276-500x500

 Judul :  Memetics; Perspektif Evolusionis Membaca Kebudayaan
 ISBN :  978-602-14261-1-1-1
 Pengarang :  Eko Wijayanto
 Penerbit :  Kepik
 Kota Penerbit :  Depok
 Terbit :  Cetakan I, Oktober 2013
 Halaman :  xxiii + 136 hlm
 Dimensi :  14 x 21 cm

“Manusia pada akhirnya adalah gabungan antara seperangkat neuron plus seperangkat meme—suatu unit biologis dengan segala organ dan anggota tubuhnya, sekaligus sekumpulan replikator sosial dengan segala bahasa, kreativitas, dan kemampuannya. Manusia adalah “mesin meme”. Kebebasannya untuk memilih, kesadaran, dan kreativitasnya, semua adalah bagian dari memeplex, dan memeplex inilah yang kita anggap sebagai “diri” kita.”

Berdasar teori evolusi dan seleksi alam dalam karyanya tahun 1859 On the Origin of Species, Darwin dan Darwinisme berkelana mencari hakikat manusia dari sudut pandang biologi. Gambaran Darwin tentang adanya hal lain selain gen disempurnakan kemudian hari oleh seorang Darwinian yaitu salah satu profesor di Oxford University, Richard Dawkins. Ia membuat suatu konsep meme sebagai unit manusia pembentuk kehidupannya sendiri. Lantas, di mana posisi gen? Bagaimana hubungan meme dan gen kaitanya dengan kehidupan manusia (red: kebudayaannya)? Memetics karya Eko Wijayanto menawarkan metode baru dalam melihat perkembangan kebudayaan dan kaitannya dengan meme pada manusia. Ia membawa kita mundur dan kembali mempertanyakan tentang kesadaran manusia dalam bertindak. Mencari tahu penggerak yang sesungguhnya mencipta laku manusia, dan kebudayaan, melalui tilikan tentang konsep meme – pandangan ilmuwan-ilmuwan Darwinisme.

Gen dan Meme

Charles Darwin konseptual framework pada kita, sebuah cara pandangan baru tentang evolusi manusia dalam On the Origin of Species yang terbit pertama kali pada 24 November 1859. Asal mula manusia sejak itu dipandang sebagai sebuah rentetan evolusionis dari zaman purba: berasal dari seekor kera dan berujung pada bentuk tubuh, volume otak, dan cara berjalan layaknya manusia sekarang. Terlihat bahwa ada perubahan yang sangat signifikan dalam bentuk fisik antara manusia purba dan manusia sekarang. Tetapi pengaruh On the Origin of Species tidak berhenti sampai disitu.

Bayangan khalayak ketika mendengar seorang menyebut teori evolusi Darwin adalah evolusi manusia. Hanya itu! Tetapi sebenarnya ada hal lain yang membentuk suatu evolusi pada manusia, yaitu meme. Berangkat dari teori evolusi Darwin, Richard Dawkins mengemukakan konsep meme. Meme diambil dari kata Yunani “mimeme” dan sengaja dipilih karena berbunyi menyerupai gene, yang artinya imitasi atau peniruan. Meme menurutnya turut serta dalam membawa evolusi manusia, tidak hanya bergantung pada gen sebagai replikator DNA, tetapi terdapat meme sebagai replikator kebudayaan.

Richard Dawkins berpendapat bahwa meme pada kenyataannya merupakan bagian esensial dari pembentukan evolusioner spesies manusia. Kita adalah mahkluk yang sejauh ini mampu bertahan hidup paling baik bukan karena bentuk tubuh, melainkan meme memampukan spesies manusia untuk memanipulasi lingkungan dengan menciptakan perkakas-perkakas kehidupan.Meme menyebar dan memengaruhi pola pikir dari satu manusia ke manusia lain terlepas dari bersifat berguna, netral, atau merugikan manusia. Bentuk meme sendiri secara sederhana adalah segala sesuatu yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari: kemampuan meniru, tingkah laku, dan yang kita sadari atau tidak, meme adalah apa yang kita lakukan pada saat ini. Melalui teori evolusi Darwin dan argumen tersebut, ia (Dawkins) memperkenalkan konsep meme sebagai unit pembentuk kebudayaan.

