Sumber: www.emaze.com

chomsky

Judul:  How the World Works
Penulis:  Noam Chomsky
Penerbit:  Bentang Pustaka
Cetakan  Pertama, Februari 2015

Pada Mulanya Komunisme

Larangan penayangan film Senyap karya Joshua Oppenheimer beberapa saat yang lalu oleh TNI AD justru membuat film dokumenter ini semakin menggelitik rasa penasaran kita untuk menontonnya. Film dokumenter tersebut seakan membawa penonton mengenang kejamnya genosida yang memakan korban jutaan jiwa di negeri kita tahun 1965. Bukan hanya pegiat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ‘dibasmi’ pada tahun itu, melainkan seluruh elemen yang berkaitan dengan Komunisme juga turut dilenyapkan. Bahkan petani dan orang-orang yang berada di perkampungan pelosok Indonesia yang tidak mengerti siapa itu Marx, Marxisme, apalagi paham tentang Komunisme, tak luput menjadi korban.

Diangkatnya kembali kisah pembasmian tersebut oleh Joshua justru mendapat tentangan dari beberapa instansi pemerintah, karena dianggap membuka luka lama, berpotensi mengancam stabilitas negara. Larangan pemutaran film Senyap entah untuk menyembunyikan luka mendalam keluarga korban, atau menutupi kebohongan sejarah Orde Baru kita tidak tahu pasti. Yang jelas pembantaian komunis merupakan suatu tragedi kemanusiaan.

Menolak Komunisme

Pertentangan dengan Komunisme tidak lepas dari akibat perang dingin. Kubu Barat yang berbasis kaum kapitalis-liberal (pemilik modal) berusaha menggunakan cara-cara politis untuk menekan penyebaran paham Sosialis-Komunisme dari Uni Soviet. Senjata yang digunakan orang-orang kanan untuk menyerang Komunisme adalah demokrasi. Paham demokrasi menjadi ramuan kaum kapitalis untuk meruntuhkan Komunisme secara perlahan mulai dengan menanamkannya di negara dunia-ketiga. Tujuan kesemuanya adalah menghapus ruang bagi Komunisme, Marxisme, atau gerakan kiri lainnya untuk berkembang.

Alasan bagi para pemodal menolak hadirnya Komunisme karena paham ini dapat berpotensi membatasi ruang gerak mereka dalam menguasai perekonomian dunia. Dalam Komunisme, hak-hak buruh, tani dan pekerja untuk sejahtera dan dapat menikmati hasil jerih payahnya menjadi visi utama. Hal ini yang menjadi ancaman serius bagi pemodal karena selama ini mereka dengan semena-mena memonopoli perusahaan menjadi perusahaan pribadi yang menyebabkan keuntungan terbesar hanya dinikmati pribadi. Buruh dan pekerja yang melakukan aktivitas produksi hanya beroleh lelah ditambah gaji sangat minim.

Padahal pada zaman dahulu, siapa yang melakukan kerja produksi dialah yang mendapat sepenuhnya hasil keuntungannya. Jika dilihat dari fakta historis, kaum kapitalis—Tan Malaka menyebutnya kaum hartawan—muncul bersamaan dengan kaum tani, tukang, dan bangsawan pada masa perniagaan awal yang masih lemah. Sebab peperangan, kaum bangsawan di negeri pemenang menjadi semakin besar kekuasaannya. Semakin besar negeri tersebut, semakin besar pula kekuasaan raja dan bangsawan. Pada puncaknya, para bangsawan justru menjadi musuh bagi kaum dagang (kapitalis) karena mereka menekan kaum dagang dengan pajak yang penentuannya sewenang-wenang. Akhirnya kaum dagang mulai membentuk serikat guna melawan otoritas bangsawan. Dengan bantuan kaum tani dan buruh, pada 1789, kaum dagang berhasil merebut kekuasaan atas politik dan ekonomi di Perancis. (Tan Malaka, 1926: 9-12)

Pasca kemenangan kapitalis dan mereka menguasai kekuatan politik, ternyata industri perniagaan semakin maju didukung perkembangan IPTEK. Mulai muncul mesin-mesin dan alat produksi jenis baru yang dapat bekerja lebih efektif. Semenjak kemunculan mesin, posisi buruh menjadi tidak begitu strategis dalam kegiatan produksi karena lambat dan terbatasnya kemampuan manusia. Turunlah harga tawar buruh di mata kapitalis, para buruh dan tani menggarap faktor produksi orang lain harus mengemis untuk pekerjaan dan mereka rela dibayar rendah. Dari sini benih-benih pertentangan tumbuh antara kaum kapitalis dan kaum buruh serta tani. (Tan Malaka, 1926: 13-14)

Pendukung Marxisme yang nantinya mewujud Komunisme dalam tataran politis, menjadi pihak yang paling mendukung emansipasi kaum buruh dari jerat kapitalisme. Mereka yakin bahwa secara alamiah, kekuasaan modal akan runtuh dan digantikan oleh kekuasaan komunal. Layaknya sistem feodalisme dahulu runtuh dan digantikan sistem modal kapitalisme. Dari titik ini jelas bahwa kaum kapitalis memiliki ketakutan pada Komunisme, jika saja sistem komunis menjadi popular di masyarakat maka tidak boleh tidak kuasa modal akan hancur.

