By Danang TP

Kampung tak selamanya bertaut dengan pulang dan ruang keindahan yang memancing kangen. Apa yang ada dalam kampung? Orang berbincang tentang susila, politik, dan agama, seperti soal-soal yang dikuasai. Setiap orang ingin jadi hakim. Tukang jamu disambut dengan hangat. Ocehan lebih berharga dari renungan. Curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya. Kampung dilukiskan nyaris tanpa keindahan yang biasa menarik orang kembali pada puaknya.

Tidak ada semilir angin, hamparan padi, atau riak suara arus sungai menghantam bebatuan. Dalam “Kampung” Subagio Sastrawardoyo menandaskan kemuakan, bahkan amarah. Bait-baitnya minim metafor keindahan alam. Lema kata yang dipilihnya lugas. Romantisme diubah menjadi rasa muak.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung

di mana setiap orang ingin bikin peraturan

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik

karena aku ingin merdeka dan menemukan diri

Apa yang dilakukan Subagio dalam “Kampung” dan beberapa sajak lainya adalah  lompatan tilikan (insight) untuk memahami ruang dengan cara baru. Ruang bukan hanya gambaran geografis, sosial dan kebudayaan yang melahirkan manusia. Memahami ruang bukan dari konteks luar yang terindrai, tapi dari hasil olahan psikis pencecapan manusia.

Ruang menjadi bahasa antropomorfik, olehnya tiada salah memahami ruang bukan lewat sudut eksterioritasnya:, garis, lekuk, dan pernik. Tetapi dari bagian-bagian yang mengendap dalam diri manusia; sesuatu yang telah dicecap kesadaran manusia pembentuknya. Sebab itu, tidak kita temukan deskripsi fisik dalam sajak “Kampung”. Kampung dihadirkan sebagai geografi personal (personal geographic) yang mengendap dalam benak manusia. Dalam pemahaman seperti itu menjadi mungkin dalam kampung juga terbaca personalitas: keasingan, amarah, rasa muak, dan sepi yang mengigit[i].

Subagio memang seorang pencari, aventuré. Sajak-sajaknya banyak bertutur tentang kepergian, dan kekelindanannya dengan keterasingan, pencarian tiada akhir.  “Dan Kematian Makin Akrab” yang sohor itu, memotret dengan apik kesendirian manusia, dan kecemasannya. Semua itu hadir sebagai soal yang paling dekat dengan manusia.

Seperti kematian, kampung menjadi ruang: selaput gagasan yang gampang disebrangi. Kampung bukan lagi ruang pusat koordinat yang melepas-mengikat orang untuk pergi-kembali. Dalam “Manusia Pertama di Angkasa Luar” pergi justru bisa berarti tidak kembali: bahwa aku telah sampai pada tepi, darimana aku tak mungkin lagi kembali. Untuk itu semua tak perlu ada tangis, sebab sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih karena layang-layangnya robek atau hilang. Pada akhirnya hanya permintaan juga sebuah penegasan: Lihat Bu, aku tak menangis, sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit.

Kini apa yang tersisa dari manusia, homo sapiens yang tertatih dalam perjalanan evolusioner di dunia yang kian bergerak cepat? Sebuah dunia ketika setiap peristiwa datang saling desak. Ketika perubahan mewujud dalam hal-ikhwal yang tak menghendaki jeda. Ketika rasa muak Subagio Sastrowardoyo dalam sajak “Kampung” lebih mengendap daripada pengambaran romantik tentang kampung dengan nyiur dan pantai seperti dalam lukisan-lukisan Mooi Indie.

Menulis Kampung : Sejarah, Puak dan Diri

Kata ‘Pulang’ dalam mayoritas kepala orang Indonesia punya konotasi romantis. ‘Pulang’ tak hanya bertaut dengan perjalanan kembali. Dalam ‘pulang’, kata yang pendek itu mengendap pula: kampung, keluarga, puak. Ikatan-ikatan sosial yang merajut pemahman tentang diri dan relasinya dengan konteks pencecapan geografis-psikis atas ruang dan waktu, juga diri dan relasinya dengan orang lain.

