Scene Marlina hendak memenggal kepala Markus (Sumber: http://en.unifrance.org)

“Buka!”

Lelaki berambut panjang yang sudah bau bangkai itu memaksa Marlina untuk membuka bajunya. Marlina menolak. Ia tetap saja memaksa, hingga Marlina menuruti kemauan lelaki keparat itu: menanggalkan baju.

Markus, si lelaki keparat itu, mulai meraba paha Marlina, menyingkap sampirnya, menindih tubuhnya, hingga kemudian tanpa ampun mengangkangi selangkangannya. Tampak wajah terpaksa, tanpa kuasa, pada raut muka Marlina. Ia seolah hanya bisa pasrah.

Entah dengan cara apa, Marlina, yang semula ditindih tanpa daya oleh Markus, pada scene berikutnya justru berada di posisi atas. Ia tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya—seperti sedang menunggangi seekor kuda—tepat di atas organ vital Markus yang kini sedang dalam posisi telentang, yang merasa seolah sedang dimanjakan.

“Kamu juga suka kan?” kata Keparat itu pada Marlina. Marlina tak menggubris, terus saja menggoyang, seolah ada kemenangan yang disembunyikan. Tangannya diam-diam menarik sebuah parang dari bungkusnya, dan… seketika itu juga ia memenggal kepala Markus yang telah merampas harta dan kehormatannya.

Marlina telah membunuh 5 orang lelaki, dengan dua cara berbeda, dalam waktu yang tak lebih dari sepuluh menit. Pertama ia membunuh 4 orang lelaki dengan buah beracun, dan kemudian menebas kepala Markus dengan parang. Mereka berlima (dan dua kawannya yang lain) sengaja mendatangi rumah Marlina untuk menagih hutang. Namun karena Marlina belum mampu membayar, mereka merampas secara sepihak seluruh ternak Marlina (sepuluh ekor babi, sepuluh ekor kambing dan tujuh ekor ayam), dan mengancam secara terang-terangan akan “menggarap” Marlina rame-rame.

Dari peristiwa itulah, kita diajak untuk mengikuti perjalanan seorang perempuan yang mencari keadilan dan penebusan dalam film Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak besutan Mouly Surya. Sebuah film yang, patut diakui, berhasil menuturkan premis-premisnya secara ritmis dan puitik.

Suara Perempuan

Seorang filsuf feminis asal India, Gayatri Chakravorty Spivak, pernah menulis satu esai panjang berjudul “Can the Subaltern Speak?” yang terkumpul dalam Marxism and the Interpretation of Culture (1988). “Bisakah kaum subaltern berbicara?” Sebuah gugatan dari seorang perempuan yang hidup di negara bekas koloni Inggris.

Spivak melihat perempuan India sebagai ‘subaltern’: kelompok yang keberadaannya selalu sudah direpresentasikan oleh Yang-Lain. Ia tak pernah bisa mempresentasikan dirinya secara mandiri sebagaimana ia ada. Yang-Lain itu, yang selalu berpretensi untuk mendefinisikan perempuan, tak lain adalah budaya patriarkal. Ia adalah sistem abstrak yang berlainan dengan perempuan, tapi selalu terlibat dalam formasi subjektivitas perempuan.

Spivak melihat hal itu dalam tradisi sati di India. Seorang istri yang ditinggal mati suaminya, atas nama kesetiaan, harus melompat ke dalam kobaran api yang membakar jenazah Sang Suami. Saat orang-orang berkulit putih dari Inggris datang ke India, melihat tradisi sati, segeralah mereka berpikir bahwa itu sangat tidak beradab. Masyarakat India harus diberadabkan. Seorang istri yang ditinggal mati suaminya tidak perlu lagi ikut membakar diri, sebab itu, menurut mereka, tidak manusiawi. Pada momen itulah kolonialisme beroperasi dan sekaligus menemukan legitimasi.

Pada kedua momen tersebut, perempuan sebagai subaltern sama-sama tidak bisa bersuara, sama-sama tidak bisa mempresentasikan dirinya sebagaimana adanya. Pada momen pertama, saat masih ada tradisi sati, ia direpresentasikan oleh tradisi patriarkal yang menganggap kesetiaan seorang istri pada suaminya adalah nilai luhur yang harus dimiliki setiap perempuan dan nanti puncaknya harus dibuktikan dengan ikut membakar diri saat suaminya meninggal.

Arti kesetiaan versi perempuan India sendiri tak pernah dibiarkan hadir dalam konstelasi narasi budaya patriarkhi. Kesetiaan seorang istri pada sang suami selalu sudah didefinisikan dengan sudut padang laki-laki. Karenanya, tidak ada peristiwa sebaliknya: sang suami ikut membakar diri saat istrinya meninggal. Suami malah bebas mencari istri lain setelah ditinggal istrinya.

