sumber: cocpa.wordpress.com

Awalnya bagiku, orang yang kehilangan akalnya pun sebenarnya mereka masih dalam kondisi berpikir. Berpikir mengenai dunia yang berbeda dengan cara berpikirnya orang normal, tertawa dengan lawakan yang berbeda dengan orang normal, dan berbincang dengan bahasa alam. Aku lebih suka menyebut mereka dengan sebutan manusia khusus daripada orang gila, karena bagiku mereka memiliki kemampuan ‘menafsirkan dunia’ dengan cara mereka sendiri. Mungkin saja dalam obrolan mereka dengan dunianya, mereka membicarakan Negara dan orang-orang sekitarnya. Menertawakannya dengan tawa ejekan, yang tidak pernah kita tau.

Atau jangan-jangan mereka sedang merencanakan untuk membangun kehidupan dunia yang sangat mengagumkan yang belum pernah terpikirkan, who knows? Namun yang jelas manusia khusus ini manusia yang sungguh hebat, tak pernah sakit walau makan minumnya tak layak bahkan kadaluarsa. Tak pernah sakit walau pakaian mereka minimalis dan kotor, seakan akan kuman dan bakteri adalah sahabat karib mereka, seakan akan hujan dan terik adalah berkah yang memanjakan mereka.

sumber: cocpa.wordpress.com
sumber: cocpa.wordpress.com

Lalu yang ada dibenakku, kenapa mereka harus dibedakan dengan manusia lainnya, bahkan dimarginalkan dari kehidupan manusia normal? Apa yang membedakan mereka dengan kita? Kenapa kita tidak pernah bisa berdamai dengan mereka, atau mereka yang tidak pernah bisa? Lalu jurang apa yang memisahkan manusia ini dengan manusia itu? Semakin jauh aku berpikir, semakin mudah aku menyangkal anggapan awalku, bahwa ‘orang gila sebenarnya masih dalam kondisi berpikir’ adalah salah. Karena aku tidak bisa menemukan hal yang bisa aku identifikasikan sebagai sesuatu yang membedakannya dengan manusia berpikir. Dan bahkan yang dinamai fikiran itu juga tak pernah aku temui wujudnya. Itu artinya aku pada akhirnya setuju bahwa mereka berbeda dengan manusia pada umumnya, sebab mereka tak mampu memahi kita dan kita pun kesulitan memahami mereka.

Akhirnya, aku menyerah untuk ada dipihak mereka, dan terpaku pada jawaban umum “manusia khusus itu bukan bagian dari manusia yang berpikir karena mereka kehilangan akal sehatnya”. Aku teringat tentang bagaimana cara aku berpikir ketika masih kecil, aku berpikir tentang bagaimanakah Tuhan menciptakan hujan? Dan aku menjawabnya dengan imajinasi liarku, mungkinkah hujan turun saat tuhan sedang mandi? Atau mungkin saja tuhan sedang menyirami tanaman-tanaman di bumi dengan selang air yang begitu besarnya.

Aku menganggap, contoh ini adalah analogikuku yang mungkin hanya analogi bodoh. Mungkin saja, manusia khusus itu menggunakan akal pikirannya dengan cara yang sama dengan anak-anak kecil pada umumnya. Menjawab permasalahan-permasalahan yang ditemuinya dengan cara yang ia mau, mengimajinasikan hal-hal yang baginya akan terkesan cocok, baginya bukan bagi kita pada umumnya.

Permasalahan baru muncul, kata ‘baginya bukan bagi kita pada umumnya’ menurutku mencerminkan sifat dasar alamiah manusia sebagai makhluk sosial, tak dapat dipungkiri, manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Dan hal ini mengimplikasikan bahwa manusia mau tidak mau harus mengikuti semua petunjuk dan arahan agar dirinya dapat ‘diterima keberadaannya’ dalam suatu komunitas. Hal inilah yang juga akhirnya membuat adanya ‘persepsi umum’ tentang sesuatu. Persepsi umum ini membuat norma-norma yang melimitasi manusia untuk tidak melakukan atau menerima sesuatu yang tidak boleh diterima bagi kelompoknya.

Maka dari itu, selama ‘persepsi umum’ menyatakan antipati terhadap keberadaan manusia khusus ini, tak mungkin ada ruang untuk membuat mereka kembali menjadi manusia sedia kalanya. Pengasingan yang kita lakukan terhadap mereka, telah mengubah eksistensi mereka menjadi eksistensi benda. Kita hanya melihat mereka dalam aspek material yang mau tak mau melekat pada mereka. Sehingga aspek immaterial berupa jiwalah yang menjadikan seseorang itu dianggap. Jika jiwanya terganggu, otomatis aspek materialnya tak dapat diperhitungkan.

Anggap saja, secara umum, manusia ada pada pihak monisme. Banyak yang salah dan dianggap benar dalam dunia ini, bukankah kita merasa wajar melihat manusia khusus ini berkeliaran tanpa menggunakan pakaian? Sedangkan patung-patung manekin di toko pakaian akan canggung terlihat tanpa pakaian modisnya. Entah ini merupakan dua hal yang tak dapat disamakan atau bagaimana, tapi aku merasa jika memang asumsi umum meleburkan eksistensi manusia khusus sebagaimana eksistensi benda, setidaknya mereka sedikit saja diperlakukan lebih baik daripada benda-benda yang ada. Aku merasa, semakin menjadinya mereka adalah juga karena asumsi umum telah meleburkan eksistensi mereka sebagai makhluk yang berjasad saja. Sehingga bisa saja, hal tersebut memunculkan kepercayaan bahwa mereka bebas untuk melakukan apapun sesukanya. Terus terang, ketertarikanku mengenai manusia khusus ini telah lama terjadi.

Sewaktu kecil, sepulangnya aku dan sepupuku dari sekolah, kami bertemu manusia khusus bernama Dinda. Saat itu, dengan polosnya kami berbincang-bincang dengannya, walau hanya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Aku merasa, disaat itu juga aku benar-benar telah melakukan sesuatu yang benar “memanusiakan manusia tanpa syarat”. Memang iya, Dinda tidak berpenampilan selayaknya manusia normal, tapi kurasa arah pertanyaanku dengan jawaban yang diberikannya masih dapat dimengerti walau entah validitas jawabannya dapat dipertanggung jawabkan atau tidak, yang jelas bagiku, kita hanya butuh telinga untuk mendengarkan mereka, melatih mereka dengan mengenalkan lagi realitas-realitas yang sesungguhnya. Kesimpulannya adalah, bagiku entah siapapun itu tidak ada alasan untuk tidak memanusiakan manusia”.(DAHLIA ARIKHA, Mahasiwa s1 Fakultas Filsafat UGM, anggota Redaksi LSF Cogito)