Hubungan (interaksi) antara gen dengan meme dapat saling mendukung (kooperasi) dan bersaing (kompetisi); gen dapat mengendalikan meme atau meme yang mengendalikan gen. Eko berulang kali mengingatkan pembaca tentang sifat meme yang egois (Selfish) dan kejam (ruthless); bahwa egois di sini maksudnya adalah meme hanya mementingkan dirinya sendiri yaitu bagaimana meme tersebut dapat selalu hidup ke depannya. Ciri penting dari gen dan meme adalah kemungkinannya untuk digandakan. Perbedaannya adalah gen menggunakan enzim sel, sementara meme melalui imitasi atau penjiplakan.

Tidak seperti penggandaan gen, yang terbatas pada kemampuan reproduksi manusia, meme cepat menyebar.  Suatu meme dapat bertahan karena beberapa faktor. Pertama, sifatnya yang tak dapat dibantah. Kedua, murah dalam hal waktu, uang, dan usaha. Ketiga, terasa menyenangkan dan menentramkan. Tetapi Eko menekankan bahwa penyebaran meme tidak membedakan baik-buruknya suatu gagasan dalam menggandakan diri.

Usaha Eko membahas seluk-beluk meme dalam penelitian dan bukunya ini menggunakan metode hermeneutika evolusi (evolutionary hermeneutics). Hermeneutika evolusi sendiri selalu beranjak dari aplikasi teori evolusi. Teori evolusi memandang budaya telah diproduksi sedemikian cepat melebihi evolusi genetik. Peran hermeneutika evolusi dalam buku ini adalah sebagai alat teoritis:  pemikiran manusia dapat dijelaskan dan dipahami melalui telaah terhadap interaksi antara evolusi genetik dan budaya. Hermeneutika evolusi dipandang Eko dapat sangat efektif mendeteksi nilai dan aksi gen dan meme dalam suatu kebudayaan yang mapan.

Altruisme dan Teori Egois

Altruisme merupakan perilaku kooperatif yang dapat memudahkan interaksi kita dengan orang lain. Banyak orang meragukan pandangan Darwin tentang gen altruisme yang tertanam dari hasil tingkah laku sehari-hari; organisme yang melakukan hal yang baik dan otomatis menekan rasa egois, bila hal tersebut selalu terjadi maka tingkah laku baik akan tertanam pada gen-nya. Seorang Darwinian George William dengan bukunya Adaptation and Naural Selection memaksa Darwinis merenungkan kembali teori Darwin tentang moral manusia21. Berdasar pada tujuan Darwin dalam The Descent of Man,Edward O. Wilson82 menambahkan tentang hubungan timbal balik bahwa seseorang mempererat hubungannya dengan seorang lainnya dan akan menambah keuntungan pada seleksi alam.

Poin utama Wilson adalah dalam bertingkah laku harus diikuti dengan rasa kasih sayang dan terima kasih agar rasa ini memunculkan tingkah laku yang secara tidak sadar mempunyai rasa kasih sayang dan cinta kasih bagi orang lain. Trivers kemudian menyempurnakan teori William dengan tulisannya The Evolution of Reabroal Atruism dalam bukunya The Quartery Review of Biology. Ia mengatakan bahwa persahabatan, ketidaksukaan, agresif, rasa terima kasih, kepercayaan, kecurigaan, dapat diandalkan, rasa bersalah, dan beberapa sifat lain sebagai adaptor penting mengukur sistem altruistik22.

Altruisme murni pada manusia dicontohkan Dawkins. Seorang warga negara Amerika memberikan sejumlah uang untuk membantu masyarakat miskin di Bangladesh tanpa memberikan identitasnya pada orang lain. Contoh ini memperlihatkan alturisme yang sudah dekat dengan tingkah laku manusia dan menjadi suatu kebudayaan. Tetapi kemudian dibantah oleh Wilson yaitu tidak ada alturisme murni yang ada hanyalah alturisme timbal balik (respirokal).