Pada momen kedua, saat sati sudah mulai dilarang, perempuan India masih tetap berada dalam kerangkeng representasi Yang-Lain. Yang-Lain itu kini hadir dalam bentuk lain. Bila pada momen pertama perempuan direpresentasikan oleh budaya patriarkal, maka pada momen kedua ini perempuan masuk ke dalam kurungan representasi ideologi kolonial. Perempuan tetap tak bisa bersuara dengan mulut dan caranya sendiri.

Oleh karena itu, menjawab pertanyaan seperti yang tampak dalam judul esainya, Spivak menulis di bagian penutup: “Subaltern tidak bisa bersuara. […] Intelektual perempuan sebagai intelektual memiliki tugas yang terbatas yang tidak boleh ia lawan dengan sebuah gerakan besar yang mencolok perhatian.”

Tulisan Spivak itu seolah mengingatkan bahwa perempuan yang selalu berada di bawah bayang-bayang representasi laki-laki harus mulai berani untuk bersuara dengan cara dan subjektivitasnya sendiri. Film Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak yang berlatar padang savana di Sumba ini persis dengan tepat menangkap pesan Spivak. Ia berusaha menampilkan subjektivitas perempuan, via sosok Marlina, yang berani melawan dan menundukkan kuasa budaya patriarkal dengan cara yang paling mengerikan: pembunuhan!

Tapi soalnya: benarkah perlawanan Marlina merupakan perlawanan perempuan berdasarkan pada subjektivitas feminin, tanpa disusupi ideologi maskulin? Dan sejauh mana narasi feminin itu hadir dalam sosok Marlina?

Parang dan Hasrat Phallus

Perempuan yang ditampilkan melalui sosok Marlina adalah perempuan yang sepenuhnya feminin—setidaknya menurut konstruksi budaya masyarakat Timur. Ia bukan sosok perempuan yang, misalnya, suka merokok, jago balapan motor, atau berlagak dan berbusana seperti laki-laki. Ia bisa memasak, bisa mencuci, dan juga bisa bersikap dengan selayaknya sikap seorang perempuan.

Meskipun representasi feminitas seperti itu rawan dituduh sebagai pengertian esensialis tentang perempuan, namun Marlina sadar bahwa ia sedang menarasikan perempuan dalam konteks budaya patriarkal. Ia, karenanya, mesti terlebih dahulu mengakomodasi imajinasi kolektif masyarakat patriarkal tentang perempuan. Ini bukan untuk melanggengkan kuasa simbolik laki-laki atas perempuan, melainkan semata agar narasinya tepat sasaran dan tampak natural.

Oleh karena itu, pada adegan pembunuhan empat laki-laki pertama, saya sangat terkesan dengan sosok misterius Marlina. Ia membunuh dengan cara yang sangat ‘perempuan’. Sup ayam yang ia masak untuk disajikan kepada para tamu tak diundang itu diberi semacam racun mematikan.

Marlina menyajikan sup ayam itu dengan penuh ketenangan, dan begitu yakin sebentar lagi akan mendorong empat lelaki keparat itu ke jahanam. Saat mereka melahap dan memuji betapa nikmat sup ayam itu, Marlina tetap tak bergeming, tetapi menatapnya dengan rasa kemenangan yang disembunyikan. Selang beberapa menit kemudian satu persatu dari mereka tumbang. Mereka mampus sebelum sempat meniduri Marlina.

Pembunuhan itu membuat saya terkesan karena mampu menggambarkan cara melawan yang sepenuhnya bersandar pada subjektivitas ‘feminin’. Artinya, Marlina tak harus menjadi orang lain untuk dapat menundukkan empat lelaki keparat sekaligus. Ia tetap sebagai perempuan yang, dengan satu dan lain cara, mampu menaklukkan hasrat kejantanan phallus yang mengancamnya.

Cara itu merepresentasikan keutuhan subjektivitas feminin Marlina yang, karena keutuhannya, memampukan ia untuk melawan. Namun, andaian subjek feminin yang utuh itu segera terbelah saat Marlina melakukan aksi pembunuhan yang kedua. Ia membunuh Markus yang saat itu sedang menggagahinya dengan parang. Dalam perjalanan ke kantor polisi, sambil menenteng kepala Markus yang telah ia penggal, Marlina juga membawa parang. Selain itu, parang juga digunakan Novi, teman Marlina, saat membunuh kawan Markus yang sedang menunggangi Marlina.

