sumber: www.euintheus.org

Beberapa bulan belakangan kita dikejutkan dengan temuan Associated Press (AP) di Benjina, Kepulauan Aru, Maluku. Dalam Your Seafood Might Come from Slaves, AP mengungkap praktik perbudakan anak buah kapal (ABK) pencari ikan dari Thailand yang beroperasi di Maluku. Para budak mengaku dipaksa bekerja 20-22 jam sehari dan akan mendapat siksaan cambukan atau sayatan apabila mengeluh. Gaji mereka pun tergolong minim bahkan sebagian dari para ABK ini tidak digaji. Lebih lanjut, tak jauh dari lokasi penyekapan para ABK yang kebanyakan dari Myanmar dan Laos itu ditemukan kuburan massal dengan ribuan papan penanda diduga merupakan tempat penguburan mayat para korban penyiksaan. Diungkap pula bahwa praktik perbudakan tersebut sudah berlangsung setidaknya 10 tahun terakhir.

Sebenarnya jauh sebelum kasus tersebut mencuat ke publik, dunia sudah tidak asing dengan tragedi semacam ini. Praktik perbudakan, human trafficking, dan semacamnya sudah berlangsung sejak Romawi Kuno. Pada prasasti kode Hammurabi dari zaman Babylon (1760 SM) tertera catatan hukum pertama yang menyebutkan aturan tuan dan budak. Konsepsi perbudakan bahkan didukung oleh filsuf besar Aristoteles. Dia berpendapat bahwa di dunia ini memang ada manusia yang ditakdirkan untuk terlahir sebagai budak bagi yang lainnya. Di Indonesia sendiri, tindakan tidak manusiawi ini muncul seiring masuknya imperialis-kolonialis Barat. Beragam aturan yang diterapkan kaum penjajah Belanda maupun Jepang seperti kerja paksa (Romusha dan Rodhi) pada esensinya sama, yaitu menguasai seluruh hak dari manusia lain.

sumber: www.dailymail.co.uk
sumber: www.dailymail.co.uk

Jean-Jacques Rousseau, menuliskan dalam dalam Discourse on The Origin and Foundation of Inequality: “Sesungguhnya manusia itu terlahir sebagai makhluk yang penuh kebaikan dalam kehidupan primitifnya. Manusia purba hidup dengan mengandalkan naluri dan hanya punya dua insting, salah satunya pitie atau empati.” Inilah yang mulai pudar ditelan modernitas. Sementara pada sisi bersebrangan, Hobbes bahkan menjuluki manusia sebagai serigala yang buas bagi sesamanya (homo homini lupus). Dari kasus perbudakan di atas, mungkin benar manusia sudah layaknya pemangsa buas bagi manusia lain. Lantas sahihkah kita bila mengambing-hitamkan modernitas? Mungkin terlalu naïf. Terlepas dari “fatwa” Rousseau tentang dampak buruk modernitas bagi moralitas manusia, modernitas tetap akan menjadi gelombang tsunami yang menerjang dan menenggelamkan kita pada globalisasi. Urgen untuk ditangani adalah manusia itu sendiri, sebagai subjek seutuhnya.

Manusia memang diciptakan unik dan sangat kompleks baik dalam hal struktur anatomi, psikis, maupun kehidupan sosial-ekonomi dan cara berbudayanya. Tak kalah rumit untuk dikaji adalah relasi antar manusia. Sudah banyak pemikir-pemikir kuno yang memfokuskan diri untuk mengkaji relasi ini, seperti Descartes yang menganggap manusia (subjek) bersifat dominan dalam relasinya dengan objek karena manusia yang mempunyai akal (rasio)—seperti kita ketahui Descartes sangat mengagungkan rasio manusia. Pada pihak yang mengkritisi Descartes ada: Edmund Husserl, Martin Heidegger, Emmanuel Levinas, dan Jean-Paul Sartre. Namun yang paling sesuai dengan problema dalam tulisan ini adalah teori Levinas. Bagi filsuf kelahiran Lithuania ini, manusia sebagai subjek di dunia cenderung melakukan totalisasi atau dalam bahasa yang sederhana manusia cenderung memaksa orang lain untuk sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Padahal orang lain memiliki sifat infinitive, tidak ada yang bisa menundukkan orang lain walau dengan pemaksaan fisik. Pada kasus perbudakan, tindakan tuan terhadap budak, Levinas menyebutnya sebagai  bentuk ketidakhormatan pada keberlainan (alteritas). Seorang tuan sangatlah memaksakan kehendaknya pada budak yang notabene juga seorang subjek (manusia). Bahkan dalam kasus perbudakan di manapun itu, pemaksaan terjadi bukan hanya melalui pengobjekkan manusia melainkan juga secara fisik.

