1_0001
Sketch Danang T.P : Meditasi=Ketegangan (Chinesse ink on paper)

Saya sepakat dengan salah satu teman saya, Taufiqurrahman, bahwa pada bulan Desember banyak orang mendadak tidak tahu diri. Bersikukuh mengklaim kebenaran tanpa mengecek terlebih dahulu sejauh mana, secara nalar, pernyataan mereka dapat dipertanggungjawabkan. Mengikuti Immanuel Kant, filsuf besar abad pencerahan, kita sah memanggil orang-orang tersebut sebagai para dogmatis. Orang-orang sotoy yang mengira dapat mengakses pikiran Tuhan.

Namun, jangan salah. Orang-orang dogmatis tidak hanya berasal dari kaum teis, ada juga ateisme yang lahir dari model dogmatis ini. Orang-orang yang merasa bisa menyingkirkan Tuhan dalam sistem logika mereka. Sayang, banyak dari mereka hanya hebat dalam mengganti nama, tetapi tetap kurang canggih dalam mengubah sifat esensialnya.

Mari kita sebut kecenderungan tersebut sebagai ateisme imitatif.[1] Ateisme yang tetap mengakui logika teologis, bahwa ada suatu entitas suci niscaya (rasio, manusia, alam) yang dapat menjelaskan alfa-omega (awal-akhir). Secara eksplisit mereka ateis, tetapi secara implisit mereka masih ber-Tuhan. Ateis model ini problematis; alih-alih mereka mengklaim diri dan pikirannya sebagai penolak teisme, mereka justru hidup dan menghidupkan ruang yang memungkinkan segala bentuk teologi eksis.

Ateisme model ini dihina habis-habisan oleh filsafat kritis. Bagi Kant, pertanyaan tentang Tuhan tidak sah dalam putusan ilmiah. Bukti empirik apapun tidak dapat mengantar kita kepada Tuhan. Tuhan hanya dapat dipikirkan sebagai benda-dalam-dirinya, sebagai sesuatu yang di luar penampakan. Karenanya, sebagai manusia, berbicaralah dari yang-tampak saja. Apa yang tidak tampak sebaiknya dipendam dalam hati.

Kelak, model berpikir seperti ini dipinjam oleh Wittgenstein. “Whereof one can’t speak, thereof must one be silent.” Pada apa yang tidak bisa kita bicarakan sebaiknya diam saja! Sungguh kata-kata yang bijak. Dengan landasan tersebut, Kant, paling tidak baginya sendiri, telah berhasil menyelamatkan iman dari serangan putusan ateisme imitatif. Selama masih ada ruang yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu, di situlah kita masih bisa ber-Tuhan. Dengan kata lain, dalam paradigma kritis, Tuhan sebenarnya adalah kutukan.

Tepat pada titik ini, kita dapat bertemu dengan Quentin Meillassoux. Seorang ateis yang oleh Christoper Waktin disebut sebagai pemikir Post-Teologis. Orang-orang yang berusaha menjadi ateis tanpa terperangkap menjadi teis esensialis. Artinya, berbeda dengan para pendahulunya, para pemikir ateis ini tidak ingin membuang teisme. Sebaliknya, mereka mempekerjakannya, memanipulasinya, dan kemudian menginjaknya dalam-dalam sehingga tidak lagi terjebak dalam persoalan-persoalan imitasi untuk kemudian dapat benar-benar lepas dari Tuhan.[2]

Bisakah Meillassoux melepaskan kutukan tersebut? Mari kita lihat. Semoga tulisan ini dapat menjadi penghibur di saat film-film Natal sedang istirahat atau di saat kita sudah bosan dengan Natal yang ber-Tuhan.

***

Bagi yang sudah lupa, Meillassoux adalah filsuf Prancis yang naik daun akibat buku babonnya yang berjudul Setelah Keterhinggaan: Sebuah Esai tentang Keniscayaan Kontingensi (2006).[3] Bagi saya, dia adalah filsuf yang menarik. Di saat orang berbicara tentang keterhinggaan, batas-batas manusia, entah dalam ketidakmampuan melihat realitas tak teramati atau pada otentisitas subjek, dia justru berusaha memalu batas keterhinggaan itu untuk mencapai yang absolut.