Parang—yang dalam masyarakat Sumba disebut ‘katopo’—adalah simbol maskulinitas. Ia adalah barang yang selalu dibawa oleh lelaki Sumba ke mana pun mereka pergi. Fungsinya sehari-sehari sebagai alat untuk bekerja, tetapi selain itu mereka juga menyebutnya sebagai benteng pertahanan untuk menjaga para wanita. Oleh karena itu, posisi parang dalam kosmologi Sumba seperti posisi hasrat phallus sebagai simbol kejantanan laki-laki yang selalu ingin menguasai.

Penggunaan parang oleh Marlina saat membunuh Markus bisa dipahami dengan dua perspektif berbeda. Pertama, Marlina ingin menunjukkan bahwa batas antara maskulinitas dan feminitas sudah sangat cair. Artinya, Marlina sah menggunakan simbol-simbol maskulin apa pun untuk kepentingan feminitasnya. Kedua, hal itu juga bisa berarti bahwa subjektivitas feminin Marlina (dan juga perempuan secara umum) belum cukup utuh dan berdaya untuk melawan kuasa laki-laki. Mereka masih harus meminta bantuan dan perlindungan laki-laki—yang dalam hal ini diwakili oleh parang sebagai simbol maskulinitas.

Perempuan, oleh karena sifatnya yang terus ‘menjadi’ (becoming) dan ‘tidak pasti’ (unfixed), bisa menjadi semacam penanda kosong yang maknanya bisa diisi oleh apa saja, termasuk oleh makna yang bisa digunakan untuk melanggengkan budaya patriarkhi.

Dengan pengertian pertama, Marlina seperti mewakili suara para feminis macam Simone de Beauvoir yang mengkritik pendekatan esensialis terhadap perempuan. “Perempuan bukanlah realitas yang telah pasti (fixed), tetapi ia terus menjadi,” tulis de Beauvoir dalam The Second Sex (1949). Artinya, tak ada satu sifat atau simbol tertentu yang bisa secara pasti mendefiniskan keperempuanan. Maka feminitas tidak bisa dibatasi, misalnya, dengan sikap tidak menggunakan simbol-simbol yang selama ini dianggap sebagai simbol maskulinitas.

Namun, model kritik semacam itu membawa bahaya tersendiri bagi narasi feminin. Perempuan, oleh karena sifatnya yang terus ‘menjadi’ (becoming) dan ‘tidak pasti’ (unfixed), bisa menjadi semacam penanda kosong yang maknanya bisa diisi oleh apa saja, termasuk oleh makna yang bisa digunakan untuk melanggengkan budaya patriarkhi. Pada momen itu ekspresi keperempuanan tidak akan pernah ada tanpa terkait dengan makna-makna lain, entah itu makna yang dibentuk oleh Agama, Negara, atau institusi kecil semacam Keluarga.

Perspektif kedua dengan jelas melihat penggunaan parang oleh Marlina sebagai tanda ketidakutuhan dari subjektivitas feminin. Lebih parah lagi, dengan penggunaan parang, bisa jadi kemenangan Marlina terhadap para lelaki keparat itu sebenarnya bukanlah kemenangan subjek feminin, melainkan kemenangan maskulinitas yang menyusup ke dalam narasi feminin. Karena subjektivitas feminin Marlina sejatinya masih lemah, sehingga diam-diam ia mengidealkan satu bentuk maskulinitas yang lain. Ini sungguh menyedihkan.

Pembunuhan Markus dan kawannya yang terbunuh belakangan oleh Novi itu akan selamat dari dua problem di atas apabila Marlina melakukannya juga dengan cara ‘perempuan’ sebagaimana ia membunuh empat kawan Markus yang lain. Bila keempat kawan Markus dibunuh Marlina dengan ‘memasak’ yang—dalam budaya patriarkhi—dianggap simbol feminitas, maka Markus dan satu kawannya itu semestinya dibunuh dengan satu persetubuhan mematikan di atas ranjang.

Itu akan menjadi kritik yang lebih mengena terhadap masyarakat patriarkhi. Dengan cara itu, Marlina mewakili seluruh perempuan seolah berkata kepada kaum laki-laki: “Sekuat apa pun kalian mendomistikasi kami, membatasi ruang gerak kami hanya pada kasur, sumur, dan dapur, namun justru di dapur dan di atas kasur itulah kami bisa membunuh kalian!”

Itulah perlawanan yang sepenuhnya bersandar pada subjektivitas feminin. Perempuan tak harus menjadi orang lain dengan, misalnya, menggunakan simbol-simbol maskulin. Tapi apakah kaum perempuan, setelah membaca tulisan ini, juga akan menuruti omongan saya? Jika iya, berarti mereka untuk kesekian kalinya tunduk pada narasi maskulin. Mengapa?

Sebab, faktanya, saya memiliki phallus!

LEAVE A REPLY