Gen Kebudayaan (Memetika)

Istilah ‘memetika’ terdengar sangat asing bagi orang awam karena memang memetika sendiri baru berkembang dua puluh tahun terakhir dengan derivasi dari teori evolusi Darwin. Memetika adalah ilmu yang mempelajari meme yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memahami perkembangan diri seseorang dalam kaitannya dengan budaya di sekitarnya. Meme bekerja dengan prinsip yang sama dengan gen yaitu menggandakan diri untuk menjaga kelangsungan replikasinya. Tetapi menurut Dawkins walaupun tujuan meme itu satu, persaingan dan seleksi antar gen juga terjadi pada meme.  Meme juga seperti gen yang ingin dapat hidup abadi. Meme yang gagal dalam proses seleksi akan punah sedangkan meme yang bertahan akan hidup panjang (bahkan abadi).

Pada bagian ini Eko mengajak kita untuk keluar sejenak dari tema meme dan memberi penjelasan secara detail mengenai tingkah laku mahkluk hidup dan kaitannya dengan gen oleh para pengikut Darwin atau yang disebut Neo-Darwinisme. Sumbangan tokoh-tokoh Neo-Darwinisme dalam mengembangkan teori seleksi alam dan teori evolusi Darwin adalah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengambang tentang pola tingkah laku mahkluk hidup dalam proses seleksi alam dan kaitannya dengan gen. Jawaban tersebut dimulai dari William D. Hamilton.

Hamilton adalah seorang ahli biologi yang mengungkapkan tentang teori seleksi kekerabatan (kin section). Teori ini merupakan bukti atas pengembangan teori Darwin. Misalnya, seekor tupai yang tidak memiliki keturunan sedang berada dalam jangkauan predator, ia akan mengeluarkan suara peringatan yang dapat menarik perhatian predator dan membawanya pada kematian. Jika dilihat sebagai proses seleksi alam abad 19, mengeluarkan suara peringatan merupakan hal yang tidak masuk akal karena sama saja dengan bunuh diri. Lalu kasus ini dijawab oleh Hamilton: alasannya tupai mengeluarkan suara peringatan adalah untuk menyelamatkan tupai-tupai lain di sekitarnya yang sekalipun mengorbankan dirinya. Gen pada tupai tersebut akan membawanya cenderung mengutamakan keselamatan atau reproduksi pembawa gen lain yang sama, sehingga gen mereka dapat terus berkembang dengan baik.

Kata Hamilton, kita mengetahui bahwa seleksi alam tidak memandang organisme di dalamnya, bahagia atau tidak, dalam menjalani proses tersebut melainkan hal yang terpenting adalah reproduksi gen berkembang dengan baik. Kaitannya dengan kasus di atas adalah semua organisme mempunyai gen altruisme (pengorbanan). Penjelasan Hamilton lebih jelas tentang gen alturisme tertuang pada rumus yang ia buat: c<br di mana c adalah besarnya pengorbanan diri, b adalah keuntungan yang diterima individu lain, dan r adalah derajat kedekatan dengan individu lain. Menurut rumusan ini gen alturisme akan muncul selama besarnya pengorbanan kurang dari keuntungan yang akan diperoleh individu lain dikalikan derajat kedekatan di antara kedua individu.

Masalah altruisme terkait dengan pertanyaan mendasar: pada tingkat apa seleksi berlaku? Tentu pada tingkat kelompok, karena bila altruisme hanya sampai pada tingkat individu maka tidak ada evolusi altruisme karena jelas akan merugikan organisme individual. Seleksi kelompok memungkinkan tindakan altruis berevolusi. Pelaku altruis berada pada kerugian selektif secara relatif terhadap anggota lain yang egois. Tetapi tingkat fitness dan survivalitas kelompoknya meningkat.

Gagasan Dawkins yang menjadi dasar dan pegangan Darwinian dan model penjelasan evolusi kontemporer, dalam The Selfish Gene memiliki hipotesis teoritis bahwa organisme (individual) hanyalah wahana bagi kepentingan gen egois. Maksudnya, anggota suatu spesies tidak lain hanyalah mesin survivalitas dalam proses evolusi—agen yang sesungguhnya di dalam evolusi adalah gen. Adalah gen yang harus diwariskan dan bereplikasi. Sementara tingkah laku individu sebetulnya hanyalah modus adaptif untuk meningkatkan peluang tercapainya kepentingan gen. Dengan demikian sangat logis bila individu bersikap alturis karena altruisme dapat memperbesar peluang gennya dan gen dalam kolam gen asalnya untuk terwariskan ke generasi selanjutnya.

