukan realitas, yaitu asumsi kebenaran akan sesuatu adalah niscaya karena pasti menyatakan suatu identitas, dan identitas-identitas selalu niscaya. Terserah modus yang kemudian diperlihatkan berada pada kategori teoretis vertikal atau non-ordinal maupun horizontal atau ordinal.

Problem hubungan de facto yang cenderung menitikberatkan pada akses ontologis maupun pada kategorisasi epistemologis dapat dibagi menjadi dua kecenderungan yang secara adekuat mewakili masing-masing motif dalam menjelaskan realitas, yaitu realisme-alethic dan seterunya, antirealisme. Jika realisme-alethic mengakui hubungan langsung antara apa yang dipersepsikan sebagai objek material, maka sebaliknya, antirealisme mengakui persepsi subjek terhadap objek hanya sebatas objek visual yang tidak berhubungan langsung dengan objek material. Artinya, dapat diperlihatkan bahwa realisme-alethic terkait dengan analisis ontologi, sedangkan antirealisme lebih cenderung bersinggungan dengan epistemologi.

Pemisahan ini memang dari awal harus diperjelas, karena dalam term filsafat tertentu,  banyak tokoh seperti Rorty, Harman, dan filsuf pragmatisme lainnya cenderung tidak membedakan posisi realisme-alethic maupun antirealisme. Sikap relatif ini muncul sebab persoalan representasi realitas tidak hanya selesai dengan menempatkan bahasa ilmiah sebagai representasi objektif yang terlepas dari refleksi subjek. Lebih dari itu, sikap skeptis harus mewacanakan ulang hubungan antara pra-kondisi bahasa di mana subjek aktual dalam situasi konkret dan situasi faktual yang selalu menempatkan realitas sebagai momen objektif.

Pada situasi ini, analisis lebih lanjut dapat dipersempit dalam satu subjek persoalan, yaitu distingsi antara epistemologi objektif/subjektif dengan ontologi objektif/subjektif. John Searle setidaknya memberikan enam bentuk proposisi standar untuk merumuskan distingsi refleksi epistemologis dan dengan presumtif ontologis:

  1. The world (or alternatively, reality or the universe) exists independently of our representations of it. [Dunia (atau juga realitas atau jagat raya) ada secara mandiri dari representasi kita tentangnya].
  2. Human beings have a variety of interconnected ways of having access to and representing features of the world to themselves. These include perception, thought, language, beliefs, and desires as well as pictures, maps, diagrams, etc. [Manusia memiliki beragam cara yang saling terkait dalam mengakses dan merepresentasikan sifat-sifat dunia pada diri mereka. Cara-cara tersebut adalah persepsi, pemikiran, bahasa, keyakinan, dan hasrat sebagaimana juga gambar, peta, diagram, dan lain sebagainya].
  3. Some of those representations, such as beliefs and statements, purport to be about and to represent how things are in reality. To the extent that they succeed or fail, they are said to be true or false, respectively. They are true if and only if they correspond to the facts in reality. [Beberapa representasi tersebut, seperti keyakinan dan pernyataan, cenderung untuk ada di sana untuk merepresentasikan bagaimana segala sesuatu ada di dalam realitas. Pada titik itu, representasi bisa berhasil atau gagal, sehingga masing-masing disebut sebagai representasi yang benar atau salah. Representasi disebut benar jika dan hanya jika ia berkorespondensi dengan fakta dalam realitas].
  4. Systems of representation, such as vocabularies and conceptual schemes generally, are human creations, and to that extent arbitrary. It is possible to have any number of different systems of representations for representing the same reality. [Sistem representasi, seperti perbendaharaan kata dan skema konseptual secara umum, adalah ciptaan manusia dan, oleh karena itu, bersifat arbitrer. Maka mungkin ada beberapa sistem representasi yang berbeda-beda untuk merepresentasikan realitas yang sama].
  5. Actual human efforts to get true representations of reality are influenced by all sorts of factors-cultural, economic, psychological, and so on. [Usaha manusia untuk memperoleh representasi yang benar tentang realitas dipengaruhi oleh beragam jenis faktor kultural, ekonomi, psikologis, dan semacamnya].
  6. Having knowledge consists in having true representations for which we can give certain sorts of justification or evidence. Knowledge is thus by definition objective in the epistemic sense, because the criteria for knowledge are not arbitrary, and they are impersonal. [Memiliki pengetahuan berarti memiliki representasi yang benar yang dapat dijustifikasi dan dibuktikan. Pengetahuan, oleh karena itu, pada dasarnya bersifat objektif secara epistemik, karena kriterianya tidak arbiter, tetapi impersonal].