Sebab pemahaman seperti di atas, dalam ‘pulang’ juga terbayang gagasan tentang yang asali (native). Satu kotak yang tak melulu spasial. Tapi juga ruang psikis tempat manusia diletakkan dalam konteks spasial, sosial dan kebudayaan. Konteks yang membangun pemahaman tentang dirinya sebagai sesuatu yang sebisa mungkin kukuh, tak cela.

Ketika yang psikis dan spasial bertaut, disitulah sejarah mengambil peran dalam konteks keberadaan manusia dalam ruang. Sederhananya manusia dipaksa menjawab pertanyaan apa yang mesti diingat, apa yang mesti dilupakan, mana yang layak ditulis mana yang harus dibiarkan aus dan berdebu.

Manusia menulis sejarah, begitu fakta yang kita ketahui. Tapi dalam sejarah sebagai artefak romantis yang dielus-elus, fakta bisa berbalik. Sejarah menulis manusia, disitulah manusia berhenti membuat sejarah dan membuka kemungkinan baru. Sejarah menjadi hanya repetisi atas kebesaran dan lebel-lebel sosial-kebudayaan  dari masa lalu yang diceritakan. “Mbah saya ini lhoo, keturunan Ningrat Kraton, jadi saya ini priyayi lhoo”…  

Ketika padamulanya manusia dilahirkan sebagai seorang bayi mungil Sunda, menak priangan, laki-laki, keturunan pesantren. Lebel-lebel sosial itu cepat menjadi romantis; seolah muncul dan meresap dalam dirinya dengan kuat. Lalu, ‘pulang’ bukan hanya perjalanan geografis tentang kembali pada puak, tapi juga kembali mengenang label dengan kemegahan, meneguhkan kembali status sosial, sesuatu yang seolah asali dan hakiki.

Anak adam ternyata selalu ingin berjalan ke depan (progress). Dan dalam perjalan itu ada kemungkinan lebel ke-puak-annya terkikis. Pulang adalah menyatukan yang terkikis itu, meneguhkan kembali yang asali. Kepulangan yang romantis adalah membiarkan sejarah menulis di atas tubuh manusia yang diam. “Saya Jawa, dan ke-jawa-an saya paripurna”.

Seorang bocah yang mengembara lalu memutuskan keluar dari kotak, cepat menjadi sesuatu yang ganjil. Padahal ia keluar sebab tahu ternyata ruang dalam kotak yang selama ini mentautkan definisi asali tentang dirinya tak lagi sesuai. ‘Pulang’ dan segala tautan kosakata emosional yang mengendap di dalamnya kini memiliki arti lain. Bocah itu juga tahu; untuk setiap yang keluar dari kotak, orang cepat hilang akal.

Bayangan tentang kesucian puak mencipta dan menancapkan batas pusat ruang geografi identitas, juga meyisihkan mereka yang di luar ruang. Ruang, identitas, pulang, dan segala yang bertaut dengan ketiganya menjadi sempit. Dan sejarah mencatat persempitan itu tak hanya mengusir seorang bocah. Misalnya, imperialisme ditentang habis-habisan, tapi kerapkali orang lupa, mereka yang hendak bangun dari reruntuk kejahatan imperial meneguhkan identitasnya dengan imajinasi imperial yang tak kalah bengisnya.

April 1947, komunitas Muslim-Malaya meminta otonomi daerah Patani di Thailand. April 1948, komunitas Muslim di daerah Arakan mendeklarasikan jihad untuk melepaskan diri dari pemerintahan Myanmar. Desember 1948 daerah Penang di Malaysia, meminta hak istimewa atas daerahnya. Januari 1949, masyarakat etnis Karen memberontak pada pemerintah pusat Burma. 25 Mei 1950 Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan independensinya dari Republik Indonesia. September 1953 masyarakat Aceh kembali membangkitkan Darul Islam untuk melawan pemerintah Indonesia[ii]. Secara ontologis, rentetan gerakan pemberontakan itu menunjukkan gagalnya proses integrasi elemen-elemen “ruang” negara kebangsaan. Dari sejarah nasionalisme, dan usaha pembentukan identitas nasional untuk bangun dari reruntuk imperialisme ada fakta tersembunyi. Bahwa konsolidasi pembentukan identitas nasional juga diresapi imajinasi dan semangat imperial: menguasai dan menyisihkan. Padahal setiap orang ingin pulang .