Problem altruisme adalah misteri besar untuk sosiobiologi. Sosiobiologi (biologi sosial) dipopulerkan oleh Wilson yang menolak Darwinisme; mekanisme seleksi alam terjadi di level individu dan berlangsung sangat panjang sebagai akibat dari mutasi di level genetik. Sedangkan menurut sosiobiologi, mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok. Dalam bukunya, Sosiobiology: The New Synthesis, sosiobiologi berdiri pada dua tesis dasar: beberapa sifat tingkah laku itu diwarisi dan sifat-sifat tingkah laku yang terwarisi itu “diasah” oleh mekanisme seleksi alam.

Sosiobiologi mendapat pertentangan karena simpulan-simpulan yang dibuatnya dituduh mendorong seksisme dan rasisme. Kritik-kritik tersebut memandang seluruh usaha sosiobiologi Wilson hanya manifestasi Darwinisme sosial. Menurut Eko, kontroversi dalam sosiobiologi Darwinisme adalah kritik salah sasaran, karena sosiobiologi bukanlah sayap ideologis maupun turunan dari Darwinisme sosial yang dianut Spencer—yang memiliki dimensi normaif-ideologis. Simpulan-simpulan sosiobiologi mengenai sifat umum tingkah laku sosial adalah hasil dari prosedur ilmiah yang memiliki derajat falsibilitas—sejauh reliabel, bisa dipegang, dan simpulan-simpulan itu bersifat deskriptif dan tidak langsung membimbing pada simpulan normatif.

Daniel Dennet menerima seleksi alam setelah berperan besar pada tingkah laku organisme, tetapi ia mengkritisi Wilson karena mengabaikan otak sebagai bagian dari manusia. Menurutnya (Dennet) otak menjadi pembeda tingkah laku satu spesies dengan spesies lain. Kompleksitas otak yang beperan dalam pembeda antar manusia yang berlanjut pada evolusi kebudayaan.

Richard Dawkins dalam teori gen egois memaparkan, sebagai aktor evolusi, gen bersifat egois (selfish) dalam rangka untuk bertahan (survive). Hal ini terjadi dengan kenyataan buta (blind necessity) yang tidak bertujuan (telos) tertentu dan melalui penggabungan variasi genetik. Selama DNA bergulir, seleksi tidak akan pilih kasih pada gen. Hanya gen terkuatlah yang dapat bertahan.

Manusia seperti kata Dawkins hanyalah manifestasi dari gen. Manusia hanyalah bentuk biologis yang hidup dan gen menjadi chip utama bentuk biologis dan psikis manusia. Tidak seperti gen yang masuk dan bermutasi dalam slot kromosom, meme sebagai yang menciptakan kebudayaan manusia bertarung dengan meme-meme lain demi memperebutkan perhatian otak manusia.

Kaitannya dengan meme Tuhan, meme satu dengan lainnya saling melengkapi. Meme Tuhan berasosiasi dan saling mendukung dengan meme lain seperti meme ide tentang api neraka. Kaitan antara meme tersebut  memiliki efek psikologis yang mendalam. Efek psikologis yang sama juga merupakan karakteristik meme Tuhan. Keduanya saling menguatkan dan mendukung kelangsungan hidup masing-masing.

Apa yang telah dijelaskan oleh Eko dalam tiga bab pertama ini adalah meme digambarkan sebagai sesuatu yang ada, sangat dekat dan menakutkan bagi kehidupan manusia karena meme sendiri itu egois (selfish); hanya peduli pada penggandaan dan eksistensinya sendiri.  Jalan keluar yang ditawarkan Dawkins mengenai perang antar meme yang berusaha mengambil alih otak manusia adalah kemampuan secara sadar menatap ke depan—menyimulasikan masa depan dalam imajinasi kita (manusia). Kita terlahir sebagai mesin gen dan terbudayakan sebagai mesin meme tetapi kita sebenarnya mempunyai kekuatan melawan pencipta kita—sang replikator tiran yang egois.

