ilustrasi (sumber: https://www.blessedmart.com/shop/hand-painted-icons/hospitality-of-abraham-holy-trinity/)

Manusia adalah salah satu spesies penghuni bumi yang masih ada hingga saat ini. Mereka juga merupakan salah satu pembentuk peradaban atau bisa juga hasil dari peradaban yang berangsur dari kemunculannya, yang secara mandiri dari sejarah satwa, pada 7 juta SM. Mereka menciptakan pelbagai perubahan; kebiasaan dari pemburu-pengumpul ke menetap agrikultur; menciptakan perkakas batu, tongkat dan sejenisnya untuk bertahan hidup, seni yang terukir di gua, sistem penulisan dan pranata sosial-budaya-agama—hingga kemajuan saat ini.

Ada satu hal yang paling mendasar dari manusia, barangkali merupakan salah satu hal dari hal lain, yaitu hasrat ingin mengetahui dirinya sendiri dan sekitarnya. Pengetahuan akan diri inilah yang menjadi salah satu tujuan dari filsafat, oleh sebab itulah Aristoteles mengatakan bahwa manusia merupakan hewan yang berpikir (Homo est animal rationale). Ia juga mengatakan bahwa hasrat untuk mengetahui membawa implikasi ke dalam bentuk pengetahuan dan perbedaan banyak hal.

Namun, pada praktiknya, agama justru melahirkan banyaknya kekerasan, kekejaman, perang dan pembunuhan daripada ide yang hendak dibawanya sebagai misi pembebasan.

Dalam sejarah dan juga budaya kita bisa menemukan bahwa pengetahuan mengenai “diri” dan juga “luar-diri” tersebut berasal dari sesuatu yang ada di luar manusia, sebab mereka menganggap terdapat sesuatu yang mendahului dan melampaui manusia. Karen Armstrong, di dalam bukunya Sejarah Tuhan, mengatakan bahwa manusia (Homo Sapiens) merupakan makhluk spiritual (Homo Religiosus), dari sini pulalah mereka akan menciptakan agama sebagai seperangkat aturan bersama.

Menurut Karen Armstrong, manusia pada saat itu mulai menyembah dewa-dewa, kemudian mereka menciptakan agama-agama yang bersamaan ketika mereka menciptakan karya seni. Ekspresi yang dilakukan oleh manusia-awal, menurut Karen Armstrong, tidak lain merupakan sebuah bentuk dari ketakjuban akan dunia yang penuh misteri sekaligus indah.

Pernyataan di atas diperkuat oleh  Wilhelm Schmidt dalam The Origin of the Idea of God. Schmidt mengatakan bahwa pada manusia-awal mereka telah menyembah satu tuhan (monoteis) sebelum mereka menyembah dewa-dewa (politeis). Sementara  Rudolf Otto mengatakan bahwa rasa tentang yang-gaib adalah dasar dari agama. Kekuatan yang-gaib ini pula yang dirasakan berbeda-beda oleh tiap pengikutnya. Selain itu, sejarah mencatat bahwa agama sebagaimana seni awal muncul merupakan sebuah “alat” untuk menemukan makna kehidupan dan stabilitas sosial. Terlebih agama merupakan upaya dari manusia untuk menjawab hakikat dari realita, mengontrol perilaku, dan memberikan perasaan aman serta daya imajinatif. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa monoteis, politeis, seni dan agama merupakan bentuk tertua dari ekspresi dari manusia-awal guna menjawab dan menjelaskan misteri, tragedi kehidupan.

Jika kita sepakat dengan para pemikir di atas, jelas bahwa dalam kehidupan beragama sehari-hari, praktik keagamaan seharusnya tidak mengedepankan emosi, melainkan mengedepankan toleransi. Sebab agama ada  sebagai sarana, fungsi untuk memberikan jawaban-jawaban bagi para pemeluknya dan yang terpenting adalah adanya kesamaan di dalam satu komunitas atau kelompok yang memiliki nilai bersama tersebut. Setidaknya hal tersebutlah yang menjadi ciri esensial agama yang dapat membawa pemahaman kepada kita bahwa tiap-tiap komunitas agama memiliki ciri-ciri: keyakinan terhadap adanya yang-sakral dan yang-profan, ritual-peribadatan, dan komunitas penganut.

Sikap berpaling kepada agama guna menjawab pelbagai masalah yang dihadapi kerap terjadi di Indonesia. Bahkan, membedakan anatara bagian yang tampak dan tak-tampak dari sebuah fenomena merupakan suatu hal yang sulit, sebab keduanya selalu dicampur-adukkan dan batas di antaranya amat tipis. Sebenarnya tindakan seperti itu bisa diminimalkan kemungkinannya apabila kita mengenal ciri-ciri dari agama, fungsi agama, dan perannya di dalam kehidupan manusia.