Pikiran saya saat menerawang Meillassoux selalu dipenuhi scene animatif seorang narapidana yang baru saja keluar dari penjara diam-diam lewat pintu belakang. Namun, dalam pelariannya, dia terdiam lama saat melewati pantai. Begitu luasnya cakrawala dunia, mungkin begitu pikirnya. Di sana, alih-alih tertegun tanpa pikiran, dia justru mengembangkan imajinasinya untuk memeluk cakrawala, horizon tersebut. Saat seseorang keluar dari garis keterbatasan, yang dia temukan hanyalah ketakterhinggaan. Ketakterhinggan: sebuah penanda bahasa yang dalam dirinya sendiri merujuk pada ketidakmampuan manusia melakukan penghinggaan atasnya.

Dihadapkan dengan persoalan seperti itu, Meillassoux melawan. Ada kecenderungan yang harus dia bongkar untuk melawannya. Meillassoux menyebutnya dengan relativisme dan agama. Walaupun keduanya sering bertengkar, bagi Meillassoux, asumsi mereka sama. Keduanya bertumpu pada kontingensi. Hanya saja, saat yang satu berbicara dalam konteks linguistik, bahwa setiap kebudayaan memiliki nilai kebenaran yang berbeda dan tidak dapat disatukan, yang satunya lagi berbicara tentang tidak ada yang absolut karena Tuhan memiliki hal yang tidak kita punya.

Berbeda dari anggapan orang, saat banyak yang menyangka bahwa relativisme dan agama saling menjatuhkan, bagi Meillassoux relativisme justru mendukung penuh keistimewaan akses agama. Dengan hilangnya kemampuan nalar untuk mencapai yang absolut, cara satu-satunya agar manusia dapat mencapai yang absolut adalah dengan penyingkapan.

Tepat pada titik ini, Meillassoux melihat kegagalan ateisme. Terutama model residual yang mengosongkan benda-dalam-dirinya dengan dasar kematian metafisika. Saat metafisika dibunuh, ateisme tidaklah membunuh Tuhan. Mereka justru membukakan rumah bagi religiusitas. Taufiqurrahman, salah satu sahabat saya, justru adalah orang yang paling bergembira dengan hal ini. Saat Tuhan rasional telah dibunuh, siapa yang bisa menyangkal bahwa mistisisme itu salah. Tidak ada! Karena rasionalitas memiliki batas, mistisisme pun menjadi tidak terbatas.

Jadi, dengan ini, kita bisa melihat kesamaan tujuan antara Meillassoux dan para idealis. Mereka bersandar pada keinginan yang sama. Menghabisi benda-dalam-dirinya. Hanya saja, jika para idealis membuang benda-dalam-dirinya, Meillassoux justru masuk dan meluaskan cakupannya. Memaksanya hingga tidak ada yang tidak tercakup di dalamnya. Saat tidak ada yang di luar rasionalitas, Meillassoux bisa membuang religuisitas. Tapi sekali lagi, bisakah?

***

Saya mengajak kita semua untuk kembali melihat argumen Meillassoux tentang faktialitas. Poin penting prinsip ini adalah tidak ada entitas yang niscaya. Jika ini kita identifikasikan dengan Tuhan, maka Dia tidak pernah ada. Bagi Meillassoux, kesalahan terbesar dari metafisika spekulatif, sebelum dia, adalah mengandaikan satu entitas niscaya, abadi, tidak berubah, dan stabil.

Pengandaian tersebut tidak mungkin, karena tidak ditopang oleh apapun di luarnya. Jauh sebelum Meillassoux, kritik serupa pernah dikumandangakan oleh Sartre. Baginya, kepercayaan pada entitas awal yang niscaya adalah bentuk ketakutan atas dunia yang absurd. Tidak ada yang disebut entitas awal, karena setiap alasan membutuhkan alasan lainnya. Tapi kita tidak berbicara Sartre, mari kembali ke Meillassoux.

Untuk masuk dalam argumen ini lebih dalam, atau lebih tepatnya secara epistemologis, kita perlu melihat, pada konteks apa prinsip faktialitas ini menjadi sah. Bagi Meillassoux, apa yang perlu kita lakukan adalah mengabsolutkan prinsip para korelasionisme model kuat. Siapa mereka? Mereka adalah para postmodernis. Orang-orang yang dapat mengalahkan para idealis dengan argumen faktisitas. Suatu pandangan yang mengatakan bahwa kita terbatas oleh horizon subjektivitas, sehingga mengabsolutkan sesuatu adalah hal yang terlarang. Kita hanya bisa menelanjangi suatu keadaan dalam konteks, waktu, dan situasi tertentu.