Di penghujung abad ke-19, di berbagai wilayah bekas koloni, dunia mengalami apa yang disebut Benedict Anderson, “globalisasi perdana”. Penemuan telegraf, kabel bawah laut, peresmian persatuan pos dunia pada tahun 1876, penemuan kapal uap, jalinan rel kereta yang kian menebal. Kesemuanya itu mengkondisikan proses pembentukan negara modern dalam iklim kapitalisme cetak.  Pergerakan surat, buku, majalah, koran, foto, dan pergerakkan orang, komoditas dalam dan keluar batas nasional-kolonialnya[iii]. Dari realitas yang bergerak meng-global itu, orang akhirnya tahu geografi dan teritori bisa mencair dan kabur.

Kini masih adakah ruang yang asali? atau bagaimana ruang, geografi atau teritori ke-puak-an mesti dipahami? harus ke dunia mana manusia berpulang?

Pada tahun 2012, Gayatri Cakravorty Spivak menyampaikan Commemorative Lecture di acara penganugrahan Kyoto Prize. Dua puluh empat tahun setelah penerbitan esai Can the Subaltern Speak (1988), esai yang memancing perdebatan. Merangsang perubahan, bukan hanya pada studi historiografi pascakolonial, tapi juga teori ilmu sosial dan studi kebudayaan. Spivak mengatakan: “Democracy in the subaltern is a fearful thing”[iv].Hal itu terjadi persis ketika, gagasan nasionalisme pascakolonial yang mencuatkan definisi tentang subjek native (asli) ditantang oleh berbagai perubahan politik–demokrasi, globalisasi dll- diikuti alihragam (transformation) pemahaman tentang identitas politik–individual, kolektif-, interaksi antarmanusia, dan posisi teritori keruangan politik bangsa-bangsa bekas jajahan.

Harus ke dunia mana manusia berpulang?

By Danang TP
Ilustrasi “Anak” Oleh Danang TP

Seperti memberi jawaban atau malah memperpanjang kegelisahan Spivak. Sejarawan Thai, Tongchai Winichakul pada tahun 2003 menulis sebuah esai menarik; Writing at the Interstices: Southeast Asian Historians and Post-National Histories in Southeast Asia[v]. Tongchai menegaskan bahwa, kepercayaan pada nativisme identitas nasional dalam memahami ruang geopolitik lewat historiografi diam-diam menggiring seseorang untuk melihat proses historis yang dilalui manusia dengan kaca mata kuda historis (historical tunnel vision)[vi].

Kacamata yang menutup segala kenyataan tentang perkembangan silang budaya sosial-politik global. Jika dengan keras kepala, para sarjana tetap mendaku bahwa sejarah nasional (sebut saja sejarah kampungan) adalah studi sejarah tentang peneguhan subjek native dalam wilayah geopolitik pascakolonial, niscaya tiada lain selain kejumudhan. Sebab setelah terjadi proses globalisasi perdana, semua orang tahu, Slametan bisa dilakukan di salah satu sudut Manhattan. Orang Korea bisa lebih Mbantul daripada orang Mbantul.  Lalu, masih adakah yang asali? Masih adakah yang lokal?

Harus kemana kini manusia berpulang?

Ruang  Pulang dan Antropomorfisme

Antropomorfisme memahami ruang, pulang dan fenomena kehidupan manusia lainya sebagaimana manusia menjaga dan merawat dirinya mati-matian. Pendekatan antropomorfisme ingin mengatasi “dunia yang menjadi kering” akibat modernisme dan perangkat nalar keilmuannya yang bersemangat memelepaskan kegayutan manusia dan dunia. Weber pernah mengeluh tentang dunia modern yang tak menarik, serba selalu terukur, ratah, tanpa misteri dan mitos. Untuk itu Weber membuat istilah yang mengigit disenhantment of the world, hilangnya pesona dunia.