Proposisi pertama merupakan pengandaian ontologis yang menganggap bahwa ada realitas yang independen terhadap representasi, Searle menyebutnya ‘realisme eksternal’. Bagi Searle, klaim adanya realitas eksternal tidak dapat secara kebetulan dianggap sama atau ekuivalen dengan asumsi ‘ontologi objektif’; klaim bahwa kompleksitas realitas itu independen dari pikiran. Searle menitikberatkan distingsi ini. Menurutnya, proses mental seperti rasa sakit (pains) merupakan sebuah keadaan ontologis, atau lebih tepatnya ontologically subjective, di mana gejala yang ada tidak mandiri dari pikiran. Sehingga tepat untuk mengikuti Searle dalam konteks ini: bahwa objektivitas ontologis menyiratkan realitas eksternal, karena independensi dunia dari pikiran menyiratkan representasi yang independen.

Proposisi kedua mensyaratkan adanya subjek yang memiliki akses terhadap seluruh realitas, terserah apakah motifnya berupa ontologis subjektif atau objektif, maupun secara epistemologis objektif atau subjektif. Sedangkan yang ketiga lebih berupa kebutuhan konseptual terhadap representasi dalam mengakses dan memahami realitas, yang berupa hubungan langsung antara teori dengan realitas yang menjadi syarat utama nilai kebenaran epistemiknya. Keempat, tendensi epistemologis—yang mengimplikasikan keberagaman sistem representasi dan pada akhirnya menjadikan representasi sebagai self-reference—menjadi modal utama untuk mengejawantahkan prima-facie: argumen vis a vis fakta. Searle menyebut proposisi ini sebagai conceptual relativity.

Proposisi kelima mengandaikan bahwa kita sangat susah untuk memperoleh objektivitas epistemologis dalam konstruksi representasi terhadap realitas. Pada posisi ini, kedudukan subjek sebagai penilai memuat modal-modal tertentu yang menjadikan asumsi epistemologisnya secara predikatif bersifat subjektif. Proposisi terakhir, lebih intens terhadap nilai epistemologis, melengkapi proposisi pertama dan proposisi kelima, mengandaikan kedudukan subjek yang sebelumnya dianggap tidak terlepas dari muatan modal-modal tertentu yang secara tidak langsung menyiratkan nilai kebenaran itu sendiri, sehingga legitimasi pengetahuan pada akhirnya dapat didasarkan pada nilai-nilai objektivitas yang bersifat impersonal.

Klaim epistemologis mencakup relasi logis setiap pernyataan dengan menunjuk secara tepat rujukannya, sedangkan klaim ontologis berafiliasi secara independen dengan keterbatasan epistemologis sebagai modus representasi yang juga independen.

Kita dapat melihat upaya defenitif Searle dalam menempatkan kembali hubungan subjek dengan realitas. Sejauh realitas tidak dapat teramati, bukan berarti identitas realitas niscaya terbatas dalam pikiran, atau menafikan realitas terbatas dalam nilai epistemologis. Bukan berarti juga harus mengakui bahwa realisme-alethic dalam dirinya sendiri memuat nilai kebenaran yang secara langsung berkorespondensi terhadap realitas sebagai dakuan praanggapan ontologis. Lebih dari itu, tidak ada syarat untuk menganggap nilai kebenaran adalah hubungan antara argumen dengan realitas, karena ranah cakupan epistemologis dan ontologis berada pada satu level yang berbeda.

Klaim epistemologis mencakup relasi logis setiap pernyataan dengan menunjuk secara tepat rujukannya, sedangkan klaim ontologis berafiliasi secara independen dengan keterbatasan epistemologis sebagai modus representasi yang juga independen. Jika kita sepakat bahwa sebuah teori selalu diambil dari kesimpulan objektif, sesuai kebutuhan konsep akan realitas, maka keniscayaan runtutan argumen haruslah berangkat dari teori itu sendiri (self-reference). Sehingga, nilai kebenaran atau objektivitas representasi yang independen lebih tepat berkutat soal problem meaning-truth atau nilai epistemik. Mengatakan dengan cara lain, dasar ontologis representatif yang independen berada pada trajektori formal atau persis ontologi formal. Sedangkan yang direpresentasikan secara independen atau objektivitas ontologis berada pada satu level dasar, yaitu realisme eksternal atau realitas (faktual) yang independen terhadap pikiran.