Namun sampai detik ini Komunisme belum bisa menggantikan kapitalisme. Kaum pemodal juga belum berangsur runtuh seperti yang diramalkan pemikir-pemikir Marxisme. Bahkan kekuasaan pemodal kian menjadi-jadi, merasuki berbagai sendi kehidupan kita. Aktivitas-aktivitas seperti menonton televisi, berselancar di internet, mengakses media sosial disadari atau tidak adalah bentuk tunduknya kita pada kapitalisme.

Pada Akhirnya Amerika Serikat

Dalam tayangan televisi yang tidak berbayar, kita disuguhi iklan yang luar biasa banyak. Dari iklan itulah kita membayar. Jika kita membeli sebuah benda, kita sesungguhnya tidak hanya membayar sesuai nilai benda tersebut, ada biaya iklan di sana. Di situ letak cengkeraman kapitalis.

Selain televisi, kapitalis juga telah masuk tanpa kita sadari bersama arus globalisasi yang mendera kita tanpa bisa kita hindari. Betul, globalisasi telah mewabah, mengubah cara pandang orang atas dunia. Segala rupa bidang kehidupan senantiasa dikaitkan dengan frame internasional-multibangsa. Term multibangsa pada hakikatnya sekadar upaya penyederhanaan sistem sosio-kultural masyarakat dunia. Lantas setelah menjadi satu masyarakat dapat dengan mudah dikendalikan. Siapa yang mengendalikan? Merekalah para pemilik modal dan CEO korporasi raksasa.

Para pemilik modal dan CEO korporasi raksasa adalah pihak yang bertanggung jawab atas berjubelnya iklan baik di media elektronik, cetak maupun iklan baliho di pinggiran jalan. Iklan-iklan tersebut telah mendoktrin kita secara paksa untuk menjadi konsumtif. Kapitalis kakap pula yang berhasil menjejali kita tontonan sampah. Mereka merupakan segelintir orang dengan kuasa berlebih, mengendalikan opini, mengubah paradigma berpikir, bahkan melumpuhkan intelektualitas. Sialnya banyak dari kita terjebak dalam arus tren adiktif yang mereka buat sebagai alat menjajah. Tapi sadarkah bahwa mereka tidak mungkin bermain sendiri. Mereka perlu relasi yang punya otoritas hukum dan politik seperti para elite pemerintahan. Terutama orang yang otoritasnya berpengaruh luas di seantero dunia.

Kapitalis mustahil menjalankan semua intriknya sendiri, melainkan terpusat di bawah lindungan sang negeri adikuasa Amerika Serikat (AS). Sudah bukan rahasia kalau politik Amerika Serikat selalu pro kepentingan korporasi multinasional dari negeri mereka. Berbagai formula yang disusun oleh elit pemerintahan AS juga tidak luput dari tangan-tangan kepentingan para pemilik modal. Dalam catatan sejarah pasca Perang Dunia Dua banyak negara—terutama sebagian Eropa yang telah maju—mengalami kemunduran akibat dampak perang. Tapi hanya AS, negara yang teritorinya tidak terkena serangan. Selain itu geliat ekonomi dalam negeri mereka juga stabil, di samping merebaknya industrialisasi berbasis IPTEK.

Alhasil AS menjadi satu-satunya negara yang beroleh kemajuan pesat pasca Perang Dunia Dua. Dari situ AS mulai menjadi pemain utama di panggung politik dunia. Dengan posisi yang sangat menguntungkan tersebut, menjadikan AS sebagai tempat yang sesuai untuk pertumbuhan perusahaan dan korporasi. Di sinilah kekuasaan modal mulai mengakar menjadikan AS sebagai pusat perputaran modal dunia. AS kini tak lebih sebagai negeri zombi yang dikendalikan CEO di balik layar pemerintahannya.

Dengan pengaruh modal yang teramat besar di AS, menjadikan negara ini angkuh. AS justru tumbuh menjadi negeri yang teramat proteksionistis dan preventivis. Setiap muncul pemain politik baru di kancah global tak segan AS melakukan pembasmian. Tak lain contohnya Komunisme Soviet. Bahkan sudah bukan rahasia kalau pembantaian massal yang terjadi di Indonesia tahun 1965 oleh Jenderal Suharto juga di bawah pengaruh kaum modal AS. (Chomsky, 2014: 53).