Agama dan Kemunculannya

Sejarah kemunculan agama-agama di dunia merupakan bentuk dari upaya pembebasan. Menurut pemaparan di atas kita bisa melihat bahwa kemunculan agama merupakan bentuk ekspresi imajinatif manusia-awal di dalam kesehariannya, terutama agama Abrahamik. Kita bisa lihat figur dari Musa yang berupaya membebaskan masyarakat Yahudi pada saat itu dari penguasaan Firaun. Kemudian Isa yang membawa misi untuk membebaskan kaumnya dari kekangan raja romawi, dan Muhammad untuk menolong dan mengubah kondisi masyarakat (jahiliyyah) Mekkah yang kemudian juga Madinah. Serta Ibrahim yang dilahirkan untuk memberi ‘harapan’ pembebasan dari ketertindasan yang terjadi pada saat itu oleh raja Namrud. Terlihat bahwa isi agama Abrahamik memiliki muatan kemanusiaan yang amat kuat, yaitu mengubah kondisi masyarakat yang tertindas dan membawa konsep dunia yang ideal. Sementara agama sebagai ekspresi imajinatif menekankan bentuk penghayatan dari yang tampak bahwa ada sesuatu di balik itu semua.

Namun, pada praktiknya, agama justru melahirkan banyaknya kekerasan, kekejaman, perang dan pembunuhan daripada ide yang hendak dibawanya sebagai misi pembebasan. Alasan utamanya, adalah tiap bentuk agama membawa “kebenaran” satu-satunya untuk diterapkan di dunia saat-ini, kekerasan tersebut berupa atas nama: “perang suci”, “membela Tuhan”, dan membela kelompoknya. Jarang kita mendengar, khususnya (beberapa) di Indonesia, para agamawan membela sisi kemanusiaan tanpa mementingkan mengenai yang-sama. Padahal jika kita lihat kembali dimensi yang ada di dalam agama justru bukan hanya menyoal perihal dunia “di sana”, akan tetapi ada juga dimensi “di sini”, kekinian yang dekat dengan sisi kemanusiaan, tidak hanya soal ilahi.

Kecenderungan seperti ini tidak lain merupakan konsekuensi dari doktrin yang menyebut bahwa di dalam agama sudah terkandung seluruhnya….

Inilah yang menjadi salah satu, menurut Karen Armstrong, alasan kenapa agama tampak tidak relevan, khusunya di negara-negara maju. Alasannya, karena saat ini kita tidak memiliki rasa akan ke-sakral-an atau sisi yang-gaib dari agama. Karena kultur dari negara maju itu mengedepankan kultur ilmiah, bukan seperti dunia (kuno) Timur Tengah, atau juga Indonesia, yang masih memiliki “kepekaan” terhadap sesuatu yang “spiritual”, “gaib”, “suci” bagaikan kulit dan daging di dalam tubuh manusia. Tidak jarang bagi para pemeluk agama ini mengandalkan kesehariannya ke dalam agama sebagai pegangan, mengingat dunia yang ada selalu berubah dan beberapa pemeluk agama, ataupun sebagian orang selalu memiliki dunia yang ideal daripada kenyataan itu sendiri dan kerap terjebak ke dalam bentuk masa lalu.

Dalam konteks Islam kita bisa melihat dunia yang di-ideal-kan dalam keseharian, yang berarti segala fenomena harus diislamkan. Misalnya ekonomi Islam, perbankan Islam, negara Islam, bahkan sampai ke perumahan Islam. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap suatu sistem, sebab tidak jarang sebagian kelompok di Indonesia mengedepankan masa kejayaan masa lalu Islam yang ada di seberang sana yang bahkan cenderung telah berlalu dan berharap untuk bisa direalisasikan. Bentuk idealisme tersebut tidak jarang datang dari “instansi-instan” guna mempertahankan status-quo dari masyarakat untuk tetap mengikuti sistem yang ada dengan sedikit modifikasi berbalut agama.

Begitulah nasib agama dewasa ini, kehadirannya seperti obat yang jika diperlukan dan digunakan sesuai dosis yang pas, maka ia akan baik-baik saja. Sebaliknya, jika dosis yang diberikan berlebihan, justru akan menimbulkan masalah. Kecenderungan seperti ini tidak lain merupakan konsekuensi dari doktrin yang menyebut bahwa di dalam agama sudah terkandung seluruhnya; tujuan hidup tiap manusia; moralitas; masa depan; ilmu-ilmu; bahkan sampai hal yang ditemukan secara baru, dianggap telah ada dan sudah tercatat di dalam agama.