Dilema Dualis

Kalau kita mengadopsi secara logis asumsi representasi yang independen, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan problem baru, khususnya soal determinasi antara teori dengan rujukannya atau determinasi antara realitas yang independen dengan modus representasinya yang juga independen. Artinya, apabila ada suatu sistem atau kaidah, maka sistem itu sendiri adalah sebuah formalitas yang niscaya eksis. Meskipun kemudian dapat didebat, bahwa sistem itu sendiri tidak benar-benar ada, karena sistem sama halnya sebuah predikat dari objeknya. Hubungan timbal-balik ini dapat dikomodifikasi dalam term formal ontologi.

Tuntutan yang berlebih terhadap bahasa, atau segala bentuk representasi dari refleksi epistemologis tidak sesuai pada konteksnya. Realisme-alethic menuntut transparansi epistemik dengan pengandaian unik kausalitas antara realitas dengan realitas yang lainnya. Sebaliknya, antirealisme cenderung ideal, menuntut kekuatan reflektif untuk menggambarkan setiap fenomena yang ada.

Representasi yang independen dapat dikategorikan sebagai ontologi formal, sebab dependensi subjek-predikat menjadi satu-kesatuan muatan dalam identitasnya sendiri. Apa yang independen adalah objek yang direpresentasikan, sedangkan yang dependen adalah predikat yang merepresentasikan, sehingga muatan ontologisnya dapat dibedakan dalam dua kategori. Pertama, kategori formal, yaitu segala bentuk representasi, seperti konsep, simbol, dan media lainnya yang berada dalam trajektori tersebut. Kedua, kategori material, segala bentuk modus mengada dari realitas faktual. Kategori pertama patut menjadi perhatian, sebab problem kemandirian dunia, perdebatan realisme-alethic dengan antirealisme, berkutat dalam batasan tersebut.

Tuntutan yang berlebih terhadap bahasa, atau segala bentuk representasi dari refleksi epistemologis tidak sesuai pada konteksnya. Realisme-alethic menuntut transparansi epistemik dengan pengandaian unik kausalitas antara realitas dengan realitas yang lainnya. Sebaliknya, antirealisme cenderung ideal, menuntut kekuatan reflektif untuk menggambarkan setiap fenomena yang ada. Sikap tersebut pada akhirnya menjebak keduanya dalam asumsi nilai kebenaran epistemik yang mendahului dasar ontologisnya. Meskipun keduanya berada pada dasar ontologis yang berbeda, akan tetapi memiliki kesamaan untuk mengandaikan indentitas yang niscaya, keniscayaan identitas yang memiliki nilai muatan yang benar, benar dalam runtutan yang logis.

Apabila problem di atas kita  adopsi dalam premis-premis yang logis, dapat ditarik satu konsepsi tunggal. Keterkaitan tersebut dapat secara jelas diekspresikan dalam resudation condition:

p,q r jika dan hanya jika pq r

Atau dalam cara yang lain:

CI: Kaidah-kaidah L1,…, Ln benar.

C2: L1,…, Ln semuanya adalah kaidah-kaidah.

C3: Peristiwa- peristiwa secara kausal tertutup di bawah L1,…, Ln.

Artinya, setiap penyimpulan kausal hanya dibangun pada C3, namun C3 sendiri tidak terkandung di dalam C1 maupun C2. Ringkasnya, apabila kita mengadopsi pemahaman kausal tentang kaidah-kaidah, maka sebuah komitmen terhadap kebenaran kaidah-kaidah tersebut tidak akan mengimplikasikan komitmen terhadap determinisme atau cocok dengan keacakan-sembarang term. Sehingga benar apabila setiap representasi yang independen dapat benar hanya dengan nilai-epistemiknya tanpa harus mengandaikan ontologi objektif, sebab identitas itu sendiri adalah sebuah muatan yang bersifat formal secara ontologis.

LEAVE A REPLY