Hubungan meme dengan ranah kebudayaan dikemukakan oleh Susane Blackmore24 dengan konsep replikasi diri (self-replicating) dan memeplex. Meme bekerja membentuk suatu akulturasi dengan meme lain dengan alasan keuntungan timbal balik dan membentuk sekumpulan meme (memeplex). Kumpulan memeplex yang banyak (memeplexes) terdiri dari meme yang tidak seharusnya. Seharusnya meme itu elastis dapat berkembang dan berubah bentuk. Memeplexes yang disebut Dawkins virus in mind adalah konsep yang dipegang teguh dan sulit diubah.

Budaya tergantung pada gen adalah salah satu pemikiran Wilson dalam sosiobiologi dalam teori co-evotion gen dan budaya. Tetapi, menurut Dawkins perkembangan gen tergantung pada meme. Sebuah argumen eksistensial karena berpemahman bahwa meme dalam kehidupan manusia merupakan proses seumur hidup yang membantu seorang manusia berakulturasi dengan lingkungan dan pemikiran orang-orang di sekitarnya. Meme membantu manusia dalam mengkomunikasikan gagasan dan idenya agar manusia lain dapat mengerti, meme adalah serangkaian panjang sosialisasi.  Proses ini termasuk pada proses pembelajaran kultural karena melalui tiga cara: meniru perbuatan secara langsung, melalui kata-kata, dan melalui kerja sama antar pribadi. Meme memerlukan kehidupan sosial agar terjadi imitasi dan berkembang dalam kebudayaan. Meme adalah salah satu bentuk dari evolusi manusia selain dari evolusi genetik dan dengan adanya meme gen dapat terbantu dalam perkembangannya untuk mengarahkan tingkah laku individu.

Setelah kita melihat posisi dan fungsi gen dan meme bagi kebudayaan manusia, Eko pada sub-bab berikutnya, Meme dan Memeplex, mengajak kita untuk turun ke dasar manusia yaitu tentang dasar-dasar segala tindakan manusia dan apakah benar kita hanyalah mesin meme. Dimulai dengan dualisme Cartesian, perdebatan para filsuf tentang dualitas psikis-fisik, dan berujung pada kesadaraan manusia dan meme.

Dalam sudut pandang memetika, setiap manusia adalah memeplex yang bergerak dengan mesin fisik beserta otak (mesin meme). Meme dalam pikiran manusia yang lolos seleksi dan menjadi sekelompok meme yang berinteraksi karena kepentingan timbal balik. Kemudian kumpulan meme tersebut semakin kuat dan dapat menyeleksi meme baru apakah diterima atau tidak, hingga akhirnya meme dalam pikiran manusia sangat kuat menjadi filter bagi manusia dalam melihat, mengambil, dan mengilhami hal-hal di sekitarnya. Selfplex—diri yang dikonstruksikan oleh meme dapat terbilang sukses jika meme telah dapat mendorong dan membuat tingkah laku individu untuk replikasi mereka. Singkatnya, hidup ini adalah terbentuk dari meme dan individu terjebak oleh meme.

Manusia merupakan selfplex—sejatinya adalah proses panjang evolusi memetis—produk dari kumpulan meme yang berhasil masuk dan bertahan dalam tiap individu dan mewujud lewat evolusi otak dan keuntungan selektif lingkungan. Maka cara bertindak dan mengambil keputusan ditentukan oleh struktur kompleks memeplexes diaplikasikan pada sistem konstruktif biologis dan jelas terlihat peran besar replikator. Eko membuat pembaca bertanya kembali ke dasar kehidupan tentang kesadaran dan kesadaran atas tindakan kita sehari-hari. Apakah tindakan seperti sarapan pagi dengan nasi kuning dan telur dadar adalah merupakan pilihan kita atau kita hanya mengikuti meme? Sedangkan di tempat lain mungkin seorang akan memilih sereal dan roti.

Eko membuat simpulan mengenai problem ini dengan pandangan James A. Holsten dan Jaber F. Grubium dalam karyanya The Self We Live by: Narrative identity in a Postmodern World. Memetika sebagai penjelasan naturalistik memandang diri tidak lain adalah meme kompleks yang merupakan kombinasi faktor genetika, sebaran memetis, dan waktu. Diri dengan begitu berada di proses evolusi yang panjang. Diri sebagai meme sangat mirip dengan pandangan posmodern mengenai diri sebagai narasi. Diri merupakan konstruksi luwes bukan entitas stabil dan presisten yang mengatasi ruang dan waktu. Diri, sebagaimana juga dipahami evolusionis, justru muncul di dalam ruang dan waktu.