Apa yang dahsyat dari para korelasionisme model kuat ini adalah afirmasinya, walaupun tidak percaya pada yang absolut, terhadap faktisitas berlaku secara universal. Dengan demikian, bagi para korelasionis, tidak ada yang universal kecuali faktisitas. Tidak ada yang pasti selain keterbatasan kita (untuk lebih jelasnya silahkan lihat artikel saya sebelumnya yang membahas relasi korelasionisme dengan Meillassoux).

Meillassoux melihat bahwa argumen tersebut kurang radikal. Jika ingin diabsolutkan lagi, ada satu prinsip yang tersembunyi di dalamnya tanpa perlu terjebak menjadi idealis. Idealis menjadi berbahaya karena mereka tetap mengabsolutisasi entitas niscaya, padahal, tanpa hal yang menopang dirinya dari luar, kita sudah melihat bahwa hal tersebut tidak mungkin. Artinya, ada syarat yang memungkinkan prinsip faktisitas itu bisa ada. Prinisip itulah yang oleh Meillassoux disebut sebagai prinsip faktialitas. Prinsip yang menarik faktisitas tidak hanya sebagai fakta, tetapi sebagai pengetahuan positif yang absolut.

Konsekuensinya, tidak ada entitas niscaya selain kontingensi. Kontingensi di sini perlu dibedakan dari kontingensi sebelumnya. Kontingensi sebagai satu-satunya yang niscaya adalah suatu Gila-Kacau (Hyper-Chaos), suatu super kontingensi. Saat kontingensi ‘biasa’ berarti kekacauan, random, atau kemenjadian segala sesuatu, super kontingensi adalah radikalitas yang bahkan bisa menghancurkan kekacauan, ke-random-an, dan kemenjadian tersebut.

Saya perlu memperjelas term ini. Karena tafsir atas pernyataan tidak ada entitas niscaya selain kontingensi dapat bermacam-macam.

1) Keniscayaan kontingensi tidak menggantikan hukum alam. Ini karena, keniscayaan kontingensi bukanlah keniscayaan dari hukum menjadi, melainkan keniscayaan dari kemenjadian waktu. Dalam salah satu artikelnya[4], Meillassoux menjelaskan hal tersebut sebagai pembalikan Platonik. Saat Plato mengatakan bahwa yang tetap adalah yang nyata, Meillassoux membaliknya. Baginya, justru, yang tetap adalah ilusi. Di balik yang tetap, ada sebuah kontingensi radikal.

2) Kontingensi bukanlah kekacauan biasa atau ketiadaan, dan bagi Meillassoux, ada banyak koneksi di antara sesuatu di dunia ini, hanya saja mereka tidak niscaya. Saat berbicara tentang gravitasi, kita tidak berkata bahwa hukum tersebut salah, kita hanya tidak memiliki kebebasan untuk mengatakan bahwa mereka niscaya.

3) Walaupun kontingensi adalah suatu kemungkinan murni, atau dalam bahasa saya, sesuatu yang Gila-Kacau (Hyper Chaos), kontingensi tetap tidak dapat menjadi apa saja, dalam artian dia bisa menjadi tidak Gila-Kacau, karena Gila-Kacau diatur dengan hukum non-kontradiksi. Dengan demikian, bermodalkan prinsip non-kontradiksi, yang mengatakan bahwa A adalah A dan bukan B, Gila-Kacau dapat diakses. Ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ada secuil kestabilan dalam kontingensi. Kontingensi, dengan prinsip non-kontradiksi, bukan sekedar kekacauan anarkis. Sebaliknya, ia adalah suatu logos kontingensi.

Jika kita sulit membayangkan dunia yang dirasionalisasi oleh Meillassoux, dia memberikan contoh yang menarik. Dalam matematika ada suatu aksioma yang dinamakan geometri Euclid. Bunyi dari hukum tersebut adalah hanya ada satu paralelitas dari setiap satu sudut titik. Namun, berabad-abad sesudahnya, Lobachevsky mengatakan bahwa tesis tersebut salah dan dimungkinkan untuk menarik banyak garis dari suatu titik pararel dengan garis originalnya.