Antropomorfisme bukan tanpa cela, orang bisa belajar bahwa hilangnya pesona dunia bisa berbalik. Dunia yang kering hanya adjektifal yang bisa juga merujuk ke dunia yang penuh mitos personalitas. Dunia yang hanya dijelaskan niscaya semau manusia. Lalu ilmu dan upaya rasional manusia kepalang tangguh berhasil menjelaskan dunia yang bergerak, malah justru berisi curhatan dan keluh kesah manusia. Dalam beberapa batas kita bisa menyebut ini kecenderungan psikologisme.

Kini bukan semesta yang ditaklukkan dibawah mekanisme objektivitas yang dirancang otak manusia. Tapi dunia dikerutkan hanya jadi manusia saja. Rasionalitas manusia tinggal label narsistik untuk segala bentuk baper dan curhat-curhat sepele. Dunia semakin tak terjelaskan. Dan dihadapan itu studi-studi humaniora, yang bertatap muka langsung dengan manusia harus terengah-engah, mlipir-mlipir mencari inovasi agar tetap terlihat ilmiah.

Lalu, bagaimana pulang dijelaskan seturut konsep-konsep yang disarikan dari dunia yang bergerak bukan dari manusia yang suka curhat? Sementara kita tahu manusia membaca dunia lewat sudut pandangnya. Manusia sebagai subjek yang berakar dan terbenam dalam dunia, tapi di lain sisi kita juga tahu dunia tak selamanya bergerak menurut kemauan sudut pandang manusia.

Mungkinkah dunia diralat?, atau jangan-jangan manusia dan kemanusiaan adalah atribut untuk menandai satu jenis mahluk yang tak pernah punya ruang yang menetap dan identitas yang kaku? Misalkan jika kita jawab iya, lalu mengapa manusia harus pulang? Bukankah segalanya hanya datang dan pergi, dan identitas hanya sekadar mampir ke Indomaret. “Silakan beli barang yang anda butuhkan lalu keluar, kalo ngedown di dalem pasti cuma mau ngadem cari AC.”

***

Persis ketika ‘pulang’ dibayangkan satu lebel romantik-politis tentang identitas asali yang menarik seorang untuk kembali, pada saat itu mengertilah kita selalu ada yang dikeluarkan dari lebel. Selalu ada yang dipersepsi sebagai ‘tidak pulang’. Akhirnya, pulang tak menjadi proses historis yang terbuka pada rupa-rupa kemungkinan. Terbuka pada setiap yang hendak datang, keluar, bahkan pergi dari kotak dan label.

‘Pulang’, ‘Pergi’, dan ‘Kembali’ di dalam ketiganya selalu ada lema yang tak selamanya kentara ‘pertemuan’. Sebuah lokus ketika Diri, ‘Aku’ dan segala rupa pembayangan konseptual tentang yang asali dari identitas individual dibetot untuk berhadap dengan Yang-Lain, (other). Individualitas dan pemahaman tentangnya diam-diam mensaratkan alteritas.

“Life: A Story in Search of a Narrator”, sebuah esai pendek, dibuka Paul Ricoeur dengan kata-kata berikut: Bahwa hidup harus dilakukan seperti narasi, berawal dari tahu dan berkata; kita berbicara tentang kisah hidup untuk mengkarakterisasi interval (jeda) antara kelahiran dan kematian. Lalu Ricoeur menambahkan catatan peringatan, sebuah prasarat: Namun hal tersebut menunjuk bahwa kita hidup dalam sejarah yang seharusnya tidak otomatis; tetapi harus dialami penuh dengan keraguan kritis (Ricoeur, 1991: 425).

