French writer and existentialist philosopher Jean-Paul Sartre (1905 - 1980). (Photo by Express Newspapers/Getty Images)

Barangkali, “marxisme eksistensial” menjadi perkembangan marxisme terparadoks dari beragam perkembangan pemikiran Marx lainnya. Bagaimana tidak, (filsafat) eksistensialisme yang juga kerap didaulat sebagai filsafat kaum borjuis akibat muatan individualisme radikal serta antisosial yang dibawanya, berpadu dengan marxisme yang berasosiasi dengan proletarianisme berikut filsafat antiborjuasi. Oleh karenanya, varian marxisme ini dapat pula didapuk sebagai aliran marxisme ter-individualis dari beragam varian marxisme lainnya. Hadirnya marxisme eksistensial bermula dari intensnya diskusi antara Sartre, tokoh utama filsafat eksistensialisme abad 20, dengan Maurice Marleau-Ponty, seorang fenomenolog marxis sekaligus tokoh politik sayap kiri Perancis. Beralihnya pemikiran Sartre pada marxisme menyebabkannya tak melanjutkan jilid kedua Being and Nothingness yang semula diproyeksikan Sartre bakal menjadi jawaban bagi dimensi etika eksistensialisme. Peralihan Sartre pada pemikiran kiri pun menjadi hal yang ironis mengingat ia dengan begitu saja meninggalkan eksistensialisme di puncak kepopuleran filsafat tersebut.

Akan tetapi, peralihan pemikiran Sartre pada ide kiri tak lantas membuatnya bergabung dengan partai komunis Perancis, namun yang juga membuat sikapnya begitu ambigu adalah dukungan yang diberikan Sartre terhadap rezim komunis Soviet Stalin. Dukungan tersebutlah yang kemudian menyebabkan keretakan hubungan Sartre dengan sahabatnya, Albert Camus. Dalam satu kesempatan, Camus berkata pada Sartre, “Jika dahulu kita menolak keberadaan kamp konsentrasi Nazi, maka saat ini pun kita harus menolak keberadaan kamp kerja paksa Soviet”. Berbeda halnya dengan Camus, pasca beralih pada marxisme, Sartre melihat penindasan Soviet atas nama masa depan kemanusiaan lebih baik ketimbang penindasan kaum kapitalis atas nama profit. Lebih jauh, Sartre berkata bahwa hanya kaum sosialis-lah yang manusiawi karena dalam sosialisme manusia menguasai benda-benda; bukan seperti rezim lain di mana benda-benda yang justru menguasai manusia—terutama kapitalisme.[1]

Terkait ketidakikutsertaan Sartre dalam partai komunis Perancis, ia memiliki kecurigaan lebih terhadapnya. Baginya, partai komunis Perancis begitu kaku, inkuisisional[2], pun gemar menindas secara intelektual. Menurut Sartre, marxisme dalam kepartaian komunis Perancis menjadikan marxisme tak ubahnya ilmu alam karena berfokus pada relasi-relasi eksternal dan condong suka “meramal”, sementara ilmu pengetahuan humaniora seyogyanya tak bisa mempelajari relasi konkret dan objektif manusia mengingat sifat hubungan manusia yang subjektif dan unik secara historis. Akan tetapi, Sartre mengakui narasi kebenaran sejarah yang dibawa marxisme, bahwa sejarah manusia merupakan sejarah pertumpahan darah terkait perebutan alat produksi sebagaimana dinyatakan Marx.

Merespon “marxisme umum”, atau “marxisme yang telah berhenti” sebagaimana dikemukan Sartre, ia justru melihat fenomenologi eksistensial-lah yang dapat membebaskannya dari kekakuan atau “kepadatan yang mandeg”. Marxisme yang cenderung menyeragamkan individu dalam kelas-kelas sosial dinilainya tak lengkap tanpa mampu menjelaskan bagaimana individu dari kelas sosial tertentu memiliki tujuan-tujuan tertentu pula. Dengan kata lain, “marxisme umum” takkan memiliki filsafat sosial yang memadai jika sekedar membincang dimensi eksternal manusia (kelas sosial, masyarakat), dan tak memiliki kemampuan dalam menjelaskan sejarah individu maupun perbuatan-perbuatan bebasnya dalam dunia material maupun sosial, atau dengan kata lain: hingga marxisme dapat menjelaskan relasi timbal-balik antara kebebasan dan “keharusan” dari eksistensi manusia.[3]

Terkait ketidakikutsertaan Sartre dalam partai komunis Perancis, ia memiliki kecurigaan lebih terhadapnya. Baginya, partai komunis Perancis begitu kaku, inkuisisional, pun gemar menindas secara intelektual. Menurut Sartre, marxisme dalam kepartaian komunis Perancis menjadikan marxisme tak ubahnya ilmu alam karena berfokus pada relasi-relasi eksternal dan condong suka “meramal”, sementara ilmu pengetahuan humaniora seyogyanya tak bisa mempelajari relasi konkret dan objektif manusia mengingat sifat hubungan manusia yang subjektif dan unik secara historis.

