Apa yang hendak disampaikan Woody Allen dalam Stardust Memories? Saya berpikir dan memungut beberapa memori yang berjatuhan di lantai. Beberapa detik berselang, itu bukanlah pertanyaan. Kata ‘disampaikan’ terlalu sopan. Saya mencegah hal sopan itu muncul terlalu sering dalam pikiran. Kelancangan dan kalimat paling kotor, harusnya menyusun setiap cuapan ketika kita berbicara tentang manusia. Termasuk diri dan lian.

Apa yang hendak seseorang sampaikan, ketika memori kebahagiaan dan persepsi ketidakbahagian tumpang tindih? Sebagian orang memilih agnostik, tetapi banyak lainnya, sesungguhnya menyampaikan kapan waktu terbaik untuk mati.

Kita dapat menyisir sesuatu dari kata-kata Deleuze, “hanya butuh sedikit keteraturan untuk menghadapi chaos”. Tumpang tindah memori dan persepsi masa kini mengacu pada fatalitas chaos sebagai cause-effect. Dan chaos dapat dilihat dari cerminan keseriusan persepsi Sandy Bates (Woody Allen) tentang kesakitan umat manusia, dan kebanalan, ataupun kejadian sepele yang kemudian ditaruhnya sikap yang heboh.

Memori tentang Dorrie, eks-pacar Sandy, dan perbincangan kesakitan-ketidakbahagiaan manusia dan memori lain yang serupa selalu muncul dalam benak Sandy. Memori itu ditenun serapih mungkin, dihiasi pernak-pernik lagu ‘stardust’ dari pemain musik jazz kesukaan Allen, Louis Amstrong.

Tiba-tiba saja keseriusan, rigiditas memori dan sikap Sandy terhadap realitas dikacau oleh perbincangan soal kelinci dan oven meleduk. Kenapa pula Sandy seorang cerminan intelek-komedian tidak makan daging kelinci? Mengapa jijik dengan pengerat? Tetapi Sandy memandang sejenak kelinci itu, ia gagal memaknainya.

Apanya yang komedi? Ia berusaha memaknai hidup dengan tinggi. Ia berusaha menampik komedi, si Sandy sang jenius itu. Tetapi jika dilihat baik-baik, ada turn yang selalu menjatuhkannya dalam komedi kehidupan. Dalam pandangan Kant, seorang yang berfilsafat tentang apa saja, komedi muncul ketika ada perubahan mendadak antara ekspektasi mengalir ke arah tak terduga, bahkan kekosongan. Memori, ekspektasi jalannya kehidupan dengan pemaknaan serius. Persepsi ‘sekarang’ tentang kehidupan, sebenarnya, keluar dari ekspektasi itu, menuju sesuatu yangtak diharapkan, bahkan kekosongan.

Persepsi kesakitan saat berbincang dengan Dorrie ialah set up. Kelinci dan oven meleduk ialah punch line. Imaji gerak indah yang dibuat Allen untuk menyampaikan ambiguitas.

Apabila memperhatikan plot yang bergerak, menderap bahkan mengusik, bagi saya lebih dari sekedar plot. Kita tidak bisa melabelkan ‘hanya’ pada stardust memories. Filmmaker Sandy Bates begitu terkenal. Terkenal namun dirundung kegamangan, ambiguitas. Kegamangan itu dipicu oleh fans yang menginginkan ia berperan lebih lucu lagi dalam film-filmnya, dan perkembangan sense artistiknya, selama ia mencoba mendamaikan dua konflik ketertarikan terhadap dua wanita berbeda: kesungguhan dan keintelektualan Daisy dan sisi keibuan Isobel. Sementara itu, ia sering terbayangi memori bekas pacarnya, Si Baper Dorrie.

Plot mengantarkan pada konflik. Kita meminta makna darinya. Barangkali Allen juga demikian, meski ia enggan film itu disebut curahan hatinya. Saya tidak bisa mengelak, kecuali berkata: baiklah. Konflik itu lebih dari sekedar diri Allen, ia cerminan kehidupan pada masa itu, bahkan sekarang. Kehidupan umat manusia yang gamang, tumpang tindih memori dan persepsi. Mengacaukan tindakan.

Saya sadari, demikian juga para filsuf dan sejarawan, pertanyaan bagaimana manusia dapat hidup di antara memori masa lalu dan persepsi masa kini dan harapan masa depan, ialah sukar. Sukar untuk ditindak apapun. Karena pada dasarnya seseorang hanya mengejar makna hidup.

Apakah Sandy dapat memegang makna hidup setelah mencoba keluar dari keseharian? Bahkan meregang Tuhan? Kuncinya jawabannya ada pada sikap metafisik Sandy. Sikap tersebut dapat kita teliti dalam scene bedah film sekaligus nominasi keaktoran Sandy. Dua unsur dalam scene itu, pertama, saat seorang psikolog angkat bicara memberi testimoni dan kedua, presentasi Sandy.

Kata psikolog dan akademisi itu, Sandy dalam suatu film ialah potret pasien yang kompleks. Sandy melihat realitas begitu jernih. Gagal menolak mekanisme. Gagal menghalau kebenaran eksistensi yang mengerikan. Pada akhirnya, ketidak mampuan Sandy melontarkan kengerian fakta yang ada dalam dunia, ia menerjemahkan hidup begitu tiada artinya.

Kata pembedah itu,”Too much reality is not what the people want. Sandy Bates suffered a depression…”. Lalu ia menuliskan gagasan itu dalam sebuah jurnal psikoanalisis, dengan judul: Ozymandius Melancholia. Apa reaksi Sandy kala itu? Atau menurut saya, apa reaksi Allen terhadap akademisi yang suka menilai filmnya dengan teori sekolahan? Menurut saya jawabannya hanya harus kembali ke pengalaman. Dalam terminologi Bergson pengalaman langsung, membawa kita pada kebebasan, menyangkal kebuntuan determinis.

Setiap ia mengelak dari imanensi komedi sebagai metode menghadapi dunia. Komedi semakin nyata.

Sandy merasakan dilema eksistensi. Hidup dengan keriuhan pujian fans, hidup yang glamor, ataukah mencintai dunia dengan segala kesehariannya yang berwarna.‘Cause when you’re dying, your life suddenly really does become very authentic”, kata Sandy menit-menit  terakhir film. Lalu ia bercerita tentang memori bersama Dorrie, ia melihat kekasihnya memandangi. Di bawah lantunan jazz Louis Amstrong. Ia merasa kalau ia sangat mencintai Dorrie. Ia merasa bahagia dan tidak dapat dirusak.

Sandy Bates sang filmmaker, merasa memori yang ia persepsi itu begitu lucu. Hal yang sederhana tampil begitu menawan. Lalu memberinya kontak sederhana, memindahkannya dirinya melewati jalan ultim yang begitu dalam.

Setiap usaha Sandy mentransendensikan realitas yang ia coba pahami. Ia semakin melekat di sini dan sekarang. Setiap ia mengelak dari imanensi komedi sebagai metode menghadapi dunia. Komedi semakin nyata. Dan Sandy terbelit di tengah-tengahnya. Waktu terbaik untuk mati, ia saat bahagia menghadapi kegamangan itu. Sandy menatap seluruh layar putih dimana filmnya diputar, sebelum ia pergi.

”What do you think was the significance of the Rolls-Royce?” kata seseorang.

”I think it represented his car”, balas yang lain.

LEAVE A REPLY