Ada baiknya kita mengalihkan isu diskursus yang mulai mengawang ini menjadi lebih konkrit. Andaikan saja kita sedang berjalan di sebuah gang, kemudian kita bertemu dengan seorang pria berbadan besar dengan wajah garang. Lantas terbersit prasangka dalam hati kita bahwa orang tersebut bukan orang baik-baik. Bisa jadi dia penjahat, preman, penculik, begal atau semacamnya. Kemudian kita menjauhinya dan mewaspadai gerak-geriknya padahal dia tidak melakukan apa-apa yang mencurigakan. Sadar atau tidak kita telah melakukan tindakan tidak manusiawi. Hanya berbekal konsepsi tentang gambaran penjahat—mungkin saja sebagian dari kita mendapakannya dari siaran berita di televisi—di alam bawah sadar kita, lalu dengan semena-mena kita men-judge pria yang kita temui di jalan tersebut sebagai orang jahat. Akal sehat kita seketika itu juga tertutup oleh kekhawatiran. Dengan mengesampingkan kemungkinan bahwa postur tubuh dan ekspresi wajah pria tersebut mungkin bawaan genetiknya. Semoga kita sadar betapa jahatnya kita –atau mungkin hanya saya- pada alteritas orang lain

Sekarang ambil contoh di Yogjakarta, kota pelajar dan budaya, kota yang cukup dinamis sedari dulu. Ribuan calon intelektual muda berdatangan ke Yogja diiringi dengan pertumbuhan kampus-kampus yang bak cendawan di musim penghujan. Imajinasi kita pasti berandai bahwa kota ini terpelajar—sesuai julukannya. Namun data berkata lain. Menurut Polresta Yogja yang dilansir harianjogja.com, selama tahun 2014 (terhitung hingga November) ada sekitar 1639 kasus kejahatan, di antaranya pelanggaran HAM (termasuk pembunuhan, penganiayaan dll) mencapai 217 kasus di Yogja. Dari angka tersebut dapat dibaca moral penduduk sebuah kota yang tersohor sebagai menara gadingnya intelektual. Mulai dari pembunuhan penjual angkringan di Bantul, ibu muda membunuh bayinya yang baru dilahirkan. Mahasiswa saling bunuh, saling keroyok, pembunuhan, begal dan pelbagai tindak kekerasan lain selalu bertambah ragam dan jumlahnya setiap tahun di Yogya.

Pertanyaannya, apa yang salah dengan para pelaku kriminal? Kenapa mereka tega melakukan tindakan keji pada sesamanya?

Satu hal yang mungkin bisa disimpulkan dari sebuah tindak kejahatan. Seorang penjahat—sering kita menyebut demikian—selalu menempatkan korbannya sebagai objek. Sudah disinggung sebelumnya tentang pengobjekkan manusia, kurang lebih berarti suatu tindakan membendakan manusia. Ketika menjadi objek, seseorang dapat diperlakukan sewenang-wenang oleh subyek karena sifat objek yang pasif. Ini yang paling berbahaya dalam relasi antar manusia, sebab orang yang memperlakukan orang lain layaknya objek  selalu berpikir bagaimana mempergunakan dan memanfaatkan objek.

Contoh paling sederhana sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Seperti hubungan pertemanan, banyak yang tidak sadar kalau telah mengobjekkan temannya. Misalkan di suatu sore yang cerah, A berniat mengunjungi si B di kostnya. Setelah mengetuk pintu si B, dan si B membuka pintu, A tersenyum sekadar basa-basi, kemudian bukannya mempersilakan temannya masuk, B justru bertanya: “Ada apa datang ke kosku?” dengan ramahnya. Mungkin memang sudah menjadi kultur di masyarakat kita yang ramah, katanya. Namun justru pertanyaan yang dilontarkan B, telah mereduksi makna ikatan pertemanan. Apakah jika ada teman berkunjung harus ada kepentingan? Lantas jika tidak ada kepentingan apa tidak boleh berkunjung ? Di sini letak kekeliruan tradisi yang mungkin bisa dianggap remeh-temeh tapi implikasinya dalam bila dimaknai salah.