Dalam upaya tersebut, Sartre menulis Search for a Method (1957) yang ditujukan untuk menggabungkan antara marxisme dengan eksistensialisme, sekaligus menjadi pendahuluan dari dua jilid Critique of Dialectical Reason yang direncanakannya.[4] Meskipun dalam karya ini Sartre telah memposisikan eksistensialisme di bawah marxisme, namun Sartre tetap berkeyakinan bahwa untuk mengobati sistem dialektika yang sakit (stagnan) perlu dilakukan pula secara dialektis, dan dalam upaya ini—memikirkan dialektika secara dialektis—berarti melibatkan subyektivitas individu. Inilah yang disebut Sartre dengan “memanusiakan dialektika marxis”, yakni dengan cara memasukkan gagasan eksistensialisme ke dalam marxisme. Bagi Sartre, pemikiran dialektis yang telah tereksistensialkan ini memungkinkan manusia memahami bagaimana dirinya menstrukturkan diri secara historis baik melalui sudut pandang peristiwa-peristiwa di luar dirinya maupun lewat sudut pandang aktor (dirinya sendiri). Dengan kata lain, subjek menemukan dirinya baik dalam kebebasannya maupun dalam “kepastian nasibnya”; aktor insyaf jika tindakan-tindakan tersebut adalah miliknya, tetapi juga sekaligus “mengasingkan” dirinya.

Tindakan dalam kerangka dialektis di atas (tesis-antitesis-sintesis-dst.) inilah yang dalam kamus Hegel disebut sebagai “totalisasi”. Sebagai misal, bagaimana Hegel menempatkan negara—negara Prusia kala itu—sebagai “roh absolut” yang hadir akibat rangkaian akumulasi sejarah sebelumnya.[5] Sartre, berbeda halnya dengan Hegel dan Marx yang menempatkan totalisasi sebagai produk peristiwa yang “telah jadi” atau terhelat sebelumnya; Sartre menganggap totalisasi dialektis dapat menjadi motif bagi praksis tindakan jauh ke depan.[6]

Sartre memisalkan konsep totalisasinya secara mudah melalui olahraga tinju. Baginya, kekerasan dalam olahraga tinju yang sedemikian rupa hingga keberadaannya yang kini telah diterima luas oleh masyarakat melibatkan suatu proses akumulasi sejarah tersendiri—bagaimana proses olahraga penuh kekerasan ini dilegalkan kemudian. Lebih jauh menurut Sartre, setiap pertandingan (peristiwa) tinju selalu “menginkarnasikan” pertandingan-pertandingan tinju sebelumnya, dalam arti, ia merangkum atau mengkristalkan totalisasi sejarah sebelumnya hingga detik ini—saat pertandingan tinju terbaru terhelat di berbagai belahan dunia mana pun—juga sekaligus mengukuhkan kelegalan olahraga penuh kekerasan ini di mana tak hanya dua petinju yang terlibat di dalamnya, tetapi juga wasit, penonton, sponsor, media, bahkan jejaring sosial yang lebih luas.

Kita dapat memisalkan lewat pertandingan tinju antara Manny Pacquiao versus Mayweather pada 2 Mei 2015 lalu yang tanpa ragu turut menyeret kita dalam euforia pelegalan olahraga penuh kekerasan ini. Dalam kerangka dialektika humanis, pemikiran maupun perasaan kita yang penuh kerelaan menyaksikan (bahkan mendukung) dua manusia saling beradu jotos dan berdarah-darah di atas ring merupakan produk sejarah yang melampaui diri kita sendiri namun seringkali tak kita sadari. Terkait hal tersebut, sesungguhnya pertandingan antara Manny Pacquiao dengan Mayweather tak dapat dipisahkan dari pertandingan antara Muhammad Ali dengan George Foreman di tahun 1974, Mike Tyson dengan Evander Holyfield di tahun 1997, bahkan adegan tinju antara Charlie Chaplin dengan lawannya di film City Lights pada tahun 1931. Hal ini mengingat, seluruh peristiwa tinju tersebut, baik yang terjadi secara nyata, ulasan, maupun rekaan; sesungguhnya sama-sama saling bekerja sama untuk membentuk format peristiwa atau pertandingan tinju yang terhelat saat ini juga, bahkan tanpa sadar kita pun terlibat di dalamnya meski sekedar menjadi penonton jarak jauh.[7]