Dawkins sebenarnya tidak setuju bila teori budaya dianalogikan pada teori evolusi Darwin. Problem pertama adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menjadikan meningkatnya kualitas hidup, selain itu salah satu kebudayaan manusia seperti mode seringkali mengulang mode dari waktu lampau. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan manusia dalam transmisi budaya mengakibatkan manusia dapat mengembangkan teknologi. Antara manusia (gen) dan budaya terdapat kausalitas. Manusia menciptakan budaya dan budaya tercipya untuk kepentingan gen sebagai replikator utama. Sama halnya dengan meme yang menjadi replikasi untuk kepentingannya sendiri. Meme sebagai selfish terus bereplikasi untuk survivalitasnya sendiri dan mendominasi suatu evolusi budaya. Problem kedua, kekurangtahuan manusia pada meme; mekanisme imitasi dan penyimpan meme. Problem ketiga, benarkah evolusi meme bersifat Lamarckian dan bukan Darwinian? Dalam kaitannya dengan Lamarckian dan evolusi, evolusi meme dapat bersifat Lamarckian maupun tidak.

Meme dan Kesadaran

Pengertian tentang kesadaran dibawa Eko ke dalam suatu perdebatan panjang dari berbagai filsuf dan ilmuwan. Dalam menjelaskan tentang kesadaran, filsafat banyak terhubung dengan dualitas Platon: dunia ide dan dunia empiri. Selang beribu-ribu tahun sesudahnya muncullah Descartes dengan dualisme substansi: kesadaran merupakan substansi mental yang terpisah sama sekali dengan substansi ketubuhan yang fisikal dan berkeluasan. Bertahannya spekulasi Cartesian ini memunculkan pendekatan naturalistik yang menjadikan kesadaran sebagai objek material dan mampu didekati secara meyakinkan dengan  kriteria empirik baru. Pendekatan naturalistik ini khususnya diterapkan oleh tokoh-tokoh Darwinisme. Menurut Blackmore ada kecenderungan kita menganggap bahwa kesadaran pasti memiliki fungsi evolusionisnya sendiri.

Eko dengan jelas membuat pernyataan bahwa manusia berevolusi tanpa kesadaran dan kesadaran termasuk dalam garis evolusi. Kesadaran dalam perspektif evolusionis menggunakan pendekatan memetikan yang naturalistik (condong pada behaviorisme) dan materialistik. Memetika sangat luas dan ketat dalam memandang perilaku kebudayaan manusia. Kesadaran tidak bisa hanya dianggap substansi nonmaterial yang kebal dalam analisis naturalistik. Eko menegaskan kita harus mengakui keterbatasan pendekatan naturalistik dalam menemukan hakikat kesadaran sebagai pengalaman subjektif. Eko berusaha untuk meyakinkan pembaca bahwa meme adalah penggerak kehidupan manusia: “Mesin Meme”. Manusia adalah makhluk biologis tertentu, sekaligus sekumpulan replikator sosial dengan segala bahasa, kreativitas, dan kemampuannya. Kebebasan memilih, kesadaran, kreativitas, dan dugaan adalah bagian dari memeplex dan memeplex juga dianggap sebagai “diri”. Lantas apakah manusia dapat berontak dari memeplex? Eko mengambil pandangan Blackmore bahwa manusia tidak dapat mengelak tentang fakta bahwa seleksi gen dan meme-lah yang menentukan suatu aksi, tanpa kesadaran diri ekstra. Memetika adalah sodoran cukup baik dalam memandang kesadaran sebagai objek naturalistik yang merupakan hasil evolusi. Tetapi juga, kesadaran dipahami sebagai kompleksitas memetis yang tidak bisa dipahami sebagai fitur kedirian budaya manusia yang dijelaskan dengan pendekatan naturalistik evolusionis.