Keberagaman dan Sifat Keterbukaan

Tidak ada yang lebih buruk daripada mereka yang mengukuhkan hari esok, sekalipun mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi. Oleh sebab hari esok adalah misteri, maka sikap yang perlu kita utamakan adalah keterbukaan. Apabila sifat dari keterbukaan diterapkan ke dalam kehidupan beragama kita saat ini, yaitu menjauhi sifat ego-sentris dan kesamaan kelompoknya, maka akan sangat mungkin kekerasan antar penganut agama, khususnya antara kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas, yang selama ini sering terjadi akan berkurang, terlebih jika menyangkut persoalan kebenaran. Sebab hal tersebut akan memunculkan kemungkinan timbulnya memonopoli ‘kebenaran’. Alasannya jelas, bahwa secara ciri, fungsi, dan definisi semuanya berada di tataran yang sama, tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lainnya.

Selain itu, “perang” sejatinya adalah upaya melawan musuh yang berbentuk kebodohan, kemiskinan, dan ketidaksejahteraan. Tidak akan ada lagi diskriminasi terhadap yang-lain. Dengan demikian, agama dan pemeluknya harus ditarik ke titik terjauh, ke dalam suatu bentuk yang belum terpikirkan. Sebab kita tahu bahwa nyatanya realitas sosial dan kehidupan beragama kita masih menyimpan banyak masalah yang telah mengendap.

…yang diperlukan adalah membaca kembali literatur-literatur agama masing-masing, mulai dari kemunculannya hingga saat ini, sebagai bentuk penghayatan akan yang Ilah, goib, dan membebaskan pemujaan atas bentuk tafsiran tunggal….

Charles Kimball, dalam bukunya Kala Agama Jadi Bencana, mencatat terdapat lima sebab agama dapat menjadi bencana. Pertama, apabila agama mengedepankan klaim kebanaran secara mutlak, maka ia tidak menyisakan sedkit pun ruang kebenaran kepada kelompok agama lain. Pada saat itu juga agama berubah menjadi Tuhan yang selalu diagung-agungkan dan disembah. Dengan kata lain, para pemeluk agama bukan lagi menyembah Tuhan, tetapi menyembah agama.

Kedua, ketaatan buta kepada seorang pemimpin agama yang dianggap mempunyai otoritas. Ketiga, ketika pemeluk agama merindukan zaman ideal dan berusaha untuk merealisasikannya dengan negara agama. Keempat, apabila agama membiarkan terjadinya tujuan yang menghalalkan segala cara. Kita tahu hal ini yang akan menimbulkan anggapan untuk membela agama, bahkan tega untuk membunuh atas nama kesucian agama. Akhirnya inilah yang akan menimbulkan kekerasan identitas, kekerasan terhadap yang-lain.

Kelima, ketika perang suci atas nama agama digaungkan, maka yang tersisa hanyalah korban-korban dari peperangan yang mengatasnamakan perang suci. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah membaca kembali literatur-literatur agama masing-masing, mulai dari kemunculannya hingga saat ini, sebagai bentuk penghayatan akan yang Ilah, goib, dan membebaskan pemujaan atas bentuk tafsiran tunggal yang berimplikasi kepada ketimpangan dan ketidakadilan secara sosial dan politik.

Penutup

Sudah semestinya tindakan keagamaan kita hari ini tidak bersifat eksklusif dan menafikan kehadiran dari para pemeluk agama lain. Sebab tindakan yang dibutuhkan di dalam masyarakat—meminjam ungkapan Habermas—pasca-sekular ini adalah sikap saling belajar untuk mengerti posisi partner diskursus. Dominasi mayoritas tidak boleh menjadi penindasan, terutama dominasi agama mayoritas tidak boleh mengabaikan peran pemeluk agama lain, sekalipun yang tidak beragama. Sebab dari hal tersebutlah keakraban di antara para pemeluk agama di dalam negara dapat dipertemukan tanpa adanya suatu pembatasan kebenaran.

Tidak ada jalan lain, kita harus keluar dari batasan-batasan yang didasarkan atas pembacaan-pembacaan yang telah dilakukan oleh pendahulu mengenai suatu nilai pada zamannya. Menyelesaikan permasalahan kemanusiaan yang sesuai dengan zaman kita saat ini, hanya bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari eksklusivisme. Bukan berangkat dari masa kejayaan waktu lampau, melainkan berangkat dari kondisi kenyataan masyarakat. Dari situ pula agama harus tampil secara terbuka dan membiarkan dirinya berkomunikasi dengan agama-agama lain serta tidak menawarkan akhir-kebenaran untuk saat ini.

 


Daftar Pustaka

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, cet, ke-XVII (Bandung: Mizan, 2017)

Cassirer, Ernst, An Essay On Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture, (New York: Yale University Press, 1944)

Diamond, Jared, Guns, Germs & Steel: Bedil, Kuman, & Baja, cet, kelima (Jakarta: KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018)

Fasya, Teuku Kemal, dkk, Kata & Luka Kebudayaan: Isu-Isu Gerakan Kebudayaan & Pengetahuan Kontemporer, ( Medan: USU Press, 2006)

Facebook Comments