Hal unik lain yang dapat kita temui dari konsep totalisasi dialektis Sartre terkait olahraga tinju adalah dimensi subjektivitas di dalamnya. Pertama, bagaimana olahraga ini dapat melahirkan sosok pemenang sekaligus pecundang; dan Kedua, bagaimana kedua manusia (baca: kedua petinju) secara tak langsung dapat saling bekerja sama untuk menggerakkan sejarah lewat negasi frontal yang terjadi di dalamnya. Pada poin pertama, baik pemenang maupun pecundang yang dihasilkan dari olahraga ini bersifat dialektis[8]. Artinya, meskipun pemenang telah ditentukan lewat cara-cara yang dinilai “objektif”, namun kerapkali petinju kalah tetap merasa menjadi pemenang pertandingan.[9] Hal ini secara jelas tampak lewat masing-masing petinju yang sering mengepalkan dua tangan ke atas di akhir ronde penghabisan sebagai tanda dirinyalah yang memenangi pertandingan tanpa mempedulikan bagaimana hasil penghitungan skor nanti—kecuali terjadi KO (Knockout) dan bukannya TKO (Technical Knockout); namun ini pun masih bisa diperdebatkan.[10]

Dengan demikian, selalu terdapat “dua juara” dalam pertandingan tinju, yakni juara universal yang sekali lagi kemenangannya ditentukan oleh cara-cara yang dinilai objektif, serta “juara individual” yang kemenangannya ditentukan secara personal; tak hanya oleh diri sendiri, tetapi bisa juga oleh penonton. Agaknya, kasus serupa dapat ditilik kembali lewat pertandingan Manny Pacquiao kontra Mayweather di mana Mayweather ditentukan sebagai pemenang melalui cara-cara teknis universal dalam dunia tinju, sedangkan penonton berikut seluruh masyarakat dunia justru menganggap Manny Pacquiao-lah pemenangnya, begitu pun dengan anggapan Pacquiao sendiri tentunya. Dari sini, kita memahami maksud Sartre ihwal kemenangan yang sejatinya selalu bersifat subjektif lagi individual, pun karakter dialektika humanis yang selalu dapat dilihat dari kulit luar maupun dalam. Contoh ini memiripkan bentuknya dengan kasus perkosaan pria terhadap wanita yang dimisalkan Sartre lewat pengkajiannya yang lain. Korban yang tak berdaya (wanita) bukan berarti sama sekali tak dapat memenangkan dirinya di hadapan si pemerkosa; selama wanita tersebut dapat mempertahankan tatapan matanya pada si pemerkosa; ia menang.[11]

selalu terdapat “dua juara” dalam pertandingan tinju, yakni juara universal yang sekali lagi kemenangannya ditentukan oleh cara-cara yang dinilai objektif, serta “juara individual” yang kemenangannya ditentukan secara personal; tak hanya oleh diri sendiri, tetapi bisa juga oleh penonton.

Poin kedua, yakni bagaimana kedua petinju secara tak sengaja dapat menggerakkan (baca: memajukan) sejarah lewat duel yang mereka lakoni. Dalam pembahasan ini Sartre bergerak pada pengkajian yang bersifat eksistensial. Ia hendak melihat sudut pandang aktor terkait peran dan sumbangsihnya dalam rangkaian dialektika. Akan tetapi perlu diingat kembali, tindakan aktor dalam kerangka dialektika humanis adalah tindakan yang bebas sekaligus telah ditentukan nasibnya dari sudut pandang historis. Dalam upaya ini, Sartre lebih melihat olahraga tinju sebagai “keharusan” bagi kedua petinju tersebut; Mengapa mereka harus menggemari tinju sejak dini? Mengapa mereka harus bersusah-payah berlatih menjadi seorang petinju profesional? Dan pada gilirannya, mengapa mereka harus bertanding melawan petinju profesional lainnya?. Relasi antara tindakan subjektif aktor terhadap jejaring dialektika yang lebih luas inilah yang kemudian membingungkan Sartre. Pertanyaan yang menyeruak kemudian adalah: Bagaimana mungkin ada totalisasi tanpa totalisator? Dalam hal ini Allah atau hukum-hukum tertentu yang sepakat untuk bergerak memajukan sejarah.[12] Sartre tak bisa menjawabnya, marxisme eksistensial pun berhenti sampai di sini. Namun perlu diingat, Sartre gagal bukan karena tak mencoba; dan hadirnya sebuah teori bukan berarti teori tersebut wajib dipraktikkan, melainkan “memiliki kemungkinan” untuk dipraktikkan.[]

*****

[1] Sesungguhnya pemikiran ini telah dimiliki Sartre saat berada di dalam tahanan NAZI.