Awalnya, orang-orang akan menyangka bahwa geometri tersebut akan berkontradiksi dengan geometri Euklid. Namun, ternyata tidak. Lobachevsky, justru menemukan geometri yang sama konsistennya dengan Euklid. Bagi Meillassoux, itulah yang akan terjadi pada kita. Sedikit demi sedikit kita akan mengetahui bahwa ada dunia yang a-kausal, dan itu sama konsistennya dengan dunia kausal kita. Saat kita berpindah—dengan rasionalitas—dari dunia kausal menuju dunia a-kausal, tidak akan ada yang hilang selain enigma. Sungguh percaya diri sekali Meillassoux ini.

Apa yang terjadi saat sistem ini diterapkan pada Tuhan? Bagi Meillassoux hal tersebut tidak lain adalah pengakuan atas Tuhan yang ‘ineksis’. Ineksis bukan berarti Tuhan tidak ada, melainkan Tuhan tidak ada sejauh itu dipahami sebagai entitas niscaya. Tuhan, dengan demikian tidak eksis, tetapi dengan prinsip faktialitas, dapat eksis suatu saat nanti. Tuhan adalah salah satu penghitungan kemungkinan.

Apa yang membuat pandangan ini berbeda dari pandangan ketuhanan yang lain? Pertama, paling tidak pandangan ini tidak terjerumus ke ateisme imitatif. Mengapa? Karena Meillassoux membuat logika yang berbeda dengan prinsip teologi. Dengan realitas kontingensinya, tidak ada entitas niscaya, dengan kata lain, tidak ada yang menggantikan keniscayaan Tuhan dogmatis. Dengan begitu, Meillassoux lulus ujian pertama. Namun bagaimana dengan bayangan dari benda-dalam-dirinya? Untuk itu kita perlu sedikit melihat logika internal dari ateisme residual.

Ateisme residual merupakan penolakan terhadap segala bentuk dunia supra sensibel platonik. Artinya, Tuhan kebaikan, Tuhan manusia, Tuhan matematika, selama itu di luar secara mandiri dari perspektif manusia, harus ditolak. Argumennya adalah horizon cakrawala manusia. Namun, masalah dari ateisme model ini, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tidak benar-benar membuang dunia supra tersebut. Apa yang ditolak adalah akses rasional ke ruang tersebut. Itu tidak mengandaikan apa-apa bahwa Tuhan memang tidak ada. Dengan demikian, jika ateisme imitatif terjebak pada permainan kata, ateisme residual terjebak pada akses pada hal yang ditolaknya.

Bagaimana dengan Meillassoux? Problem itu diantisipasi dengan kontingensi juga. Artinya penolakan Meillassoux terhadap Tuhan hanya pada Tuhan sebagai entitas yang niscaya. Tuhan dapat hadir suatu saat sebagai kemungkinan virtualitas dari kontingensi. Inilah yang dimaksud Meillassoux, bahwa filsafat harus percaya pada Tuhan justru karena dia tidak ada, dan karenanya dia dapat ada.

Bagi Meillassoux, saat kita berbicara tentang Tuhan, selalu ada empat kemungkinan yang menghantuinya. Namun, sejarah mengatakan bahwa hanya tiga dari empat kemungkinan tersebut yang dieksploitasi.

Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa kita tidak dapat percaya Tuhan karena Dia tidak ada. Pandangan ini identik dengan mengganggap pengakuan atas eksistensi Tuhan sebagai hal yang menjijikkan, salah, lemah, dan kotor. Kedua, orang yang percaya Tuhan justru karena Dia eksis. Saya rasa tidak perlu ada elaborasi lebih lanjut mengenai posisi ini. Ketiga, Luciferian, tidak percaya Tuhan, walaupun Tuhan ada. Ketidakpercayaannya ini adalah bentuk yang dibangun oleh rasa dendam. Dan terakhir, adalah posisi Meillassoux, posisi kepercayaannya pada Tuhan karena Dia tidak ada.