Akhirnya

Pada bab terakhir Memetics, Eko mengklarifikasi pengertian dan maksud dari gen sebenarnya terlepas dari yang telah diberikan macam-macam interpretasi pada bab-bab sebelumnya. Gen sebagai cikal-bakal biologis dan psikis manusia sebenarnya bersifat fleksibel. Gen mempengaruhi banyak hal tanpa menentukannya dahulu. Eksistensi gen pada seseorang dalam masa hidupnya dapat terlihat dan dapat tidak terlihat. Ini menjadi bukti bahwa gen memengaruhi dan dipengaruhi lingkungan dan budaya manusia.

Perjalanan teori evolusi Darwin dan meme dapat dijabarkan secara singkat seperti berikut. Richard Dawkins membentuk sebuah kerangka pikir yang memandang kebudayaan bekerja dalam skema evolusi Darwinian. Perkembangan kebudayaan ditentukan oleh relasi yang kompleks antara meme—sebagai unit transmisi kebudayaan—dengan lingkungan. Sifat deterministik evolusi kebudayaan dilimitasi oleh faktor kesadaran manusia. Dengan demikian, sekalipun evolusi kebudayaan itu niscaya sebagai forma, namun manusia tetap memiliki peran di dalam mengevaluasi materi (muatan) meme.

Interpretasi sosiobiologi oleh Edward O. Wilson membantah Darwinisme tentang mekanisme seleksi alam terjadi pada individu atau kelompok dan berlangsung sangat panjang akibat mutasi di level genetik. Wilson mempunyai argumen lain yaitu mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok dan hanya bisa dipahami dengan cara menarik relasi kausalnya dengan gen. Perjalanan masih berlanjut dengan kritik Daniel Dennett. Ia tidak menolak argumen Wilson tentang mekanisme seleksi alam telah berperan besar dalam perubahan tingkah laku spesies (termasuk manusia), tetapi yang tidak terlihat dalam analisis Wilson adalah kehadiran otak manusia. Kehadiran otak inilah yang menjadikan manusia juga mengalami evolusi serupa tapi tidak sama dengan spesies lain. Dawkins kemudian menempatkan manusia berbeda dari spesies lain karena juga mengalami evolusi kebudayaan. Dawkins memperkenalkan istilah meme bagi gen di tingkat kebudayaan. Replikator kebudayaan adalah meme dan otak berfungsi sebagai “mesin imitasi” meme.

Pemikiran Blackmore terfokus pada evolusi kesadaran manusia. Pada awalnya manusia berevolusi secara tidak sadar dan kesadaran baru muncul sebagai hasil dari adaptasi di kemudian hari. Menurut Eko, bisa saja dan masuk akal bila manusia mungkin saja berevolusi tanpanya. Ini pula merupakan bukti evolusionis yang telah menyokong argumen bahwa: munculnya kesadaran sebagai  fitur intrinsik dari kedirian manusia. Pada titik ini, sambung Eko, kita dapati bahwa di satu sisi evolusi bisa bekerja tanpa adanya kesadaran. Namun di sisi lain kesadaran menjadi hal yang patut dipertimbangkan secara tajam dan mendalam ketika kita membahas meme.

Melihat kebudayaan dari perspektif evolusionis memetika adalah menuju dan menggali kembali unit terkecil dalam kehidupan biologis dan kebudayaan manusia, yaitu gen dan meme. Meme sebagai hasil kontemplasi seorang Darwinian menyikapi teori seleksi alam dan akibatnya pada kebudayaan dan kelangsungan spesies manusia, memberi insight kepada Eko sebagai pengarang buku Memetics –juga kita sebagai pembaca-  untuk memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman tentang keterkaitan antara gen dan meme dalam menentukan kepribadian maupun membentuk perilaku manusia beserta kebudayaannya, khususnya meme sebagai replikator dalam evolusi kebudayaan. Kita, kata Eko, mesti memahami meme sebagai replikator pada dirinya sendiri, bahwa seleksi memetika mengendalikan evolusi ide bagi kepentingan replikasi meme, bukan gen. Hal inilah yang menjadi perbedaan mendasar yang memisahkan memetika dari kebanyakan teori evolusi kebudayaan sebelumnya.

 *Uraian pokok dikembangkan dari tesis Eko Wijayanto dalam buku “Memetics”

LEAVE A REPLY