Kudeta oleh Suharto yang kemudian disambung dengan pembantaian massal tersebut justru mendapat sambutan positif dari media barat. Tak kurang sebutan sepercik cahaya di Asia disematkan ke Suharto yang katanya moderat itu. Sosok yang moderat bagi Barat ini adalah orang yang telah menghabisi jutaan nyawa rakyatnya sendiri saat mengkudeta kekuasaan legal. Sosok tersebut pula yang telah menghabisi 700 ribu orang saat invasi ke Timor Leste. Suharto tidak memainkan peran antagonisnya sendiri, invasi yang dilakukannya di Timor Leste merupakan pelaksanaan dari persetujuan yang dibuat Indonesia dan Australia untuk mengeksploitasi sumber minyak. Nantinya perusahaan yang melakukan operasional pengeboran tersebut adalah perusahaan Amerika. Makanya AS juga turut andil menyumbang pasokan senjata pada invasi Suharto. (Chomsky, 2014: 54)

Teknik yang dipakai AS selalu sama, yaitu menggunakan cara propaganda. Pada kasus ancaman kapitalisme, dilema terjadi di tataran yang lebih luas. Ketika momentum runtuhnya Soviet terjadi, berarti runtuhnya ideologi Komunisme di seluruh dunia, dapat disebut pula kemenangan besar kapitalisme. Namun AS tidak akan berhenti sampai pada runtuhnya komunis, jika itu dilakukan akan sulit bagi AS untuk menerapkan kebijakan luar negerinya. Dalam setiap kebijakan, harus ada semacam konsep musuh bersama agar mempermudah pembentukan opini publik dan mempercepat konsensus agar dapat melancarkan jalannya kebijakan luar negeri yang menyangkut banyak negara.

Pasca runtuhnya Soviet, tidak kurang akal, dihidupkanlah kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis Islam. Kelompok seperti Al-Qaeda maupun ISIS masih menjadi perdebatan tentang siapa sebenarnya aktor intelektual di balik gerakan yang seolah membawa semangat agama tersebut. Apakah mereka benar-benar kelompok fundamentalis atau hanya kelompok buatan AS. Alasan kuat mengapa ada tuduhan pada AS karena di balik isu politik-keagamaan, ada isu penguasaan sumber daya untuk menguatkan hagemoni AS. Timur Tengah dikenal memiliki cadangan minyak yang amat melimpah, dengan isu semacam Al-Qaeda dapat melicinkan jalan AS melakukan penetrasi politik-ekonomi ke Timur Tengah. Lagi pula dari mana kelompok bawah tanah macam Al-Qaeda dan ISIS mendapat dana dan senjata untuk mengkudeta sebuah instansi negara?

Sikap proteksionistis dan preventivis dari AS ini yang dikritik habis oleh Chomsky. Seorang profesor linguistik MIT kelahiran Amerika yang seketika ia beralih menjadi kritikus media massa dan politik. Aksesibilitas atas dokumen-dokumen penting kebijakan AS disertai analisis linguistiknya yang mumpuni menjadikan kritik Chomsky amat tajam. Dengan gamblangnya dalam How the World Work disajikan pula fakta-fakta sejarah kezaliman AS atas sejumlah negara miskin-berkembang.

Lebih banyak fakta-fakta yang akan Anda baca di dalam buku How the World Work yang merupakan kumpulan dari empat buku seri real story yang diterbitkan sejak 1992 sampai 1998. Chomsky mengakui sendiri ketertarikannya pada Marxisme dan gerakan Anarkisme, tetapi dia juga mengkritik kebobrokan Komunisme Soviet karena tidak jauh berbeda dengan ultra kanan pada akhir tujuannya. Pria yang masuk jajaran penulis dunia yang paling banyak dikutip bersanding dengan Freud, Marx, dan Aristoteles ini menyebut dirinya sebagai alat untuk meraih kekuasaan totaliter. Sehingga ada yang menyebutnya sebagai orang kanan yang berkiblat ke kiri.

Tidak sedikit pendukung kaum kanan menyerang sikap Chomsky yang cenderung Marxis sebagai antek kiri. Aktifnya ia dalam aksi bersama kaum Anarkisme juga memperkuat tuduhan kaum kanan pada dirinya. Sebelumnya pembela kanan meragukan objektivitas Chomsky, namun fakta bahwa Chomsky merupakan kelahiran AS dan menghabiskan hampir seumur hidupnya di sana tidak bisa begitu saja dilupakan. Menurutnya alasan ia mengkritik keras kebijakan pemerintah AS sekadar upaya menyuarakan kebenaran pada si miskin dan si tertindas untuk kemudian mengajak mereka turut aktif menghadang kekuasaan ilegal.[]


 

Daftar Pustaka
Malaka, Tan. 1926. Semangat Muda .
Chomsky, Noam. 2014. How the World Work. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Tria Setiawan
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, mendalami relasi politik dengan ilmu, persoalan politik ilmu banyak mewarnai tulisan-tulisannya.

LEAVE A REPLY