***

Pada paragraf pengantar saya bertanya, mampukah Meillassoux melepas kutukan Tuhan dalam pemikirannya. Jujur, tanpa bantuan Watkin sulit untuk melihat kontradiksi ketuhanan dalam pemikiran Meillassoux. Saya akan menjawab hal tersebut dengan mengajukan pertanyaan terminologi. Satu saja sudah cukup, karena itu sudah membuktikan bahwa argumennya rapuh.

Apa itu yang niscaya? Yang niscaya adalah kontingensi. Dialah satu-satunya yang membuat Tuhan menjadi ineksis. Tuhan kita percayai sebagai kemungkinan. Tetapi, sayang, bagi saya tidak. Jika konsekuen dengan apa yang dikatakan Meillassoux, seharusnya, pikiran, logika, dan cara kita melakukan diferensiasi, juga kontingen. Namun kenyataannya tidak. Meillassoux tidak mengantisipasi bahwa logikanya bisa saja kontingen. Bisa berubah secara hyper. Artinya ada yang niscaya selain kontingensi dalam pemikiran Meillassoux. Tapi bukankah yang niscaya selain kontingensi tidak diperbolehkan?

Meillassoux mengkritik pembagian yang-satu dan yang-banyak dari Badiou sebagai kegagalan berpikir, karena membiarkan kategori-dikotomis yang niscaya masih ada dalam pemikirannya. Namun jika kita lihat, bukankah diferensiasi antara filsafat dan yang bukan filsafat dalam pemikiran Meillassoux juga menunjukkan suatu keniscayaan di luar kontingensi. Artinya masih ada Tuhan selain kontingensi dalam pemikiran Meillassoux.

Beberapa bulan ini saya cukup terpukau dengan pemikiran Meillassoux. Tapi, saya rasa dia masih belum cukup kuat untuk dijadikan panutan. Sebenarnya, kita bisa menemukan implikasi etis dari pemikiran ke-Tuhanannya, tapi bagi saya gagasan tersebut juga semakin sulit dipertahankan dan semakin kabur.

Beruntung, saya mencoba melihat pemikirannya dari segi ke-Tuhanan, karena jika tidak, sulit rasanya menemukan kontradiksi Meillassoux dalam hal penuhanan kontingensi di atas keniscayaan. Lewat kerangka pemahaman teologis terlihat secara tidak langsung bahwa ada yang niscaya di luar kontingensi, yakni akses ke kontingensi itu sendiri. Selama Meillassoux belum dapat menjelaskan, atau membuktikan, suatu cara berpikir yang kontingen, kita sah untuk meninggalkannya. Dalam artian, kita dapat secara sah menolak kesimpulan yang mengatakan bahwa: Tuhan tidak ada dan dapat ada sebagai kemungkinan.

Namun bukan berarti bahwa pemikiran Meillassoux tanpa kontribusi. Pemikirannya tentang persamaan relativisme dan agama tidak boleh dibuang begitu saja. Hanya saja, untuk kasus yang satu ini, kontribusinya adalah bagi para pemikir ateis.

Selama kita masih menolak Tuhan dengan cara kuno, dengan cara mengosongkan rasionalitas, religiusitas tidaklah hilang. Mereka justru akan semakin nyaman karena disediakan tempat yang tidak bisa diusik oleh rasionalitas (n)akal. Namun, jika kita melawan dengan argumen imitatif, kita harus bisa membuktikan bahwa penalaran kita tidak dogmatis.

Kontribusi besar Meillassoux bagi semangat ateisme masa depan: bisakah kita memikirkan Tuhan rasional yang tidak memberikan sisa pada keniscayaan (benda-dalam-dirinya)? Meillassoux sudah mencobanya, dan sepertinya dia mendapat kesulitan. Nah, sekarang siapa yang mau melanjutkannya?!

Selamat Natal. Tuhan masih di sana. Dalam diriNya.


  1. Penamaan ini mengikuti Christoper Watkin, Difficult Atheism: Post-Theological Thinking in Alain Badiou, Jean-Luc Nancy and Quentin Meillassoux (Edinburgh, Edinburgh University Press, 2011).
  2. Ibid., 14.
  3. Penulis menggunakan terjemahan bahasa Inggrisnya yang telah diterjemahkan oleh Ray Brassier, After Finitude; an Essay on Necessity of Contingency, New York, Continuum, 2008.
  4. Sebagaimana dikutip C. Watkin, 143.
Facebook Comments