Dalam perjalanan manusia memahami dirinya ada proses pencecapan atas ruang yang kemudian diinterpretasi lewat memori yang mengintegrasikan masa lalu dan masa kini. Asal mula dan posisi akhir, juga diri dan Yang-Lain. Judith Butler dalam “Giving an Account of Oneself” dengan tegas menekankan, bahwa hidup dan perjalanan manusia adalah proses naratif. Dalam proses itu selalu menyiratkan; mendengarkan dan menerima keberlainan, abnormalitas Yang-Lain. Kepenuhan identitas diri sendiri tercapai ketika diri diberikan ke Yang-Lain, entah lewat empati atau aktivitas nyata lainnya (Butler, 2005: 21)[vii].

Kini apa yang tersisa dari manusia, homo sapiens yang tertatih dalam perjalanan evolusioner di dunia yang kian bergerak cepat? Sebuah dunia ketika setiap peristiwa datang saling desak. Ketika perubahan mewujud dalam hal-ikhwal yang tak menghendaki jeda. Ketika rasa muak Subagio Sastrowardoyo dalam sajak “Kampung” lebih mengendap daripada pengambaran romantik tentang kampung dengan nyiur dan pantai seperti dalam lukisan-lukisan Mooi Indie.

Apa yang menghantui kepala ribuan pendatang yang hidup di pinggiran Jakarta? Masihkah pulang kampung menjadi sesuatu yang romantis? Masihkah ada kerinduan pada puak, masih adakah ruang bertumbuh yang asali?

Ketika di kota-kota kita kehidupan dan ruang dicecap dalam jejal manusia yang datang dan pergi. Ketika perumahan kumuh tempat satu-satunya mencecap ruang digusur dan perumahan yang dijanjikan tinggal lupa yang mengantung dalam kenang. Masih tersisakah ruang untuk bercengkrama dalam upacara minum teh di sore hari?

Kepada siapa kita harus meminta penjelasan atas soal-soal yang kepalang rumit ini. Ilmuan, Filsuf, Seniman, Pak Lurah …..atau Kandjeng Nabi. Sahaya sarankan buka youtube dan ketik “Glandangan”. Anda akan tahu bagaimana lagu dangdut memotret satu bagian dari fenomena dalam kehidupan manusia.

Ketika tugas kisanak-kisanak yang menekuni studi humaniora direbut oleh penyanyi dangdut tak perlulah kita cari tahu apa penyebabnya. Sebab semua sudah tahu pangung dangdutan lebih memberi peluang seseorang untuk berlaku kreatif, bebas, mencari inovasi baru, mendayakan seluruh kemampuan kecerdasan dan ketidaksucian manusia. Sebab itu Goyang nge-bor Inul cepat berkembang dan melahirkan inovasi baru menjadi goyang itik, goyang ular sanca, goyang bebek, goyang gergaji, goyang dumang, dan goyang-goyang lainya. Sementara dari ruang dan bangku sekolahan kita tak pernah digoyang, dan yang ada hanya: ……………………………………….

dfr <- data.frame(“x y” = 1:5, check.names =   FALSE)

dfr$x y

## Error: unexpected symbol in “dfr$x y”

dfr[,”x y”] # OK

dfr$`x y`   # also OK

Bersatulah seluruh Borjuis-Gelandangan ibu kota ![]

Langit sebagai atap rumahku

Dan bumi sebagai lantainya

Hidupku menyusuri jalan

Sisa orang yang aku makan

______23 Juni-28 Juli


Catatan Kaki

[i] Contoh pengunaan pendekatan personal geographic dalam pembuatan peta bisa dinikmati dan dicermati dalam Kris Harzinki (eds.), From Here to There: A Curious Collection from the Hand Drawn Map Association, (Newyork: Architectural Press, 2010).