[2] Suka menghukum; dari kata “inkuisisi”, istilah untuk pengadilan gereja.

[3] Hal ini sesungguhnya sebagaimana ide awal yang dibawa dialektika Hegel (tesis-antitesis-sintesis-dst.), yakni; menemukan yang positif di dalam yang negatif, kesatuan di dalam keragaman, kebebasan di dalam determinisme, serta keseluruhan di dalam kekhususan.

[4] Critique of Dialectical Reason menjadi karya yang tak pernah selesai, jilid kedua karya ini diterbitkan enam tahun pasca kematian Sartre (1986).

[5] Pemikiran inilah yang kemudian diadopsi Fukuyama untuk melegitimasi kapitalisme sebagai akhir sejarah.

[6] Di sini penulis pribadi turut dibingungkan dengan komparasi konsep antara totalisasi Marx dengan Sartre, karena bagi penulis konsep totalisasi Sartre justru memiripkan bentuknya dengan totalisasi Marx yang meyakini akan munculnya masyarakat sosialis sama rasa-sama rata di kemudian hari (praksis tindakan jauh ke depan). Hanya saja, apabila konsep totalisasi Marx dikontekskan dalam praksis revolusioner yang bersifat kekinian, maka hal tersebut memang akan berbeda dengan konsep totalisasi Sartre, konsep totalisasi Marx sarat terhelat “saat ini juga”, bukan nanti.

[7] Posisi kita sebagai penonton dalam pertandingan tinju secara tak langsung turut mendukung terjadinya kekerasan dalam pertandingan tersebut, terlebih dengan adanya kapitalisme media saat ini, cukup dengan menjatuhkan pilihan pada channel pertandingan tinju, itu sama artinya kita secara langsung berpartisipasi dalam meningkatkan rating acara tersebut.

[8] Mari sejenak kita gunakan istilah dialektika Peter L. Berger: melihat sesuatu yang sama pada sisi dan waktu yang berbeda, maka akan menghasilkan penjelasan yang berbeda pula.

[9] Merasa dicurangi dalam hitungan pukulan yang mengenai sasaran, dan lain-lain.

[10] Sebagai misal Muhammad Ali yang dinyatakan kalah KO saat melawan Joe Frazier, namun Ali tetap menganggap dirinya sebagai pemenang karena pasca pertandingan tersebut Fraizer harus dirawat intensif selama tiga bulan di rumah sakit akibat hantaman-hantaman Ali.

[11] Dalam pandangan eksistensialisme, tatapan mata tidak bisa tidak menilai dan menghakimi. Tatapan mata adalah “neraka”, itulah mengapa Sartre dalam Hui Clos menyatakan, “Neraka adalah orang lain”.

[12] Hegel telah terlebih dahulu sampai pada persoalan ini, namun ia mengambil posisi yang tegas di mana dialektika sejarahlah yang lebih banyak berperan memunculkan manusia-manusia otentik. Sebagaimana ungkapnya, “Ide yang berkembang dalam ruang adalah alam; ide yang berkembang dalam waktu adalah sejarah”, ini berarti, manusia-manusia seperti Napoleon atau Hitler misalnya, muncul sebagai produk sejarah—mereka dipilih oleh sejarah. Konstelasi sejarahlah yang memungkinkan lahirnya manusia-manusia seperti mereka, bukan oleh kehendak mereka sendiri; di sini roh absolut lebih banyak memainkan peran.

Bacaan lanjutan;

Sartre, Jean-Paul, 1992, Being and Nothingness, New York: Washington Square Press.

_______________, 1968, Search for a Method, New York: Vontage Books.

_______________, 1984, Critique of Dialectical Reason, Vol. 1, London: Routledge.

Wahyu Budi Nugroho
Pengajar kuliah teori-teori sosiologi dan cultural studies pada Prodi Sosiologi, Fisip, Universitas Udayana. Memiliki konsentrasi studi pada bidang “sosiologi manusia”, tepatnya kajian seputar aktor sosial dan upaya membebaskan subyek dari dominasi struktur.

LEAVE A REPLY