Inilah yang kemudian menjadi bahasan Martin Heidegger dalam Being and Time. Heidegger menyebut manusia dengan istilah Dasein (Jerman=berada di sana)—yang maksudnya berada di dunia. Di dalam dunianya, Dasein akan senantiasa menjumpai 3 macam pengada, yaitu:

  • Zuhandenes (Jerman=siap untuk tangan). Arti yang lebih sederhana ialah segala hal yang memang ada untuk digunakan manusia—biasa disebut alat. Zuhandenes secara struktur ontologis memanglah alat untuk tangan manusia jadi sudah sepantasnya diobjekkan. Sebagai contoh laptop, handphone, kursi, bangunan, kantung plastik
  • Vorhandenes. Bila diartikan dari bahasa Jerman adalah “tersedia di depan tangan”. Maksudnya, Vorhandenes ini ada dan tersedia di sekitar manusia tetapi tidak untuk dipergunakan atau diobjekkan. Alasannya beragam, bisa karena hilangnya nilai kegunaan, rusak dan sebagainya: sampah dan rongsokan.
  • Mitdasein. Poin penting dari ketiga pengada ini adalah Mitdasein sebagai yang ada bersama Dasein (manusia). Lebih mudahnya adalah orang lain di sekitar kita. Posisi orang lain adalah setara dan senantiasa bersama kita. Jika kita adalah subjek, maka orang lain juga subjek dan tidak boleh diperlakukan layaknya objek.

Dari penggolongan tersebut akan berimbas pada munculnya hukum relasi  Dasein dan ketiga pengadanya. Dasein dengan sesama subjek bersifat saling memelihara dan menjaga dengan prinsip equality (kesetaraan) karena perannya yang sesama subjek di dunia ini. Hubungan ini disebut fusorgen. Sementara relasi kedua disebut besorgen, yang mengharuskan Dasein untuk menangani atau mengobjekkan benda. Sudah secara gamblang Heidegger menekankan bagaimana kita harus memperlakukan orang lain.

Berpindah dari kacamata ilmu menuju kepada yang lebih erat dan tak pernah bisa dilepaskan dari hidup setiap kita, yakni Tuhan dan agama. Perlu diingat bahwa setiap agama senantiasa menganjurkan kebaikan pada umatnya baik melalui kitab suci maupun penyambung lidah-Nya. Termasuk bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Karena kehidupan sosial bagaikan oksigen bagi manusia, maka pantas kalau Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial (Zoon politicon).  Nicolaus Driyarkara menjuluki manusia sebagai homo homini socius yang artinya manusia adalah teman atau saudara bagi sesamanya di dunia yang sosialistis. Saya jadi teringat ucapan Dalai Lama, pemimpin keagamaan tertinggi dalam Buddhisme Nepal, dalam sebuah kesempatan:

“Jika mampu, tolong dan bantulah orang lain. Jika tidak, setidaknya jangan mencelakakan orang lain.”

Entah bagaimana, Tuhan seakan mengetahui kalau akan terjadi krisis kemanusiaan ini. Sehingga Dia banyak menyuratkan wanti-wanti melalui kitab suci dan menciptakan makhluk semacam Levinas dan Heidegger untuk menegur kembali keberingasan manusia. Kita patut bersyukur Tuhan masih peduli. Terlepas dari apa penyebab hilangnya sisi kemanusiaan dari dalam diri manusia, kita haruslah menaruh perhatian lebih pada bagaimana mencegah unsur keberingasan manusia agar tidak semakin menggila. Lantas bagaimana?

Berhubung objek material dari krisis ini adalah manusia, maka solusi akhirnya bermuara pada manusia itu sendiri. Masih pantaskah manusia yang kehilangan kemanusiaannya tetap diperlakukan seperti manusia? Pertanyaan ringan tapi menggigit  ini sepatutnya dilemparkan kepada kita sebagai manusia. Ah saya lupa, masihkah kita ini manusia?

Tria Setiawan
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, mendalami relasi politik dengan ilmu, persoalan politik ilmu banyak mewarnai tulisan-tulisannya.

LEAVE A REPLY