Pada bulan Maret 2008, desainer grafis Kris Harzinki mendirikan Hand Drawn Map Association (http://www.handmaps.org/index.php) untuk mengumpulkan gambar dari peristiwa sehari-hari. Terpesona oleh catatan-catatan tentang kejadian-kejadian tidak sengaja yang terlewat begitu saja, ia segera mengumpulkan berbagai peta, mulai dari arah sederhana untuk peta fiksi imajinatif, peta untuk tempat yang tidak biasa, hanya imajinasi yang terkenang belaka di kepala orang. Ia juga mengumpulkan termasuk contoh-contoh yang diambil oleh tokoh-tokoh sejarah terkenal seperti Abraham Lincoln, Ernest Shackleton , dan Alexander Calder.

From Here to There, upaya merayakan dokumentasi atas berabagai hal yang dicatat manusia tentang ruang dan arah (map), dalam kehidupan sehari-harinya. Dokumen-dokumen ini biasanya terlupakan dan dicampakan begitu saja. Kris Harzinki mengumpulkan gambar-gambar itu sebagai upaya mengabadikan dan menjaga ingatan tentang berabagai artefak yang mewakili cerita dari kehidupan masyarakat di seluruh dunia yang terkait dengan ruang dan peta.

Ada wanita muda yang menderita rheumatoid arthritis yang menciptakan peta suntikan humira di perut dan pahanya untuk membantunya mengingat letak suntikan. Atau anak muda yang membayangkan seluruh negeri untuk para semut, lalu mengambarkan peta negeri itu di atas kertas. Dan masih banyak lagi. Peta ditampilkan dalam buku ini sangat beragam dan menyentuh sebagai upaya seseorang menyampaikan cerita pengalaman mereka atas keberadaanya dalam ruang.

[ii] Lih, Clive J. Christie,  A Modern Southeast Asian History, Decolonization, Nationalism, and Separatism, (New York: S.T Martin Press, 1995),  hal. 1-5

[iii] Lih, Benedict Anderson, Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (New York: Verso, 2006), hal. 3.

[iv] Lih, Gayatri C Spivak, “Many Voices”, dalam kuliah penerimaan Kyoto Prize 2012, http://www.kyotoprize.org/wp/wp-content/uploads/2016/02/28kC_lct_EN.pdf.

[v] Lih, Winichakul, Thongchai, “Writing at the Interstices: Southeast Asian Historians and Post-National Histories in Southeast Asia”, dalam Abu Talib Ahmad, Tan Liok Ee, (eds), New Terrains in Southeast Asian History (Athens: Ohio University Press, 2002), hal. 3-29.

[vi] Salah satu  contoh pengunaan postulat metodologis “kacamata kuda historis” (historical tunnel vision) misalnya dalam penulisan sejarah dunia.  Eropa dilihat sebagai titik mula segala proses dalam sejarah dunia (Diffusionism). Dari kepercayaan itulah kemudian diturunkan apa yang dalam kajian metodologi ilmu dikenal sebagai postulat metodologis atau apa yang diam-diam ada dan mengiring setiap nalar keilmuan. Dari eurocentric diffusionism lahirlah kepercayaan bahwa eropa adalah kawasan yang identik dengan kemajuan (proress), modernitas. Kawasan di luar eropa adalah traditional society identik dengan kelambanan proses (sluggishly), kemadekan (stagnates). Kemudian postulat itu diturunkan ke arah yang lebih jelas (rendah) agar ilmuan lebih mudah memahami kenyataan; bahwa dunia di bagi dalam dua kawasan geografi ; inside, outside. Inside adalah pemimpin, outside kawula. Inside inovatif, outside imitatif.  Analisis bagus tentang soal itu dapat dicermati di bagian pertama buku J.M Blaut,  Colonizer’s Model of The World, Geographycal and Eurocentric Diffusionism (London: The Guildfordpress, 1995) pp.1-43.

[vii]. Untuk penjelasan mengenai proses pembentukan diri (personalitas), kaitanya dengan perjalanan manusia, saya berhutang banyak pada penjelasan dan pemetaan filsafat Paul Ricoeur yang dilakukan Kathleen O’Dwyer, “Paul Ricoeur: The Intersection Between Solitude and Connection” Jurnal Lyceum vol.XI No. 1 http://lyceumphilosophy.com/?q=node/123.

LEAVE A REPLY